
Melihat Zahra yang sedang tersedak makanan membuat David dan Adit menjadi khawatir, dengan cepat David segera memberikan minuman yang sudah dia beli sebelumnya
" Hati-hati dong sayang " Adit mengelus ujung kepala Zahra
" Abis bunda jahat ayah " menundukkan kepalanya
" Kok bunda jahat sih sayang ? bunda kan cuma bilang kenyataan " tertawa kecil, sedangkan wajah Zahra menjadi merona
" David kebetulan sekarang kita lagi di rumah sakit coba sekalian aja kamu periksa Ara "
" Bunda ikh... " Zahra semakin merona
Sedangkan David dan Adit para pria bodoh itu begitu mendengar kata-kata periksa membuat mereka menjadi panik, mereka pun langsung berjongkok dan memberikan serangan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Zahra
" Apa yang sakit sayang ? " wajah cemas Adit tak bisa lagi di tutupi
" Kenapa kamu ga bilang sama aku kalo kamu lagi sakit sayang " kesedihan terukir di wajah David
Zahra hanya bisa berdiam diri dengan wajah yang semakin merona, sedangkan Liana tersenyum bahagia melihat anak kesayangannya sangat di cintai oleh orang di sekelilingnya
" Kalian kenapa sih ? maksudnya mungkin aja sekarang Ara lagi hamil " Liana tertawa kecil melihat tingkah laku ke dua pria tersebut
David dan Adit menunjukkan wajah yang sama, wajah seakan tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar, David langsung bangkit dan memeluk tubuh Zahra dengan erat
" Ayo sayang kita periksa ya " antusias
" Ekh... Pelan-pelan peluk anak saya, gimana kalo beneran dia lagi hamil ? terus nanti cucu pertama saya kenapa-napa karena kamu " sinis
David melepaskan pelukannya karena tak ingin beradu argumentasi terhadap seorang Aditya Pratama yang sangat menyayangi Zahra
" Maaf pah "
" Udah ayo kita periksa aja dulu biar pasti, baru kita ke ruangan mbak Siska " Liana berusaha menjadi penengah di antara para pria yang sedang merebutkan Zahra
Wajah bahagia tersimpul di antara mereka bertiga begitu mengetahui bahwa benar adanya Zahra telah mengandung, hanya Zahra yang seakan-akan tidak percaya dengan hal tersebut
Mereka pun memutuskan untuk langsung ke ruang rawat Siska setelah mengetahui hasil dari pemeriksaan Zahra, David dan Adit tak henti-hentinya memperingati Zahra agar tak melakukan ini dan itu membuat Zahra menjadi seperti seorang anak kecil
Begitu tiba di depan ruang rawat Siska mereka melihat Nadin yang masih setia menunggu di luar ruangan tersebut, Adit merasa tak tega melihat Nadin dia membayangkan bagaimana bila hal tersebut terjadi kepada anaknya ?
" Kok di sini ? kenapa ga masuk ? "
__ADS_1
" Saya di sini aja om "
" Ayo kak masuk, nanti kalo tante Siska cari kakak gimana ? "
" Ya nanti saya masuk kalo mama Siska udah sadar aja "
Mereka pun masuk ke dalam ruangan meninggalkan Nadin yang tetap bersikeras untuk menunggu di luar ruangan, suasana sudah agak sepi karena sebagian orang sudah kembali ke rutinitas mereka masing-masing
" Kok udah sepi ? pada ke mana ? "
" Udah balik Dit, lo yang dari mana ? "
" Sorry tadi gw abis periksa anak gw dulu " semua mengarah mendekati Siska yang masih terbaring tak sadarkan diri
" Ara kenapa ? "
" Sebentar lagi gw ga akan jadi ayah lagi, gw mau naik pangkat " tersenyum bahagia
" Selamat ya Ara "
" Makasih om "
Adit teringat kembali akan Nadin yang masih setia berada di luar ruangan tersebut, Adit mencoba memahami perasaan Bastian tetapi Adit juga bisa melihat penyesalan yang besar dari mata Nadin
" Apa ga bisa nanti aja Dit ? gw mau di sini sampe dia sadar " menggenggam tangan Siska
" Ga lama kok, kita ngobrol di depan aja " dengan berat hati akhirnya Bastian mengikuti keinginan Adit
Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan melewati Nadin, Adit berjalan agak menjauh dari Nadin karena dia tak ingin Nadin mendengar apa yang akan mereka bicarakan
" Kenapa ? "
" Lo ga bisa gitu Bas, apa lo ga belajar dari kejadian gw ? "
" Maksud lo apa sih Dit ? gw lagi males mikir sekarang " menatap Adit
" Jangan ulangi kesalahan gw menjadi pria bodoh. Apa lo mau kehilangan dia dulu baru lo bakal nyesel ? " Bastian menutup kedua bola matanya dia paham arah omongan Adit
" Gw takut Dit "
" Sejak kapan seorang Bastian Pratama takut akan sesuatu ? " menepuk pundak Bastian
__ADS_1
" Gw udah berusaha tutup mata selama ini dengan semua kesalahan anak itu Dit, tapi dia terus sakitin keluarga gw "
Bastian mengingat kembali segala hal yang telah di lakukan oleh Nadin selama ini, berawal dari jebakan untuk Alvian, merusak gaun pengantin Lena, bahkan hampir di keseharian di rumah Nadin selalu berusaha menyakiti Alvian dan Siska. Dan saat ini hal yang tidak sengaja di lakukan oleh Nadin membuat Bastian berpikir itu adalah keinginan Nadin
" Bas gw tau perasaan lo, tapi apa lo ga bisa liat kalo tangisan dia sekarang tulus ? gw cuma mau bilang ke lo jangan sampe lo nyesel saat nanti dia menghilang dari pandangan mata lo untuk selamanya "
" Sama kayak yang gw rasain Bas, selamanya penyesalan itu tetap ada di sini " memegang dadanya
" Iya gw ngerti, makasih Dit "
" Udah masuk yuk, siapa tau sebentar lagi istri lo bakal sadar "
Mereka berdua pun melangkahkan kakinya ke arah ruang rawat Siska, tepat di hadapan Nadin mereka menghentikan langkahnya
" Kenapa ga masuk dari tadi ? " Bastian menatap Nadin
" Ya om saya di sini aja " menundukkan kepalanya
" Saya tau saya banyak salah sama kamu, saya bisa berikan apapun untuk menembus semua kesalahan saya. Tapi tolong jangan sakiti keluarga saya " Bastian membuang nafasnya dengan kasar membuat nyali Nadin semakin menciut
" Saya tau saya banyak salah sama kamu selama ini, saya minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah saya perbuat "
" Tapi kamu juga banyak berbuat salah ke saya, apa kamu tau kesalahan terbesar kamu ? " Nadin tak berani menjawab dia tetap menundukkan kepalanya
" Dasar Bastian sang penggoda, tinggal minta maaf aja pake berbelit-belit " Adit tersenyum meledek
" Kesalahan terbesar kamu adalah kamu panggil mama ke istri saya, tapi kamu panggil saya om " Nadin sempat mengangkat kepalanya mencuri pandang ke arah Bastian sebelum akhirnya menundukkan kembali kepalanya
" Udah ayo masuk, pasti mama kamu juga lebih senang liat kamu dari pada saya nanti pas dia sadar " memegang ujung kepala Nadin dengan lembut
" Apa ini yang namanya kehangatan seorang papa ? "
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut termasuk Nadin mengikuti dari belakang, Nadin melangkahkan kakinya mendekati Siska dan air matanya kembali menetes
" Mah bangun mah, jangan bikin Nadin takut mah. Nadin pernah kehilangan mama satu kali, Nadin ga mau merasakan itu lagi mah "
Bagaikan suara hati dari Nadin terdengar oleh Siska tiba-tiba saja Siska mulai membuka ke dua bola matanya secara perlahan
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗