
Bastian pun tiba di rumah sakit dia masuk ke dalam ruang rawat Zahra, Adit langsung mengerti dan menghampiri Bastian lalu mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Sedangkan Liana hanya bisa pasrah melihat mereka keluar dari ruangan itu, lain hal dengan Robert yang langsung ikut keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan mereka berdua
" Gimana Bas ? gw yakin lo udah tau dalang di balik kejadian ini "
" Sejak kapan gw gagal mengorek informasi dari seseorang ? " dengan bangga
" Gw lagi ga mau bercanda Bas, langsung aja sebut siapa yang berani main-main dengan keluarga gw ? " melepaskan tatapan membunuhnya
" Tiara Prasetyo " Adit mengerutkan keningnya, seakan-akan dia sedang mencari nama tersebut dalam ingatan dirinya
" Gw udah cari info tentang perempuan itu "
" Siapa dia ? "
" Orang yang baru-baru ini bekerja sama dengan David "
" Terus apa motif dia melakukan ini semua ? "
" Karena dia pernah menggoda David dan David menolaknya " Adit dan Bastian secara bersamaan menoleh ke arah suara tersebut yang ternyata adalah Robert
" Kamu kenal dia ? "
" Iya, dia anak dari sahabat saya " Adit tersenyum mencibir
" Apa kamu fikir karena dia anak dari sahabat kamu dia bisa melakukan itu ke anak saya ? "
" Maaf pak Adit sebelumnya saya juga mau mengingatkan bahwa di dalam kecelakaan itu ada anak saya dan istrinya serta cucu saya, jadi apa pak Adit fikir saya akan lepaskan anak itu begitu aja ? "
" Bagus kalo itu memang yang ada di fikirin kamu " dengan tegas
" Maaf Tiara walaupun kamu teman sahabat om sendiri, tapi kamu sudah keterlaluan bahkan kamu berani menyakiti keluarga anak om. Sekali pun papa kamu bersujud di hadapan om, ga akan bisa untuk menyelamatkan kamu sekali ini " mengeraskan rahangnya
" Ok.. Terserah kamu mau berbuat apa ? tapi saya tetap akan buat perhitungan sendiri. Karena keluarga Pratama bukan keluarga yang bisa di remehkan "
" Saya mengerti pak "
" Ok.. Itu semua udah terjawab, sekarang masalah si supir itu gimana Dit ? " Adit kembali menatap ke arah Bastian
__ADS_1
Bastian membuang napasnya dengan kasar " Dia cuma orang ga mampu yang melakukan itu karena mau menyelamatkan nyawa anaknya " Adit menatap tajam
" Jadi anaknya menderita kanker dan harus segera di operasi, dan yang dia tau Ara adalah perempuan yang telah merebut suami dari Tiara. Itu alasan dia mau melakukan itu "
" Habisi seluruh keluarganya di hadapan dia, dan biarkan dia hidup selamanya untuk merasakan sakit yang Ara rasain sekarang " dengan tegas Bastian pun terperangah
" Lo yakin Dit ? keluarganya ga salah Dit "
" Anak gw juga ga ada salah apa-apa sama dia b*jingan..!! "
" Terserah lo aja Dit, apapun yang akan lo lakuin gw akan dukung "
" Boleh kamu lakuin itu sayang, tapi mulai detik jangan tampakkan wajah kamu di hadapan aku. Aku ga mau memiliki suami seorang pembunuh "
Adit terkejut bukan main melihat Liana sudah berada di dekatnya, Adit langsung menghampiri Liana dan berusaha memeluknya. Liana menepis tangan Adit dan menatap Adit dengan tajam
" Satu hal lagi, jangan pernah tunjukkan wajah kamu di hadapan Ara. Aku ga mau karena perbuatan kamu, Tuhan akan memberikan murkanya kepada Ara "
" Ga bisa gitu Ara itu anak kandung aku..!! " mengeraskan rahangnya
" Aku tau aku bukan ibu kandung Ara ga perlu kamu ingatkan wahai Aditya Pratama, tapi aku yakin seandainya Ara saat ini sudah sadar maka dia akan melakukan hal yang sama dengan pilihan aku "
" Aku tau yang lagi kamu rasain sayang, sama aku juga merasakan hal yang sama. Setidaknya dengan kita berbuat baik, kita bisa berharap Tuhan akan memberikan sebuah keajaibannya kepada Ara " memeluk erat tubuh Adit
" Kita harus yakin Tuhan itu maha kuasa atas segala sesuatunya " berbisik
" Akh...!! " Adit berteriak dan melayangkan tinjunya ke arah dinding untuk meluapkan segala beban yang bersarang di dalam hatinya
Liana mendekati Adit dan memeluk tubuh Adit dari belakang, Liana menangis dengan hebatnya di pundak tegap Adit. Sedangkan Bastian dan Robert hanya terdiam melihat semua itu
Tangisan Liana yang semakin hebat seakan melarutkan segala emosi Adit dalam sekejap Adit bagaikan mendapatkan kembali kesadarannya, Adit membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Liana dengan erat
" Maaf.. Aku minta maaf sayang... Aku.. " Liana membenamkan wajahnya ke dada suaminya
" Kamu harus janji ga akan lakukan itu " Adit membuang kasar nafasnya dan mengelus rambut Liana
" Tuhan aku memohon kepada Mu lindungi putri ku, tolong kembalikan dia kepada kami. Jangan biarkan aku menjadi seseorang yang akan di benci oleh putri ku sendiri "
__ADS_1
" Masukin mereka yang bersalah ke penjara Bas, dan cari tau di mana anak supir itu di rawat ? tanggung semua biaya pengobatan anaknya "
" Terima kasih sayang, terima kasih telah menjadi orang yang kuat. Orang yang tidak di kalahkan oleh dendam di hati kamu "
Adit melepaskan pelukannya setelah merasa Liana sudah cukup tenang " Ya udah kamu balik ke ruangan Zahra sayang, kamu harus ada di sana "
" Kamu janji ga akan sakiti mereka "
" Demi Ara aku janji ga akan menyakiti tubuh mereka sedikit pun sayang, kamu kan udah dengar sendiri yang aku bilang sama Bastian " Liana menghentikan tangisnya dan mulai meninggalkan mereka
" Gw ga sangka lo benar-benar sudah berubah Dit, kamu bisa tenang di sana Cindy. Malaikat kecil yang kamu tinggalkan sudah bisa merubah Adit " tersenyum tipis
" Bas demi Ara gw ga akan sakiti mereka, tapi gw mau hilangkan perusahaan mereka sebagai balasan dari gw " dengan tegas
" Gw ngerti Dit "
Bastian langsung memerintahkan anak buah Adit melakukan hal yang di perintahkan oleh Adit saat itu juga, sedangkan Robert hanya bisa terdiam karena bila Adit tak melakukan hal tersebut maka dia sendiri yang akan melakukan hal tersebut. Adit dan Robert kembali ke ruang rawat Zahra, sedangkan Bastian memilih untuk mulai melancarkan serangan kepada perusahaan papanya Tiara
Sesampainya di ruang rawat Zahra Adit menjadi sedikit tak tega melihat keadaan David yang sedang seperti itu dan masih tetap setia menggenggam tangan Zahra, Adit mulai menghampiri David
" Kamu juga harus istirahat, jangan sampai nanti saat Ara sadar dia sedih liat keadaan kamu begini "
" Tolong biarin aku ada di sini " lirih
" Kamu liat sayang suami kamu sangat mencintai kamu, kami semua sangat mencintai kamu. Jadi kamu harus cepat sadar ya " mengelus rambut Zahra
Adit mendekati Liana yang duduk di atas sofa di ruangan itu dan mendudukkan dirinya tepat di sampingnya, Adit menatap wajah Liana dengan lembut
" Terima kasih.. Terima kasih sudah mencegah aku melakukan sesuatu yang akan aku sesali " tersenyum dengan hangat, Liana pun langsung memeluk tubuh Adit
" Aku istri kamu sayang, aku harus mengingatkan kamu saat kamu akan mengambil keputusan yang salah " Adit tersenyum dan membalas pelukan Liana, lalu dia pun mengecup ujung kepala Liana
" Kamu benar Cindy dia memang perempuan yang sangat baik "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗