Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Kecurigaan Robert


__ADS_3

Suasana yang sangat haru menghiasi tempat mereka semua berkumpul, semua orang sedang bekerja berusaha menyelamatkan tiga orang nyawa di dalam ruang operasi. Dan di luar ruangan semua hanya bisa berdoa dan beberapa dari mereka tak sanggup menahan air mata mereka, walaupun sudah pasti Liana dan Mita yang tak pernah sekalipun berhenti mengalirkan air mata dari mata indah mereka


Sedangkan yang lain lebih memilih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, melihat Adit yang sudah memasang wajah merah padam menahan segala amarah dan kesedihan yang sedang bercampur aduk


Dokter yang menangani David sudah menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, pendarahan David sudah bisa di atasi walaupun ada beberapa bagian tulang David yang patah. David sudah berhasil di selamatkan dan sudah di pindahkan ke ruang rawat, pihak dokter masih mengawasi David dengan ketat


Berbeda dengan keadaan Zahra pihak dokter yang menangani Zahra masih terus berusaha menyelamatkan nyawa bayi dan sang ibu yang kini sedang dalam keadaan lemah tersebut


Salah seorang perawat keluar dari ruang operasi dan sontak saja membuat semua yang berada di tempat itu langsung mendekati perawat tersebut


" Bagaimana keadaan anak dan cucu saya suster ? "


" Cucu bapak sudah berhasil di selamatkan namun karena cucu bapak lahir dalam keadaan prematur, untuk saat ini masih harus berada di dalam pengawasan dokter "


Seluruh orang yang berada di tempat itu merasa ada sedikit cahaya terang di sebuah kegelapan mendengar kabar tersebut


" Lalu anak saya ? "


" Maaf pak, pendarahan di bagian otak pasien masih di tangani oleh dokter. Untuk lebih jelasnya nanti biar dokter yang menjelaskan "


Adit tak dapat berkata-kata lagi serasa lidahnya menjadi kelu, sedangkan Liana dan Mita kembali menangis dengan hebat di dalam pelukan suami mereka masing-masing


" Aku memohon kepada Mu Tuhan selamatkan Zahra, jangan biarkan anak Ara mengalami apa yang di alami oleh Ara Tuhan. Tumbuh besar tanpa merasakan kasih sayang ibu kandungnya " Liana menangis semakin hebat


" Kalian harus kuat, gw yakin Ara seperti ibunya. Dia perempuan yang kuat " Bastian menepuk bahu Adit


" Kalau begitu saya permisi dulu pak " perawat tersebut meninggalkan mereka semua


Sedangkan di dalam ruang operasi semua dokter dan perawat sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa seorang Zahra Pratama


" Dok detak jantung pasien semakin melemah "


Dokter yang menangani Zahra langsung memberikan instruksi untuk menyiapkan alat kejut jantung, sedangkan di alam sana Zahra berasa sedang berjalan di sebuah lorong yang sempit dan gelap. Zahra terus melangkahkan kakinya ke arah sebuah pintu yang mengeluarkan sebuah sinar

__ADS_1


Zahra terus melangkahkan kakinya ke arah pintu tersebut hingga dia tiba di depan pintu tersebut, dan berdiri lah di sana tepat di hadapannya seorang wanita yang sangat cantik, wanita yang tak pernah dia jumpai tapi dia sangat mengenal wanita tersebut. Wanita tersebut adalah Cindy Sari yang tak lain adalah ibunya sendiri, Zahra melihat Cindy sedang tersenyum ke arahnya


" Sayang... "


" Kamu... Ibu... " lirih, Cindy hanya membalas dengan senyuman


Tanpa Zahra sadari dia berlari ke arah Cindy dan memeluk tubuh Cindy dengan erat, lalu Cindy mengelus rambut Zahra dengan lembut


" Kamu sudah besar ya sekarang " Zahra hanya bisa menangis di dalam pelukan Cindy


Setelah cukup lama Cindy mulai melepaskan pelukan Zahra dan menatap wajah Zahra dengan lembut


" Sayang terima kasih sudah menjadi anak yang baik selama ini, sekarang sudah saatnya kamu kembali. Sekarang belum waktunya "


" Tapi Ara mau sama ibu di sini " Cindy tersenyum dan menggelengkan kepalanya


" Sayang ingat pesan ibu ya, kamu harus jadi ibu yang baik. Kamu juga harus jadi perempuan yang kuat untuk anak kamu sayang, sekarang saatnya kamu pulang sayang "


Tiba-tiba saja Cindy mulai menghilang dari dalam pelukan Zahra, dan di keadaan yang nyata Zahra mulai kembali mendapatkan detak jantung nya dengan normal. Seluruh dokter dan perawat yang ada di dalam ruang operasi itu serasa bisa bernafas lega, mereka pun melanjutkan operasi yang sedang mereka jalankan


" Bagaimana keadaan anak saya dok ? "


" Sebuah keajaiban Tuhan telah terjadi, kami tadi sempat kehilangan pasien untuk beberapa saat. Tetapi kini pasien sudah berhasil di selamatkan "


" Tapi ada sebuah kabar yang harus saya sampaikan " semua orang langsung memasang wajah tegang dalam seketika


" Pasien sekarang dalam keadaan koma "


" Koma dok ? "


" Ya pak "


" Berapa lama anak saya akan seperti itu..!!? " Berteriak

__ADS_1


" Sabar Dit " Rangga yang juga seorang dokter memahami betul apa yang di maksud oleh dokter tersebut


" Maaf pak kami tidak bisa memastikan kapan pasien akan tersadar ? pasien koma tidak dapat di prediksi. Kami akan tetap berusaha semampu kami pak "


" Kalau begitu saya permisi dulu pak "


" Terima kasih dok " dokter tersebut meninggalkan mereka semua


Liana yang tak sanggup mendengar kabar tentang Zahra kembali menangis dengan hebat hingga terduduk, Adit memeluk tubuh mungil Liana dengan erat. Semua yang ada di situ tak kuasa untuk menahan air matanya


" Kami harus kuat sayang, Ara butuh kita di sampingnya " bisik Adit, Liana membenamkan wajahnya ke dada suaminya


" Saya berjanji siapapun kamu yang berani berbuat sejauh ini kepada keluarga saya akan menerima balasan yang setimpal "


Sebagian orang menjaga di ruang rawat David dan sebagian lagi di ruang rawat Zahra, dan sebagian dari mereka memilih untuk kembali ke kediamannya masing-masing karena jam sudah menunjukkan hampir jam lima pagi


Kejadian yang menimpa Zahra dan suaminya membuat pukulan yang sangat keras bagus seluruh keluarga besar empat sekawan, seluruh keluarga empat sekawan menyayangi Zahra bak bagian dari keluarga mereka sendiri


Bahkan sang pengantin baru pun melupakan bahwa itu adalah malam pertama bagi mereka setelah menikah, mereka ikut membubarkan diri bersama yang lain setelah mencapai sebuah kesepakatan siapa yang akan menjaga Zahra dan David di rumah sakit


Tepat menjelang pagi hari Robert sudah tiba di rumah sakit dan langsung melihat keadaan David dan Zahra yang sama-sama masih belum sadarkan diri, tak lupa dia melihat keadaan cucu pertamanya yang masih berada di ruang inkubator dari kejauhan


Setelah itu dia mengajak Adit untuk berbincang di kantin sambil menemani Adit sarapan, dia yakin bila Adit belum istirahat sama sekali karena terlihat dengan jelas dari wajah Adit yang kusam dan kelelahan


" Bagaimana pak, apa supir truknya sudah tertangkap ? "


" Belum, saya lagi perintahkan untuk mencari supir itu secepatnya. Saya yang akan membuat perhitungan untuk semuanya, karena saya merasa ada yang janggal dengan kecelakaan ini " dengan tegas


" Apa pak Adit mencurigai seseorang ? "


" Setau saya kami ga pernah mencari masalah dengan siapapun, bahkan saya sering mengalah untuk urusan bisnis. Itu juga yang selalu saya ajarkan ke David "


Degh.... Seperti ada sebuah perasaan yang mengganjal di dalam hati Robert

__ADS_1


" Atau jangan-jangan anak itu ? "


__ADS_2