
Sepanjang perjalanan kembali Zahra hanya diam membisu, hatinya mulai yakin untuk mengambil tindakan yang sudah terbesit di dalam benaknya. Sesampainya di kediaman ayahnya Zahra dan David segera membersihkan diri dan melihat sang buah hati mereka
Sedangkan di tempat yang berbeda Tiara sedang menangis di dalam ruang tahanannya, Tiara menyadari segala kesalahannya yang telah dia perbuat. Segala kesalahannya yang harus di bayar dengan sangat mahal kehancuran keluarganya, dan kehilangan papanya untuk selamanya
" Tiara ada yang mau ketemu "
" Siapa lagi yang datang menjenguk? " menyeka air matanya
Kini Tiara sudah duduk di hadapan seorang pria yang sedang menatap dirinya, sedangkan Tiara bingung harus memulai percakapan dari mana
" Gimana keadaan kamu ? "
" Aku baik kak "
" Kakak akan urus secepatnya supaya kamu bisa keluar dari sini "
" Ga usah kak " lirih, pria itu menatap tajam Tiara
" Ini semua kesalahan aku, biar aku bertanggung jawab dengan cara ini "
" Sejak kapan kamu jadi lemah begini Tiara Prasetyo ? " penuh penekanan
" Aku sudah sadar kak, semua karena ego aku yang ingin memiliki sesuatu yang bukan milik aku. Dan sekarang aku sudah sadar, aku harus membayar mahal itu semua "
" Tapi sekarang keluarga kita berantakan karena mereka Tiara, bahkan papa sampai melakukan hal itu dan tak bisa di selamatkan. Sampai kapanpun aku ga akan lepaskan mereka begitu aja "
" Cukup kak, ini semua kesalahan aku " menundukkan kepalanya " Perempuan itu orang baik kak "
Pria tersebut bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Tiara, tetapi dia membalikkan tubuhnya dan mendekati Tiara dan mulai berbisik
" Terserah kamu mau apa ? yang pasti kakak akan balas kematian papa dengan kematian perempuan itu. Kamu tunggu aja kabar tentang kematian perempuan itu " Tiara menatap pria tersebut
" Kakak ga akan paksa kamu untuk ikut kalau kamu ga mau, tapi ingat jangan coba-coba untuk menghalangi apa yang mau kakak lakukan "
" Aku harus gimana sekarang ? aku tau kak Roy dia pasti lakuin apapun yang dia ucapkan. Tapi dia perempuan baik, gimana caranya aku kasih tau dia untuk mulai hati-hati ? "
__ADS_1
Zahra menyampaikan niatnya kepada David membuat David benar-benar tak habis fikir di buatnya, tetapi David akan selalu mendukung apapun yang di inginkan oleh Zahra. Setelah makan malam Zahra pun mulai menemui Adit di ruang kerjanya
Zahra sudah duduk tepat di hadapan Adit dengan menundukkan kepalanya, seolah-olah Adit sudah mengetahui keinginan Zahra Adit langsung memasang wajah serius membuat dalam sekejap saja nyali Zahra menjadi menciut
" Kenapa diam ? katanya ada hal serius yang mau kamu omongin ke ayah " dengan serius, Zahra memandang wajah Adit sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya
" Ga boleh gini, semua keputusan ada di tangan ayah. Aku harus berani, kalo ga ayah yang kasih perintah maka ga akan ada satu orang pun yang bisa "
" Pertama aku mau ucapin makasih ayah udah bantu anak supir itu "
" Benar kata Liana, untung aku ga melakukan hal itu kemarin. Aku ga tau apa yang akan Ara lakukan saat tau aku melakukan hal yang pernah aku perintahkan "
" Ke dua aku mau tanya sesuatu, apa ayah melakukan sesuatu dengan keluarga Tiara ? "
" Iya, ayah perintahkan untuk membuat keluarga mereka jatuh " mendengar pengakuan dari Adit Zahra langsung memandang Adit dengan sendu
" Kamu ga bisa salahin ayah, Tiara melakukan hal yang menyakiti kamu dan keluarga kamu Ara " dengan tegas
" Aku ga salahin ayah kok, cuma karena itu ayahnya Tiara sampai bunuh diri karena ga sanggup menerima semua itu. Aku jadi merasa bersalah " lirih
" Ara ayah yakin kamu yang merasa bersalah pada akhirnya, ini yang ayah takuti dari kebaikan hati kamu "
" Aku tau kok ayah lakuin itu karena rasa sayang ayah ke aku, tapi aku merasa bersalah. Aku masih bernafas dan berkumpul dengan keluarga aku, tapi mereka harus kehilangan keluarganya "
Adit hanya bisa terdiam dan menatap tajam ke arah Zahra tanpa merasakan sedikit pun perasaan bersalah, baginya itu memang sudah hukuman teringan yang bisa dia berikan. Sedangkan perihal kematian orang tua Tiara itu sudah pasti karena kesalahannya yang lemah , tetapi Adit menjadi tak tega melihat Zahra yang merasa bersalah
" Terus maunya kamu gimana ? "
" Aku mau minta tolong ayah bebasin supir itu dan Tiara dari penjara " Adit menatap tajam ke arah Zahra
" Ayah ga bisa "
" Ayah.. Sebelum ketemu supir itu aku udah ke rumahnya, keluarganya keluarga yang miskin dan anak itu sudah ga punya ibu. Aku tau betul gimana perasaan anak kecil yang ga di dampingi oleh ayahnya " memelas
" Ok.. Ayah akan usahakan bebaskan supir itu " tampak senyuman tipis dari bibir Zahra " Tapi ga kalo untuk perempuan itu " dengan tegas, membuat senyuman itu menghilang
__ADS_1
" Aku ga pernah minta apapun dari ayah selama ini, karena ayah selalu penuhin kebutuhan aku. Untuk sekali ini aku mohon ayah kabulkan permintaan aku " berkaca-kaca
" Tapi sayang "
" Apa ayah mau aku berlutut baru mau kabulkan permintaan aku ? " Zahra sudah mulai bangkit dari duduknya
" Ok.. Ayah kabulkan permintaan kamu " dengan cepat
" Makasih ya ayah " Zahra pun meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan Adit hanya bisa memandang pundak Zahra hingga menghilang dari balik pintu
" Semoga aku ga akan menyesali pilihan aku ini, tapi aku juga ga akan mungkin biarin Ara larut dalam perasaan bersalah "
Zahra membaringkan tubuhnya menghadap suaminya yang masih duduk di atas tempat tidur menunggu kehadiran Zahra
" Sudah ? " Zahra hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya
" Terus ayah kamu gimana ? "
" Ya ayah setuju "
" Astaga Ara aku senang kamu memiliki hati yang baik, tapi ga perlu ke semua orang sayang. Aku takut dia akan berbuat yang aneh-aneh lagi. Mulai sekarang aku akan memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu, aku ga mau kecolongan lagi kayak kemarin"
Hari pun berlalu berganti dengan hari yang lain, Zahra sempat menemui Tiara dan supir itu untuk memberitahu bahwa ayahnya bersedia membantu agar mereka bisa terbebas dari tempat itu
Sang supir menangis haru seakan tak percaya bila ada orang sebaik itu di dunia ini, dan ketika Zahra memberitahu kepada Tiara tentang ucapan ayahnya. Tiara merasa semakin bersalah, Tiara terus menemani Zahra berbincang ringan dan terus mencari kesempatan untuk memperingati Zahra. Tetapi itu semua sulit dia sampaikan karena tatapan membunuh dari David membuat nyali Tiara lenyap
Sesaat sebelum Zahra pergi Zahra menghampiri Tiara dan memeluk tubuh Tiara " Tolong mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati " berbisik
Zahra melepaskan pelukannya dan menatap Tiara dengan tatapan heran, sedangkan Tiara hanya bisa meneteskan air matanya
" Maaf aku cuma bisa kasih tau sampai sini, mau bagaimana pun juga dia itu saudara kandung aku "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Kalo bisa berikan vote ðŸ¤
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗