Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Keluarga Yang Tak Di Harapkan


__ADS_3

Alvian membawa Lena kembali ke kediaman keluarganya, dia tak ingin lagi melepaskan Lena dari pandangan matanya walaupun hanya sekejap. Dengan pengalaman yang telah terjadi membuat dia sadar akan pentingnya Lena bagi dirinya sendiri


Lena yang lelah tertidur bersandar di bahu Alvian, sedangkan David masih setia mengantarkan mereka dan duduk di bangku depan mobil


" Sekarang lo mau ambil tindakan apa ? "


" Gw harus cerita semuanya ke mama "


" Apa lo yakin ? "


" Mungkin ini akan buat mama sedih, tapi gw yakin mama perempuan yang baik dan kuat. Gw ga mungkin biarin dia susah sendirian di luar sana "


" Pantes aja Zahra paling sayang sama lo ternyata lo baik juga ya "


Mobil tersebut terus melaju ke arah kediaman Alvian dan keluarganya, sedangkan di dalam gudang tersebut keadaan menjadi canggung karena kini Bastian sendiri tak tau harus bagaimana. Kini hanya ada Adit, Bastian dan wanita tersebut


" Siapa nama kamu ? " Adit mencoba untuk mencairkan suasana, walaupun dia sudah tau nama wanita muda tersebut dari hasil tes DNA yang di berikan oleh David


" Nadin " dengan dingin


" Nadin.. Nama yang bagus Nadin apa kepanjangannya ? " Bastian langsung melirik ke arah Adit, sedangkan Adit hanya tersenyum


" Saya benci nama panjang saya " menundukkan kepalanya


" Mau sebesar apapun kamu bencinya, kamu tetap bagian dari keluarga itu "


" Bagian dari keluarga yang tidak di harapkan " lirih


Adit mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Bastian dan menepuk bahunya


" Gw duluan ya, kayaknya urusan ini harus lo selesaiin sendiri " lalu mulai mendekati gadis muda tersebut dan memeluknya


" Selamat datang ya di keluarga Pratama, maaf kami terlambat tau tentang kamu " gadis itu hanya bisa terdiam Adit mulai melepaskan pelukannya


" Kamu bisa panggil saya om Adit kayak yang lainnya, kalo dia berani macem-macem sama kamu. Kamu tinggal bilang ke om Adit ya " tersenyum hangat sambil melirik ke arah Bastian, lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan gudang tersebut


Bastian mulai bangkit dari duduknya dan mendekati Nadin, setelah tiba di hadapan Nadin Bastian mengangkat tangannya sedangkan Nadin langsung menutup kedua bola matanya, masih teringat dengan jelas sekuat apa tamparan yang dia terima dari seorang Bastian


Nadin mulai membuka ke dua bola matanya saat ternyata tak terjadi apa-apa, dia hanya merasakan bila pipinya sedang di pegang oleh sebuah tangan dan ternyata tangan tersebut adalah tangan dari seorang Bastian

__ADS_1


" Apa masih sakit ? "


" Ga usah pura-pura baik sama saya " Nadin memalingkan wajahnya


" Maaf dulu saya masih muda, dan masa muda saya memang buruk. Maaf kalo kamu jadi susah karena perbuatan saya " Nadin hanya terdiam dan menatap tajam ke arah Bastian


" Kamu enak banget bilang maaf, kamu ga tau gimana kehidupan saya yang ga pernah di hargain dengan semua orang di sekitar saya. Kamu ga tau gimana rasanya harus berjuang hidup sendirian ketika mama meninggalkan saya untuk selamanya "


Suasana di tempat itu menjadi canggung karena Bastian yang merasa bersalah kepada darah dagingnya sendiri, dan Nadin yang masih memendam segala kebencian terhadap pria yang berada di hadapannya. Hingga tiba-tiba handphone Bastian berdering


" Ya "


" Bawa dia pulang sayang "


" Tapi sayang.. "


" Yang salah kamu sayang bukan dia, bawa dia pulang ke rumah kita "


" Aku minta maaf ya "


" Kamu inget kan sebelum kita menikah, kita udah saling terbuka. Aku udah yakin suatu saat akan ada kejadian yang kayak begini, dan aku udah siap dari awal sayang "


" Tapi maaf kalo di dalam hati kecil aku tetap merasa sedikit kecewa sayang " lirih


" Aku tunggu kalian berdua di rumah, kita harus menebus semua kesalahan kamu selama ini sama dia " Bastian hanya bisa terdiam dan Siska memutuskan sambungan teleponnya


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Siska memeluk Alvian dan menangis di dalam pelukan anaknya, ternyata setelah mengantarkan Alvian dan Lena ke sana David langsung undur diri dan kembali ke kediamannya


Alvian membawa Lena masuk ke dalam rumah dan Siska terkejut melihat keadaan Lena yang cukup mengenaskan, Alvian meminta mamanya untuk ke dalam kamar untuk menceritakan semuanya. Mendengar semua kenyataan tersebut Siska langsung menghubungi suaminya


" Sabar ya mah " Alvian memeluk tubuh Siska dengan erat


" Ini alasan aku ga mau bergaul di dunia seperti itu, aku ga mau liat perempuan menangis "


" Mama ga apa kok sayang " melepaskan pelukannya


" Sebentar ya mama cuci muka dulu, kita ke depan lagi. Kasian Lena sendiri di sana, sekalian kita tunggu mereka datang " Siska mulai bangkit dari duduknya


" Kenapa mama minta papa bawa dia ke sini ? "

__ADS_1


" Dari awal mama udah tau semua kelakuan papa kamu sebelumnya sayang, mama ga mungkin tutup mata untuk dia " senyum terpaksa


" Mama bisa minta papa kasih dia apa aja, ga perlu di bawa ke sini mah "


" Gimana juga dia anak papa kamu sayang, dia punya hak yang sama dengan kamu "


" Aku yakin mama perempuan baik dan kuat, ternyata aku bener. Semoga aja perempuan itu ga akan sakitin mama juga, atau aku ga akan memaafkan dia "


" Terserah mama aja "


" Mulai sekarang kamu harus berbuat baik ya sama dia " Alvian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya


Siska melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, sebagai seorang wanita hatinya tetap merasakan sakit. Tapi sebagai seorang ibu dia merasakan sakit yang di rasakan Nadia akibat ulah masa muda suaminya


Setelah itu mereka kembali ke ruang tamu dan di sana Lena sudah berganti pakaian dan membersihkan diri, mereka berbincang sambil menunggu kehadiran Bastian dan Nadia


Sedangkan di dalam gudang sana Bastian seperti kehabisan kata-kata untuk mengucapkan segala penyesalan masa mudanya, Bastian mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar dan menghentikan langkahnya karena Nadia masih berada di tempat yang sama


" Ayo " Nadin mengerutkan keningnya


" Istri saya mau ketemu kamu "


" Apa yang mau di lakuin keluarga ini ke aku ? "


" Kamu ga usah takut dia perempuan baik, dan ada saya di sana nanti. Mulai sekarang saya akan jadi pelindung untuk kamu "


" Saya ga perlu.. " langsung terpotong


" Saya tau kamu benci sama saya, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan hanya bagaimana caranya kita harus bisa menjadi lebih baik dari kesalahan yang pernah kita perbuat "


" Kalo kamu memang kamu orang baik saya ga perlu merasakan semua kesedihan di dalam hidup saya "


Bastian kembali mendekati Nadin dan mulai menarik tangan Nadin agar mengikutinya, mereka pun keluar dari gudang tersebut dan mulai masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah kediamannya


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya saling diam dan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka, mereka hanya saling larut dalam pikirannya. Bastian yang harus memikirkan bagaimana cara menjelaskan semua kepada Siska, sedangkan Nadin masih memikirkan bagaimana caranya untuk kembali menyakiti keluarga Bastian Pratama


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗

__ADS_1


Berikan vote kalo bisa 🤭


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


__ADS_2