
Satu persatu yang menjenguk bayi mungil itu pun mulai kembali, saat Adit dan Erik keluar dari ruangan itu mereka berpapasan dengan Rangga dan Mita di lorong rumah sakit, mereka berdua baru saja tiba
Adit dan Rangga saling sapa sejenak, tetapi lain halnya dengan Mita dia memandang Adit dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian lalu Mita meninggalkan mereka begitu saja
" Kenapa bini lo sama gw ? "
Mendengar itu Erik yang posisi berdirinya ada di belakang Adit langsung menatap Rangga dengan tajam memberikan sebuah peringatan, seolah-olah dia mengatakan jangan pernah bilang apapun ke Adit
" oh.. mungkin lagi PMS "
Padahal tanpa Erik melakukan itu pun anggota empat sekawan yang lain sudah sepakat untuk sekarang ini tidak akan mengatakan apapun tentang Cindy, Rangga langsung berpamitan menyusul Mita ke ruang inap Siska
Adit dan Erik sudah berada di dalam mobil mereka memutuskan untuk kembali ke kantor dengan saling diam, Adit hanya larut dalam pikirannya sendiri ada perasaan penasaran dengan cara Mita menatapnya dan ada perasaan menyesal akan pengkhianatan Cindy yang menggelayut di hatinya
" Rik lo tadi lihat enggak ga cara istrinya Rangga lihat gw ? "
" Maaf pak saya tidak lihat "
Erik akan melakukan apapun untuk melindungi Adit, Erik dan Adit larut dalam pemikiran mereka masing-masing
" Saya akan berbohong jika itu di perlukan untuk melindungi hati kamu Dit "
" Harusnya gw yang marah sama sahabatnya, seandainya aja dia ga berbuat itu mungkin gw sudah menjadi seperti Bastian sekarang, menjadi seorang papa "
" Kamu boleh khianati aku dan untuk perbuatan kamu itu mungkin selamanya aku ga akan pernah memaafkan kamu, tapi kalau aja kamu tau selamanya kamu akan tetap jadi penguasa di hati aku "
Erik melirik ke arah Adit melalui kaca spion dan Erik bisa mengetahui bahwa Adit sedang larut dalam kesedihannya, Erik paham betul bila Adit sekarang sedang bersedih, karena dengan melihat bayi mungil itu membuat Adit terkenang akan Cindy
" Maaf Dit hal tadi tidak bisa di hindari "
Mita sedang menatap gemas bayi mungil itu dan tak lama Rangga pun ada di situ, kini di ruangan itu hanya ada mereka berempat keluarga Bastian yang lain sudah kembali ke kediamannya untuk beristirahat
" Selamat ya " Rangga tersenyum tulus menghadap pasangan orang tua baru itu
" Makasih bro "
Rangga mulai berjalan mendekati Mita yang sudah berada di dekat box bayi
" Suatu saat nanti kita juga akan punya sendiri kok sayang " Mita pun tersenyum mendengar bisikan dari suaminya
" Semoga suatu saat nanti Tuhan akan memberikan aku kepercayaan untuk bisa memiliki bayi juga "
__ADS_1
Anggota empat sekawan yang terakhir pun akhirnya hadir disitu bersama istrinya, mereka pun berbincang ringan disana, hingga Bagas akhirnya menyadari tangan Bastian yang sudah penuh dengan bekas cakaran dan mulai meledek
" Buset.. Lo abis nemenin istri lo lahiran atau tawuran bro "
" Maksud lo ? "
" Itu tangan lo " Bagas pun tertawa
Mendengar ucapan dari Bagas, sontak saja semua yang berada di dalam ruangan itu langsung menatap ke arah tangan Bastian semua
" Oh.. Gw abis bantu macan lahiran " Bastian menjawab sambil melirik ke arah Siska, dan berhasil membuat semua yang berada di ruangan itu pun menjadi tertawa
" Aduh maaf sayang "
Bastian mulai berjalan mendekat ke arah Siska sambil tersenyum manis dan membisikkan sesuatu
" Ga apa kok sayang, ini ga akan sebanding dengan suara teriakan kamu tadi "
" Maaf " Siska menjadi merona menahan malu
" Ga sayang aku bercanda kok, kamu itu udah memberikan hal terindah buat aku, makasih ya "
Bastian lalu mencium kening Siska dan menatapnya dengan lembut
" Udah.. Jangan diterusin lagi, bini lo baru lahiran belum bisa " ledek Bagas sambil menepuk pundak Bastian
" Sakit lo ya.. "
Percakapan ringan mereka berhasil membuat semua yang berada di ruangan itu kembali tertawa
" Gimana tadi rasanya nemenin macan lahiran bro ? "
" Ga bisa di ungkapkan pakai kata-kata bro, rasanya gw ga akan tega buat biarin bini gw hamil lagi "
" Konyolnya lagi gw ikutan mengejan juga tadi " Bastian tertawa sendiri menjawab pertanyaan dari Bagas
" Lah anak yang lo keluarin mana dong ? "
" S*alan lo.. !! sebentar lagi juga lo bakal ngerasain apa yang gw rasain tadi "
Semua kembali di buat tertawa oleh percakapan Bastian dan Bagas hanya Rangga yang terdiam sedari tadi karena memikirkan sesuatu
__ADS_1
" Gw jadi kebayang Cindy bro "
" Ya gw juga ga sangka dia akan berakhir begitu, bahkan tadi gw sempat takut waktu temanin Siska di sana ke bayang Cindy bro " jawab Bastian
Cukup lama juga semua yang berada di dalam ruangan itu menjadi terdiam mengenang Cindy
" Gw tadi ketemu Adit loch di lorong "
" Udah dech tolong jangan bahas dia, seandainya aku ga janji sama Cindy pengen banget rasanya maki-maki tuch orang satu " celetuk Mita
" Enek banget rasanya gw kalau lihat muka dia, lagian segini lamanya waktu dalam satu hari kenapa bisa berpapasan sama tuch manusia "
Mendengar ucapan dari Mita mereka yang semua yang berada di dalam ruangan itu memilih untuk diam, mereka memahami dengan apa yang di rasakan oleh Mita, Bagas pun langsung mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana
" Udah lah ga usah bahas dia ga penting juga, kita kan di sini lagi berbahagia ni buat sobat kita yang langka ini "
" Maksud lo ? " Bastian mengerutkan keningnya
" Ya gimana ga langka coba bini lo yang lahiran lah lo ikut-ikutan, gw yakin dech dokter sama suster di sana pasti ngeliat lo kaya orang bodoh " Bagas pun tertawa terbahak-bahak
Akhirnya semua yang berada di ruangan itu ikut tertawa termasuk Mita, dan seketika Mita pun melupakan gejolak di dadanya tadi
Mereka semua terus saling melempar canda seperti yang biasa mereka bertiga lakukan, setelah merasa puas melihat Bastian junior mereka pun mulai membubarkan diri meninggalkan pasangan yang sedang berbahagia itu
" Masih sakit ga sayang tangannya ? "
" Apa sie sayang, ini ga akan sebanding dengan rasa sakit kamu tadi "
" Terima kasih ya kamu udah buat hidup aku jadi sempurna " Bastian mencium ujung kepala Siska
Hari demi hari pun terus berlalu kini Bastian sudah membeli sebuah rumah untuk keluarga kecil mereka, semua mulai menjalani hidup penuh dengan kebahagiaan, sedangkan Wulan sedang di bujuk terus menerus oleh keluarga Bagas agar menetap selamanya di kediaman keluarga Bagas
Adit kini sudah mulai bisa menata hatinya dia tidak seperti dahulu kala yang setiap saat menyesali perbuatan Cindy, dia belajar untuk melepaskan Cindy dia hanya berpikir mungkin Cindy tidak bahagia hidup bersamanya
Adit tetap bertanggung jawab memberikan tunjangan setiap bulannya terhadap Cindy, dia tidak ingin Cindy di luar sana akan merasakan kesulitan dengan masalah finansial
Adit hanya meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu adalah bentuk dari tanggung jawab, sesungguhnya dia hanya tak ingin Cindy sedikit pun merasakan kesusahan dalam hidupnya
Adit memang sudah belajar untuk menata hatinya tetapi bukan berarti dia sudah bisa menerima wanita lain, bahkan sekarang Adit menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk yang namanya seorang wanita, baginya cukup Cindy pernah menjadi penguasa di sana
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih 😊
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..