Zahra Anak Yang Tak Berdosa

Zahra Anak Yang Tak Berdosa
Penerus Pratama


__ADS_3

Seharian penuh ruang rawat Zahra di penuhi oleh para sanak keluarga dan para sahabat yang sudah sangat merindukan akan senyuman Zahra, walaupun Zahra masih lebih banyak terdiam dan hanya sesekali melepaskan senyuman tipis di bibirnya. Tetapi bagi semua orang yang berada di dalam ruangan itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu mereka


Satu persatu para orang yang hadir di tempat itu mulai kembali untuk membiarkan Zahra kembali beristirahat, kini hanya tersisa Adit, Liana, David dan sang bayi yang belum memiliki nama buah hati dari Zahra dan David


Liana mendekatkan box bayi tersebut ke sebelah tempat tidur Zahra, karena dia yakin bila hati kecil Zahra ingin berada di samping bayi mungil tersebut


" Siapa nama anak cantik ini sayang ? " Liana mengelus lembut pipi bayi mungil tersebut


Zahra yang mendengar hal tersebut langsung menatap ke arah David dan mengerutkan keningnya


" Masa kamu ga kasih anak kita nama sih sayang " David hanya membalas dengan senyuman seakan dia paham dengan apa yang ada di dalam benak Zahra


" Kan kamu yang tau namanya sayang " membelai rambut Zahra dengan lembut


" Aku mau kasih dia nama Dara Cahaya Pratama bun "


Adit yang berada tak jauh dari situ langsung menatap ke arah Zahra, kini ayah dan sang anak tersebut saling menatap


" Boleh kan ayah aku kasih nama keluarga ayah di anak aku ? " Adit mulai berkaca-kaca sambil menganggukkan kepalanya, Liana mulai mendekati Adit dan menggenggam erat tangan Adit


" Kamu pasti lagi bahagia kan sayang ? hal paling kamu cemaskan sekarang sudah hilang "


FLASH BACK


Adit merebahkan tubuhnya di samping Liana lalu memeluk tubuh Liana dengan erat dari belakang tanpa mengeluarkan suara apapun, sedangkan Liana yang sudah lama mendampingi hidup Adit paham betul bila kini Adit sedang memikirkan sesuatu


" Kamu kenapa ? " Adit hanya terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya


Liana hanya terdiam dan m membiarkan Adit larut dalam pikirannya untuk sejenak, lalu Liana mulai memutar tubuhnya dan menghadap tepat di hadapan wajah Adit


" Kamu kenapa ? "

__ADS_1


" Sebentar lagi anak Ara akan lahir sayang " lirih, Liana mengerutkan keningnya


" Aku anak tunggal dan aku cuma punya Ara, berarti nama Pratama dari aku akan selesai sayang " membenamkan wajahnya ke dada Liana, Liana memeluk erat Adit dengan perasaan bersalah


" Maafin aku sayang, maaf aku ga bisa berikan kamu anak " tanpa di sadari air mata Liana mengalir dengan sendirinya, dan Adit mulai menyadari tubuh Liana yang mulai bergetar karena menahan tangisannya


Adit mencoba melepaskan pelukan Liana dan melihat air mata Liana yang sudah mengalir


" Hei.. Kamu kenapa ? "


" Maaf... " lirih, Adit hanya bisa terdiam tak paham dengan apa yang sedang terjadi, Adit menghapus air mata yang membasahi pipi Liana


" Kamu kenapa ? bilang sama aku " Liana membenamkan wajahnya ke dada bidang Adit


" Maaf aku ga bisa berikan kamu keturunan " mulai menangis dengan hebat, Adit langsung memeluk tubuh Liana dengan erat


" Astaga maaf sayang, aku benar-benar ga ada niat untuk bahas masalah itu " Adit mulai melepaskan pelukannya setelah merasa Liana tenang, Adit memegang ke dua pipi Liana agar Liana mau menatap matanya


" Aku tadi cuma kepikiran aja saat anak Ara nanti lahir aku ga bisa paksa mereka untuk pakai nama Pratama di anak mereka, sedangkan aku cuma Ara aja. Tapi bukan berarti aku kecewa sama kamu " mencium kening Liana dengan lembut


" Sekali lagi minta maaf ya, aku minta maaf udah buat kamu sedih. Tapi kamu harus yakin bagi aku kamu dan Ara sudah cukup kok " Liana hanya membalas dengan senyuman, dan Adit pun kembali memeluk tubuh Liana saat akan tertidur seperti biasanya


" Aku tau kamu sebenarnya takut kan sayang, takut nama Pratama yang kamu bawa ga akan ada yang meneruskan. Maaf karena aku ga akan pernah bisa wujudkan itu "


FLASH OFF


Adit memeluk tubuh Liana dengan erat sambil meneteskan air matanya, membelakangi Zahra dan yang lainnya


" Aku bahagia banget sayang " berbisik


Liana tersenyum bahagia sambil mengelus punggung Adit seorang pria yang kini sangat dia cintai tersebut

__ADS_1


" Terima kasih Ara, terima kasih kamu sudah membuat ayah kamu bahagia. Dan terima kasih sayang, terima kasih karena kamu ga pernah mengeluh tentang kekurangan aku sebagai seorang istri "


Adit menyeka air mata yang terjatuh dengan mata yang masih memerah dia melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Zahra yang masih dengan posisi berbaring


" Makasih ya sayang " Zahra membalas dengan senyuman


" Ayah benar-benar merasa bahagia "


" Makasih ya, kamu ijinkan anak kalian memakai nama Pratama " menatap David, David hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya


" Aku yang harus mengucapkan itu, karena kalian bisa menerima saya di antara kalian "


Liana mendekati di mana bayi Zahra sedang berada sambil mengelus pipi bayi mungil tersebut dengan lembut " Dara Pratama, nama kamu dara Pratama sayang, apa ada artinya dari nama anak kalian ? " menatap ke arah Zahra


" Dara aku gabungin nama kami berdua bun, David dan Ara " David tersenyum bahagia mendengar hal tersebut


" Kalo Cahaya Pratama ? "


" Cahaya Pratama karena aku mau dia jadi cahaya bagi ayah, aku cuma berfikir aku anak tunggal ayah. Aku ga mau nama yang ayah bawa akan hilang "


Adit langsung mencium kening Zahra dengan sangat lembut " Kamu memang berhati baik sayang, sama seperti ibu kamu. Sayang kamu bisa lihat kan dari sana, anak kita sekarang sudah menjadi seorang ibu "


Hari demi hari pun berlalu Zahra sedikit demi sedikit keadaan Zahra sudah mulai membaik, dan ruang rawat Zahra hampir setiap hari selalu di datangi oleh orang yang ingin menjenguk dirinya


Dan hampir setiap hari di sana selalu hadir sang nenek walaupun Adit sudah melarang agar mamanya tak jatuh sakit karena kelelahan, tapi bagi mama Linda melihat keadaan Zahra yang mengangsur membaik jauh lebih penting


Zahra pun sudah di izinkan untuk keluar dari rumah sakit karena keadaannya yang sudah mulai pulih, Adit meminta agar untuk sementara David dan Zahra kembali ke kediamannya dengan alasan untuk bisa memantau kesehatan Zahra. David dan Zahra pun terpaksa mengikuti keinginan Adit


Selesai merapikan segala barang-barang milik mereka kini mereka pun siap untuk kembali ke kediaman Adit, begitu membuka pintu ruangan tersebut Zahra sempat melihat beberapa orang berpakaian rapi seperti sedang mengikuti dan menjaga mereka


" Aku tau ayah memang selalu di ikuti beberapa pengawal tapi biasanya ga sebanyak ini " Sedangkan yang lain seperti sudah biasa melihat hal tersebut, hanya Zahra yang merasa ada sesuatu yang sedikit aneh dengan pemandangan tersebut

__ADS_1


__ADS_2