
selepas kepergian Adit berganti giliran kini mama Linda yang menangis dengan hebat di dalam pelukan Imel, dia sangat menyesali perbuatannya terdahulu, bagaimana mungkin dia yang juga seorang ibu dapat melakukan itu kepada darah dagingnya sendiri
" Mama ga tau Mel "
" Ya mah Imel tau kok, mama sabar ya Adit sekarang lagi marah aja mah "
Imel terus membujuk mamanya yang tak henti menumpahkan air matanya, mama Linda benar-benar menyesal dengan perbuatannya, hanya karena perbedaan status dia tega menjebak wanita yang sedang mengandung cucunya sendiri
" Mama benar-benar menyesal Mel, mama ga tau kalau Cindy sedang hamil cucu mama Mel "
" Saya mohon tolong maafin saya Cindy "
Berbeda dengan Adit ketika keluarganya menyesali perbuatannya dia menyesali kebodohannya. Adit yang sudah meninggalkan kediaman mamanya menepikan mobilnya di tepi jalan
" Aku harus apa sekarang sayang ? saat ini aku cuma ingin menyusul kamu ke sana sayang "
Adit yang sudah putus asa benar-benar berpikir untuk mengakhiri hidupnya untuk selamanya, hingga lamunannya terbuyarkan oleh panggilan masuk di ponselnya dari Bastian
Tut..Tut..Tut..
" Halo "
" Di mana lo ? "
Bastian hanya tidak ingin Adit melakukan hal-hal bodoh, dia ingin mengingatkan kembali Adit bahwa ada seorang gadis kecil yang sedang menantikan kehadirannya
" Jalan "
" Kapan rencananya lo mau tengokin anak lo si Zahra ? "
" Astaga sayang maafin papa sayang, papa hampir saja lupa sama kamu "
" Di mana posisi anak gw ? "
" Tempat gw liburan sama Siska, lumayan jauh dari sini kalo lo mau ke sana biar kita antar "
Ternyata para sahabat Adit yang lain sudah berkumpul semua di kantor Bastian, karena mereka pun memikirkan hal yang sama dengan Bastian
" Ok, sekarang aja "
" Ok.. Lo ke kantor gw aja "
" Hmm... " Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya
" Aku pasti akan penuhi semua keinginan kamu sayang, aku ga bisa berharap kamu memaafkan semua kesalahan aku, aku cuma bisa berharap kamu ga akan kecewa lagi sama aku sayang "
__ADS_1
Adit mulai melajukan mobilnya ke arah kantor Bastian, sedangkan di sana anggota empat sekawan yang lain sudah bersiap-siap untuk mendampingi Adit menemui putri kecilnya
Mereka pun langsung berangkat ke arah perkampungan nan jauh di sana menggunakan satu buah mobil, semua yang berada di dalam mobil itu hanya bisa terdiam selama perjalanan. Mereka mengerti perasaan Adit saat ini
Jika saja saat itu Cindy tidak meninggalkan seorang putri kecil untuk Adit pasti Adit akan memilih untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga, sebelum mereka berangkat Bastian sudah memberikan kabar kepada Liana bahwa Adit akan datang
Saat itu perasaan Liana sedang benar-benar hancur, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya ke depan tanpa ada kehadiranseorang Zahra di sisinya
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka pun tiba di depan kediaman Liana, mereka pun mulai turun dari mobil dan Rangga yang mengucapkan panggilan karena hanya Rangga yang paling dekat dengan penghuni rumah itu
" Permisi "
" Iya " Liana langsung keluar dan membuka gerbang rumahnya
" Mbak " Rangga tersenyum
" Ini mbak kenalkan Adit "
Liana menyodorkan tangannya dan mereka berdua pun saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing, Liana pun menyalami yang lainnya setelah itu
" Mari masuk dulu " Liana mempersilakan mereka masuk dan membawa mereka ke ruang tamu
" Silahkan duduk dulu "
Mereka pun mulai duduk di posisinya masing-masing, Adit saat itu perasaannya sedang bingung dia tidak tau apa yang nanti harus dia katakan pada gadis kecil itu
Liana dengan perasaan yang sangat sakit berusaha terlihat tegar di hadapan mereka semua, dia meninggalkan mereka dan menuju ke kamar Zahra, tak lama berapa lama seorang ART ke ruang tamu untuk mengantarkan minuman
" Sayang ayah sudah datang " saat Liana sudah mulai duduk di tepi ranjang Zahra
" Ayah Ara bunda " bersemangat
" Iya sayang.. Ayo keluar dulu "
" ya bun "
Gadis kecil itu mulai turun dari tempat tidurnya dengan ceria, dan Liana menuntun gadis kecil itu keluar kamar ke arah ruang tamu dimana ayah kandung gadis kecil itu berada, begitu sampai di ruang tamu gadis kecil itu menyalami semua tangan yang ada di situ dan Rangga berada di posisi duduk terakhir
" Halo sayang "
Ya hanya Rangga yang dekat dengan gadis kecil itu, karena hanya dia yang sesekali masih menjenguk gadis kecil itu, gadis kecil itu pun langsung memeluk Rangga dengan perasaan bahagia, karena selama ini bagi gadis kecil itu Rangga adalah sosok ayah baginya
" Om Rangga "
Adit yang hatinya sedang hancur semakin remuk melihat pemandangan itu, bagaimana mungkin darah dagingnya sendiri lebih memilih memeluk orang lain dari pada dirinya, tanpa sadar Adit langsung berdiri dan menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya
__ADS_1
" Ini papa sayang " lirih
Semua yang berada di situ hanya bisa terdiam melihat Adit, mereka mencoba memahami perasaan Adit saat itu, perasaan orang tua yang setelah sekian lama baru mengetahui bahwa dia mempunyai seorang anak
" Tapi Ara ga punya papa " ucap Zahra dengan polosnya
Mendengar jawaban dari Zahra Adit sedikit kecewa, dia menurunkan gadis kecil itu dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu
" Zahra dengerin papa, papa minta maaf ya papa yang salah selama ini, ini papa.. Zahra itu anak papa " Adit kembali memeluk gadis kecil itu dengan sangat erat
" Tapi Ara memang ga punya papa om "
Zahra pun sudah mulai terisak gadis kecil itu ketakutan dengan ucapan dan tindakan Adit, para sahabat Adit yang lain langsung berdiri mencoba melepaskan pelukan Adit dari Zahra, karena melihat gadis kecil itu sudah mulai ketakutan dan hendak menangis
" Dit udah jangan begitu " Rangga mencoba menenangkan Adit
" Ya Dit kasian dia malah takut " Bastian pun ikut angkat bicara
Adit yang sedang kalut melihat penolakan dari Zahra lalu mendengar ucapan dari sahabatnya yang menghalangi dia, dia pun berteriak dengan sangat keras saat dia masih memeluk Zahra
" Diam.. Kalian ga ngerti perasaan gw..!! "
Sedangkan Zahra menjadi semakin ketakutan, dia menoleh ke arah Liana sambil menjulurkan tangannya seperti meminta pertolongan
" Bunda... " Akhirnya tangis gadis kecil itu pun pecah
Sedangkan Liana yang sedari tadi sudah mencoba menahan diri akhirnya tak kuasa saat melihat gadis kecil kesayangannya menangis, Liana pun mendekati Adit dan memegang pundak Adit
" Maaf pak.. Tapi kalo cara bapak begitu bapak cuma membuat Ara menjadi takut sama bapak " dengan lembut
Entah mengapa tangan hangat dan panggilan bapak dari Liana membuat Adit langsung teringat akan Cindy dan membuat Adit kembali tersadar, Adit pun langsung melepaskan pelukannya dia pun baru tersadar bila gadis kecil itu sudah menangis dengan hebat di dalam pelukannya
" Maaf " lirih
" Maaf sayang.. Papa minta maaf "
Liana langsung menggendong Zahra, sedangkan Zahra membenamkan wajahnya ke dada bundanya sambil menangis, sedangkan yang lain kembali duduk ke sofa
" Gw ga salah liat ya ? barusan Adit ngalah sama cewe ini "
Ternyata perasaan heran itu tak hanya dirasakan oleh Bastian saja, tetapi juga semua sahabat Adit yang lain, lalu Liana mulai mendudukkan dirinya di sofa yang berjarak agak jauh dari Adit dia tidak ingin Zahra semakin takut dengan Adit
Adit hanya bisa meneteskan kembali air matanya bagaimana mungkin darah dagingnya sendiri lebih bersedia di pelukan orang lain pikirnya, hati Adit benar-benar remuk dengan semua kenyataan yang harus dia hadapi, sekarang Adit benar-benar sudah berubah menjadi Adit yang cengeng
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih 😊
maafin ya kalau masih banyak typo maklum masih belajar..