Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Sakit nya berbagi


__ADS_3

Maria tidak lagi mau menunggu apa lagi saat ini sudah lewat jam makan siang untuk para pekerja kantor, dia bangkit dari duduk nya dan masuk kembali ke dalam kamar nya.


Di sana dia duduk sambil menatap tembok putih yang ada di depan nya, dia tidak menangis, untuk apa pikir nya.


Toh jika dia menangis pun suami nya itu tidak akan pulang saat ini juga bukan, jadi biarlah mereka melakukan apapun, dia tidak akan menggangu atau mengusik kesenangan mereka.


Padahal tadi malam suaminya itu sudah bermalam dengan madu nya dan kini mereka kembali mengulang sesuatu yang tidak akan pernah ada kata puas untuk mencapai.


Rasa candu yang tercipta membuat siapapun enggan untuk menyudahi nya, dia merenungi masa tuanya nanti, yang mungkin akan dia habiskan bersama cucu nya, anak dari David.


Ah iya.


Kenapa dia merasa sendiri saat ini, bukan kah dia punya satu anak laki-laki yang pasti menyayangi nya, mungkin nanti entah kapan dia akan pindah saja dari rumah ini, istana nya itu sekarang memang masih milik nya tapi dia tidak yakin jika dia masih akan menjadi pemilik nya jika madu nya itu memberikan keturunan perempuan pada suaminya.


Sebuah keinginan yang tidak bisa dia berikan itu mungkin saja akan suaminya dapat dari Diana, dia bertekad akan menjadi wanita yang lebih kuat dan tegar lagi dalam menghadapi problematika rumah tangga mereka.


Sampai dia mendengar ada sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah dan terparkir sembarang di sana, serta suara derap langkah yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


Tentunya dua pasang sepatu yang terdengar masuk dan langsung membuka pintu kamar nya, dia melihat suaminya itu datang bersama madu nya dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.


Seakan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan saling mencintai.


"Sayang" ucap Albert yang menghampirinya di sofa dengan pegangan tangan yang terlepas.


"Maafkan aku yang terlambat pulang, aku menunggu Diana yang masih harus menyelesaikan pekerjaan nya!"


Maria tetap diam dia tidak menjawab ataupun menoleh pada dia orang yang kini ada di depan nya, dia menghela nafasnya mengurai rasa yang meremas jantung hati nya.


Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja, dia tidak ingin mereka tahu bahwa dia kecewa pada mereka, di sisi lain lagi ini adalah dampak dari pernikahan yang di madu.

__ADS_1


Maka siapapun yang di madu harus siap dan terbiasa menerima pembagian waktu dari suami mereka, karena suaminya itu bukan hanya milik nya saja tapi juga milik wanita lain.


"Tidak apa, kalian sudah makan?"


"Belum, ayo kita makan bersama!"


"Aku sudah makan, kalian makan lah!"


"Benar kakak sudah makan?" tanya Diana yang kini bersimpuh di hadapan nya.


"Sudah, kalian cepat lah makan nanti sakit, suruh pelayan menghangatkan makanan nya!" jawab Maria yang memalingkan wajahnya ke samping, hati nya terasa di cubit saat mendapati ada tanda merah yang masih baru itu ada di leher madu nya.


Benar bukan, kalau mereka terlambat pulang karena mereka tanah menikmati makan siang yang lain, dan suaminya itu kini tidak lagi terbuka dengan nya, suaminya itu sudah berani membohongi diri nya.


Tapi lagi-lagi logika nya mengatakan bahwa mereka pasangan suami istri dan mereka bisa bebas kapan dan di mana saja melakukan kegiatan menyenangkan itu bukan.


Albert tahu bahwa apa yang dia lakukan menyakiti hati istri nya itu, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin membuat istri nya yang lain juga kecewa pada diri nya, dia bingung harus bagaimana agar dua wanita yang di cintai nya itu tidak merasakan sakit hati.


"Apa kamu tidak mau menemani aku makan sayang?" tanya Albert sambil mendarat kecupan di pipinya tepat di depan Diana, sedangkan Diana dia merasa biasa saja melihat itu, dulu juga dia sering melihatnya dan hanya memendam keinginan nya itu.


"Ada Diana yang menemani mu, aku ingin menyelesaikan ini dulu!" jawab nya tanpa menatap wajah suaminya.


"Apa itu?" tanya Albert yang kini mencondongkan tubuhnya ke arah istrinya.


"Nanti aku bantu, sekarang ayo teman aku makan!"


"Maafkan aku tapi ini harus segera di selesaikan, Vean sudah menunggu laporan ini!"


"Ayo hubby, aku sudah lapar, kak aku keluar dulu ya!" pamit Diana yang hanya di angguki oleh Maria, dan lagi tangan Albert di tarik nya keluar dari sana, seakan tidak membiarkan mereka berdua sebentar saja.

__ADS_1


Albert berdiri dari duduknya mengikuti tarikan tangan dari Diana, mereka duduk di meja makan yang tertata banyak makanan di sana, bahkan belum berkurang sedikitpun.


Dia pun memanggil salah satu pelayan yang tengah menghidangkan kembali masakan yang baru saja di hangat kan.


"Apa Nyonya pertama mu sudah makan?" ya Albert menamainya mereka seperti itu agar mereka tidak bingung siapa yang tengah dia tanyakan.


"Belum Tuan, Nyonya belum makan apa pun sejak pagi tadi, bahkan makanan ini saja buka nyonya yang mencicipi nya!"


"Kembalilah ke belakang!" perintah Albert sambil mengibaskan tangannya.


"Ayo makan lah!" perintah Albert pada Diana.


"Tapi bagaimana dengan kak Maria dia juga belum makan!"


"Jangan memikirkan dia nanti aku yang akan mengurusnya!"


"Tapi hubby, kasihan kak---!"


"Makan kamu tahu kalau aku tidak suka di bantah!"


Diana tidak menjawab lagi dia mengambil nasi dan menaruh nya di piring lalu memberikan nya pada suami ku.


Tapi Albert masih diam, dia tidak kunjung makan makanan yang di hidangkan istrinya itu dan hanya menatapnya saja.


Diana pun kembali mengisi piring dengan lauk yang sana, tapi saat dia ingin menyuapkan makanan nya, dia melihat bahwa suaminya itu tidak menyentuh makanan, dia pun mengarahkan sendok berisi nasi itu pada suami.


Albert menolak tapi saat melihat wajah kecewa di wajah istri mudanya itu membuat nya tidak tega, dia langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari istri itu, dia tersenyum saat diana tidak lagi murung saat dia menerima nasinya, tangannya terulur mengelus pipi mulus wanita yang kini bersemu merah hanya karena dia mau menerima suapan dari nya.


Tidak tahukah Albert kalau sejak tadi dia di perhatikan oleh istrinya yang lain, dia menjaga diamond nya tanpa dia sadari bahwa berlian nya mengeluarkan begitu banyak air matanya yang sejak dulu tidak pernah dia izinkan jatuh.

__ADS_1


__ADS_2