
Diana melebar kan mata nya saat mendengar apa yang di katakan oleh suaminya itu, baru saja mereka menyelesaikan babak kesekian kalinya, tapi suaminya itu sudah ingin mengulang nya lagi.
Sungguh luar biasa sekali suaminya itu, dia bergidik ngeri membayangkan apa ini yang di rasakan kakak madu nya, dia saja tidak pernah merasakan kekurangan nafkah batin sejak mereka melakukan nya pertama kali.
"Isi kepala mu memang tidak pernah jauh dari aset pribadi"
"Ya , karena itu sumber kesuksesan" kata Albert sambil memainkan rambut istri nya.
Sedangkan Diana yang merasa lemas pun kembali memejamkan matanya, Albert yang merasa hembusan nafas halus dari istri nya menoleh ke arah dada nya.
Dia bangkit dari tidurnya, tanpa aba-aba langsung mengangkat istri nya menuju kamar mandi, tentunya sambil meminum air susu dari sumber nya dengan kuat.
"Sssstttt,,,,, Hubby, biar kan aku tidur, aku lelah sekali" rengek Diana saat suaminya itu memainkan lidahnya lagi
"Kalau tidak mau aku tiduri lagi, bangun dan mandi lah, kita akan jalan-jalan setelah ini"
Diana menggeleng dia tidak ingin keluar dari sana, dia ingin terus berada di kamar hotel bersama suaminya itu.
"Kenapa, kamu tidak ingin jalan-jalan"
"Aku mau di kamar saja, menghabiskan waktu bersama mu"
"Tapi kita harus makan"
"Pesan saja, dan antar ke sini" jawab nya saat suaminya itu menurunkan nya di bathtub.
"Kenapa tidak ingin keluar, apa kamu tidak ingin melihat keadaan di sana?"
"Aku hanya ingin egois saat ini, jika aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu tanpa harus berbagi dengan istri mu yang lain"
Deg.
Albert tertegun mendengar jawaban istri muda nya itu, apa selama ini dia tidak bisa berlaku adil pada kedua istrinya hingga istri muda nya itu menginginkan waktu yang lebih saat bersama nya.
"Apa aku berlaku tidak adil selama ini saat membagi waktu ku dengan kalian?" tanya Albert dengan rasa bersalah.
"Bukan seperti itu hubby, hanya saja aku ingin mengukir banyak kenangan bersama mu"
__ADS_1
"Sejak dulu kita selalu bersama Honey, dan selama nya akan seperti itu, jadi Jangan mengatakan apapun yang membuat mu bersedih"
"Aku melarang nya dan kamu harus melakukan, kita jalani semua ini dengan baik seperti apa yang sudah di takdir kan"
"Jadi sekarang mandilah, aku akan memesan makanan untuk kita, jika kita mandi bersama aku tidak yakin untuk tidak membuat mu kembali mengerang"
Cup.
"Cepat mandi, kita keluar setelah nya"
Diana mengangguk lalu melakukan apa yang di katakan oleh suaminya, tapi rendaman air hangat di bathtub itu membuat nya merasa rileks setelah semalam dan lagi hari mendapatkan serangan dari suaminya.
Albert meraih ponsel dan menghubungi pelayanan kamar, dia memesan dua porsi makan siang untuk di antar kan ke kamar mereka.
Setelah melakukan pemesanan dia di kejutkan oleh daftar panggilan yang berasal dari istri pertama, dia yang panik langsung menghubungi nya kembali.
"Hallo, ada apa sayang?, kamu baik-baik saja kan" tanya Albert beruntun.
"Aku baik-baik saja, kamu tenang saja, aku punya dua bodyguard yang mengawal ku" jawab Maria yang menyorotkan kamera ponsel nya ke arah kedua putranya yang tampak lesu dengan tangan yang penuh dengan barang belanjaan.
Albert ingin tertawa di sana melihat wajah kesal dari ke dua anak nya, tapi dia menahannya karena dia yakin ada yang tidak beres di sana.
"Ahh, kamu memang sangat pengertian sayang, ini aku hanya ingin memberitahumu jika kartu kredit ku limited, dan uang yang ada di ATM sudah habis" ucap Maria Samin menunjukkan dua kartu yang tidak main-main isi ulang di dalam nya, dan lebih hebat nya lagi istrinya itu menghabiskan uang yang ada di dalam hanya dalam waktu beberapa jam saja.
"Katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Albert yang sudah ketar-ketir di sana.
"Tentu saja kirimkan aku uang lagi, aku masih ingin berbelanja dengan ibu mertua mu"
"Tapi sayang, kamu sudah menghabiskan banyak uang di dalam dia kartu itu tadi dan sekarang kamu menginginkan uang lag?" tanya Albert yang tidak percaya dengan keinginan istrinya itu.
"Kenapa kamu pelit sekali, aku baru saja berbelanja sedikit tapi kamu sudah marah-marah"
"Aku tidak marah sayang, aku hanya bertanya saja"
"Sama saja, baiklah aku mengerti sekarang, kamu mungkin sudah lelah dengan ku yang selalu saja menghamburkan uang mu, ya sudah simpan saja uang mu untuk istri muda mu, aku tidak akan minta lagi"
"Aku transfer uang nya sekarang" putus Albert yang merasa bersalah pada istri nya itu.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan nya lagi"
Tut
Tut
Tut
"Sayang hey sayang bukan seperti itu"
Albert melempar ponsel nya di ranjang dia duduk di sana, menjambak rambut milik nya, dia merasa bersalah pada istri nya itu yang hanya meminta uang saja dia mengeluh padahal saat ini di tengah berbulan madu dengan istri muda nya.
Mungkin apa yang di lakukan Maria itu supaya dia tidak merasa sakit hati karena dia tinggalkan tapi justru dia menambahkan luka di hati nya.
"Ada apa hubby, kenapa kamu bingung seperti itu?" tanya Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa honey, cepat berganti pakaian sebentar lagi makanan akan datang" ucap sambil meraih kedua tangan istrinya dan mencium keduanya.
"Jangan membohongi ku?"
"Tidak ada, cepat berpakaian atau tidak usah memakai nya sampai kita pulang nanti" ancam Albert yang tidak ingin di curigai oleh Diana.
"Pilihkan aku baju yang cocok hubby" pinta nya manja.
"Apapun yang kamu pakai selalu cantik di mata ku, tapi lebih cantik lagi saat kamu berkicau di bawah kukungan ku" ucap nya sambil mengecup leher jenjang istrinya.
"Uuuhhh"
Albert pun berjalan menuju tempat di mana baju milik mereka di simpan, menuruti apa yang di minta istri muda nya, yang tanpa dia sadari di melupakan permintaan dari istri pertama nya tadi.
Sementara Maria dia trus menatap ponsel milik nya, dia ingin membelikan jam tangan untuk suaminya itu, dia rasa jam tangan yang di gunakan oleh suaminya itu sudah sangat lama, tapi suaminya itu enggan memakai yang lain, itu karena jam tangan yang selalu dia pakai adalah jam tangan pemberian nya dulu, saat mereka belum menikah dulu.
"Ah iya, aku lupa jika aku bukan lagi yang utama dan satu-satunya"
"Ma, apa mama akan terus bertahan"
Maria menatap pada putranya yang kini berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
"Tidak"