Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Karma


__ADS_3

Maria masuk kedalam kamar madu yang masih menggulung tubuh nya itu, dia sudah mandi tadi, tubuh nya memanggil masih lemas tapi mau bagaimana lagi dia harus tetap bangun bukan ini juga sudah hampir petang dan dia belum makan nasi sama sekali.


Saat dia masuk ke kamar itu dia mendengar keluhan yang keluar dari mulut madu nya itu.


"Ini sakit sekali!" ucap Diana dengan sedikit meringis.


"Tapi kamu suka kan?"


"Eeeehhhh!"


"Sudah mandi kak? tubuh ku lemas sekali!"


Maria terkikik geli mendengar ucapan madu nya itu, kalau dia saja merasakan itu lalu bagaimana dengan Diana yang memang masih satu kali ini.


Dia yang sudah puluhan tahun bersama Albert saja masih kualahan jika suaminya sedang kelebihan libido.


"Ayo aku bantu!"


"Tidak perlu kak, aku bisa sendiri!"


"Ya sudah kalau begitu aku akan turun terlebih dahulu kamu mau makan apa?"


"Apapun itu yang penting kenyang!"


Maria mengangguk lalu masuk kembali ke dalam kamar nya, Diana menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, di sana terlihat bahwa tubuh nya yang kini tidak lagi berbentuk.


Tak terhitung berapa jumlah ruam merah yang ada di bagian benda kenyal nya hingga anu itu eeemmm, bagaimana menjelaskan nya ya pokok nya itu.


Diana tersenyum saat mengingat kembali wajah suaminya saat menikmati gua gelap nya, tatapan mata dan juga wajah nya menambahkan kesan seksi yang sebenarnya tidak ingin dia bagi pada siapa.


Tapi dia tidak bisa egois bukan, dia datang menjadi orang ketiga dan untung nya di terima dengan baik oleh istri pertama nya.


Dengan langkah tertatih Diana berjalan menuju kamar mandi dia ingin berendam untuk merilekskan tubuh, sakit di pertengahan paha nya itu cukup menganggu jalan nya.


Tapi tidak apa, dia bisa memberikan nya pada orang yang di cintai nya, Diana masuk kedalam kamar mandi lalu mengisi air pada bathtub tak lupa juga meneteskan aromaterapi yang menenangkan.


Setelah itu dia masuk kesana menikmati segar nya air dengan harum lavender disana, mata nya terpejam meresapi semua yang di rasakan nya.


Cukup lama Diana berendam hingga suara Mama nya memaksa dia untuk membuka matanya.


"Sayang kamu di mana?"


"Aku di kamar mandi Ma!"

__ADS_1


Ceklek.


"Kamu baru bangun?"


"Iya ma, mama ada apa?"


"Mama hanya mengkhawatirkan mu saja!"


"Tidak ada yang perlu di khawatir kan ma, aku baik-baik saja!" jawab Diana sambil tersenyum pada Mama nya itu.


"Apa itu mu sakit sayang!"


Diana menunduk dia terlihat malu dengan pertanyaan mama nya yang menjurus pada kegiatan nya dengan pria sahabat nya.


"Jangan malu, mama juga dulu seperti itu!"


"Aku tahu bagaimana suamimu jika sudah berada di atas ranjang!"


"Apa mama pernah bermain dengan suami ku?"


Plak


"Aduuuhhh, sakit ma?"


"Mau lagi!"


"Tapi pertanyaannya mu itu tidak masuk akal, mana mungkin aku mau sama kadal buntung itu!"


"Lalu dari mana mama tahu cara bermain suami ku?"


"Apa kamu lupa kalau suamimu itu kadal buntung?"


"Dia sudah bermain dengan banyak wanita dan salah satu nya adalah kamu!"


"Dan dia harus menjadi yang terakhir aku tidak mau berbagi lagi heem!" ucap Maria langsung melengos di sana.


"Cepat ganti baju, apa perlu aku mengoleskan krim pas---!"


"Tidak perlu aku bisa sendiri, berikan saja pada ku!"


"Aku taruh di sini, cepat lah keluar dan kita harus makan siang yang ke sore an!"


"Iya kak!"

__ADS_1


"Ayo Tha kita tunggu di kamar ku saja, dia pasti malu kalau kita masih ada di sini!"


"Malu kenapa bahkan sejak kecil aku yang membersihkan nya!"


"Apa perlu aku buka baju mu biar terlihat kalau ada macan tutul yang menyerangmu semalam!"


Tanpa berkata lagi Agatha langsung keluar dari kamar mandi putri nya itu menuju kamar sahabat yang kini menjadi menantunya itu, sungguh mereka tidak pernah membayangkan jika semua akan berakhir seperti ini.


Sementara Diana segera membilas tubuh nya di ruang bilas, mengoleskan krim pada 'itu' yang perih karena sobekan semalam.


Lalu memakai baju nya, memakai skin care dan menyusul Mama dan Kakak madu nya itu turun ke lantai dasar.


...----------------...


Albert dan Geffrey yang telah selesai membakar lemak pun kini berjalan menuju mobil nya, mereka akan pergi ke restoran sesuai dengan perintah Nyonya besar mereka masing-masing.


Sebenarnya apa guna nya mereka membakar lemak kalau setelah itu akan menumpuk kembali lemak yang tadi baru saja mereka keluar kan.


Untung saja restoran yang di inginkan oleh istri mereka itu berada di lantai atas tempat mereka melakukan gym tadi, jadi mereka tidak perlu melakukan perjalanan lagi.


"Naik lah dulu Al, aku rasa aku meninggalkan dompet ku di loker,!"


"Ya sudah aku ke sana dulu, bayarkan saja dulu nanti akan aku transfer uang nya!"


"Pergi sana kau terlalu banyak bicara!"


"Terimakasih papa mertua, ha-ha-haaaaaa!"


"Dasar bajingan!" umpat Geffrey pada sahabat nya itu yang kini semakin berani menyebut nya papa mertua dan Geffrey tidak menyukainya, itu terdengar sangat menggelikan di telinga nya.


Sementara Albert tidak menanggapi ucapan dari sahabat nya itu, dia langsung keluar dari sana menuju restoran, sampai di sana saat dia ingin melakukan reservasi dan ternyata di tolak karena dia tidak membawa apa pun di sana.


Bukan kah dia hanya keluar orang-orang saja tadi, dia tidak membawa dompet ataupun ponsel untung melakukan pembayaran, jadi lah dia masuk ke lift dan turun kembali ke lantai di mana mertuanya itu berada.


Entah berapa banyak kata umpatan yang keluar dari mulut Albert sejak tadi keluar dari restoran itu dia marah sekaligus malu pada resepsionis yang ada di sana.


Belum hilang rasa kesal nya dia kembali di buat pusing saat bertemu dengan Rosaline mantan kekasihnya yang dulu mencintai dia setulus hati tapi Albert hanya menjadi kan nya bahan taruhan dengan musuh bebuyutannya.


Rosaline masuk ke dalam lift yang sama dengan Albert dengan senyum canggung di sana, namun lagi-lagi pintu yang akan tertutup itu kembali terbuka saat seseorang yang juga pernah kenal dekat dengan nya itu ikut masuk ke dalam lift yang dia tumpangi dengan mantan kekasih nya.


Lift turun secara perlahan tanpa tahu tentang kecanggungan yang ada, udara di sana terasa begitu menyesak bagi seorang Casanova seperti Albert, bagaimana tidak dia berada dalam satu lift yang sama dengan orang dari masa lalu nya.


Yang satu dia dapatkan dari taruhan dan yang satu lagi di tinggalkan begitu saja tanpa ada kejelasan.

__ADS_1


Pintu lift terbuka kembali saat berada di lantai yang berbeda satu tingkat dari restoran tadi, dan lagi mungkin ini adalah hari paling sial bagi seorang Albert saat melihat siapa yang akan masuk ke dalam Lift tersebut.


"Sial!"


__ADS_2