
Satu jam telah berlalu,
Tapi Diana masih belum selesai dengan acara berhias nya, wajahnya yang memang sudah cantik membuat para makeup artist itu tidak perlu bersusah payah membuat nya cantik cukup menambah sedikit sentuhan di beberapa titik saja sudah membuat nya bersinar bak bulan di pelaminan nanti.
kini Agatha juga sudah mulai di dandani, para makeup memberanikan dia menanyakan keberadaan Maria yang juga harus segera di rias, begitu juga pengantin prianya.
"Maaf tuan, dia mana pengantin pria dan juga nyonya Maria, kami harus segera merias mereka juga?"
Geffrey menatap tanpa ekspresi pada salah satu orang yang di pekerjakan untuk mensukseskan acara tersebut, lalu Geffrey menghubungi asisten pribadi dari sahabat nya yang kini malah menjadi menantunya.
Tut
Tidak sampai dua kali nada sambung berbunyi orang yang tengah di cari itu pun langsung mengangkat panggilan dari nya.
"Dimana Bos mu?"
"Saya tidak tahu Tuan Grey!" jawab nya sambil menyengitkan alisnya.
"Kenapa tidak tahu kamu ada di mana?"
"Saya sedang ada di luar, Bos meminta saya melakukan pekerjaan lain!"
"Cepat kabari aku jika kau tahu di mana Bos mu itu!"
"Baik Tuan!"
Geffrey langsung menutup panggilan itu, dia keluar dari ruangan itu menuju salah satu kamar yang mungkin saja dia orang yang tengah di cari nya itu ada di sana.
Dengan langkah tegap nya Geffrey kini sudah berada di lantai yang tidak bisa sembarang orang masuk ke lantai tersebut.
Tanpa menunggu lagi dia langsung menggedor pintu kamar yang di yakini menjadi tempat ke dua orang itu.
Tok
Tok
Tok
Bunyi gedoran pintu itu ternyata tidak membuat orang yang tengah saling memeluk satu sama lain itu terganggu sedikit, bahkan Maria semakin mengencang pelukan pada pria yang mulai nanti malam itu tidak bisa di peluk setiap dia menginginkan nya lagi.
Sudah sepuluh menit lama nya Geffrey menggedor pintu kamar itu tapi tidak ada pergerakan sama sekali.
"Sialan apa yang kalian lakukan, cepat keluar!" teriaknya dari luar, entah dia lupa atau tengah terserang virus 'panic attack' sampai dia melupakan bahwa kamar tersebut di lengkapi oleh peredam suara.
__ADS_1
"Kalau saja aku tidak-----!"
Ceklek
"Ada apa Grey?" tanya Maria dengan tampilan yang bisa di simpulkan apa yang tengah terjadi disana.
"Jam berapa ini Ria, satu jam lagi resepsi akan di lakukan dan kamu hilang bersama dengan suami yang dia adalah pengantin laki-laki nya di sini!"
"Jadi cepat lah bersiap dan bangun kan pria tua itu!"
"Aku menunggu kalian dua puluh menit di tempat yang kamu sendiri tentukan kemarin!" kata Geffrey dengan emosi yang tertahan.
"Iya aku akan membangun kan Albert dan bersiap ke sana!"
"Ya sudah, jangan lupa tutupi bekas gigitan ular berbisa itu di leher mu!"
Maria tidak menjawab dia hanya mengangguk lalu menutup kembali pintu nya, sudah terlalu biasa mereka terlibat dalam pembicaraan yang sedikit 'saru' bagi orang lain.
Geffrey pun kembali ke lantai di mana putri dan istri berada, tapi dia terlebih dahulu masuk kedalam kamar milik anak pertama nya itu.
Di lihat nya Stevani yang sedang di rias sedangkan cucu kebanggaan nya itu tengah tertidur pulas setelah kelelahan bermain dengan nya tadi.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Geffrey setelah itu dia menutup pintu nya kembali dan berjalan menuju kamar para wanita yang sangat di sayangi oleh nya itu.
Maria duduk di samping Albert yang tertidur masih dengan tubuh polos nya, di elusnya rambut tebal yang belum memutih sama sekali itu dengan segenap hatinya.
Dia menguatkan dirinya sendiri, mengikhlaskan semua tentang takdir yang telah ditetapkan semesta untuk kehidupan rumah tangganya, dia ingin marah tapi dia bingung harus marah pada siapa.
Air matanya kembali menetes, dia sama sekali tidak menghapus nya, dan membiarkan begitu saja mengalir di pipinya, di raih nya tangan milik suaminya itu di ciumnya dengan segenap rasa sakit nya, sakit hati seorang istri yang harus rela berbagi suami karena ulah anak nya.
Albert yang merasa tangan nya basah pun membuka mata nya, dan lihatlah di sana air mata dari wanita yang di cintai nya itu kembali jatuh, dia memejamkan matanya menahan nyeri yang begitu hebat menghujam jantungnya.
"Aku berharap ini bukan yang terakhir kali nya aku melihat wajah mu yang sedang tertidur pulas karena kelelahan setelah mengerjai ku!"
"Aku tidak tahu apa lagi kejutan yang sedang di siapkan Tuhan untuk ku, tapi apapun itu aku akan menerima semuanya asalkan pria ku masih ada di samping ku,!"
"Jika nanti kamu bahagia dengan istri baru mu dan tidak menginginkan aku lagi, katakan pada ku, saat itu juga aku akan pergi tanpa membawa apapun yang kamu berikan selama ini!"
"Berjanji pada ku sayang bahwa kamu akan terus bahagia di sepanjang hidup mu, ada dan tidaknya aku,!"
Albert mengeram di sana masih dengan mata nya yang terpejam, dia sangat tidak menyukai apa yang di katakan oleh Maria, mau pergi kata nya lihat saja kalau sampai wanita itu berani satu langkah saja menjauh darinya, dia bersumpah akan mengikatnya sepanjang waktu di ranjang kamar mereka.
Dia merasakan kembali kulit nya bersentuhan dengan bibir mungil milik istrinya itu, kalau saj dia tidak mengingat waktu pasti dia akan kembali menyerang istrinya yang telah berani berpikir akan pergi dari nya.
__ADS_1
"Apa kedalaman mu tidak sakit, jika tidak aku akan menambah nya lagi, supaya kamu berhenti menangis seperti itu!" ucapnya masih dengan mata terpejam nya.
Deg
Suami nya itu sudah bangun, jadi apa dia mendengar semua ucapan nya, jika iya apa suaminya itu akan benar-benar menyuruh nya untuk pergi.
"Kaammmuuu, sudaaaah bangun saya, sejak kapan?"
Albert membuka matanya menatap mata yang penuh dengan air mata yang berusaha di hapus oleh pemiliknya, tapi gerakan cepat Albert menghentikan tangan Maria, dia duduk sambil memegangi kedua tangan istrinya itu.
Di bawanya tangan itu mendekati ke arah bibirnya, netra nya tidak lepas dari mata yang penuh air mata itu, kemudian bibir itu berganti mencium kedua mata yang kini mengalirkan banyak air mata.
Cup
cup
cup
Tiga ke kecupan manis Albert berikan pada Maria di sana, Albert menatap dalam, menyelami rasa yang ada dalam hati mereka berdua.
"Aku boleh tanya sesuatu pada kamu sayang?" tanya Albert dan Maria mengangguk di sana.
"Sink duduk lah di tempat kesukaan mu!" Maria menurut dan duduk di pangkuan suaminya itu.
"Sekarang jawab pertanyaan ku!" Albert menghembuskan nafas berat nya di sana, di pernah berjanji tidak akan menyakiti hati pasangan nya itu tapi kini ia bukan hanya menyakiti bahkan dia kini telah mengkhianati cinta nya.
"Apa kamu masih mencintaiku?" Maria menatap mata yang kini juga menatap ke arah nya.
Kepalanya tertunduk sambil mengangguk.
"Apa aku masih bisa mendapatkan semua nya sama seperti dulu hingga saat ini!"
"Apa aku masih pantas mendapatkan setiap cinta dan perhatian dari mu, apa aku masih pantas untuk wanita murni yang ada di depan ku ini, wanita yang menerima ku tanpa memandang masa lalu kelam ku"
"Aku seorang pendosa yang mendapatkan malaikat tak bersayap wanita yang selalu menjadi tempat ku pulang"
"Aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu, aku bahkan lebih memilih kehilangan seluruh harta dan aset ku jika itu bisa mempertahankan dirimu di sisiku!"
"Aku akan melakukan apapun untukmu jika itu membuat mu bahagia bahkan nyawa ku sekalipun!"
"Katakan, katakan pada ku aku harus apa? agar air mata ini tidak lagi keluar dari tempat nya, apa lagi hanya menangisi bajingan seperti ku!"
"Aku mau------"
__ADS_1
Hahahaha......