
Semua orang kini telah berada di ballroom hotel Hamilton's, hotel terbesar di negara ini yang kini di sulap sedemikian rupa menjadi tempat resepsi bagi putra pemilik hotel tersebut, tadinya.
Tapi kini tempat itu menjadi pelaminan untuk pemilik hotel itu sendiri, semua orang menatap heran sejak tadi pagi, kasak-kusuk terdengar dari mulut ke mulut mengenai ketidakhadiran anak dari pemilik hotel tersebut.
Namun, berkat bantuan Geffrey gosip panas itu tidak meluas begitu saja saat mendapatkan ancaman dari Geffrey yang bisa di katakan dialah pemegang kendali ke dua, atas dunia bisnis di sana.
Jadi lah mereka memilih bungkam dari pada usaha yang mereka bangun dengan susah payah itu, di gulung begitu saja oleh Geffrey, laki-laki tak kenal ampun jika sudah duduk di kursi kebesarannya.
Diana masuk mengandeng Albert di sebelah kanan dan Maria di sebelah kiri nya, Diana begitu cantik dengan gaun pengantin rancangan nya sendiri.
Gaun putih kebiruan itu begitu cantik dengan veil yang dia gerai ke belakang, bagian atas sampai bawah di hiasi banyak kupu-kupu yang berterbangan sepanjang gaun itu terjuntai.
Pesona seorang Diana begitu terpancar apa lagi riasan tipis di wajah nya menambahkan kesan anggun yang membuat setiap mata pria tidak berkedip saat menatapnya.
Begitu juga dengan Albert yang terlihat begitu gagah nya mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, dan di apit oleh dua wanita cantik di sisi kanan dan kiri nya.
Membuat siapapun iri pada Albert yang bisa menikah lagi dengan daun muda yang begitu fresh, juga jangan lupakan istri pertama nya yang juga tidak kalah memukaunya di usianya yang tidak mudah lagi.
Mereka kini sudah berada di panggung pelaminan menyalami setiap tamu yang ada, banyak yang mengucapkan selamat lalu pergi menikmati makanan yang tersedia di sana.
Ada pula yang menggoda Albert menanyakan hal yang sangat absurd untuk di bicarakan di tempat umum.
"Aku tidak menyangka kamu bisa mendamaikan dia wanita untuk menjadi istrimu, ngomong-ngomong kasih tahu obat apa yang kamu pakai agar tetap kuat melayani dia wanita ini!"
"Omong kosong apa ini!" dia menjawab dengan senyum penuh tengil pada rekan kerja nya sedang kan diana dia tertunduk malu mendengar ucapan absurd mereka.
"Lihat lah pipi nya memerah Al!"
"Sudah pergi sana masih ada yang ingin mengucapkan selamat pada ku!" ucap nya lalu mengusir teman nya itu kalau tidak dia akan terus menggoda Diana.
__ADS_1
"Kau sombong sekali sejak punya istri dua!" jawab rekan bisnisnya itu sambil turun dari sana dengan tawa lebar nya.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, membuat sebagian tamu sudah banyak yang pulang mengingat waktu sudah hampir tengah malam, bahkan Maria dan Agatha sudah lebih dahulu kembali ke kamar nya.
Di sana tinggal Geffrey, Albert Diana dan juga David, serta beberapa kerabat dekat mereka saja.
Diana duduk di kursi pelaminan, kakinya pegal karena terlalu lama berdiri menggunakan high heels, jadilah dia duduk mengistirahatkan kaki nya.
Namun niatnya itu harus mengurungkan niatnya saat seorang wanita yang telah lama tidak dia temui itu kini kembali hadir di hadapan memberikan ucapan selamat atas pernikahan nya.
Dialah Haura Vanessa adik dari mama nya Diana yang sejak tiga tahun ini pergi mencari seseorang yang Diana juga tidak tahu siapa itu.
"Tante ku pikir sudah pergi lagi, ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu!"
"Selamat untuk pernikahan mu Di, Tante tidak kemana-mana, kamu harus menceritakan kenapa kamu bisa menikah dengan buaya buntung ini!"
"Nanti aku akan menceritakan semuanya pada Tante!"
"Baiklah sekarang Tante turun dulu selamat sekali untuk mu sayang"
"Jaga dia baik-baik awas kalau kamu menyakiti nya!"
"Sudah turun sana dan makan lah agar cerewet mu berkurang!"
"Dasar kurang ajar!"
Akhirnya Haura turun dari pelaminan dan berkumpul kembali bersama anggota keluarga yang masih ada di sana.
Di salah satu sudut ballroom tersebut ada seseorang yang seperti sedang melamun, dialah David yang duduk sambil terus menatap pada sosok wanita yang sejak dulu dia impikan, tapi tidak pernah berani dia ucapkan, dan sialnya lagi kini dia menjadi ibu tiri nya.
Sungguh,
Permainan takdir seperti apa yang tengah semesta suguhkan pada nya, andai saja pesawat tidak delay, andai dia menuruti perintah ayah nya, andai dia punya keberanian untuk meminta, agar dia saja yang menjadi calon suami dari Diana.
Andai saja.
__ADS_1
semua berputar dan berandai-andai dalam halusinasi nya dan hanya bisa di sesali seumur hidupnya dalam penyesalan.
Dia ingin marah tapi pada siapa, dia ingin mengeluarkan isi hatinya yang terasa begitu sesak menekan dadanya, setelah ini mungkin dia akan lebih jarang pulang ke rumah, hati nya sakit hanya dengan membayangkan dirinya yang tinggal satu atap dengan wanita yang menjadi semangat untuk meraih semua kesuksesan yang dia dapatkan saat ini.
Kenapa?
Kenapa takdir tidak mau menunggu nya sebentar lagi saja, dia masih mempersiapkan satu lagi kejutan untuk wanita yang kini tengah bersanding di pelaminan itu.
Kini semua orang telah kembali ke kamar nya masing-masing begitu juga dengan Albert dan Diana, mereka masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah di sulap sedemikian rupa.
Diana masuk ke dalam di ikuti oleh Albert di belakangnya, suasana mendadak canggung saat pintu di tutup oleh Albert, mereka sama-sama diam tidak ada satu pun kata yang terlintas di kepala untuk mencairkan suasana canggung.
Pada hal terbiasa dalam satu ruangan yang sama tanpa ada kecanggungan sedikit pun, apa karena status mereka yang berbeda membuat mereka seperti berjarak tidak lagi bisa seperti sebelumnya.
"Mandi lah Di, kamu pasti lelah sehabis ini!" ucap Albert yang duduk di sofa dengan Diana yang duduk sisi ranjang yang ada inisial nama keduanya.
Albert kesal seolah malam ini akan menjadi malam panas nya bersama wanita yang kini sudah halal untuk di sentuh oleh nya itu.
Dia tahu siapa orang yang dengan sengaja merubah inisial nama tersebut.
"Iiiiyyyaaaa, lalu bagaimana dengan kamu----?' Diana bingung harus memanggil pada pada pria di depannya itu.
Sedangkan Albert yang peka pun langsung menyahuti perkataan istri mudanya.
"Panggil saja seperti biasa tidak perlu sungkan seperti itu!"
"Iya Om!" jawab Diana yang merasa tidak di anggap oleh pujaan hati nya itu, dia lalu berjalan menuju kamar mandi, gaun besar nya telah di ganti oleh makeup artist yang membantu nya.
Jadi lah dia tidak perlu repot-repot membuka atau membuat drama seperti pasangan pengantin yang melakukan adegan iya-iya karena tragedi resleting macet, ya seperti itu, bukan, kebanyakan nya seperti itu, tidak semua termasuk untuk Diana.
Dia kini menggunakan gaun pesta dengan taburan Payet yang sangat indah hasil rancangan nya sendiri tentu nya.
"Aku kan keluar jika kamu malu, setelah itu tidur lah!"
__ADS_1
Deg