Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Menemukan nya


__ADS_3

"Pulang lah kamu Di, pasti semua orang mencari mu saat ini"


"Tapi Tante bagaimana dengan wanita itu dia tidak akan membiarkan aku dengan mudah nya kembali ke sana, pasti dia akan menyingkirkan aku sebelum sampai di depan papa dan mama" keluh Diana yang menyesali diri sendiri yang tidak mau pulang waktu tersadar dulu.


"Hubungi Papa saja Tante, pasti papa bisa membantu kita" ucap Diana dengan semangat.


"Aku meninggalkan ponsel ku di rumah, jadi aku tidak bisa menghubungi mereka semua"


"Aku bisa mengirim mu kembali ke sana Di"


"Tidak mau, aku akan pergi kalau Tante juga pergi"


"Mereka tidak akan percaya pada ku, apa lagi penampilan ku yang seperti ini"


"Hanya satu harapan yang tersisa, tapi aku tidak yakin dengan semua itu"


"Apa itu?" tanya Diana penasaran.


"Suami kita, kalau dia mengingatkan ku dan mau mencari mu ke sini, dengan begitu kita tahu kalau semua sandiwara itu telah berakhir"


"Siapa dia Tante"


"Siapa lagi kalau bukan mantan kekasih suami mu itu"


Diana yang mendengar itu, seketika murung saat menyadari kesalahannya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Albert.


"Aku akan mengajukan cerai saat semua sudah selesai Tante"


"Apa maksudmu, aku benar-benar bisa menjalani nya jika itu memang kamu Di"


"Kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk semua ini"


"Tante aku memang mencintai Om Al, yang aku inginkan dia bahagia, dan aku sadar jika bahagia bukan dengan ku, tapi dengan mu Tan"


"Wanita yang sanggup bertahan selama itu, disampingnya, melawan semua wanita-wanita yang ingin menghancurkan istana kalian" ucap nya menyakinkan.

__ADS_1


"Tapi Di"


"Tidak ada tapi, ini permintaan ku pada mu Tante, jaga dia itu pesan ku, jika aku saja tidak bisa mengalihkan dunia nya dari mu Tante"


"Maka wanita lain juga harus segera di singkirkan"


"Aku akan menggugat cerai setelah semua nya terbuka" ucap Diana panjang lebar.


"Tapi Di, bagaimana kalau suami kita itu tidak menyetujui nya, bukan kah kamu sendiri pernah mendengar jika dia tidak akan melepaskan mu"


"Aku tidak yakin jika dia akan tetep memilih ku jika kita memberi nya pilihan, antara aku dan kamu Tan"


"Kita bisa pikirkan itu nanti, sekarang ceritakan pada ku, bagaimana kamu menjalani kehidupan mu selama ini"


Diana pun menceritakan semua yang terjadi selama ini, mulai dia yang tersadar di dalam rumah seorang kakek dan yang hidup di sana.


Kakek dan nenek itu merawat nya dengan penuh kasih sayang, mereka juga sempat mengatakan kalau mereka mempunyai seorang anak perempuan yang hilang sejak bayi.


Mereka sudah mencari nya, bahkan pada pihak berwajib pun tidak bisa membantu mereka menemukan anak mereka, sampai saat ini mereka masih terus mencari di mana putrinya itu.


Mereka berusaha mengejar, juga di bantu oleh pihak keamanan yang kebetulan ada di sana, namun mereka kehilangan jejak, namun pencarian tetap di lakukan sampai detik ini, meski mereka tahu bahwa mereka sekalipun tidak akan mengenali wajah putri mereka saat ini.


"Siapa yang tega memisahkan antara orang tua dan anak nya, sungguh kejam sekali orang itu"


"Seperti musuh mereka di dunia bisnis Tan, mengingat dulu nya mereka adalah seorang pembisnis yang cukup berpengaruh pada masa itu"


"Tapi bagaimana mereka bisa mengenali putri nya yang mungkin saat ini seumuran dengan ku"


"Mereka hanya berharap putri nya itu masih mengenakan kalung yang mereka berikan waktu Dia masih kecil dulu"


"Bawa aku ke sana Di, aku harus mengucapkan terima kasih karena sudah merawat mu selama ini"


"Ayo"


Diana pun membawa Maria ke tempat di mana, satu tahun ini dia menghabiskan waktu nya di sana, bukan tidak ingin pulang, tapi di merasa tidak di butuhkan lagi karena tidak ada satu pun orang yang mencari nya.

__ADS_1


Tanpa dia ketahui kalau ada yang menggantikan posisi nya di sana, posisi sebagai Nyonya muda Hamilton istri kedua dari Albert Hamilton.


"Kakek, nenek lihat siapa yang datang bersama ku" ucap Diana yang langsung masuk ke dalam rumah itu.


Keluar lah dari salam rumah itu seorang laki-laki yang berusia sekitar enam puluhan tahun begitu juga dengan wanita yang ada di belakang mereka masih tampak sehat di usia nya yang sudah tua.


"Siapa dia cucuku, dia adalah sahabat kedua orang tua ku, dan aku sangat menyayangi nya"


"Hallo uncle anthy, kenalkan saya Maria Hamilton Tante nya Diana" ucap Maria sambil mengulurkan tangannya.


Pandangan mereka bukan pada Maria yang kini berdiri di depan nya, tapi lebih pada gelang kalung yang ada di tangan nya.


"Amora" panggil laki-laki yang ada di hadapan Maria saat ini.


Sedangkan wanita yang merupakan istri dari laki-laki langsung menangis saat mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya, dia juga melihat kalung yang dulu dia kenakan pada putri kecil nya itu kini melingkar di pergelangan tangan wanita yang mengulurkan tangan nya.


"Putri ku"


Maria membeku dengan apa yang di katakan oleh dua orang yang ada di depan nya saat ini, bagaimana mereka menganggap nya Putri mereka padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain.


"Kakek, nenek kenapa kalian memanggil nya dengan sebutan Amora, dia Maria bukan putri kalian" ucap Diana memberikan pengertian.


"Boleh aku lihat kalung yang kamu kenakan itu" pinta laki-laki itu penuh harap, Maria yang melihat itu pun sedikit ragu dengan permintaan dari laki-laki itu.


Tapi dia juga tidak bisa sampai hati menolak permintaan nya, akhirnya meski dengan berat hati Maria melepaskan kalung yang sejak kecil melekat di tubuh nya.


Dulu itu memang sebuah kalung ,tapi karena tidak muat di kenakan saat ini, dia memakai nya di pergelangan tangan nya, dia ingin bersama barang berharga yang dia yakini itu adalah pemberian dari kedua orang tua nya sebelum dia berpisah dengan mereka karena suatu alasan.


Pria itu pun menerima dengan hati yang berdebar-debar di sana, apakah penantian nya selama puluhan tahun ini akan terwujud saat ini, dia menatap kalung tersebut, membuka nya yang di dalam nya ada foto Maria saat dia masih kecil.


Istri dari kakek tersebut pun mendekat ke arah suaminya, dia juga ingin memastikan kalau yang di depan nya itu adalah benar putri mereka.


Saat liontin itu terbuka, mereka tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagia sekaligus hari nya di sana, mereka menatap Maria dengan berlinangan air mata.


"Putri ku"

__ADS_1


__ADS_2