
Selama beberapa hari ini, Albert di buat bingung dengan diri nya sendiri, di satu sisi dia harus tetap menikmati bukan madu nya di sisi lain dia tidak bisa menahan diri nya jika dia merindukan istri pertama nya.
Maria memang tetap menghubungi nya, juga menjawab panggilan dari nya, tapi sikap Maria yang sedikit dingin begitu di rasa oleh Albert, istri nya itu tidak banyak berbicara hanya mengatakan seperlunya saja, dia tidak cerewet dan memarahi nya seperti sebelum sebelumnya.
Dia merindukan wanita nya yang cerewet dan mudah marah pada nya saat di melakukan sesuatu yang tidak dia sukai, tapi ini jangan kan memarahinya, menegur nya saja tidak saat dia menghabiskan banyak minuman saat mereka melakukan panggilan video.
Albert tidak lagi bisa menahan semuanya, dia ingin segera pulang dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, benar kan istri nya itu tidak lagi peduli pada nya.
Kini waktu yang dia tunggu telah tiba, mereka kembali mendarat di bandara internasional di negara mereka, Albert langsung keluar dari sana mencari keberadaan istri pertama nya, yang pasti akan menjemput nya.
Tapi rupa nya dia harus menelan kekecewaan nya saat di tidak mendapati istrinya di sana, saat dia tanyakan kemana istrinya pada Agatha, kekhawatiran bertambah saat mendapatkan jawaban bahwa istri nya itu sedang sakit.
Albert masuk kedalam mobil yang sama dengan mertua dan Diana di sana, sepanjang jalan dia hanya bisa menahan kekesalannya karena jalanan yang macet.
Dua jam waktu yang biasa di butuhkan untuk sampai di rumah pun kini membutuhkan waktu hampir empat jam, yang membuat nya uring-uringan, tidak ada yang berani memenangkan nya termasuk Diana.
Saat mereka sudah sampai di halaman rumah , bahkan mobil belum terparkir sempurna pun dia langsung turun begitu saja, tanpa mengatakan apapun pada mereka yang ada di sana.
Albert berlari menuju kamar yang biasa di tempati oleh Maria, namun saat dia masuk ke sana dia tidak menemukan istri nya di sana, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar itu.
Dia pun keluar dari sana, membuka setiap pintu yang ada di sana, tapi hasil nya tetap sama istri nya itu tidak ada di lantai dua rumah mereka.
Dia turun kembali ke lantai dasar, di san dia berpapasan dengan salah satu pelayannya
"Dimana Nyonya kalian?" tanya Albert.
"Nyonya ada di kamar yang berada di ujung sana Tuan"
Albert mengerutkan keningnya mendengar apa yang di katakan pelayan nya itu, kenapa istrinya itu tidur di sana, kamar itu kecil dan tidak bisa terlalu banyak orang di sana.
Dia pun langsung berjalan kesana, tanpa membuang waktu lagi, Albert membuka pintu kamar yang ternyata benar istrinya itu ada di sana, sedang duduk tanpa melakukan apa pun.
__ADS_1
Dia tidak sendirian tapi di temani oleh David dan juga Kelvin di sana, ku dua putra nya itu tidak ada yang bekerja mungkin, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.
Kedua anak nya langsung berdiri dari duduknya saat melihat papa nya masuk kedalam, lalu keluar dari sana setelah membisikkan sesuatu yang entah apa.
"Sayang, aku merindukan mu" ucap Albert yang ingin memeluk istrinya, tapi yang tidak terduga adalah istri nya itu menolak pelukan dari nya dengan beralasan sedang sakit.
"Apa kamu tidak merindukan ku?" tanya Albert penuh rasa bersalah, saat mendapatkan penolakan dari istri nya.
"Kamu belum mandi, aku sedang sakit dan kamu bisa saja membawa virus yang membuat mu bertambah sakit" elak nya.
"Sejak kapan kamu menolak pelukan ku?" tanya Albert.
"Sejak sekarang" ucap nya singkat.
"Baiklah aku akan mandi, tapi setelah itu aku akan memeluk mu"
"Pergi lah" usir Maria lagi.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin kamu mandi di kamar atas, itu saja"
"Hey kenapa, kenapa kamu menganggap serius ucapan ku, aku hanya bercanda sayang"
Maria tidak menjawab dia hanya duduk di sana menatap ke arah dinding yang ada di sana.
"Sayang, ku mohon jangan seperti ini, katakan pada ku, jangan diam seperti ini"
"Aku merindukan mu, aku merindukan istri ku yang selalu memarahi ku setiap hari"
"Katakan aku harus apapun,jangan seperti ini"
"Kemana perginya istri ku yang dulu" ucap Albert yang kini duduk di samping istri nya.
__ADS_1
"Aku juga bertanya kemana suami ku yang dulu"
"Suami yang dulu tidak pernah membentak ku, tidak pernah kasar pada kedua putranya, apa pun yang mereka lakukan"
"Kemana suami ku yang tidak pernah protes dengan pengeluaran yang aku lakukan, dan tidak pernah mengeluh soal tagihan kartu kredit kami"
Ucap Maria sambil berlinangan air mata, dia tidak lagi bisa menahan semuanya rasa sakit di hati nya tidak lagi bisa dia bendung lagi, saat dia tahu bahwa suaminya itu mengeluhkan pengeluaran mereka, pada Revan kemarin.
Kenapa dia bisa tahu, itu karena dia kemarin datang ke kantor untuk mengantarkan bekal makan siang untuk David, tapi saat dia melewati ruang asisten suami nya itu, dia mendengar suaminya itu terdengar marah dengan tarikan jumlah uang dari rekening nya dan kedua putranya.
"Akuuu, bukan mengeluh hanya saja tidak seperti biasa nya, kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan"
Albert menarik dompet yang ada di saku celana nya lalu memberikan nya pada Maria di sana.
"Ini kamu ambil dan kamu bawa saja, aku tidak memerlukan nya, yang aku inginkan hanya istri ku kembali pada ku"
"Jadi sekarang kamu mau membeli ku? baik aku akan lakukan apapun yang kamu ingin kan Tuan"
'Tuan'
Apa ini,
kenapa istrinya itu memanggil nya Tuan dan beranggapan dia tengah membeli nya, apa ini Tuhan kenapa semua berantakan seperti ini.
"Katakan pada ku aku harus apa?" tanya Albert yang kini bersimpuh di samping istri nya.
"Aku harus apa, katakan saja aku akan melakukan semua nya untuk mu, kecuali menceraikan Diana.
Maria menatap pada Albert yang kini ada di samping nya, dia menatap lekat pada wajah pria yang sangat dia cintai itu, cinta yang mungkin sudah pudar untuk nya dan berganti dengan wanita yang jatuh lebih di atas nya.
Wanita muda yang bisa mengimbangi suaminya itu dalam segala hal baik harta dan juga tahtanya, di banding kan dia yang hanya wanita miskin yang dia angkat derajat nya menjadi Nyonya Hamilton.
__ADS_1
"Kalau begitu ceraikan aku saja"