
"Kenapa------"
"Papa kalau sedang sibuk aku pulang saja ya?"
"Tidak kok sayang Papa hanya sedang membahas tentang acara pernikahan mu saja dengan Om Albert!" Diana mengangguk sambil melingkarkan tangannya pada lengan papa nya.
"Kalau begitu bisa temani aku makan siang?, aku tadi tidak sempat sarapan!"
"Kenapa tidak sarapan dulu, kamu ini kebiasaan!"
"Aku tadi buru-buru karena ada meeting, dan aku sudah terlambat!"
"Baiklah ayo kita makan siang bersama, katakan kamu mau makan di mana?"
"Aku hanya ingin makan poutine di kantin kantor pa!"
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin, ayo pa! aku sudah sangat lapar, bagaimana kalau aku pingsan karena kelaparan?"
"Kamu ini, ada-ada saja!"
Geffrey pun berdiri dari tempat duduknya bersama Diana yang terus saja memegangi tangan nya, seakan dia takut papa nya itu akan pergi meninggalkan dirinya.
"Sayang tunggu!, apa kamu lupa bahwa tidak hanya papa saja yang ada di sini, apa kamu tidak mau mengajak om Al untuk makan siang bersama?" tanya Geffrey pada putrinya itu.
Sedangkan Diana yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dia haha Dian saja seakan tiada mendengar apapun, dia benar-benar tidak menganggap Albert ada di sana.
Dan itu sangat meyakinkan bagi Albert tanpa di sadari oleh Diana yang berjanji akan melupakan semua perasaanya pada om Albert-nya itu.
"Sayang apa kamu dengar papa?"
"Aku tidak mendengar apapun jadi ayo kita pergi ke kantin sekarang juga!"
"Al, ayo kita ke kantin dulu kamu juga belum makan siang!"
"Pergi berdua dengan putri mu, aku akan kembali ke kantor, aku baru saja mendapatkan pesan bahwa dia tidak masuk kantor hari ini!"
"Kau bisa pergi setelah makan siang, lagi pula ini masih jam istirahat!"
"Kalau papa masih sibuk aku pergi dulu saja!" ucap Diana di lepasnya pelukan tangan dan berjalan mendekati pintu.
"Pergi lah Grey, di sepertinya masih marah pada ku jadi temani dia jangan sampai dia juga marah pada mu!"
Geffrey langsung keluar dari ruang kerja nya dan lihatlah putri nya itu sudah tidak ada di sana, dia berlari menuju kantin yang ada di lantai tujuh gedung tersebut.
Sampai di sana semua karyawan menatap aneh padanya, karena dia yang tidak bisa makan siang di kantin kantor jadi lah itu menjadi hal yang cukup mengejutkan bagi sebagian besar karyawan yang tidak pernah melihat datang ke sana.
__ADS_1
Sebagai juga ada yang merasa ketar-ketir dengan kedatangan pimpinan mereka ke sana.
Seorang manager dari salah satu devisi yang kebetulan berada di dekat Geffrey pun memberanikan diri untuk bertanya pada pemilik tempatnya bekerja itu.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, apa kamu melihat putri ku di sini, tadi dai berpamitan pada ku, katanya mau makan siang di sini!"
"Saya akan memberi tahu semuanya untuk membantu Anda mencari Nona Diana!"
"Baik lah cepat lakukan!" Geffrey pun berjalan mencari dimana putri nya itu berada, cukup lama dia memutari kantin, tiba-tiba seorang karyawan nya memberitahu bahwa Diana duduk di bangku yang ada di tengah dan penuh dengan karyawan di sana.
Akhirnya dia meminta bawahan nya itu untuk mengantarkannya pada Diana.
"Sayang,!" panggil d
Geffrey saat dia sudah berada di samping meja putrinya itu.
"Papa, apa sudah selesai urusan nya,?"
"Sudah, kamu makan sendirian aja gak nunggu in Papa?"
"Aku lapar pa lagian tadi papa masih ada tamu, jadi aku gak mau ganggu papa!"
"Kamu masih marah sama Om Al?"
"Jangan seperti itu sayang, kasihan Om Al kalau kamu marah kayak gini!"
Geffrey yang melihat Diana tidak merespon nya pun memanggil pelayan yang ada di sana dan meminta untuk memesan makanan yang dengan Diana.
Tak butuh waktu lama pesanan itu datang dan kini mereka tengah menikmati makan siangnya, tak lupa Geffrey juga menyuruh seorang OB untuk mengantarkan makanan untuk Albert yang tadi ada di ruang kerjanya.
"Bagaimana apa Tuan Albert masih ada di ruangan saya?"
"Beliau tidak ada di ruangan anda,!" jawab nya sambil menunduk.
"Ya sudah biarkan saja, kamu makan saja makanan itu, sayang kalau harus di buang!"
"Terimakasih Tuan, saya permisi kalau begitu"
Geffrey mengangguk dan OB tersebut pun pergi dari sana setelah di persilahkan oleh pimpinan nya itu.
Kemudian mereka melanjutkan makan siang nya itu, sampai makan itu habis lalu Diana pun berkata pada papanya.
"Pa ada yang mau Diana katakan sama papa!, apa papa ada waktu?"
"Kita bicara di ruang kerja papa!"
__ADS_1
"Ayo"
Diana pun mengikuti Geffrey menuju ruang kerja nya, sampai di sana mereka berdua duduk di sofa yang tadi mereka tempati.
"Apa yang mau kamu katakan sayang?"
"Apa papa benar akan membatalkan rencana ini jika Kelvin berhasil membawa wanita nya menghadap Papa?"
"Kenapa?, apa kamu menyukai Kelvin ?"
"Tidak hanya bertanya saja!"
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk putri papa ini, kalau Kelvin tidak mencintai kamu dan kamu juga tidak mencintai lalu apa harus bagaimana?"
"Tapi bagaimana dengan papa nya Kelvin pa?"
Geffrey menoleh pada putrinya itu, tadi apa dia bilang papanya Kelvin bukan?, bukan kah bisanya dia memanggil Om dengan suara manja tentunya.
Lalu apa tadi, dia belum tuli kan, sebegitu marah kah Diana sampai-sampai dia enggan memanggil Albert seperti biasanya.
"Sayang, kamu masih marah sama Om Al?"
"Tidak, lalu kenapa kamu memanggil nya seperti itu?"
"Pa aku tadi tanya apa papa benar-benar akan membatalkan rencana itu,?"
Geffrey menhelakan nafas nya saat menyadari bahwa putrinya itu tengah menghindari pertanyaan yang bersangkutan dengan Albert.
"Iya dalam waktu satu Minggu sebelum pernikahan itu benar terjadi!"
"Ooohh!
"Kamu gak papa kan, kalau pernikahan ini di batalkan?"
"Tidak sama sekali pa, aku justru akan mendukung nya jika dia benar-benar membawa wanita itu ke hadapan kita semua?"
"Baiklah kalau begitu, sekarang katakan pada papa siapa laki-laki yang telah mencuri hati putri Hamilton ini!"
"Paaaaaaa, aku bukan putri Hamilton tapi aku putri mu princess frazer!"
"Ha-ha-haaaaaa kau benar sayang, lalu apa lagi yang ingin kamu katakan, sebentar lagi papa harus meeting!"
"Aku rasa tidak pa!, aku akan kembali ke butik sekarang!"
"Berhati-hatilah sayang!" ucap Geffrey sambil mengecup puncak kepala Diana.
"Aku pergi pa!"
__ADS_1
Diana pun keluar dari ruang kerja papa nya dia harus segera kembali mengingat banyak desain gaun yang segera dia selesai.
Bruuk