
Albert pun membalas pelukan dari wanita yang di curigai buka istri nya, sambil tersenyum miring pada Geffrey yang ada di sana, sedang Geffrey yang melihat itu ingin sekali rasa nya dia memukul wajah menyebalkan sahabat nya itu.
Bisa-bisanya dia tersenyum mengejek pada nya saat situasi genting seperti ini.
Albert meraba punggung wanita itu sampai di bawah tengkuk lehernya, yang langsung di tepis oleh Diana, melihat itu Albert menyadari satu hal, kalau Diana tidak pernah mau melakukan satu gaya yang sangat dia sukai.
Dia juga tidak pernah melihat wanita itu menggulung rambut nya, atau mengijinkan nya menjelajahi punggung nya.
Senyum nya tersungging saat menyadari bahwa apa yang sejak tadi menganggu pikiran itu memang benar ada nya, dan tinggal satu langkah lagi mereka akan benar-benar mengetahui apa yang terjadi.
Albert mengkode Geffrey yang ada di sana, tak lupa Geffrey pun melakukan hal yang sama pada kedua putranya sahabat nya itu, dengan sekali tarikan Albert berhasil membuka topeng yang selama ini dia anggap bahwa itu adalah Diana, putri dari sahabat nya.
"Aaahhh, sakit" ucap wanita itu yang langsung menutup wajahnya saat topeng itu berhasil di lepaskan oleh Albert.
Dia yang ingin berlari pun langsung di cegat oleh Kelvin dan juga David sudah bersiap di sana.
"Mau kemana?" tanya Kelvin dengan nada dingin nya.
"Lepaskan" ucap nya yang masih berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjang nya.
"Nanti, akan aku lepaskan" kata Kelvin lagi.
"Di kantor polisi tentunya" lanjut David dengan suara dingin nya.
Albert dan Geffrey pun mendekat, Albert dengan tidak ada rasa kasihan nya pun langsung menjambak rambut wanita itu.
Saat wajah wanita itu sudah tidak tertutup apa pun lagi, kini dengan jelas dia bisa melihat wajah perempuan yang semalam masih di senangkan itu.
"Sudah ku duga" ucap Geffrey yang kini duduk menyilangkan kaki nya.
__ADS_1
Geffrey membalikkan tubuhnya saat mendengarkan derap langkah dari beberapa orang yang tiba-tiba naik ke lantai dua rumah, dia di kejutkan oleh beberapa orang yang berpakaian layak nya pegawai milik nya ataupun Albert yang bersiap menyerang mereka di sana.
"Hebat, kamu memanfaatkan orang-orang ku untuk melancarkan rencana busuk mu, tapi sayang aku selalu lebih unggul dari mu, Melia" ucap Albert yang menepuk pipi mantan kekasih nya itu sebanyak dua kali.
...****************...
Sementara Maria dia tengah berjalan-jalan menikmati sejuk nya udara yang ada di pegunungan jauh dari keramaian dan juga polusi kendaraan tentu nya.
Cukup lama dia berjalan sampai di berhenti di gazebo yang ada di tengah-tengah hamparan pohon teh yang ada di sekelilingnya, dia duduk melamun, memikirkan tentang semua yang terjadi dia tahun terakhir, bagaimana rumah tangga nya yang tidak pernah mendapatkan masalah besar pun, kini bagai di gulung badai yang entah kapan akan berakhir.
Dia menangis di sana, menangis rindu pada suami nya yang entah masih mengingat nya atau tidak, yang pasti dia sama sekali tidak pernah melupakan suami nya itu sedetik saja, dia membuktikan bahwa Albert adalah nafas nya.
Dia sakit saat ini, saat berada jauh dari suaminya, tapi ini pilihan nya, dia yang memutuskan untuk pergi jadi dia harus bisa menahan semua rasa yang membuat nya ingin kembali.
Setiap hari dia selalu mengingat apa pun yang selama ini dia jalani, dia rindu suaminya dia rindu manjanya suaminya itu, dia rindu saat suaminya itu merajuk pada nya saat dia lebih memperhatikan kedua putranya mereka.
Dia merindukan semua orang yang pernah menjadi bagian dari hidup nya, dia ingin memeluk mereka dan mengatakan bahwa dia rindu.
Maria yang larut dalam lamunan nya itu tidak menyadari kalau ada seseorang yang mendekat ke arahnya, dia menatap penuh haru pada wanita yang dulu memeluk saat dia bertengkar dengan kakak nya.
"Tante"
Maria yang sedang melamun jauh di sana pun tersadar dari lamunannya itu langsung menatap wanita yang telah menghancurkan rumah tangga nya itu, kini berdiri di depan nya.
"Mau apa lagi, bukan kah keinginan mu sudah terpenuhi, aku sudah meninggalkan laki-laki yang kamu cintai itu" ketus nya pada Diana.
"Dan sekarang apa lagi yang kamu inginkan, sampai menyusul ku ke sini?" tanya nya sinis.
"Tante, apa yang tante katakan, aku sama sekali tidak pernah meminta Tante untuk meninggalkan Om Al" sanggah wanita dengan pakaian Kumal itu.
__ADS_1
"Om Al, drama apa lagi yang kamu mainkan Diana, bukan kah selama ini kamu selalu memanggil nya hubby, apa karena kmu sudah puas menikmati nya jadi sekarang kamu membuang nya dan ingin memberikan nya pada ku lagi"
"Tidak Diana, tidak aku tidak akan lagi mau di madu meski itu dengan mu atau siapa pun" pecah sudah tangis Maria di sana, dia tidak lagi bisa menahan dirinya yang merasa sakit hati pada Diana.
"Tante, Tante salah paham jika mengatakan itu adalah aku, aku di culik saat akan mengurus surat perceraian dengan Om Al, mereka membuang ku di jurang sana"
"Mereka meninggalkan aku di dalam jurang, tanpa memastikan terlebih dahulu aku sudah mati atau belum"
"Lalu siapa yang selama ini bersama kami di sana"
"Ku tidak tahu Tante, yang pasti aku senang bisa kembali bertemu dengan Tante"
"Aku sempat membenci kalian semua yang tidak pernah mencari keberadaan ku"
"Bagaimana kita mau mencari mu jika di sana ada wujud mu, yang sangat mirip sekali dengan mu"
"Maksud Tante?"
"Duduk lah, aku akan menceritakan semuanya pada mu, setelah itu kamu juga harus menceritakan semua yang terjadi, aku tidak menyangka jika princess Hamilton bisa se kucel ini" ledek Maria saat tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Pantas saja, putri sahabat nya seperti orang lain selama ini, tapi dia tidak berani mengungkapkan kecurigaan.
Maria pun menceritakan semua nya yang terjadi selama ini, tentang topeng wajah yang ternyata belum usai sampai terjadi lagi, Maria pun mengurutkan semua satu persatu sedangkan Diana hanya mendengar kan nya saja, sampai dia mana dia merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi di sana.
"Itu bukan aku Tante, aku sama sekali belum melakukan hubungan seperti itu dengan Om Al?"
"Jadi, wanita itu siapa?"
"Berati selama ini bukan kamu, lalu siapa?"
__ADS_1