
Diana langsung membuka matanya lebar-lebar saat penglihatannya menangkap bayangan orang yang menjadi alasannya menangis sepanjang malam.
"Om Al!"
"Iya sayang, ini Om kenapa belum bangun ini sudah jam sembilan princess"
Diana menepis tangan Albert yang ada di pipinya, dia langsung bangun tanpa mengucapkan sesuatu pada ketiga orang yang ada di sana, bahkan dia menutup pintu kamar mandi dengan sedikit membanting nya.
Blaaamm
Baru saja mereka di kejutkan oleh penolakan Diana pada Albert kini malah bertambah saat mereka bertiga mendengar suara pintu yang di banting oleh Diana.
"Apa aku membuat kesalahan lagi?" tanya Albert saat sudah bisa menguasai keadaan nya.
"Aku juga tidak tahu Al!" jawab Agatha.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan kenapa sensitif sekali!"
"Mana aku tahu, kamu ibu sayang, pasti kamu lebih tahu tentang itu!"
"Kamu benar sayang, jadi jangan ganggu dia, dia sudah berubah menjadi,,,,,,!"
"Apa kamu sendiri yang mengatakan nya, dan dia adalah keturunan mu, jadi masih mau menyalahkan aku?"
"Sebaiknya kita keluar akan sangat berbahagia jika kita berada dalam kandang wanita yang sedang dalam masa periode nya!"
"Dari mana kamu tahu?" tanya Geffrey sambil memicing tajam pada sahabat nya itu.
"Itu tidak penting sekarang ayo keluar dulu!"
"Kalian saja yang keluar aku akan membereskan kamar nya terlebih dahulu!"
"Baiklah!"
Albert keluar begitu saja saat mendengar ucapan Agatha, lalu di ikuti oleh Geffrey di belakang nya, mereka menuju ruang kerja Geffrey, entah apa yang akan mereka bahas di sana yang pasti itu menyangkut tentang perjodohan yang mereka rencanakan.
Sedangkan di kamar mandi Diana langsung membersihkan dirinya sambil sesekali merutuki kecerobohan yang lupa mengunci pintu kamar nya.
'Dasar ceroboh untung saja aku mereka tidak melihat mata mu yang menghitam dan kantung mata yang terlihat jelas'
'Lihatlah wajah mu terlihat sangat mengerikan' ucap nya bermonolog.
__ADS_1
Tidak mau berlama-lama dia langsung menyelesaikan acara mandi nya, dia membungkus badannya dengan handuk yang tersedia di sana.
Dia keluar dari kamar mandi saat Agatha tengah merapikan tempat tidurnya, untung saja hanya mama nya yang ada di sana, bisa gawat jika masih ada Papanya dan Om Albert di kamar dan di keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuknya saja.
Agatha yang melihat putrinya itu berdiri mematung di depan pintu pun langsung menegur nya.
"Cepat pakai baju mu sayang, nanti kamu masuk angin jika terlalu lama memakai handuk!" tegur Agatha pada putrinya itu.
Diana mengangguk lalu berjalan menuju lemari pakaian, dia mengambil bajunya mengenakan nya, lalu duduk di kursi meja riasnya dengan sangat terburu-buru.
Dia baru ingat bahwa dia ada janji bertemu dengan orang yang ingin menggunakan jasa nya untuk acara lamaran dan menginginkan baju yang dia kenakan saat lamaran di rancang khusus oleh Diana.
"Kenapa buru-buru sekali, kamu mau pergi kah?"
"Iya ma, aku ada janji sama orang nanti jam sepuluh dan sekarang sudah jam setengah sepuluh!" jawab nya yang langsung menyambar tas dan ponsel nya yang ada di meja rias nya.
"Aku pergi dulu ma!"
"Kamu gak sarapan dulu sayang?"
"gak ada waktu lagi Ma, nanti saja aku sekalian makan siang di sana, aku meeting di kafe dekat kantor papa!"
"iya ma, aku pergi dulu bye," pamitnya pada sang mama tak lupa dia juga memberikan kecupan di ke dua pipi wanita yang telah melahirkan nya itu.
"Dasar anak itu," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkat putri bungsunya itu.
Agatha juga turun dari lantai dua, namun mereka tidak menemukan siapa pun di sana, dia melanjutkan langkah nya menuju rumah Maria.
Dia tidak melihat sekeliling nya, bahwa mobil suaminya itu masih ada di rumah, yang artinya suaminya itu belum juga berangkat ke kantor.
"Dimana Maria?" tanya Agatha pada Art yang ada di rumah Maria.
"Nyonya maria sedang membuat kue di dapur, ?" jawab nya.
"Terima kasih, aku akan kesana!" jawab Agatha yang berlalu dari sana menuju dapur mencari pemilik rumah itu.
Sampai di dapur di melihat sahabat tengah memegang dua telur ayam yang ingin dia mixer, tapi gerakan terhenti saat mendengar derap langkah mendekat ke arah nya.
"Kamu di sini Tha? Ada apa?"
"Kenapa kau memang dua telur itu Ri,? kamu tidak sedang membayangkan bahwa telur itu adalah punyanya Albert yang ingin kamu nikmati kan, ha-ha-haaaaaa!"
__ADS_1
"Mulut mu itu pagi-pagi sudah berkelana saja!" sungut nya sambil memecahkan telur tersebut.
"Waaooww, aku tidak bisa membayangkan bagaimana ngilu nya saat punya Albert kau buat seperti itu!"
"Hentikan ucapan tidak masuk akal mu Tha?" sentak maria yang geram pada sahabat nya itu.
"Lagi pula kalau aku tidak memecah kan telur nya bagaimana aku bisa kenyang Hahahaha!"
"Kau pun sama ha-ha-haaaaaa!"
"Pembicaraan apa lagi ini, tapi aku benar-benar akan memecahkan telur nya jika sampai dia punya gundik ataupun istri lagi"
"Wiiihhh santai, aku juga akan melakukan hal yang lebih dari sekedar memecahkan telur nya!"
"Nanti aku bantu!"
Suara tawa terdengar dari mulut dua wanita yang entah sedang membahas apa, yang pasti tidak akan jauh dari dunia kehangatan malam, tentu nya dan itu sudah menjadi hal wajib jika mereka berkumpul.
Saat mulut berbicara yang tidak jelas namun kedua tangannya tengah sibuk membuat cemilan untuk teman tea time mereka nanti.
"Di mana Albert, kenapa aku tidak melihat sejak tadi?" Maria menyengitkan dahi heran kenapa Agatha menanyakan suaminya bukan kah tadi dia pamit ingin ke rumah nya.
Lalu kenapa dia sekarang mencari nya di sini.
"Dia tadi pamit ke rumah mu, apa dia tidak ada di sana?"
"Iya tadi ada sana, tapi setelah membangunkan Diana, dia keluar dengan Geffrey yang mau pergi ke kantor dan aku masih membereskan kamar tidur Diana"
"Dan saat ku keluar mereka tidak ada di sana, jadi aku ke sini ingin bertanya pada mu!"
"Dia belum pulang atau mungkin dia pergi bersama Geffrey ke kantor, dia tadi memakai baju kerja nya kan?"
"Iya, mungkin saja dia ke kantor, apa lagi Kelvin tidak pulang sejak semalam!"
"setelah ini kita ke WO ya, kuat lihat-lihat persiapan nya bagaimana!"
"Baiklah, sekaligus nanti ke restoran David dan Stevani"
mereka pun melanjutkan acara masak memasak sambil bergosip ria ala emak-emak komplek pada umum nya.
ya bukan kan itu memang kodratnya seperti itu, dan para suami harus memaklumi jika jiwa gosip para istri nya sedang on fire jika malam masih ingin membuat gempa lokal dadakan.
__ADS_1