Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Babi guling


__ADS_3

Senyum bahagia terlihat jelas di wajah wanita yang baru saja di lamar oleh pria pujaannya itu.


Sangat lucu memang Diana di lamar saat usia pernikahan mereka sudah berjalan satu tahun lebih, lamaran dan juga kejutan anniversary yang lewat dari jadwalnya itu pun berjalan sesuai dengan apa yang di rencanakan oleh Albert.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang tentu setelah makan malam romantis di tepi pantai bersama dengan hiasan indah bertulisan 'WILL YOU MARRY ME ' di sana.


Sepanjang jalan menuju rumah, senyum di wajah Diana tak kunjung pudar, apa lagi Albert sesekali mendarat ciuman di tangan Diana yang berada di genggaman nya.


"Apa kamu bahagia honey?"


"Sangat!"


"Tepati janjimu untuk selalu bahagia, aku akan terus berusaha adil, dan membuat kalian selalu bahagia!"


Diana mengangguk, dia percaya pada janji yang di ucapkan oleh Albert, janji untuk selalu bahagia dan menemani nya.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, mereka sampai di rumah Geffrey, ya Albert berniat untuk memulangkan Diana terlebih dahulu, lalu dia pulang ke rumah nya.


Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mereka membicarakan sesuatu yang sangat sensitif di sana, tapi langkah kaki nya terhenti saat akan memasuki rumah.


"Selamat malam Tuan, nona!"


"Malam"


"Tuan dan Nyonya sedang ada di rumah anda Tuan Al, tapi Nyonya sempat berpesan pada saya kalau Tuan sudah sampai mereka meminta anda berdua untuk menemui mereka di rumah anda!"


"Baik, terimakasih!"


"Sama Nona!"


Mereka pun berbalik arah menuju rumah Albert yang ada di sana, mereka berjalan kaki dan mobil Albert dia tinggalkan begitu saja di rumah mertua nya.


Dia juga menyerahkan kunci mobil nya pada satpam untuk memarkir nya di garasi.


"Om" panggil Diana yang terlihat gugup dia bahkan sampai menggigit kuku nya.


"Kenapa honey?"


"Aku takut!"


Albert mengerutkan dahinya, kenapa istrinya itu takut kerumahnya bukan kah ini rumah nya juga, lalu apa yang dia takut kan.


"Takut? kenapa?"


"Apa semua orang akan memarahi kita, karena kita bermesraan tadi!"


Albert tersenyum sambil mencium puncak kepala istrinya itu, dia berusaha menguatkan istrinya itu meski dia juga gugup setengah mati, dalam sudut hati nya yang paling dalam dia tetep takut menghadapi kemarahan Geffrey dari pasa kemarahan Maria, istrinya.

__ADS_1


"Kamu percaya sama Om, kita harus hadapi apa pun itu,!"


Diana tidak menjawab nya, karena memang mereka kini telah berada di dalam ruang tempat ketiga orang itu menunggu mereka.


"Dari mana saja kalian ini?"


Cup.


"Kenapa belum tidur sayang, heem?" tanya Albert yang duduk di samping Maria dengan Diana yang duduk di samping papa nya, Geffrey.


"Aku menunggu mu, kenapa lama sekali!"


"Aku mengajak Diana makan malam tadi, jadi terlambat pulang?"


"Lalu kenapa kedua mertua kita ini ada di sini sayang?" tanya Albert yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Agatha, sedangkan Geffrey yang sudah tahu kelakuan kadal buntung itu, hanya diam sambil menatap tajam bak pisau yang siap untuk membelah apa pun yang ada di depan nya.


"Tentu saja menemaniku!"


"Kalau saja bukan sahabat ku, sudah aku jadikan dia babi guling!"


"Jangan!"


"Ehh"


Teriakan dua orang itu membuat Agatha salah tingkah, Maria dan Diana sama-sama berteriak saat Agatha ingin menjadi suaminya itu babi guling.


Bahkan keduanya memeluk Albert di samping kanan dan kiri nya.


"Kenapa, apa kau iri pada ku, karena aku lebih unggul dari mu!"


"Sama sekali tidak!"


"Bilang saja kalau kamu juga mau beristri dua Grey!"


"Tutup mulutmu, atau aku akan menyumpal mulut mu itu agar tidak bisa lagi sembarang merayu wanita!"


"Sudah, sudah kalian ini selalu saja!" kata Maria yang selama jadi penengah saat mereka sudah mulai keluar otot.


"Bagaimana perjalanan mu Di?"


"Semua nya berjalan lancar Tante!"


"Dan bagaimana keadaan Tante, aku minta maaf karena tidak bisa menemani Tante saat operasi kemarin!"


"Tidak perlu sungkan Di, kamu kejarlah cita-cita, lagi pula ada kedua mertua dan suamiku di sini!"


"Tunggu sebentar, kenapa wajah mu pucat sekali, apa kamu sakit?" tanya Maria pada madunya itu.

__ADS_1


Mereka yang mendengar perkataan Maria sontak menatap kearah Diana di sana, memang benar apa yang di katakan oleh Maria wajah Diana itu terlihat sangat pucat tidak seperti biasa nya.


"Aku baik-baik saja Tante, tak perlu khawatir!"


"Apa kamu yakin sayang? ayo papa antara kamu ke rumah sakit ya?" ucap Geffrey yang merasa khawatir dengan keadaan putri nya itu.


Eeehh.


Rumah sakit.


Tidak.


Diana tidak ingin ke rumah sakit, dia hanya perlu meminum obat yang tadi belum sempat dia makan karena terlalu bahagia.


Bahagia hanya karena cinta nya terbalaskan.


"aku hanya kecapekan saja pa, tidak perlu khawatir, nanti aku akan makan suplemen vitamin saja!"


"Kamu yakin, apa mau aku saja yang mengantar mu!"


"No Om, aku hanya perlu beristirahat yang cukup, aku kehilangan banyak energi dan seperti aku juga kurang tidur di sana.


"Ya sudah ayo kita pulang, Maria juga harus cepat istri biar cepat pulih!"


"Ayo!"


"Kami pulang dulu Ria, kamu istirahat lah, kalau nanti ada kadal buntung yang nakal, telpon saja aku, nanti akan akan bawakan buaya untuk menghajar nya!"


"Tentu kamu tidak perlu khawatir, dia sudah jinak kok!"


Albert hanya menatap datar mendengar sindiran itu, biarkan saja mereka mau bilang apa, kalau dia sampai terpancing dan menjawab nya, sudah pasti masalah ini kan bertambah panjang dan dia tidak bisa segera memeluk tubuh candu milik istrinya.


mereka akhirnya pulang, tentu nya tidak lupa Diana juga berpamitan pad suaminya itu.


Kini di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua, Albert tanpa aba-aba langsung menggendong istrinya dan membawa nya ke kamar mereka.


Ha-ha-haaaaaa.


Maria tertawa saat Albert membopongnya dia tahu kalau suaminya itu pasti kesal saat dia mengatakan bahwa suaminya itu sudah jinak.


Albert merasa seperti kadal betulan saat di sebutkan jinak, biasanya kalau Maria sedang tidak sakit, Albert pasti akan langsung memangsanya di atas ranjang.


"Aku memaafkan mu karena kamu sedang sakit, ingat kamu harus membayar nya dia kali lipat nanti nya!"


"Apa di pikiran mu hanya ************ saja!" gerutu saat dia didudukkan di meja rias oleh suaminya,


"Tentu saja!" jawab nya dan lihatlah mata nya yang sudah seperti pemangsa yang sedang mengintai mangsanya.

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak meminta pada istri kedua mu!"


Pyaar.


__ADS_2