Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Harta, tahta, wanita


__ADS_3

Geffrey kembali ke ruang perawatan Diana dengan senyum lebar nya, dia bahagia sekali saat ini hingga tidak terlihat wajah dingin yang selama ini melekat pada dirinya.


"Kamu kenapa Pa?" tanya Agatha saat suaminya itu yang terlihat sangat bahagia.


"Ada kabar gembira sayang"


"Apa itu?"


"Aku punya anak laki-laki sekarang"


"Haah, apa maksud papa?" tanya Diana yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.


"Kamu tidak seperti sahabat mu itu yang punya dua istri kan Grey?" sindir Maria pada suami itu.


"Mana aku sama dengan suami mu itu"


"Terserah apa kata kalian yang penting kalian bahagia"


"Kau tenang saja Al, aku di pihak mu, mau apa kalian berdua haa"


"Mau membully menantu ku hah?"


"Aku cari aman saja Grey" ucap Maria yang langsung mundur saat Agatha menjadi tameng untuk suami nya itu.


"Kamu yang mulai bukan aku"


"Cepat katakan siapa dia, akan aku lenyapkan dia saat ini juga"


"Yakin kalau kamu tega"


"Kenapa tidak, siapa pun itu, akan aku singkirkan jika dia berani menganggu ketenangan keluarga ku"


"Aku tidak yakin, karena yang aku tahu kamu juga menyayangi nya"


"Cepat katakan jangan berbelit-belit" ucap Agatha lagi.


"Dia adalah Kelvin Jerome Frazer"


Albert menyemburkan makanan yang ada di mulut nya saat mendengar nama yang di sebut oleh sahabatnya itu, dia tentu saja kaget dengan apa yang dia dengar itu.


Itu nama putranya lalu kenapa di ganti dengan nama milik Geffrey dan sejak kapan pula dia jadi anak nya Geffrey.

__ADS_1


Sedangkan ketiga wanita yang ada di sana. hanya bisa terperangah tida percaya dengan apa yang mereka dengan tapi terasa sulit untuk memprotes nya.


"Bercanda mu tidak lucu sama sekali" bentak Albert.


"Aku bahkan sudah memerintahkan Johan untuk membuat pesta penyambutan besok di kantor pusat dan aku akan pensiun setelah posisiku, di pegang oleh Kelvin"


"Jangan gila Grey, siapa yang akan mengurus perusahaan milik ku jika kau menarik Kelvin ke perusahaan mu" geram nya pada sahabat nya itu.


"Ya sudah kau saja yang mengurus perusahaan itu, kau kan suami dari putri ku dan kau juga mengerti cara kerja perusahaan, jadi ambil alih perusahaan itu"


"Semakin ke sini kamu bukan nya sadar malah semakin gila nya"


"Apa kau lupa jika sebelumnya aku sudah pernah mengatakan ini pada mu saat rencana perjodohan itu, lalu kenapa protes"


"Kelvin tetap menjadi Presdir di sana mengganti posisi mu sebagai menantu di keluarga ku"


"Tapi bagaimana dengan perusahaan ku sendiri Grey"


"Ada David kenapa kau pusing sekali"


"Dia tidak berbakat mengelola perusahaan, aku tidak bisa begitu saja melepas nya"


"Itu akan kau lakukan jika kau memang sudah gila, kita akan tetap mengawasi nya sampai mereka benar-benar bisa berdiri sendiri"


"Kenapa tidak meminta menantu yang satu nya saja untuk mengurus perusahaan, dia pasti bisa hanya saja dia masih perlu belajar banyak untuk bisa se hebat kalian"


"Kenapa tidak Johan saya yang kau tunjuk, lagian juga kau belum tua-tua amat kenapa sudah ingin pensiun"


"Aku bosan dengan kehidupan yang seperti itu-itu saja"


"Papa ini aneh, banyak orang yang menginginkan berada di posisi papa tapi papa malah bosen" ucap Diana yang sejak tadi hanya memperhatikan perdebatan papa dan suaminya itu.


"Mungkin kita butuhkan liburan" ucap Agatha mengusulkan ide nya.


"Sekalian biar ada yang berbulan madu" kekeh nya sambil menoel janggut Diana


"Aku dengan siapa?"


"Memang kita punya suami berapa Di?" tanya Maria.


"Tante lupa kalau dia sudah melayangkan gugatan cerai pada kita, dan ini kenapa kalian cepat sekali memaafkan mereka"

__ADS_1


Mereka berempat saling pandang saat Diana berkata seperti itu, Albert yang melihat mereka semua mengangguk kepala nya pun mendekat kearah Diana yang masih duduk di atas ranjang pasien itu.


"Honey"


"Kenapa aku serasa mau muntah saat dia memanggil seperti itu pada wanita yang seusia dengan anak nya"


"Diam lah Grey kenapa kau jadi banyak bicara sekarang"


"Aku belum selesai Ria, harus nya dia memanggil Diana itu baby dan Diana memanggil nya Daddy, persis seperti kebanyakan novel yang di baca oleh Stevani"


"Tha aku saran kan untuk segera membawa suami mu ini pergi berobat sebelum terlambat"


"kau mengatai-----"


"Diamlah kamu sudah terlalu bicara hari ini" geram Agatha yang menutup mulut suami nya menggunakan tangan nya.


Sedangkan Diana yang sudah paham dengan ulah mereka semua memilih memejamkan mata nya, dia masih merasa sakit hati atas hinaan yang Albert katakan pada nya wanita itu.


"Honey aku tahu kau belum tidur, aku minta maaf dengan semua yang terjadi beberapa hari ini, sampai kita harus kehilangan anak yang bahkan aku belum tahu kalau dia sudah hadir di sini" ucap Albert yang mengusap perut rata Diana, yang langsung di tepis oleh nya.


Tapi Albert tetap saja melakukan nya sampai Diana membiarkan tangannya itu membelai perutnya, yang sudah kosong.


Albert pun menceritakan semua yang terjadi selama ini, tentang rencana, siapa saja yang menjadi target nya hingga topeng wajah yang mereka gunakan untuk menipu mereka semua, bahkan dia juga sempat menceritakan tentang video yang di kirim kan pada nya waktu itu.


Kecelakaan yang tadi hampir merenggut nyawa nya pun tak luput dari cerita nya, mengingat bahwa tujuan utama mereka adalah ingin memilik harta, tahta dan wanita milik mereka yang di ingin kan.


Agatha menangis dalam pelukan suami setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Diana dia menangis memeluk suaminya bersama dengan Maria di sana.


Agatha juga menceritakan semua nya tentang persekongkolan antara mantan kekasih Maria itu dengan keluarga paman kandung nya, dimana mereka juga menginginkan harta yang dimiliki oleh suaminya itu.


Mereka semua terlalu silau dengan apa yang di miliki tanpa mereka tahu perjuangan yang mereka lakukan untuk sampai di masa sekarang ini tidak lah mudah.


Baik Agatha dan Maria mereka menemani pasangan mereka mulai dari saat merintis bisnis nya hingga sampai puncak kesuksesan nya.


"Aku pernah bilang kan pada kalian apapun yang kalian lihat jangan mudah percaya atau terpengaruh begitu saja, tanyakan pada dulu baru kalian bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi"


"Maaf aku"


"Sudah tidak perlu di ingat lagi, pikiran saja kemana kalian mau berlibur"


"Tapi setelah perusahaan stabil aku baru bisa mengabulkan nya"

__ADS_1


"Apa aku boleh pergi berdua saja dengan suami kita kak?"


__ADS_2