Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Perdebatan


__ADS_3

Albert tidak menjawab dia hanya terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun, dia merasa seluruh inderanya tidak bisa berfungsi dengan baik setelah mendengar kata yang paling tidak ingin dia dengar dari mulut istrinya itu.


Sedangkan Maria dia tetap duduk di tempat nya sambil melirik kearah suaminya itu.


"Kenapa, kenapa kamu melakukan ini pada ku?"


"Aku hanya-----"


"Kakak, aku mencari mu sejak tadi ternyata kamu ada sini"


"Kamu baru datang, bagaimana bulan madu nya, apakah menyenangkan?"


"Iya, aku sangat senang sekali, terimakasih kak sudah mengizinkan aku pergi bersama suami kita"


" Iya, sama-sama bukan kah kita harus adil berbagi" kata Maria yang melirik ke arah suami nya"


"Hubby, kamu kenapa duduk di situ?" tanya Diana saat melihat suaminya yang duduk di lantai kamar tempat Maria.


"Tidak tahu, aku sudah melarangnya tapi dia tidak mau mendengarkan ku"


"Coba kamu saja, mungkin dia mau mendengarkan mu"


Diana pun mendekati Albert yang terduduk di lantai, lalu meminta nya untuk berdiri dari sana, tapi Albert sama sekali tidak bergerak, dia tetap duduk di sana tanpa menghiraukan mereka berdua.


Diana akhirnya duduk di sis ranjang, lalu melihat dompet milik suaminya itu ada di sana.


"Hubby bukan kan itu dompet mu, kenapa ada di sini?" tanya Diana sambil meraih dompet yang ada di samping Maria.


"Ambillah dia mungkin ingin memberikan nya pada mu" jawab Maria yang Sam sekali tidak melihat ke arah dua orang itu.


"Kak, aku ke atas dulu ya, aku gerah"


"Naik lah, bawa suami kita juga, dia belum mandi kan"


"Iya, kami akan mandi bersama nanti, setelah itu kita makan malam bersama"


"iya pergilah"


"Ayo hubby"


Albert tidak menjawab dia hanya menatap datar pada istri pertama nya.


"Naik lah terlebih dahulu, aku masih merindukan kakak mu"


"Cepat lah menyusul, aku siapkan air mandi nya"

__ADS_1


"Tidak perlu, ada istri ku juga di sini" kata Albert lalu mengambil dompet yang ada di tangan Diana.


Diana mengangguk lalu keluar dari kamar yang sangat sempit itu menurut nya, dia ingin bertanya tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan nya, jadi dia memilih pergi dari sana untuk membersihkan dirinya.


Di kamar itu, kini tinggal Maria dan Albert di sana, Albert mengunci pintunya dari dalam, dia duduk di samping istri nya.


Lama mereka saling diam, seakan ada tembok yang sengaja di bangun Maria di sana, yang memisahkan mereka berdua, Albert yang tidak tahan dengan situasi itu pun meraih tangan nya dan meletakkan nya tepat di jantung nya.


"Aku tahu, aku menyakiti mu, tapi bisakah untuk tidak meninggalkan aku, aku tidak akan bisa bertahan jika kamu tidak ada di sini"


"Kamu tahu, jika aku adalah kamu, dan begitu juga dengan apa yang sering kamu katakan, bahwa aku adalah hidup mu"


"Lalu apa kamu bisa tanpa aku, sedangkan aku sudah pasti tidak akan bisa tanpa kamu"


"Aku pergi bersama nya juga karena kamu yang mengizinkan nya"


"Jadi sekarang anda menyalakan saya" ucap Maria


"Jangan seperti ini aku mohon, aku ingin istri ku yang dulu"


"Saya juga ingin suami saya yang dulu, yang selalu memprioritaskan saya dan anak-anak kami, tapi kami telah kehilangan nya"


"Tidak, kamu tidak pernah kehilangan aku, aku masih tetap sama, aku masih suami yang dulu"


"Aku mohon jangan seperti ini, jangan menghukum ku seperti ini sayang"


Entah apa yang dia rasakan saat melihat foto Albert bersama Diana yang terlihat begitu mesra membuat hati nya sakit, sakit yang selama ini dia simpan agar tidak ada satu orang pun yang tahu, bahwa dia tidak bisa menerima pernikahan suami nya.


Sebenarnya bukan sifat Albert yang berubah tapi perasaan nya yang kini sangat sensitif, di tambah dia yang merasa sudah tua dan tidak lagi bisa bersanding dengan suami yang masih gagah itu.


Dan lagi sifat Diana yang kini seakan ingin memonopoli suami nya itu terlihat nyata di depan nya saat ini, serta David yang berani menyuarakan keberatan nya atas pernikahan kedua papa nya, membuat nya berani mengambil langkah untuk berpisah.


Dia selalu beranggapan bahwa dia tidak lagi di ingin oleh Albert sejak mereka melakukan hubungan suami-istri dulu, meski pada kenyataannya Albert masih saja mencari nya di setiap hari nya.


Bukan hanya soal nafkah batin saja, bahkan setiap apa pun itu dia pasti memilih Maria di banding kan Diana.


Tapi entah apa yang terjadi kenapa istrinya begitu dingin pada nya sejak kejadian kartu kredit waktu itu.


"Sayang, kamu sendiri pernah bilang akan menemani sampai aku menutup mata, tapi kenapa saat ini kamu ingin pergi"


"Aku tidak bisa memilih satu diantara kalian"


"Jadi aku mohon jangan membuat ku di posisi yang serba salah"


"Saya tidak pernah membuat anda berada di posisi yang salah, tinggal kan saja saya yang sudah tidak berguna lagi ini"

__ADS_1


"Cukup, cukup kamu menguji kesabaran ku, sejak tadi kamu terus saja beranggapan aku adalah tuan mu"


" Terserah, lakukan saja apa yang kamu inginkan"


Albert keluar dari sana yang langsung mendapat pukulan dari putra pertamanya.


Bug.


"Sudah aku katakan, jangan membentak mama ku, aku tidak terima mama ku di sakiti oleh pria yang tidak punya hati seperti mu"


"Diam, kamu jangan kurang ajar"


"Aku tidak peduli, siapapun yang berani menyakiti mama ku, aku lah orang pertama yang akan membalaskan sakit hati"


"Vin, bawa mama pergi dari rumah ini"


"Jangan berani kamu membawa istri ku keluar dari sini"


"Dia mama ku, jadi aku berhak melindungi nya"


"Dia istri ku, jadi kamu tidak punya hak di sini untuk membawa nya"


"Aku tidak peduli" bentak David tidak mau kalah dengan papa nya


"Jangan membantah"


"Sayang, hentikan" ucap Maria menggelengkan kepalanya sedangkan Albert dia langsung diam mendengarkan suara istrinya.


"Bersihkan diri kalian, mama tidak apa"


"Tapi Ma," jawab Kelvin yang masih tidak terima dengan apa yang terjadi


"Apa yang tidak kami ketahui?"


"Tidak ada, cepat lakukan apa yang Mama kalian katakan, atau aku tidak akan pernah menganggap kalian lagi"


Mereka berdua naik ke lantai atas setelah mama nya itu mengangguk kan kepala dari Mama nya.


"Anda juga cepatlah mandi, sudah waktunya makan malam"


Ucap Maria pada Albert yang kini masih berdiri di tempat nya, Maria pun naik ke lantai dua menuju kamar yang selama ini menjadi tempat ternyaman nya.


Di ikuti oleh Albert di belakangnya, Maria melakukan itu semua dia tidak ingin pertengkaran di antara anak dan suaminya dan membuat kedua anak nya itu membenci papa nya.


Meski dia tahu bahwa kedua putranya itu sangat tidak nyaman berada di rumah mereka sendiri.

__ADS_1


"Air nya sudah siap, cepat lah mandi" ucap Maria sambil membawa handuk bersih untuk suami nya.


"Tidak perlu"


__ADS_2