Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Kontrak


__ADS_3

"


Diana sampai di Butik nya pukul sembilan tepat, dia langsung menyelesaikan rancangan gaun pengantin yang sempat tertunda kemarin.


Hingga kini dia masih belum membuka kembali ponselnya, apa lagi dia tadi sempat menyalakan mode "jangan ganggu" , jadi tidak ada satupun pemberitahuan yang masuk ke dalam ponsel nya.


Sampai ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.


"Masuk!"


Diana melotot saat melihat siapa yang kini memasuki ruang kerjanya, apa lagi orang itu mengunci pintu lalu menghampiri yang masih duduk di kursinya.


"Apa kamu butuh ponsel baru, kalau iya katakan saja aku akan membelikan mu beserta pabrik nya!" ucap orang itu sambil menaruh bungkusan makanan di meja yang biasa di gunakan client nya saat bertemu secara pribadi dengan nya.


Tanpa menunggu di persilahkan tamu nya itu langsung duduk begitu saja dia sudah seperti pemilik ruangan tersebut.


"Apa yang kamu lakukan di sini, kamu semakin membuat orang lain salah paham dengan kita!" geram nya.


"Salahkan dirimu sendiri, siapa suruh tidak membalas pesan ku dan menjawab panggilan,!"


Diana langsung mengambil ponsel lalu mengeceknya, ohh pantas saja ponselnya itu tidak berbunyi sama sekali, dia lupa kalau tadi pagi dia membisukan ponsel tersebut.


Dengan cengiran khas miliknya, Diana berjalan ke arah sofa di mana calon tunangan nya itu ada di sana, Kelvin hanya mendengus melihat tingkah Diana dia tahu apa yang di lakukan oleh wanita itu pada ponselnya.


Alasan itu cukup untuk mendatangi nya ke butik nya, pasti Diana akan melupakan ponsel ataupun jika tengah serius dengan pensil dan kertas putih kesayangan nya.


"Apa yang kamu bawa?"


Dan lagi-lagi Kelvin mendengus melihat tingkah sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, sungguh perubahan status yang sangat tidak pernah terlintas dalam pikiran nya dan sangat tidak dia inginkan.


Bagaimana bisa orangtuanya memintanya untuk menikahi wanita yang sejak bayi selalu bersama, mereka bagai kembar sepasang yang selalu bersama, ini sangat menggelikan.


"Wah aku suka Ayam panggang madu!" ucap nya langsung menggigit ayam yang ada di tangan nya.


"Kau jorok sekali, cuci tangan mu dulu sana, kau itu perempuan bisa-bisa makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu" gerutu Kelvin


"Aku tidak habis pikir dengan Mama Papa, kenapa mereka mau menjodohkan ku dengan perempuan jorok seperti mu" ucap nya sarkas


"Mungkin karena aku cantik, mandiri dan sukses jadi Om Al dan Tante ingin aku jadi menantu?" Diana lalu berdiri dari duduknya menuju wastafel dan mencuci tangannya.


Dia tidak ingin kenikmatan nya terganggu dengan ocehan tak penting dari calon suami nya itu,


Tunggu


Apa tadi, calon suami????


Huweekk


"Kamu tidak sedang hamil kan Di,?"


Plak


"Jangan omong kosong kamu ya, mana mungkin aku hamil, melihat bentuknya saja belum bagaimana aku bisa hamil!"


"Sakit kau ini perempuan atau laki-laki, Kaut sekali pukulan mu!"


"Kau saja yang lemah, dasar!"


Diana meninggalkan Kelvin di wastafel rupanya tadi dia menyusul ingin mencuci tangan nya juga.


Mereka akhirnya duduk di sofa sambil makan makanan yang di bawa Kelvin tadi.


"Di, aku mau membicarakan tentang rencana perjodohan itu!" katanya di tengah-tengah acara makan siang itu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Diana pura-pura tidak tahu


"Kamu tahu bagaimana aku, aku juga tahu kalau kamu tidak mencintai ku, bagaimana kita bisa menjalani nya jika tidak ada cinta di antara kita?"


Diana menghentikan suapan di mulut, mengecap, lalu menelan nya dengan begitu anggun, sedangkan kelvin yang melihat sangat jengah dengan tingkah sahabatnya itu.


"D-iii, aku serius!" ucap nya lagi dia seperti seorang anak yang membutuhkan perhatian ibunya.


"Sebegitu tidak pantasnya kah aku di mata mu Kel, hingga kamu mau membatalkan rencana perjodohan ini?" tanya Diana lalu menatap tajam Kelvin yang duduk berhadapan dengannya.


Kelvin yang mendapat pertanyaan juga tatapan seperti itu pun dia membeku, dia membalas tatapan matanya Diana yang tajam seakan ingin membelahnya.


"Buuukkaaaan begitu Di, kamu tahu kalau aku mencintai orang lain, akuuuu---"


"Orang yang bahkan kamu tidak tahu dia di mana saat ini, lalu kamu mau menunggu nya sampai kapan?"


"Di, tolong jangan bahas lagi masalah ini, aku mohon,!"


Wajah Kelvin tertunduk lesu saat kembali mengingat wanita yang membuatnya jatuh cinta pada nya wanita yang mengalihkan dunia nya.


Melihat sahabatnya seperti itu membuat nya terdiam, secara tidak langsung dia membuka kembali luka lama yang masih menyisakan perih di hati sahabatnya itu.


Diana sendiri dia tidak tahu wajah perempuan yang bisa membuat sahabat nya itu bertekuk lutut dengan pesona nya, bahkan dia merayu Kelvin mati-matian agar dia memberikan tahu pada nya siapa wanita itu.


Tapi Kelvin tetap kukuh dengan pendiriannya yang tidak mau menunjukkan wajah wanita itu, dia hanya bilang belum saat nya dia tahu wujud wanita yang menjadi gadis impiannya itu.


"Apa rencana untuk membatalkan pernikahan ini?" tanya Diana.


"Aku mau tanya satu hal pada mu Di?"


"Apa?"


"Apa kamu mencintai ku?"


"Pertanyaan bodoh apa yang kau tanyakan ha!" jawab nya marah


"Apa itu penting"


"Setidaknya jika salah satu diantara kita ada yang jatuh cinta itu bisa menjadi alasan utama pernikahan kita!"


"Jika iya aku akan berusaha menjadi suami yang baik yang mendapatkan seluruh cinta mu, secara perlahan cinta itu pasti akan tumbuh di hati ku dan melupakan dia"


ucapnya lirih, dia memang jahat sangat jahat dia ingin di cintai oleh Diana, sedangkan dia mencintai gadis lain.


Adilkah ini untuk Diana, dia hanya dia jadikan tumbal dalam pernikahan palsu ini, bisakah Diana menjalani sedangkan cinta nya sepenuh nya dia miliki oleh ayah dari pria dia hadapan nya ini.


Diana takluk oleh pesona Albert, pria yang memiliki sejuta pesona nya di usia matang nya, bahkan dia secara terang-terangan menolak pinangan banyak pria karena di hati nya masih terpatri nama Albert di sana.


"Tapi Kel, aku juga tidak mencintai mu"


"Tanpa kau beritahu aku sudah tahu sebenarnya Di, hanya saja aku ingin mendengar nya langsung dari mulut mu!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Aku juga tidak tahu Kel, tapi apa kita tega menyakiti mereka?"


"Dengan mengorbankan perasaan kita, Di?"


Diana diam dia juga tidak tahu apa seperti apa pernikahan yang tidak ada unsur cinta sama sekali ini, mereka sama-sama mencintai orang lain.


"Anggap saja pernikahan ini sebagai wujud bakti kita pada mereka semua!"


"Apa kau sudah gila, aku tahu Di, kita sama-sama terpaksa tapi harus kah kita mempermainkan ikatan pernikahan?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita buat perjanjian?"


"Maksudmu, jangan bilang kalau kamu ingin menikah secara kontrak dan ada perjanjian di dalam nya?" tanya Kelvin memicing kan mata.


"Ya kurang lebih seperti itu, jika dalam waktu yang kita sepakati, tetap tidak anda cinta di antara kita, kita bisa bercerai!"


"Aku tidak yakin dengan ide mu itu!"


"Apa salah kita mencobanya Kel,!"


"Lalu jika kita benar-benar jatuh cinta atau salah satu dari kita jatuh cinta bagaimana?"


"Tinggal kita hilangkan perjanjian itu, kalau kita benar-benar jatuh cinta, kalau hanya sepihak saja, maka tugas dia yang harus membuat yang belum jatuh cinta menjadi cinta lah!"


"Omong kosong apa ini Di, Ha-ha-ha?"


"Entah aku pun juga bingung!" jawab Diana lalu menyenderkan tubuhnya pada sofa.


Mereka sama-sama diam, memikirkan nasib mereka kedepan nya, mereka harus melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka hanya demi menyenangkan hati orang tua mereka.


Lama mereka saling diam di dalam ruangan itu, tidak lagi ada pembahasan yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada di benak nya.


"Aku tidak bisa berpikir apapun, aahhh!" kata Kelvin sambil mengacak rambutnya, dia terlihat sangat frustasi dengan keadaan nya.


"Kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa aku jadi gila Kel" keluh nya.


"Pekerjaan ku sangat banyak, kau tahu aku tidak bisa mengerjakan nya dengan baik,"


"Seperti nya kita butuh liburan untuk menjernihkan pikiran kita Di"


"Ide mu bagus juga tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku begitu saja"


"Hey kita hanya perlu merilekskan pikiran, tidak harus ke luar negeri yang butuh waktu berhari-hari"


Diana menatap Kelvin dengan pandangan yang tak biasa.


"Maksud ku kita bisa pergi ke pantai atau ke puncak setelah jam makan siang, seperti sekarang ini!"


"Tidak hari ini Kel, aku banyak pekerjaan yang harus dengan cepat aku selesaikan" ucapnya menolak ajakan Kelvin.


"Aku tidak bilang kalau kita pergi hari ini, lagian aku-----, astaga, aku harus kembali!"


"Kau kenapa, buru-buru seperti itu?"


"Aku ada meeting penting Di, dan aku Melupakan nya,". jawab nya lalu berdiri dari tempat duduknya menghampiri Diana yang sudah kembali mendudukkan tubuhnya.


Kelvin pun mendekat lalu mendaratkan ciuman di kening Diana, sedangkan Diana dia mencibir kesal dengan ulah Kelvin.


"Perlu cium tangan tidak calon suami?" tanya Diana dengan nada kesal nya


"Ah iya itu perlu sekali, biar orang semakin menduga bahwa kita salah sahabat jadi cinta" ucap nya sambil menyodorkan tangannya yang langsung di tepis oleh Diana.


"Karena ulah mu orang tua kita salah sangka dengan kedekatan kita!"


"Selama ini kamu tidak pernah memprotes nya lalu kenapa baru sekarang ha, dasar wanita selalu sama begitu, tidak mau di salahkan"


"Jangan banyak omong cepat pergi sama katanya ada meeting gak penting"


"Sembarang, ini meeting yang sangat penting, untuk kehidupan rumah tangga kita nanti calon istri" ucap nya menggoda Diana, bahkan dia secara sengaja dia mendekatkan wajahnya seakan ingin mencium nya.


"Mau apa?" ucap nya memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang di dada kelvin menahan tubuh nya agar tidak merapat dengan tubuh miliknya.


"Tentu saja mencium calon istri cantik ini!" ucapnya tanpa dosa sama sekali, seakan apa yang di lakukan oleh nya tidak salah sama sekali.

__ADS_1


"Jangan macam-macam kau Kel,!"


Ceklek,,,,,


__ADS_2