Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Penemuan


__ADS_3

"Jangan bercanda sayang!" ucap mulut kadal Albert meski dirinya sangat berharap Maria benar-benar mengizinkan dia bermalam dengan madu nya itu.


Hanya membayangkan nya saja, tubuh nya merespon dengan cepat tentang pembahasan ini.


"Lihatlah diri mu sudah menegang seperti itu, itu hanya membicarakan nya, apa lagi kalau benar-benar melakukan pasti tidak lama aku akan di buang!"


Deg.


"Apalagi aku sudah tua dan penyakitan seperti ini, aku tidak akan lagi mampu mengimbangi mu dalam segala hal,pasti nya akan------"


"Eeemmmmpphh"


Albert tersadar saat mendengar ucapan dari istrinya itu, jiwa kadal nya bangkit lagi saat dia merasakan bibir perawan tadi, bahkan dia membayangkan rasa manis nya saat bersama istri pertama nya.


Dan lihat akibat dari ulah nya, istrinya itu kembali bersedih, dan mengatakan sesuatu yang begitu mengiris hati nya.


Albert yang tidak akan bisa menjawab pun langsung membungkam mulutnya agar tidak lagi mengucapkan kata menyakiti lagi, dia tidak mau dan tidak akan sanggup jika harus harus kehilangan Maria.


Mungkin cinta nya akan berat sebelah pada Maria di banding Diana, biar bagaimanapun Maria lah yang menemani nya dari nol hingga kini dia bisa membeli apapun seperti membalikkan telapak tangan nya.


"Sekali lagi aku mendengar kata itu, saat itu juga aku yang akan pergi, sendiri tanpa memilih satu di antara kalian."


"Tapi apa yang aku katakan benar bukan, aku hanya wanita miskin yang beruntung di jadikan istri oleh mu, maka aku--!"


"Minum obat mu dan cepat tidur lah, jangan memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi!"


Ucap Albert yang kini berjalan ke kamar mandi, dia tidak ingin semakin terpancing emosi saat menghadapi istrinya yang sangat sensitif perasaannya.


Langkah nya tertahan sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi, Maria memeluk nya dengan segukan lirih, Albert mendesah halus di sana, kenapa kedua istrinya itu sangat suka menangis sambil memeluknya dari belakang.


Hari ini bajunya itu basah oleh air mata mereka berdua, bahkan mungkin tercampur ingus disana.


"Bisa lepaskan aku!"


Maria menggeleng, pelukan nya bahkan semakin erat saja, Albert benar-benar harus bersabar dengan kedua istrinya.


Maria yang sedang puber kedua, dia seperti remaja enam belas tahun yang takut di tinggal oleh pacar nya, sedangkan Diana seperti layak seorang yang ingin menjelajahi hal baru, yaitu eehheemmm uhuk-uhuk.


Kalian tahu lah apa itu.


"Aku mau mandi, badan ku lengket?"


"Biarkan saja!"


"Boleh aku minta di temani tidur dulu, aku ngantuk!"


"Iya tapi biarkan aku mandi dulu!"


"Aku ingin tidur sambil mencium bau keringat mu!"


Albert menghelakan nafas nya, Maria tetap lah Maria yang tidak akan melepaskan nya jika dia ingin tidur sambil menghirup aroma tubuhnya yang masih belum tersentuh air.

__ADS_1


"Berjanji dulu pada ku kalau kamu tidak akan mengatakan hal itu lagi!"


"Kalau tidak aku akan benar-benar melakukan nya dan tidak akan kembali pada mu!"


"Iya!"


"Iya iya aku tidak akan membahas nya lagi!"


Albert melepaskan pelukan Maria, dia berbalik dan menatap wajah istri nya yang sedikit pucat, tapi sudah lebih baik dari saat pingsan kemarin.


"Dengar kan aku, apa pun yang terjadi kedepan nya besok, lusa atau selamanya, bisa tetap berada di sisi ku,!" ucap nya sambil membelai pipi nya.


"Aku menikah mu bukan untuk menjadikan mu budak nafsu atau pelampiasan nafsu ku saja, aku mencintai benar-benar mencintai mu, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan!"


"Ada dan tidaknya Diana di tengah-tengah kita itu tidak akan merubah apapun, aku tetep suami mu dan kamu tetap istri ku, kamu ratu ku!"


"Andai nanti takdir kita memang bertiga, maka berjanji lah pada ku untuk tidak meninggalkan ku, aku berjanji akan adil pada kalian berdua,!"


"Jadi bisa kah aku mendapatkan kembali kepercayaan mu pada ku,!"


"Tapi maaf, aku masih belum bisa mengizinkan mu untuk menghabiskan malam panjang bersama nya!"


"Jangan pikirkan itu sekarang, aku akan melakukan nya saat kamu mengijinkan nya,!"


"Ayo ini sudah larut, tidur lah sayang!"


Grep


Ahhh


Albert kini tengah makan siang bersama Diana di ruang kerja milik Albert, dia sesekali masih masuk ke kantor nya, untuk membantu David yang belum sepenuhnya bisa menguasai bisnis milik nya itu.


"Om?"


"Kenapa honey!"


"Aku tadi mendengar kalau Tante Maria hari ini harus cek up, apa om akan menemani nya?"


"Iya setelah ini, aku pulang lalu ke rumah sakit, kenapa? kamu mau ikut!"


"Tidak, aku ada janji dengan pemilik toko kain, jadi lain kali saja,!"


"Baik lah, nanti kembali ke butik om antar ya?"


"Tidak perlu Om, aku bisa sendiri!"


"Aku tidak menerima penolakan mu!"


Diana mencebik saat mendengar ucapan suaminya itu, jika sudah seperti itu lalu dia bisa apa Selain menurutinya.


"Nanti sepulang dari mengantarkan madu mu ke rumah sakit, aku akan menjemputmu lagi!" sambung nya.

__ADS_1


"No, aku pulang sendiri saja, tapi belikan aku pie Apple dan juga pizza!"


"Ice cream nya juga!"


"Apa lagi!"


"No cukup!"


"Yakin!"


Diana mengangguk di sana, dia ingin pergi ke suatu tempat juga jadi dia harus memastikan kalau suaminya itu tidak menjemput nya, kali sampai Albert menjemput nya dia harus menjadwal ulang dan itu cukup merepotkan.


Acara makan siang sudah selesai dan kini mereka sudah sampai di butik milik diana.


Diana turun dari mobil, tentu nya setelah mencuri satu ciuman dari suaminya lantas dia bergegas turun dari sana sebelum suami nya itu membalas nya.


Diana melambaikan tangan saat sudah berada di lobby butik nya.


"Nakal!" ucap Albert sambil mengelus pipi nya yang tadi di cium oleh Diana.


Kini Albert melajukan mobil nya kembali pulang ke rumah nya, istrinya itu pasti sudah menunggu nya di sana.


Dan benar saja , saat dia masuk Maria sudah menunggu nya di sana.


"Apa aku terlambat?"


"Tidak, kita masih punya satu jam!"


Cup.


"Apa yang kamu rasakan?"


"Aku baik-baik saja!"


"Lalu dimana sahabat mu itu! kenapa dia tidak membuntuti kita?"


"Dia ada acara di kantor Geffrey!"


"Oh iya aku mengingatnya, ayu kita berangkat sekarang saja!"


Jalan raya siang ini terbilang cukup sepi, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di sana, mungkin juga karena masih jam kerja jadi jalan cukup lenggang.


Bukti mereka sampai sepuluh menit lebih awal dari waktu biasa di tempuh.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya kini giliran Maria yang masuk ke dalam ruang itu sebut.


Sendiri.


Ya itu karena Albert yang tiba-tiba mendapat panggilan dari Lucas yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.


Maria pun duduk di kursi pasien yang berada di sana, tapi netra nya tertuju pada salah satunya map yang ada di sana.

__ADS_1


Deg


jangan lupa bintang 5 nya akak


__ADS_2