
Semua turun dari lantai dua dan berkumpul di meja makan, duduk di kursi masing-masing masih dengan formasi sama dengan sebelumnya.
"Papa harus coba masakan ku ini pasti enak,!" kata Stevani yang menaruh mie goreng yang tadi di masak nya.
"Pagi hari tidak sehat makan makanan yang berlemak!" seru nya sambil menyerahkan roti yang sudah di olesi selai strawberry dan parutan keju di atas nya.
"Mending papa makan ini saja, spesial hanya untuk papa tersayang!" ucap Diana sambil menyerahkan piring berisi roti tersebut.
"Itu terlalu manis tidak baik untuk kesehatan papa!" suara sudah mulai meninggi saat mengatakan itu, Geffrey terlihat begitu bahagia mendapat perhatian dari kedua putrinya.
"Aku tidak tahu lagi dengan cara apa amu menghentikan ulah kalian berdua yang selalu berebut perhatian papa kalian haaahhh" ucap Agatha yang sudah benar-benar menunjukkan kemarahan.
"Makan makanan kalian jangan saling berebut papa kalian dia tidak akan kemana-mana dan tak akan ada yang mengambilnya dari kalian,"
"Aku kan hanya ingin melayani papa saja ma!" ucap Stevani dengan suara lirih nya, apa dia tidak menyadari bahwa dia sudah punya satu buntut di belakang nya.
Kenapa tingkat nya masih saja seperti seorang bayi yang sedang mencari perhatian dari Papa nya.
"Aku tidak pernah melarang kalian berdua melayani papa kalian asal jangan berebut itu saja" jawab Agatha memijit pelipisnya pusing tiba-tiba menyerang kepala nya saat ini.
Kenapa mereka selalu berebut perhatian papanya itu, tidak sadar kah mereka bahwa saat ini mereka sudah besar dan bukan lagi saat nya bermanja dan memperebutkan papanya.
"Sudah jangan bertengkar lagi sekarang letakan makanan yang kalian siapkan untuk papa, nanti papa akan memakan semua nya, sekarang kalian cepat makan dan berangkat ke kantor masing-masing, Oke!"
"Baik pa!"
"Lihatlah anak-anak mu itu, semua hanya nurut sama kamu, bahkan mereka tidak pernah mendengar ucapan ku sama sekali, yang ada di pikiran mereka hanya papa, papa,dan papa tidak ada yang lain" gerutu Agatha pada suaminya.
Kini mereka pun sarapan tanpa ada suara sedikitpun, bahkan Darren bayi berusia satu tahun itu juga diam tanpa berkata sedikitpun.
Agatha tidak habis pikir dengan tingkah kedua putrinya itu mereka yang sudah berusia dua puluh tahun lebih itu masih saja seperti bayi saat bersama dengan papa nya.
__ADS_1
Entah apa yang harus di lakukan Agatha, harus kah dia sedih atau bahagia dengan sikap ke dua putrinya yang kini bertambah dengan cucu laki-laki nya itu yang tidak pernah mau lepas dari suaminya itu.
Dia dulu berfikir dengan stevani menikah kejadian itu tidak akan terjadi lagi tapi nyatanya semakin bertambah parah, tidak pernah sayu hari saja, baik Stevani ataupun Diana tidak menghubungi ayahnya itu.
Saat berkumpul bersama pun Geffrey akan selalu di kawal oleh dua bodyguard nya itu.
"Mereka juga anak-anak mu sayang jadi biarkan saja"
Stevani menyudahi sarapan nya dia berjalan ke arah papa nya di ikuti oleh Diana yang juga mengikuti nya mendekat i papa nya dan peperangan pun di mulai.
"Mau apa kau?" tanya Stevani
"Apa urusanmu?"
Mereka jika sudah seperti itu bagaimana musuh yang ada di Medan perang tengah memperebutkan sesuatu yang sangat berharga.
"Jangan cium papa ku!" seru nya pada sang adik
"Mana ada coba tanyakan papa siapa anak nya!"
"Ya jelas aku lah yang anak papa, mana ada papa punya anak yang tomboi seperti mu, anak papa itu ya seperti aku ingin yang anggun dan berwibawa" balas nya lebih pedas pada sang kakak.
"Pergi dari sini, sana ke kantor, kalau sampai aku masih mendengar kalian memperebutkan papa kalian, ku kurung papa kalian di dalam kamar biar kalian tidak bisa bertemu dengan nya" kata Agatha dengan nafas naik turun nya dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi anak nya itu.
Mendengar ancaman dari mamanya membuat Stevani dan Diana saling berpandangan satu sama lain, lalu mencuri satu ciuman di pipi papanya dan berlari dari sana sebelum Mama nya itu benar-benar mengurung pria kesayangan mereka itu.
Bahkan Stevani dia sampai lupa tidak berpamitan pada putra nya yang tengah menatap ke arah nya.
"Sabar, sabar" kata Agatha sambil mengelus dadanya
"Jangan terlalu di pikirkan biarkan saja mereka seperti itu, nanti suatu saat kamu pasti akan merindukan mereka yang membuat mu marah seperti ini" kata Geffrey memenangkan istrinya itu.
__ADS_1
"Mana ada seperti itu, bahkan Stevani yang sudah menikah pun tingkahnya malah Semakin parah saja pada mu"
"Mau pada siapa lagi mereka berebut seperti iku jika tidak pada ku, pada Albert juga tidak mungkin kan, yang ada Maria akan ngamuk dan membakar semua perumahan yang ada di sini"
"Sudahlah aku malas dengan mu!" kata nya lalu beranjak dari sana menghampiri cucunya itu lalu mengendong nya.
Geffrey pun mengikuti nya lalu berpamitan pada mereka.
"Baik-baik di rumah dengan Grandma mu boy, grandpa harus ke kantor dulu, urusan di rumah aku serahkan pada mu, Heem" ucap nya sambil mengelus rambut cucu kesayangan nya itu.
"Sudah jangan marah lagi, nanti bisa-bisa aku lupa diri dan menyeret mu ke kamar, apa itu yabg sebenarnya kamu inginkan heeemm,"
"Apa yang kau katakan pergi lah sama" ucapnya sambil menepis tangan Geffrey.
"Kamu sejak tadi marah-marah terus apa permainan kita tadi malam tidak memuaskan mu hingga kau jadi merajuk seperti ini"
"Pergilah aku tidak ingin cucu ku meniru sifat mu yang satu ini"
"Baiklah aku akan pergi jaga dirimu baik-baik"
Geffrey pun keluar dari rumah nya menuju kantor nya dia ada meeting lagi ini tapi harus tertunda lantaran drama yang di buat oleh kedua anaknya itu.
Di seberang rumah nya, tetangga depan rumah tepat nya tengah duduk santai sambil membaca koran, tak lupa juga di temani secangkir kopi di mejanya.
Tetangganya itu menatapnya dengan senyum miring yang terpatri di wajah, membuat Geffrey ingin sekali mendatangi nya dan mencakar wajah menyebalkan itu.
Seakan dia tengah memenangkan sebuah lotre yang membuatnya menjadi kaya hanya dalam hitungan jam saja.
Sungguh beruntung sekali nasib teman nya itu, kini tinggal duduk manis di rumah menghabiskan waktu bersama istrinya yang pasti juga mengganggu ketentraman dirinya.
Tunggu sebentar lagi dia juga kan melakukan hal yang sama dengan apa yang kini tengah dilakukan Albert.
__ADS_1
Lihat saja nanti, senyum devil pun menghiasi wajah Geffrey sambil melajukan mobilnya keluar dari rumah nya.