Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Tanpa ijin


__ADS_3

"Aku mau kamu tidak menyentuh istri mu itu tanpa ijin dari ku!"


Hahahahahahhhhh..


Tawa Albert tidak bisa dia tahan lagi, jadi ini yang sejak tadi membuat istri nya itu menangis, kenapa dia setakut itu, entah lah Albert hanya bisa tersenyum geli saat melihat wajah cemberut istrinya yang duduk di pangkuan nya itu.


"Kamu menyebalkan!"


ucap nya sambil berniat turun dari tempat nya, tapi tangan Albert menahannya hingga dia tidak bisa bergerak sedikit pun.


"Aku memang menikah nya, tapi tidak dengan meniduri nya, dia sudah seperti putri kandung kita sendiri, mana aku bisa se bejat itu meniduri putri ku?"


"Tenang lah, semua akan tetap seperti sebelumnya, dia hanya ingin menikah dengan ku karena dia merasa aman dan saat nanti dia menemukan pasangannya aku akan melepaskan nya tanpa membuat nya kehilangan kehormatannya sebagai wanita!"


"Aku janji pada mu!"


"Tapi dia juga berhak mendapatkan nafkah batin dari suaminya!"


"Dan aku suaminya, jadi aku yang menentukan semua itu, tidak ada yang bisa merubah keputusan ku, kamu tahu itu kan?"


Maria mengangguk lalu merapatkan tubuh nya hingga puncak bukit menempel pada dada bidang Albert.


"Sekarang ayo turun, dan bersikap lah seperti biasa nya, anggap kita sedang mendampingi nya di hari pernikahannya!"


"Biarkan seperti ini dulu, aku masih ingin memeluk mu!"


"Kamu bisa memeluk ku nanti setelah resepsi berakhir, setelah malam panas kita tentu nya!"


"Aaahhh....sakiiit!"


"Rasakan siapa suruh pikiran mu hanya tertuju pada kedalaman ku saja?"


"Karena itu enak sekali!" jawab nya tanpa berfilter.


Dug.


"Kenapa suka sekali melakukan KDRT, aku akan melaporkan pada Komnas jika aku di siksa olah istri ku sendiri"


"Dasar menyebalkan, turun kan aku!" pinta Maria saat Albert semakin erat memeluk nya yang tadi ingin turun dari sana.


"Berhentilah bergerak jika kamu tidak ingin pintu kamar di dobrak oleh mertua kita yang menyebalkan itu!"


"Mertua, siapa?" tanya Maria karena, kedua orang tua Albert sudah meninggal saat kedua cucunya masih kecil.


"Siapa lagi kalau bukan sahabat mu itu, yang sekarang jadi mertua kita!"

__ADS_1


"Kamu benar sayang ayo cepat turun, aku tidak mau mendapatkan ceramah dari laki-laki tua itu!"


Akhirnya mereka melepaskan diri dan bersiap menuju tempat yang telah dia siapkan.


Mereka turun ke lantai yang di maksud, saat keluar dari lift, mereka melihat seseorang yang mereka tunggu sejak tadi.


"David, kamu sudah sampai!" David mengangguk lalu memeluk Mama nya itu.


"Apa yang tidak David ketahui, dsn kenapa papa menduakan Mama?"


"Besok kita bahas, sekarang kamu juga harus bersiap!"


"Tapi Ma, aku butuh penjelasan sekarang!"


"Kenapa tidak menungguku untuk menggantikan Kelvin menikahi Diana, kenapa harus papa?"


"Dia tidak mau dan hanya mau di nikahi papa mu!"


"Dan Mama mengijinkan nya?"


Maria mengangguk dengan terpaksa dia juga salah di sini bukan, jadi dia juga harus bertanggung jawab atas kekacauan yang mereka buat sendiri.


"Jangan banyak protes kalau saja kamu di sini tadi, semua ini tidak akan terjadi!"


Dia berjalan meninggalkan keduanya di sana, dan menghilangkan di balik ruang yang menjadi tempat berkumpulnya semua orang untuk di makeup.


Maria langsung menyusul sambil menggandeng lengan putra pertamanya itu, dia bergelayut manja pada pria yang memiliki wajah sama persis dengan suaminya itu.


"Ma?"


"Kenapa sayang!"


"Aku akan membawa Mama pergi setelah ini, aku tidak mau melihat mama di sakiti oleh papa!"


"Mama baik-baik saja sayang, kamu tidak perlu khawatir, tapi jika Mama sudah tidak bisa menahannya lagi, Mama akan mengatakan pada mu, dan bawa mama pergi yang jauh dari papa mu!"


"Berjanji lah dan katakan pada ku, akan ikut kemanapun aku pergi jika aku melihat atau mendengar dari siapapun bahwa papa menyakiti mama lagi!"


"Iya mama janji!"


"Kenapa lama sekali?" tanya pada istrinya itu.


"Siapa suruh meninggalkan ku begitu saja, tadi malah aku berniat ikut David saja kembali ke rumah, dari pada di sini melihat mu bersama madu ku!" ucapnya ketus sambil melengos masuk kedalam ruangan tersebut.


Di ikuti oleh Albert dan juga David di sana.

__ADS_1


"Akhirnya datang juga!" kata Geffrey sambil menatap sinis pada menantunya itu, tunggu menantu?


Geffrey bergidik saat menyadari ucapan nya sendiri, bagaimana bisa pria yang seumuran dengan nya itu menjadi menantunya.


"Cerewet sekali kau"


"Jangan kurang ajar, aku mertua mu di sini"


"Sayang nya aku tidak menganggap mu sebagai mertuaku" ucapnya sambil menghampiri Agatha yang sudah cantik dengan riasan dan baju nya, dia tadi sudah di makeup di kamar pengantin milik putri nya.


"Cantik sekali kamu Tha! aku sampai tidak mengenali mu!"


"Dasar mantu durhaka, bisa-bisanya berbicara seperti itu pada mertuanya!"


"Katakan lah apa pun yang ingin kalian katakan, yang jelas semua tidak akan pernah berubah dan aku tidak mau menyandang gelar itu!"


"Kalian diam lah, aku ingin berhias"


"Sayang temani aku!" lanjut Maria


Albert pun menuju tempat di mana istri pertama itu berada, dia mendarat kecupan di puncak kepalanya sambil terus menatap kearah nya.


Mereka berempat terlihat jengah dengan ulah kedua orang tua yang tidak sadar usia tersebut, membuat perhatian mereka teralihkan pada sosok laki-laki yang tampak gagah dengan balutan jas hitam dengan kemeja putih, celana bahan yang menambah kharisma seorang pria mirip dengan pengantin pria itu.


"Om, Tante apa kabar?"


"Kamu lihat sendiri semua kacau Dav!" jawab Agatha yang kini tengah memeluk pria yang memang dekat dengan nya itu, lalu melakukan hal yang sama pada Geffrey.


"Maafkan kelakuan adik ku Om, kalau saja pesawat ku tidak ' delay' pasti aku yang akan menikahi Diana!" kata nya sambil memeluk Geffrey.


"Tidak apa, mungkin semua sudah di atas oleh semesta!" jawab nya bijak sambil mengangguk


"Di mana keponakan ku Van?"


"Dia sedang tidur, kamu kapan akan memberikan aku keponakan Dav?"


"Jangan menanyakan pertanyaan yang kamu sendiri tahu jawabannya!" Stevani tersenyum samar mendengar ucapan David.


Perputaran jarum jam sudah menunjukkan pada waktu yang telah ditetapkan, semua orang sudah bersiap dengan pakaian selaras yang di pesan Agatha.


Stevani sejak tadi sudah berada di kamar adik nya itu, meski tidak ada yang bisa di lakukan untuk menenangkan hati Diana yang sejak tadi menunggu dengan ketidakpastian dari suami nya itu.


Dia menguatkan dirinya menuju pelaminannya seorang diri tanpa di jemput oleh suaminya.


Saat dia akan keluar dari sana di temani oleh kakak nya, tiba-tiba pintu terbuka dan....

__ADS_1


__ADS_2