Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Keputusan


__ADS_3

Albert yang tidak nya ingin mengamuk itu terdiam saat Maria membanting sendok nya, ketiga laki-laki beda usia itu langsung menyuapkan makanan kedalam mulut mereka masing-masing.


Bahkan Kelvin dia memasukkan brokoli ke dalam mulut karena merasa takut pada mama nya itu, dia ingin memuntahkan nya, tapi saat melihat wajah menakutkan dari mama nya itu membuat nya langsung menelan nya begitu saja.


Mereka makan dalam diam, tidak ada yang berani mengatakan apa pun, sampai mereka menyelesaikan makan nya, mereka tatap diam tanpa ada yang berani beranjak dari tempat duduk.


"Kenapa masih di sini, apa kalian belum kenyang"


"Aku masih menunggu papa, ada yang ingin aku bicarakan"


"Tentang apa?"


"Perusahaan"


"Ini sudah malam, dan kalian ingin membahas masalah kerjaan"


David meneguk ludahnya kasar saat mendengar apa yang di katakan oleh Mama nya itu, dia menoleh ke arah papa nya, dia yang ingin meminta tolong pada papa nya itu, mendengus saat melihat papa nya yang pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


Begitu juga dengan kelvin yang mengangkat kedua tangannya, dia tidak ingin ikut campur jika menghadapi mama nya yang sedang marah.


"Sana kerja di kantor saja, jangan pulang sekalian"


"Vin kunci pintu nya dari dalam, bawah dua orang ini keluar" lanjut nya masih banyak lagi kalimat yang keluar dari mulut nya.


"Sudah-sudah, ini sudah malam tapi masih saja adu mulut"


"Masalah perusahaan besok saja, kita bicarakan di kantor"


"Tapi Pa---"


David tidak lagi menjawab saat papa nya itu langsung menarik Mama nya pergi dari sana, menuju kamar mereka.


"Awas saja nanti jika memarahiku akibat proyek yang gagal besok"


"Itu urusan mu, aku tidak tahu apa-apa"


"Sialan kau adik tak tahu diri" umpat David pada adik nya, sambil memukul dadanya lalu berlari menuju kamar nya juga


"Awas saja kau, aku akan menghajar mu, hey tunggu aku"


Kelvin pun kemudian berlari mengejar kakak nya sudah berada di tengah anak tangga, sampai di lantai dua mereka terus saling mengejar satu sama lain, tingkah mereka berdua sudah sama seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.


Bahkan tanpa sadar Kelvin masuk ke dalam kamar Mama dan papa nya yang memang tidak di kunci itu, sedangkan Maria yang sedang berada di kamar mandi pun langsung keluar dari sana saat mendengar kegaduhan di dalam kamar tidur nya.


Sedangkan Albert yang tengah duduk di sofa itu hanya menatap tajam ke arah kedua putranya yang sudah dewasa tapi kelakuan nya masih seperti anak berusia lima tahun itu pun hanya diam menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar.


Maria yang melihat suaminya hanya diam saja pun menghampiri nya lalu duduk di samping nya.

__ADS_1


"Mereka tetap bayi kita"


"Iya meskipun kadang mereka membuat ku ingin memukul nya satu satu"


"Sudah lama aku tidak melihat mereka seperti ini" kata Maria.


"Ya aku juga merindukan saat-saat seperti ini, saat dimana melihat mereka melupakan sejenak kepenatan dunia"


"Jadi bisa tetap temani aku untuk terus menyaksikan kedua bayi kita ini sampai mereka memiliki keluarga nya masing-masing"


Maria menatap wajah suaminya yang kini tengah menatap kearah nya, dia tidak menjawabnya, pandangan matanya langsung menatap ke arah lain yang entah apa yang di pikiran oleh Maria.


"Kenapa?"


"Apa kamu mulai meragukan rasa ku"


"Aku tidak lagi sanggup berbagi"


"Aku tidak meminta mu untuk tetap di sini, tapi itu adalah sesuatu yang mutlak yang harus kamu lakukan"


"Apa pun yang terjadi di depan nanti aku hanya ingin kamu orang terakhir yang aku lihat saat menutup mata"


"Aku juga ingin kamu selalu ada di samping peti-------"


Maria yang tidak ingin lagi mendengar ucapan yang menyakitkan bagi nya itu pun langsung membungkam suaminya itu menggunakan bibir nya, lama mereka saling memagut satu sama lain.


Dan satu tangan nya lagi dia gunakan untuk menutupi mata kakak nya yang juga pasrah dengan apa yang di lakukan adik nya itu.


"Tangan mu bau" protes David yang tetap tidak bergerak dari tempatnya.


"Diam lah, kita masih anak kecil, tidak baik melihat orang dewasa berciuman" jawab Kelvin pada kakak nya yang hanya mendengus kesal pada nya.


Albert dan Maria yang mendengar itu pun saling menatap satu sama lain tanpa melepaskan pagutan mereka, sesaat kemudian mereka pun melotot saat teringat pada kedua putranya yang ada di dalam kamar mereka.


Kompak mereka pun melepaskan pagutan nya, yang langsung mengarahkan pandangannya pada kedua putranya yang duduk di lantai dua bawah mereka yang tengah berciuman.


Maria meringis malu saat kelakuan mereka di saksikan oleh anak-anak nya, tapi dia juga tidak bisa menahan tawa nya saat melihat tingkah keduanya yang bagai anak kecil yang sedang mengintip sesuatu.


Sedangkan Albert dia menatap datar pada kedua putranya yang masih enggan beranjak dari tempat nya.


David menepis tangan adik nya saat adegan live di depan nya itu sudah berakhir, dia juga melakukan hal yang sama dengan tangan nya lain.


"Gara-gara kau yang berisik, rekaman ku terganggu, pada hal aku ingin mempraktekkan nya nanti kalau aku sudah besar" protes Kelvin pada kakak nya.


"Bukan nya, kau sudah pernah merasakan nya" tembak David yang langsung mengenai sasaran nya.


"Kau ini, terlalu jujur hahahahah"

__ADS_1


"Sudah, jika sudah sama keluar dari kamar ku"


"Tidak, aku ingin di sini saja dengan Mama, iya kan Vin"


"Iya, aku ingin tidur di temani mama" sahut Kelvin yang kini menarik tangan mama nya menuju ranjang yang sudah berantakan akibat ulah mereka berdua.


"Jangan macam-macam, kalian berdua itu sudah bisa bikin anak, tapi kenapa masih tidur menyusu pada mama mu"


"Papa mau apa melarang kamu, papa saja yang harusnya sudah punya cucu juga tidur harus di temani mama" ejek Kelvin pada papa nya yang hanya bisa menggeram kesal dengan kelakuan anak nya itu.


Tapi walau bagaimanapun mereka adalah anak-anak nya bukan, buah dari olah raga malam nya bersama istri tercinta nya.


"Ayo ma, tidur jangan hiraukan papa"


"Beberapa hari ini kan papa selalu tidur dengan istri muda nya, maka sekarang biarkan dia meringkuk kedinginan di sofa itu"


"Jangan terus menggoda papa mu, nanti dia tidak akan memberikan kalian uang jajan lagi"


"Kita bisa cari sendiri, iya kan kak"


"Benar sekali"


"Aku hitung sampai tiga kalau kalian masih di sini aku akan mengurung kalian berdua di gudang, mau"


"Kamu tidak takut lagi dengan ancaman papa lagi"


Kini mereka saling bercanda satu sama lain, seperti keluarga pada umum nya, seakan mereka melupakan ketegangan yang ada di antara mereka.


Tapi rupanya ketenangan mereka harus berakhir saat ada seseorang yang masuk ke dalam sana, yang membuat suasana yang tadi nya hangat itu langsung menjadi dingin hanya dalam hitungan detik saja.


"Kalian di sini, aku mencari kalian sejak tadi" ucap Diana yang membawa satu piring dessert yang dia bawah dari rumah mama nya.


"Apa kalian mau mencoba nya"


"Hubby, kamu harus mencoba nya ini enak sekali"


Albert pun menatap kearah ketiga orang yang ada di ranjang itu, dia seperti serba salah dengan apa yang ingin dia lakukan, antara menerima dan menolak, keduanya sama-sama akan menyakiti hati salah satu diantara mereka.


David yang melihat itu langsung berdiri dari rebahan nya yang juga menarik Kelvin keluar dari sana tanpa mengatakan apapun.


Diana yang melihat itu langsung terdiam, dia merasa kehadiran menganggu mereka semua.


"Maaf"


Diana langsung keluar dari sana sambil meneteskan air mata nya, sedangkan Maria dia hanya diam saja saat melihat suaminya itu berlari mengejar madu nya itu, dan meninggalkan diri nya begitu saja.


"Ternyata benar, aku tidak terlihat"

__ADS_1


__ADS_2