
Geffrey menyunggingkan bibir nya saat tahu siapa yang ada di hadapannya saat ini, perkiraan nya tidak salah jika mereka akan bertatap muka saat pertemuan ini.
Sedangkan Albert dia hanya menatap tanpa ekspresi pada pria di hadapan nya itu, pria yang menginginkan istri pertama nya itu, berani sekali memang ada orang yang dengan kepercayaan diri berdiri di hadapan nya, setelah membuat kekacauan.
Dia tahu tujuan mereka, tapi dia dan Geffrey memilih tidak terlalu menunjukkan apa yang sekiranya tidak perlu di tunjukkan.
"Silakan"
Keduanya sama sekali tidak menghiraukan tingkah laku mereka, tapi dia menempatkan bawahan untuk mengemas dari belakang, bukan hal sulit untuk nya memasuk kan orang-orang nya dalam pertemuan tertutup ini.
Dia duduk di samping Albert di meja yang telah di siapkan, acara pembukaan sudah di mulai, andai saja semua ini tidak berpengaruh pada bisnis nya, Geffrey akan lebih memilih untuk berdiam diri di rumah apa lagi tadi dia mendapatkan tawaran yang menggiurkan dari istri nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di salah satu pusat perbelanjaan Agatha yang baru saja selesai dengan acara nya memutuskan untuk berbelanja menghabiskan uang suami nya itu, tapi saat ini dia masih ada di salah satu restoran yang ada di sana.
Dia menunggu putri nya yang kini sedang menuju ke sini, Agatha yang tidak ingin menunggu terlalu lama pun dia memesan makanan terlebih dahulu, dia juga memesan kan makan lan kesukaan Diana, ya siang ini dia berencana makan siang bersama dengan putri keduanya itu.
Tepat sekali.
Makanan yang di pesan datang bersama dengan putri nya yang baru masuk ke dalam restoran itu, Diana duduk saat tiba di sana, dia juga langsung meminum jus alpukat yang di pesankan Mama nya.
"Sudah lama Mama di sini?" tanya Diana saat rasa kering di tenggorokan nya sudah hilang.
"Belum sampai dua puluh menit, kamu datang di waktu yang tepat" Diana mengangguk memang benar apa yang di katakan mama nya itu dia duduk saat makanan sudah tersaji jadi dia tidak perlu lagi menunggu makanan datang.
"Ayo makan Ma"
"Makan lah, Mama masih menunggu kakak madu mu!"
"Kak Maria tidak akan datang, dia ada acara makan-makan juga di sana" kata Diana yang tadi sempat berbalas pesan dengan madu nya itu.
"kenapa dia tidak membalas pesan ku"
"Sibuk, mungkin" jawab Diana sekenanya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Awas saja dia punya waktu untuk berbalas pesan dengan mu tapi dia tidak ada waktu untuk membalas pesan ku"
"Itu karena tadi aku ke sana!"
"Dasar anak kurang ajar bisa-bisanya membohongi orang tua"
__ADS_1
"Apa Mama lupa kalau aku sekarang ini juga sama seperti Mama, sama-sama punya anak umur dua puluhan tahun hihihi"
"Aku tidak tahu dulu ngidam apa saat mengandung mu hingga kamu suka sama aki-aki"
"Suamiku masih sangat tampan dan kuat Ma, jadi jangan panggil dia aki-aki" ucap Diana berapi-api.
"Terserah kau saja Diana, aku benar-benar percaya bahwa cinta itu memang buta"
"Cinta memang buta Ma, tapi jangan salah kalau cinta bisa tahu mana kuda jingkrak dan mana kuda tunggal"
"Makan, sebelum aku memasukkan mu ke dalam perut ku lagi"
Diana langsung diam saat mendengar ucapan Mama nya itu dia tidak mau masuk lagi ke dalam perut Mama nya, yang ada nanti dia tidak bisa mendaki gunung bersama suaminya tuanya.
Mereka pun makan tanpa ada yang saling berbicara lagi, sampai makanan itu habis tak tersisa sedikit.
Agatha pun membayarnya lalu menarik putri nya itu keluar dari restoran tersebut, dia membawa Diana masuk ke dalam salah satu toko tas milik brand terkenal.
Kemarin dia melihat tas itu ada di laman media sosial nya dan dia menginginkan nya, tak tanggung-tanggung harga yang di tawarkan cukup merogoh kocek suaminya tapi apa dia peduli bahkan dia membeli empat sekaligus dengan warna yang berbeda tentunya.
Bukan Diana nama nya kalau tidak memprotes kelakuan Mama nya yang jika sudah belanja akan melupakan semuanya tanpa berpikir bagaimana cara nya mencari uang.
"Tidak banyak, uang yang di hasilkan papa mu setiap hari nya tidak akan habis, uang papa akan terus mengalir kalau dia memanjakan istri dan anak nya"
"Aku tahu tapi buat apa sebanyak ini?"
"Kamu ini cerewet sekali, pasti nya untuk mu kakak mu dan juga madu mu juga mereka harus punya limited edition ini"
"Kalau begitu aku juga mau!"
"Gaya-gaya menasehati ku padahal dia juga menginginkan nya, mau heran tapi dia anak ku!"
Agatha berjalan di belakang Diana yang terlihat begitu antusias membawa barang belanjaan nya ke kasir, dia juga meminta mama nya itu untuk membayar nya.
Agatha yang tidak mau repot pun menggunakan jasa pesan antar, kini Diana menarik nya ke salah satu tempat penjualan baju dinas malam yang akan dia kenakan nanti malam tentunya untuk menggoda suami tua nya itu.
Agatha menggeleng kepalanya saat tahu tujuan Putri nya itu, dengan semangat tanpa menghiraukan harga nya Diana mengambil beberapa helai yang menurut nya pantas untuk kulit putih nya.
Tut
Tut
__ADS_1
"Hallo ada apa Di?" tanya Maria di ujung sana.
"Kak lihat ini sangat cocok dengan mu bukan?" kata Diana sambil mengarahkan kamera ponsel nya pada baju menerawang itu.
"iya bagus sekali belikan aku beberapa ya, aku sudah lama tidak berburu baju yang bisa membuat suami kita tidak bisa tidur hanya karena melihat nya saja"
"Kalian berdua sama saja, sama-sama gila nya pada Albert!"
"Hey kau Agatha bilang saja kalau kamu itu iri pada kami yang bisa secara adil berbagi cairan!"
Agatha mendelik saat mendengar jawaban yang tidak pernah dia sangka akan keluar dari mulut sahabat nya itu.
"Kakaaak pelan kan suara mu!"
"Untuk apa berbisik-bisik jika pada kenyataannya kita memang berbagi segala nya"
"Kalau saja kau ada di sini sudah pasti aku akan menyumpal mulutmu yang tidak ada rem nya itu"
"Lakukan sekarang aku ada di belakang mu" ucap Maria yang sudah berdiri tepat di belakang nya.
"Astaga kau ini seperti hantu saja datang tiba-tiba mengagetkan saja!"
"Kak benar mau yang ini?" tanya Diana melerai pertikaian ibu dan Kakak madunya.
"Iya itu terlihat sangat menawan!" jawab Maria sambil meraba lingerie itu.
"Aku akan menghubungi suami kalian berdua karena membeli baju haram ini"
Tut
Tut.
Sampai tiga kali panggilan mereka tidak ada yang menjawab panggilan dari nya, semua berakhir dengan suara operator.
Bahkan nomor pribadi suaminya juga tidak terhubung, dia tidak bisa lagi bersabar nomer ponsel dua asisten pribadi itu juga tak luput sasaran nya tapi hasil nya tetap sama.
Dia yang panik mengarahkan pandangannya ke segala arah, begitu juga dengan Diana dan juga Maria, mereka juga menghubungi empat nomor ponsel yang mendadak tidak bisa di hubungi.
Sampai Agatha melihat di depan nya dua orang bergandengan tangan dengan begitu mesranya, bukan, itu bukan dua orang melainkan empat orang yang seperti sedang berbelanja.
"Dia"
__ADS_1