
Maria berjalan menjauh dari suaminya yang masih duduk di sofa kamar mereka, menuju pintu kamar, tapi langkah kaki nya terhenti saat mendengar ucapan suami nya.
"Apa kamu benar-benar menginginkan perpisahan ini?"
Tanya Albert pada Maria yang masih enggan menatap ke arahnya, dia berjalan mendekati istri nya yang kini terdiam di depan pintu yang siap untuk di buka.
Albert mengunci pintu penghubung antara kamar yang di tempati saat ini dengan kamar istri kedua nya, dia lalu menghampiri istrinya, mengunci pintu dan membawa istri pertama nya itu dalam gendongan nya.
Maria yang tadi nya memberontak pun akhirnya terdiam saat dia merasa usahanya akan sia-sia saja melawan suami nya itu.
Albert mendudukkan dirinya di sofa yang tadi dia tempati dengan Maria yang ada di pangkuan nya.
Dia menatap lekat istrinya itu yang memalingkan wajahnya.
"Bisa cerita apa yang tidak aku ketahui, apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu ingin pergi dari sisi ku"
Maria tetap diam dia tidak ingin menambah sakit hati nya, jika dia mengingatkan kemesraan suaminya itu dengan madu nya.
"Tatap aku, jika aku sedang berbicara" ucap Albert yang menangkup wajah Maria dengan kedua tangan nya.
"Jangan menangis lagi, hanya karena aku, air mata mu sudah terlalu banyak untuk ku"
"Tidak kah kamu tahu, kalau aku merindukan mu, aku memang di sana tapi hati ku tetap di sini bersama mu, karena kamu adalah rumah ku"
"Katakan aku harus apa? agar istri ku ini kembali seperti semula"
"Aku hanya takut tidak siap saat kamu benar-benar meninggalkan aku nanti nya"
"Karena aku sudah tua, dan tidak lagi bisa mengimbangi mu yang masih tampan dan gagah, aku merasa aku tidak lagi pantas dengan mu"
"Sudah, cuman itu saja, atau masih ada yang lain, kalau masih ada cepat katakan, aku akan mendengar nya" ucap Albert menatap tajam pada istri nya.
Maria hanya diam di pangkuan suaminya, dia tidak bergerak sama sekali dan hanya sesekali dia mengusap air mata nya yang jatuh, Albert yang melihat tangisan istrinya itu menahan segala rasa yang berkecamuk di dada nya.
__ADS_1
Dia merasa dunia nya gelap saat Maria menangis karena dia dan juga diam nya wanita itu, Albert menenggelamkan wajahnya di antara bukit barisan milik istrinya, dia mencari ketenangan nya di sana.
Sampai dia mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar mereka, dia tahu kalau itu adalah Diana wanita yang juga memiliki cinta sedalam itu pada nya.
"Keluar lah, istri muda anda mencari" kata Maria yang kembali pada mode dingin nya
Albert menjauhkan wajah nya dari tempat nya tadi, dia menatap wajah Maria yang dengan jelas terlihat bahwa dia tengah menahan rasa cemburunya.
Bahkan dia juga berusaha bangkit dari pangkuan nya.
"Mau kemana?"
"Istri anda mencari anda, keluar lah sebelum kedua putraku itu juga menggedor pintu kamar ini"
"Tetap di tempat mu, jangan berani membantah ku" ucap Albert yang tidak ingin di bantah sedikit pun.
Albert meraih ponsel milik nya, lalu menghubungi istri kedua nya itu.
"Makan lah terlebih dahulu, aku akan makan nanti, ada sesuatu yang harus aku urus"
"Iya, terserah kamu saja"
"Heeemmm"
Albert menghela nafas nya saat mendengar rengekan dari seberang ponsel nya yang pasti istri nya itu juga bisa mendengarkan apa yang di katakan oleh madu nya itu, dengan rasa tidak nyaman dia menurut apa yang di inginkan oleh istri kedua nya.
"I love you honey"
Dia mengatakan itu sambil melirik ke arah Maria yang ada di pangkuan nya, istri pertama nya memalingkan wajahnya tapi dia tidak melihat ada air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Aku akan melepaskan Diana jika itu bisa membuat mu kembali seperti dulu, tapi tidak untuk saat ini"
"Saya tidak meminta anda untuk menceraikan dia, tapi saya sendiri yang akan mundur dari tempat saya"
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu dari sisi ku, aku lebih memilih melepaskan apa pun yang aku miliki jika itu satu-satunya cara untuk bersama mu"
"Tidak perlu seperti itu Tuan, dia akan sangat berharga bagi anda, sedangkan saya hanya wanita tua yang------"
"Bisa untuk tidak membandingkan kamu dan dia, kamu adalah kamu ada dia adalah dia, kalian tidak sama, dan kalian berbeda."
"Apa pun itu yang pasti aku tetap suami mu, aku tetap milik mu dan semua yang aku miliki itu milik mu, hati dan raga ku juga tetap milik mu"
"Jangan ragukan aku tentang cinta yang kamu ajar untuk ku"
"Tapi aku sakit saat melihat mu bersama dia, bukan hanya saat ini tapi sejak pernikahan kalian waktu itu"
Albert diam dia tidak menjawab semua yang di katakan oleh istrinya itu, semua sakit hati yang tidak pernah dia ucapkan, semua yang dia pendam selama ini dia katakan pada suami nya.
Dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja meski hatinya tidak terima dengan apa yang terjadi, tapi dia tetap merahasiakan tentang siapa yang menjadi pendonor ginjal untuk nya yang merupakan alasan terbesar nya menyetujui hubungan yang lebih jauh di antara suami dan madu nya.
Ketakutan nya bertambah saat Diana di nyatakan hamil, dia takut jika anda yang di lahir kan oleh madu nya itu berjenis kelamin perempuan dan membuat nya semakin tidak terlihat di mata suaminya.
Dan kedua putranya itu akan menjadi semakin jauh dari papa nya yang sudah dia rasakan sejak pernikahan mereka, David yang memiliki tinggal di apartemen meski dia berada di kota yang sama dengan nya.
"Aku tidak akan melakukan nya lagi jika kamu tidak mengizinkan nya lagi, apa setelah pernikahan itu, sikap ku berubah tidak bukan, aku selalu mencari perhatian mu meski aku tahu Diana ada di sana bukan"
"Aku melakukan itu semua agar kamu tidak meras terabaikan bukan karena aku menjadi mu pelayan ku"
"Apa kamu tidak menyadari jika selama ini aku tidak pernah menganggap nya ada?"
"Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai suami yang memberikan nya dua nafkah, tapi itu juga setelah mu kan"
"Aku akui bahwa aku pernah jatuh cinta pada nya, tapi semakin ke sini, cinta itu memudar dan kembali pada hati mu"
"Jadi aku hanya di jadikan tempat mu pulang setelah petualangan mu"
"Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu, aku malah berharap Kelvin punya adik lagi dan itu dari rahim mu"
__ADS_1