Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Patah hati seorang Ayah


__ADS_3

Maria langsung berlari saat mendengar suara pecahan kaca dari kamar mandi, bahkan dia lupa rasa sakit yang menjalar di kedalaman miliknya.


Dengan tubuh bak bayi baru lahir dia membuka pintu dengan kasar tanpa menghiraukan tampilan saat ini.


Di sana Albert berdiri membelakangi nya dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran wastafel, cairan merah yang memenuhi lantai kamar mandi itu.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Maria, dia menghampiri Albert di sana.


"Tetap di tempat mu!" kata Albert saat melihat Maria menghampiri nya.


"Tangan mu terluka sayang!"


"TETAP DI TEMPAT MU KATAKU"


Albert membalikkan badan nya menghadap pada wanita yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa kamu khawatir seperti itu, ini hanya sedikit dari rasa sakit yang coba aku keluar kan" kata Albert sambil mengangkat ke dua tangannya yang berlumuran darah.


"Kamu tahu ada yang lebih sakit dari tangan yang mengeluarkan darah ini!"


Maria menatap wajah laki-laki yang terlihat sangat putus asa di sana, dia ingin memeluk tubuh itu, dia ingin menguatkan raga yang tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa kecewa pada nya.


"Jangan mendekati aku, aku kotor, aku tidak lagi pantas mendapatkan cinta mu!"


Maria tidak lagi mendengarkan apa yang di ucapkan suaminya dia langsung masuk kedalam dekapan hangat suaminya itu.


"Apa yang kamu katakan, aku tidak pernah menganggap mu seperti itu, kamu suami terbaik ku, pria kebanggaan ku yang selalu ada di samping ku"


"Tapi nyatanya pria yang menjadi kebanggaan ini lah yang selalu menurunkan air mata mu!" jawab nya tanpa membalas pelukan dari Maria.


Maria tidak menyukai Albert yang seperti ini dia lebih suka suami nya yang menjahili dan tentu nya sangat manja pada nya itu kini seakan menjadi sosok lain.


"Masuk lah ke dalam bath up dan mandi nanti kamu sakit jika berpose seperti bayi!" perintah nya pada Maria


"Aaaahhh... ini sakit, jika kamu mau lagi, sendiri saja bergerak di atas tangan ku sakit, jadi aku tidak bisa menyenangkan mu lagi!" ucap Albert saat Maria menggigit dada bidangnya.


Plak


" hey ini sakit!"


"Rasakan itu, siapa suruh jadi orang menyebalkan seperti itu!"


"Sini aku obati dulu tangan mu nanti bisa infeksi!"

__ADS_1


"Biarkan saja, aku mati sekalipun tidak akan ada yang merasa kehilangan!"


"Diam lah"


"Cepat gunakan sandal mu, aku kan menyuruh orang untuk membersihkan pecahan kaca itu!"


"Biarkan saja seperti itu-----"


"Apa karena hari ini kamu terlalu banyak menelan cairan putih ku, hingga membuatmu banyak bicara?"


"Diam dan turuti perintah ku atau kamu tidak akan lagi aku izin kan untuk mendaki!"


Albert yang mendapatkan ancaman seperti itu pun langsung mengangkat kedua tangan, dia tidak ingin kesenangan itu hangus begitu saja.


Dia hanya diam saat Maria membasuh kedua tangan nya yang terluka, tidak ada ekspresi apa pun dari wajah nya saat Maria menekan-nekan luka nya, tentunya sambil mengomel panjang kali lebar kali tinggi yang menjadi ciri khas nya.


"Cepat mandi, aku tunggu di depan!"


"Tidak mau"


"Baiklah, baiklah ayo aku mandikan bayi tua ku!"


"kamu menyebutkan ku bayi tua, mau lihat apa yang bisa di lakukan bayi tua ini pada wanita cantik di hadapan!"


"Berhenti berpikir kotor cepat mandikan aku aku sudah kedinginan karena mu!" Maria mencebikkan bibir mendengar ucapan Albert tapi dia sama sekali tidak mau membalas nya sebab dia begitu malas menanggapi suami nya.


Mereka mandi bersama tanpa ada adegan iya-iya di sana, setelah memakai kimono nya Maria pun mengobati luka dia tangan Albert, dia juga sudah menghubungi staf nya yang biasa membersihkan kamar pribadi mereka.


Masih ada dua jam tersisa sebelum resepsi di adakan, mereka sama memilih tidur dengan memeluk satu sama lain, dan memberikan kehangatan pada pasangan nya.


...****************...


Kita tinggal kan pasangan yang sedang kelelahan akibat perbuatan mereka sendiri.


Kini Diana telah berada di kamarnya, tebakannya benar suami itu tidak datang ke sana, dia memilih bersama dengan istri pertama nya.


"Kenapa sesakit ini mencintai mu!" ucap nya pada dirinya sendiri sambil memukul dadanya.


Tok


Tok


tok

__ADS_1


Diana yang masih berdiri di belakang pintu pun langsung membuka nya, dia berharap suaminya itu lah yang datang pada nya seperti biasa.


Saat pintu terbuka,


Senyum lebar nya tiba-tiba menyurut saat tahu bahwa yang datang bukan lah orang yang dia tunggu, melainkan orang tuanya.


Untung saja kedua orang tuanya itu tidak menyadari ekspresi kecewa di wajah nya.


Mereka bertiga masuk lalu menutup pintu nya, sebentar lagi tim makeup akan datang setengah jam lagi, untuk merias wajah cantik nya.


Geffrey celingukan di sana, dia seperti mencari seseorang tapi suaranya tertahan di kerongkongan nya dia tidak ingin menanyakan hal itu, meski sebenarnya dia sedikit kecewa.


Tapi apa boleh buat, semua itu hanya sandiwara mereka bukan pernikahan ini hanya untuk menutupi aib yang terjadi karena ulah satu orang itu.


"Kamu sudah makan sayang?" Tanya Agatha pada putrinya itu.


"Aku tidak lapar ma!"


"Tapi kamu harus makan sayang, nanti kamu kecapekan!"


"Makan sedikit saja, kamu mau makan apa? biar papa suruh johan untuk membelikan nya!"


Diana menggeleng dia tidak ingin makan apapun semua yang terjadi hari ini membuat rasa laparnya menguap begitu saja.


"Maafkan papa yang telah merusak masa depan mu sayang!" ucap Geffrey sambil memeluk putrinya itu.


"Tidak, papa atau siapapun tidak ada yang salah, mungkin ini sudah takdir ku menjadi madu sahabat mama!"


"Kita bicarakan ini nanti setelah acara selesai, sekarang bersiap, perias akan datang setelah ini"


Benar saja, apa yang di katakan Agatha pintu kamar di ketuk dari luar, dengan sigap Agatha membukakan pintu dan mempersilahkan mereka untuk merias pengantin.


Agatha menemani putri nya itu untuk di rias, sedangkan Geffrey, dia tengah menghubungi Johan ada sesuatu yang harus di urus nya, yang pasti berhubungan dengan kepergian Kelvin tidak bisa dia terima begitu saja.


Dia sudah menawarkan pembatalan dengan terbuka tapi dia menolak dan memiliki maju melangsungkan pernikahan ini, tapi dia malah berbuat ulah yang tidak pernah terlintas dalam benak nya.


Membuat putri nya harus menjadi istri kedua yang entah sampai kapan.


Memang tidak ada air mata yang keluar dari mata nya, tapi dalam hati nya menangis tidak ada yang tahu saat permata indah terluka, ayah mana yang terima saat anak gadis nya di permainkan, tidak ada bukan.


Dia sakit, dia patah hati saat melihat anak menanggung semua beban dari keegoisan mereka semua.


Dia yang salah.

__ADS_1


__ADS_2