
Pagi telah menjelang, cahaya hitam berubah menjadi warna jingga di ufuk timur, membangunkan semua orang yang tengah larut dalam pesona sang malam.
Diana terbangun dari tidur ayam nya, kenapa begitu?, bukankah sejak tadi malam dia tertidur saat setelah selesai mandi. Ya dia memang merebahkan tubuhnya itu sehabis mandi tapi entah kenapa dia tidak bisa tidur dengan nyenyak nya.
Bahkan dia tahu persis perputaran jam yang ada di dinding kamar tidur nya, setiap jam dia terbangun, entah apa yang tengah di pikirkan wanita berusia dua puluh satu tahun itu.
Pikirannya entah berkelana kemana yang pasti dia tengah memikirkan tentang perjodohan nya, ah perjodohan itu tidak akan berarti apa-apa jika dia tidak memendam rasa pada pria yang masih terlihat gagah dan menawan di usia yang menginjak empat puluh satu tahun itu.
Dia jatuh cinta pada seorang yang seusia dengan ayah nya itu, Diana tahu dia salah tapi dia juga tidak menginginkan hal itu bukan, kita tidak bisa menentukan kemana cinta itu berlabuh.
Tapi kenapa harus dia, bisa-bisanya dia jatuh cinta pada suami dari orang yang sudah dia anggap sebagai orang tua kedua nya. Dan sialnya lagi dia akan di jodoh kan dengan salah satu putra.
Dalam hati Diana menjerit, entah cobaan apa lagi yang kini menghampiri dirinya, Diana masih duduk di atas ranjang dengan menyenderkan kepalanya pada headboard, mata nya menatap sekeliling kamar nya, tidak ada bedanya sama-sama semua barang-barangnya masih tersusun rapi di tempat nya.
Diana bangkit dari duduk dan berjalan ke arah jendela, membuka tirai juga jendela, membiarkan angin pagi masuk kedalam kamar nya menghantarkan rasa sejuk menerpa wajahnya, mata indah nya terpejam.
Diana merasa ada seseorang yang kini tengah memeluk tubuhnya dan mendaratkan kecupan nakal dan gigitan manja di daun telinga nya.
Tangan kekar itu memeluknya begitu erat dan mengusap perutnya membuat darah nya berdesir hebat saat merasakan getaran yang tak biasa dia rasakan.
Diana semakin larutan dalam pelukan laki-laki yang kini tengah memeluknya, Diana ingin membalas pelukan laki-laki yang selalu menganggu ketenangan batinnya.
Tapi saat dia akan berbalik badan, sebuah panggilan membuyarkan lamunan nya.
"Diana, apa yang kamu lakukan,?"
"Haa"
Diana mengedarkan pandangannya mencari sosok yang tadi tengah memeluknya, tapi sial nya dia tidak ada di sana.
__ADS_1
'Sial aku benar-benar bisa gila kalau seperti ini terus" ucapnya saat tersadar dari halusinasi nya.
Di kamarnya hanya ada dia dan saudara perempuan nya yang entah sejak kapan masuk kedalam kamar nya.
"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" kesal nya, sedangkan Stevani dia menaikkan sebelah alisnya, cukup heran dengan tingkah saudarinya yabg terlihat kesal dengan kehadiran.
"Ada apa dengan mu?, aku sudah mengetuk pintu tapi kamu tidak menjawab nya lalu sekarang kau malah menyalakan ku, yang benar saja!" balas nya kesal.
"Pergi lah dari kamar ku, aku tidak ingin melihat pagi ini, kau membuat mood q yang buruk malah semakin buruk" usir nya sambil melempar bantal yang ada di dekat nya.
"Weeekkkk, gak kena!" ucap Stevani menjulurkan lidahnya.
"Keluar kata ku"
Melihat Diana yang sepertinya tidak ingin di ganggu pun membuat Stevani mengurungkan niatnya untuk menemui adik nya itu.
"Mungkin dia sedang PMS"
Kelvin turun dari kamarnya sudah dengan pakaian kerja yang membungkus badannya, dia terlihat gagah dengan balutan kemeja birunya dengan celana bahan serta dasi yang menjuntai dari leher hingga pusarnya.
Di tangan Kanan nya dia menenteng tas kerja dan tangan kiri tersampir jas hitam senada dengan celana, sepatu hitam mengkilap menambah pesona pria berusia dua puluh satu tahun itu.
Jangan rambutnya yang tersisir rapi yang menunjang penampilan nya pagi ini, dia pun menghampiri kedua orang tuanya yang tengah menunggu dirinya untuk sarapan bersama.
Hanya bertiga saja, kakak laki-laki nya yang berusia setahun lebih tua dari nya itu kini tengah berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis nya.
Kakaknya itu mendirikan sendiri perusahaannya dia tidak mau ikut campur dalam urusan perusahaan milik papa nya itu, dia hanya meminta modal pada Papanya untuk merintis usaha yang ingin di geluti nya.
The David Cuisine adalah nama restoran milik anak pertama keluarga Hamilton, restoran yang sudah berdiri sejak tiga tahun lalu kini sudah memiliki banyak cabang di negaranya sendiri dan kini David berencana melebarkan sayap nya dengan membuka cabang di luar negeri.
__ADS_1
Kembali ke saat ini.
Maria menatap putra ke duanya itu dengan senyuman teduh nya, Kelvin mendekat ke arah mama nya lalu mencium pipi.
"Selamat pagi Mama, bagaimana tidurnya apakah nyenyak?" tanya nya sambil melirik ke arah Papa nya dan di balas dengan tatapan tajam.
"Selamat pagi juga sayang, tentu Mama tidur dengan sangat nyenyak sekali, apa lagi nanti mama akan segera punya menantu yang sangat cantik!" jawab Maria dengan senyum kebahagiaan di wajah nya, sedangkan Kelvin dia tersenyum kecut di sana.
Lagi-lagi dia harus di hadapkan dengan sesuatu yang sangat tidak ingin dia lakukan, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa seperti kakak nya yang selalu menentang keinginan orang tuanya.
"Papa tumben pagi-pagi sudah rapi, mau kemana?" tanya Kelvin menatap Papanya itu
"Kemana lagi kalau bukan menghabiskan uang hasil pekerjaan mu Ha-ha-ha!"
"Selalu saja seperti itu, kau jadikan aku sapi perah mu Pa" kata Kelvin sambil menggigit roti yang telah di olesi foto oleh Mama nya itu.
"Uhuk uhuk, dasar anak sialan kau baru bekerja satu tahun ini dan kau bilang aku menjadikan mu sapi perah Haa"
"Emang begitu kan?" jawab nya Dangan wajah tanpa dosa.
"Jika kau yang batu satu tahun sudah menjadi sapi perah bagaimana dengan ku yang sudah bekerja selama 22 tahun!" jawab nya dengan terengah-engah menahan emisi yang bergejolak di dada nya.
"Sudah jangan ribut saat makan" kata Maria menengahi perdebatan yang selalu terjadi saat berkumpul di meja makan.
"Katakan pada anak mu itu jika dia hanya meneruskan usaha yang sudah aku bangun dari nol dan dia baru satu tahun menjabat sebagai CEO di sana tapi dia sudah mengeluh lalu mau jadi apa perusahaan itu haah" bentak nya marah.
"Kenapa papa marah-marah aku kan hanya bercanda, kenapa papa menanggapi nya dengan serius,!". jawab nya santai.
"Ma, apa papa sedang PMS kenapa emosian sekali?" tanya nya pada sama nya yang duduk berhadapan dengan dirinya.
__ADS_1
"Jangan ganggu Papa mu, mungkin saja apa yang kamu katakan itu benar!"
"MARIAAAA"