Aku Madu Sahabat Mama

Aku Madu Sahabat Mama
Pengakuan mengejutkan


__ADS_3

"Apa aku anak pembawa sial ya ma?"


"Apa maksudmu?"


"Mama lihat sendiri bukan, karena aku lahir mama hampir kehilangan papa, ya meskipun papa tidak sampai jatuh pada Tante Angela!"


"Dan semua orang kehilangan Kelvin karena dia tidak mau di jodohkan dengan ku, Om Albert dan Tante Maria bahkan harus menderita karena aku, sekarang lihat Tante Maria penyakit jantung nya kumat saat tahu bahwa aku mencintai suami nya!"


Deg.


Agatha terdiam saat mendengar pengakuan langsung dari putri nya itu, bagaimana mungkin anaknya itu mencintai pria yang seumuran dengan dia.


Ehhheeemmm.


Diana membeku di sana saat mendengar suara deheman dari seseorang yang di cintai nya, dia berdoa pada Tuhan agar suami nya itu tidak mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pada mama nya.


Agatha mendongak menatap mata sahabat nya lalu juga menatap suaminya yang berdiri di belakang menantu nya itu, Geffrey mendesah kasar di sana.


Karena pada akhirnya semua orang tahu, bahwa putrinya itu benar-benar mencintai sahabat nya, kalau dulu dia bisa menyangka pemikiran nya itu, namun kini apa dia masih ingin menyangkal nya lagi.


Saat dia mendengar sendiri pengakuan yang keluar dari mulut putri nya itu.


"Bagaimana sudah beres semua?" tanya Agatha memecahkan keheningan.


"Sudah, tapi kita masih harus mencari pendonor yang cocok!"


"Maria sudah di pindahkan ke ruang inap, kita harus ke sana ke sekarang!"


"Ayo!" jawab Geffrey sedangkan Albert hanya diam tapi dia berjalan paling depan menuju kamar tempat istrinya di rawat.


"Aku sudah memberikan kabar pada David, dia akan pulang mati sore!"


Albert tidak menjawab dia duduk di kursi yang cukup jauh dari mereka semuanya, pandangan tertunduk menatap lantai, dia bingung apa yang harus di lakukan saat ini.


Istri pertama sedang sakit malah dia mendapatkan pengakuan mengejutkan dari putri angkat nya itu.


"Al! yang sabar kita ada di sini, jangan pernah merasa sendiri, apa pun yang terjadi kita hadapi sama-sama!"

__ADS_1


"Aku merasa menjadi pria bajingan di sini Grey, apa ini karma ku atas perbuatan ku di masa lalu, kalau iya kenapa harus istri ku yang menanggung nya grey!"


"Kenapa bukan aku saja!"


"Jika tidak sedang berduka seperti ini, ingin rasanya aku menghajar mu, jangan bicara omong kosong, sekarang masuk ruang rawat istri mu dan beri dia semangat bukan malah seperti ini sialan!"


"Aku tidak sanggup melihat nya seperti itu!" jawab nya masih dengan kepala yang tertunduk.


Tidak ada salahnya bukan jika laki-laki menangis jika dia merasa takut kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, kini itu lah yang sedang Albert rasakan.


Melihat istrinya yang kini tengah menjalani serangkaian perawatan untuk memastikan keadaan siap untuk melakukan operasi esok hari.


Apa yang tidak bisa di lakukan kalau sudah uang yang berbicara, semua urusan akan berjalan dua kali lipat lebih cepat dari perkiraan.


"Cepat masuk, jangan bisa nya cuman masuk ke lubangnya saja kau ini!"


Duuuaaar.


Albert menatap sengit pada sahabat nya itu yang bisa-bisanya mengungkit masalah ranjang saat dirinya tengah ketakutan seperti ini.


Dan Geffrey yang mendapat tatapan itu pun hanya duduk diam tanpa menghiraukan sahabat itu, sahabat sekaligus pria yang di cintai putri nya.


Sekilas pandangan mereka bertemu saat Albert akan masuk ke dalam ruang steril dan Maria ada di dalam sama.


Albert masuk dengan rasa bimbang yang luar biasa, di hampir wanita yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit dengan banyak selang yang terhubung pada alat yang ada di sana.


Cukup lama dia menatap sampai akhirnya dia menggenggam tangan yang tertancap selang infus di sana.


Di kecup nya kening wanita itu dengan segenap rasa cintanya yang dia miliki, dia tidak sanggup melihat wanita yang setiap hari selalu merengek minta ini itu pada nya, kini tengah tidak berdaya.


bibir Albert mendarat pada tangan yang ada selang infus itu, di kecupnya berkali-kali lalu membawa pada rahang tegas milik nya.


Sentuhan tangan itu tidak seperti biasa nya, yang bisa nya hangat penuh kelembutan dan cinta kini dia tidak merasakan nya lagi.


"Cepat lah bangun sayang, kamu harus sembuh sayang, aku rindu!"


"Cepat lah sadar, aku di sini dan aku tetap milik mu!"

__ADS_1


Cukup lama Albert di dalam menemani isteri nya itu, sampai perawat datang dan meminta nya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Di luar sana, Diana hanya bisa diam menahan sakit hati nya saat dengan mata kepala nya sendiri dia menyaksikan betapa besar cinta suami nya itu pada madu nya.


Cinta yang juga dia inginkan, tapi akan kah masih ada cela untuk nya menembus hati Albert yang sepenuhnya telah terisi oleh sosok wanita penyayang dan baik hati itu.


Albert yang sudah keluar dari ruangan itu langsung menghampiri Agatha di sana, dia duduk sambil menatap lurus ke arah istrinya yang tertidur di balik kaca rumah perawatan.


"Tha?"


"Kenapa Al? ada apa?"


"Boleh aku bersandar di pundak mu seperti dulu? saat kita masih belum menikah satu sama lain!"


"Kemari lah, aku tetap sahabat mu apa pun itu, lupakan status yang terjadi di antara kita saat ini!"


Albert menyandarkan kepalanya di bahu Agatha dia terpejam merasakan dada nya yang sakit saat melihat tubuh kekasih hati nya itu terluka.


Tanpa mereka sadari, bahwa ada orang yang merasakan hati nya bagai di Hujam ribuan pisau yang mengoyak setiap nasi saat melihat suaminya itu lebih memilih bersandar pada sang Mama yang tak lain adalah sahabat nya.


Meskipun status di antara mereka sudah berubah tapi tetap saja, tidak ada yang berbeda dari sikap mereka.


Sedangkan Geffrey dia terlihat acuh dengan apa yang di lakukan oleh istri dan sahabat, mereka sudah bersumpah untuk tidak mengkhianati persahabatan mereka, dan yang terjadi hanyalah tentang sebuah persahabatan yang begitu kuat, tidak goyah oleh badai yang siap menghancurkan semuanya.


"Pa, aku ke kantin dulu, ini susah sore dan kita semua belum makan sama sekali, aku lapar?" alibinya


"Pergilah pesan kan juga untuk kita!"


"Baik pa!"


Diana pergi dari sana menuju kantin rumah sakit, bukan dia ingin makan tapi hati nya terasa sama sakit saat Albert tida sedikit memandang nya.


Belum cukup kah pengorbanan nya selama ini untuk mendapatkan hati Albert, apa dia memang tak pantas untuk di cintai.


Diana menangis sepanjang jalan menuju kantin rumah sakit, wanita cantik itu tidak lagi menebar kan senyum kehangatan dari bibirnya.


senyum yang indah yang selalu menutupi rasa kecewanya pada semesta yang enggan berpihak pada nya.

__ADS_1


Kini dia sudah sampai di kantin, Diana membeli lima bungkus makanan, lalu kembali menuju tempat di mana madu nya itu di rawat.


"Diana, kau kah itu?"


__ADS_2