
Maria mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari putra nya itu, kenapa tidak bisa bukan kah semua orang bisa bercerai jika sudah tidak ada kecocokan tapi kenapa putra mengatakan tidak bisa apa yang terjadi dan dia tidak mengetahui nya.
"Kenapa tidak bisa, apa kamu akan terus hidup bersama nya, kalau begitu, mama tetap tidak akan memaafkan mu"
"Bukan itu ma, tapi aku tidak punya uang untuk menceraikan nya"
Plak
"Aduh"
Albert tidak beraksi apa pun mendengar apa yang di katakan putra nya itu, bahkan dia pura-pura tidak mendengar nya sama sekali.
Emang enak,
Rasakan itu,
Mungkin itu lah kata-kata yang ingin sekali Albert ucapkan tapi semua tertahan di tenggorokannya, dia tidak ingin kena amukan lagi yang bisa membuat sakit kepala.
"Makanya jangan sok-sokan mau hidup sederhana, sederhana nya wanita itu mewahnya laki-laki"
"Tanya pada pawang nya kalau tidak percaya, kamu itu masih anak kecil jika ingin menjadi penerus papa mu"
"Aku saja kadang masih tidak mengerti dengan apa yang mereka inginkan, katanya cukup hidup sederhana tapi, yang perlu kamu ingat anak ku....."
"Cukup nya mereka itu adalah cukup untuk membeli skincare cukup untuk membeli baju tas, sepatu dan banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan" ucap Albert sambil menepuk-nepuk pundak putra keduanya itu.
"Jadi bagaimana pa?"
"Aku tidak tahu, bahkan jika kamu bertanya pada nya sekali pun mereka pasti juga akan menjawab ' l don't know ' "
Ayah dan anak itu pun saling menatap satu sama lain mencari jawab tentang misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan.
"Kenapa kalian malah saling tatap- tatapan?"
"Kamu sudah makan atau belum Vin, Mama lihat kamu sedikit kurusan"
Albert menyungging senyum nya saat mendengar ucapan istrinya itu, dia tahu bagaimana kehidupan putra nya di luar sana, saat di lepas dari tanggung jawab nya bahkan Geffrey juga tidak ada sekali pun membantu nya.
Hanya sesekali sahabat nya itu menemui putranya itu, tanpa memberikan nya bantuan dalam bentuk apa pun.
"Bagaimana enak hidup di luar tanpa uang dari papa atau pun Om Grey?"
Kelvin yang di sindir habis-habisan oleh papa nya itu, mendengus kesal pada papa nya yang benar-benar tidak mau membantu, bahkan pernah bertatap muka sekali pun di perusahaan tempat nya bekerja pun, papa nya itu juga pura-pura tidak mengenal nya.
"Maka nya jangan suka berbuat ulah, Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu saja"
__ADS_1
"Sekarang masih mau kabur lagi atau kembali ke rumah?" tanya Maria pada putranya.
Kelvin tidak bergeming, dia diam saja, ingin pulang tapi malu, tidak pulang dia tidak tahu akan seperti apa kehidupan nya nanti.
Albert yang melihat putra nya itu kebingungan pun merogoh saku celana nya yang terselip dompet milik nya yang dulu sempat di tahan oleh kedua istrinya itu.
Dia menarik dua buah kartu silver dan gold di sana, lalu memberikan nya pada putranya itu. Sementara kelvin yang melihat itu pun langsung berdiri dari duduk nya, dia langsung memeluk papa nya yang harus menanggung semua beban karena ulah nya.
"Maafkan Kelvin Pa, Ma" kata kelvin yang kini berpindah memeluk Mama nya.
"Jangan lama-lama memeluk Mama mu, dia istri Papa"
"Papa kan punya istri dua, jadi biarkan aku memeluk Mama lebih lama"
"Ok terserah, dua kartu hangus" ucap Albert yang bersiap memasukkan kembali kedua kartu itu.
"Eeehh mana bisa seperti itu" ucap Kelvin yang merebut kembali kartu ada di tangan papa nya.
"Awas saja kalau sampai membuat ulah, akan ku asing kau di sungai Amazon, biar di makan binatang buas di sana"
"Nanti pulang lah ke rumah jika kakak mu sudah sembuh, kita bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi"
"Apa Diana juga tinggal di rumah"
"Ku pikir dia akan tetap tinggal di rumah Om Grey"
"Tidak dia di rumah kita"
"Kali begitu aku akan tinggal di rumah Om Grey saja"
"Kamu tidak punya rumah memang nya, sampai mau menumpang hidup di rumah orang lain?" tanya Maria pada putranya itu.
"Kak Stevani juga tidak tinggal di sana pasti Om dan Tante kesepian karena kedua putrinya ikut suaminya"
"Tidak----"
"Kenapa dia tidak boleh tinggal di rumah ku?"
Mereka bertiga menoleh pada suara seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Om"
"Kau datang tiba-tiba pulang tanpa pamit seperti jelangkung saja" cibir Albert pada Geffrey yang kini berdiri di belakangnya.
"Kau saja yang tuli, aku mengetuk pintu lama sekali tapi tidak ada yang menjawab nya" decak Geffrey.
__ADS_1
"Papa ini sama mertua tidak ada sopan-sopan nya" kata Kelvin yang tidak menyangka meski status mereka berubah tapi tidak merubah apa pun.
"Aku tidak pernah mau menganggap nya mertua, jika aku menganggap nya seperti itu pasti dia akan sangat menyebalkan"
"Tutup mulutmu Al, ibu mertua mu mencari mu dia kelaparan menunggu makan malam nya"
"Kenapa bukan kau saja yang beli" sungut Albert yang kini berjala keluar dari ruang tersebut dengan membawa Maria di sana.
"Kenapa kau bawa juga istri mu biarkan saja dia di sini menunggu putra nya"
"Aku tidak percaya pada kalian bertiga"
"Kau pikir----"
Brak..
"Dasar menantu lucknut"
"Om"
"Kenapa?"
"Aku mau minta maaf karena sudah mengecewakan mu"
"Semua sudah berlalu, Diana dan Mama mu sama mencintai laki-laki bajingan itu, jadi aku bisa apa selain menerima segalanya, mungkin ini sudah menjadi jalan untuk kehidupan kita"
"Iya Om, sebenarnya aku malu bertemu dengan Om dan juga Tante, tapi apa yang bisa aku lakukan saat ini untuk menebus semua kesalahanku yang telah membuat Om sekeluarga malu"
"Aku tidak yakin kamu bisa melakukan nya" ucap Geffrey tersenyum penuh maksud pada putra sahabat nya itu.
"Apa pun akan aku lakukan asal kan Om mau memaafkan aku"
"Syarat nya gampang jika kamu mau aku memaafkan mu"
"Katakan saja Om"
"Kamu yakin?" tanya Geffrey sekali lagi, sedangkan kelvin dia sudah keringat dingin di buat nya, tapi Geffrey seakan masih saja terus memancing nya.
"Pimpin perusahaan milik Om, maka aku akan memaafkan mu" ucap Geffrey tanpa ada keraguan sama sekali.
Kelvin yang mendengar itu kepala nya langsung berdenyut nyeri hanya dengan membayangkan nya saja.
Waktu dia memimpin perusahaan papa nya dulu yang mana itu masih berada di bawah perusahaan milik Geffrey pun kepalanya sudah hampir pecah, lalu bagaimana kalau dia berada di kursi yang kini di duduki Geffrey bisa-bisanya dia pingsan setiap hari nya.
"Bagaimana, siap?"
__ADS_1