Artificial God

Artificial God
Akhir Dari Segala Kekacauan


__ADS_3

"Ayah... apa yang harus kita lakukan ketika melihat seseorang menangis?"


"Hibur lah dia..."


"Dengan cara apa ayah?"


"Tertawa kan dia sepuas mu hingga orang itu berhenti menangis"


"Lalu... apa yang harus kita lakukan saat melihat orang sedang marah?"


"Tetap tertawa"


"Lalu, bagaimana jika seseorang sedang menangis, dan juga sedang marah"


"Menangis lah"


Anak itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ayahnya saat itu. Namun dia mengikuti apa yang ayahnya katakan, walaupun itu terasa agak aneh baginya. Setelah dia melakukan apa yang dikatakan ayahnya, semua teman-temannya menjauhinya, karena dia takut padanya.


Entah kenapa hati anak itu merasa senang begitu dia merasa yakin paling di takuti. Kemudian setelahnya dia menjadi semakin parah, anak itu mulai memperlakukan teman-teman sekolahnya dengan buruk. Meski begitu, dia adalah anak yang rajin sekali belajar, karena dia berpikir dengan rajin belajar dia akan membuat semua orang takut padanya.


Dia hanya seorang anak kecil yang menginginkan sebuah kekuasaan yang tinggi, dan tak ada siapapun setelahnya. Namun begitu dia memasuki universitas terbaik, itulah pertama kali ada seseorang yang tak bisa dia kalahkan. Orang yang benar-benar sangat menggangu baginya, dan membuat kesenangannya hancur karena nya.


"Hei! aku sudah mengawasi mu sejak lama, tapi tingkah mu selalu membuatku kesal begitu melihatmu" ucap anak itu yang kini sudah dewasa, dan menjadi mahasiswa di universitas terbaik itu. Anak itu berkumpul bersama dengan anak-anak nakal, yang takut padanya, dan saat ini dia sedang mencoba menindas anak yang sedang diam saja sambil membaca sebuah buku.


"Kalau begitu kau hanya perlu tidak melihat ku" ucap anak itu yang kemudian pergi, namun begitu anak itu pergi tiba-tiba saja anak yang mengajak ribut itu menarik kerahnya, "Hei... apa kau sedang meremehkan ku! apa kau merasa dirimu hebat! bajingan seperti mu hanya pantas sebagai pelayan rumah tangga!" ucap Yugoslavia yang mencoba menakuti anak itu.

__ADS_1


Bugh! tiba-tiba saja anak yang ditindas itu menghajar kepala anak nakal itu hingga jatuh pingsan. Itulah pertama kali mereka bermusuhan hingga akhir, namun anak nakal itu selalu gagal untuk mengalahkannya dalam hal apapun, baik fisik, ataupun materi. Ya, anak nakal itu adalah Yugoslavia, dan yang satunya lagi... Woltryn.


...*****...


Kemudian... Yugoslavia yang mengingat pesan ayahnya tentang sesuatu saat sedang melihat seseorang yang marah, sekaligus menangis... membuat dirinya menangis. Meskipun sudah berjuta-juta tahun berlalu, kenangan, dan pesan ayahnya masih tersimpan dalam hatinya. Ini lah hubungan yang luar biasa antara anak, dan seorang ayah.


Seorang anak akan mengingat selalu ajaran yang ayahnya berikan, dan pelajaran itu digunakan untuk di masa depan nanti. Hingga membuat Yugoslavia yang sekarang, Yugoslavia yang tak terkalahkan, dan menjadi hebat. Ingatan tentang ayahnya, ibunya, selalu tersimpan dalam hatinya meski dia sudah menjadi monster seperti ini.


Bahkan jauh sebelum itu dia masih menyimpannya dalam hatinya, karena itulah dia terus berbuat seperti itu. Namun dia salah mengartikan dari apa yang ayahnya katakan, mungkin karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti tentang sesuatu kata yang menjadi teka-teki baginya.


"Brengsek! orang seperti mu tidak pantas untuk menangis!" ucapku yang marah sambil menangis. Melihatnya menangis seperti itu aku menganggapnya sebagai hinaan untuk apa yang telah dia lakukan pada semuanya.


"Tiba-tiba saja... hatiku sedih" ucap Yugoslavia sambil meneteskan air matanya, dan ucapannya itu membuatku tercengang. Karena perkataannya sangat tidak masuk akal, mengetahui makhluk sepertinya yang tak memiliki perasaan, dia tidak pantas untuk menangis.


"Bajingan! berhenti menangis! hiks! kau... tidak pantas terlihat menyedihkan! kau adalah makhluk brengsek, dan akan tetap selamanya brengsek!. Biarkan kami saja makhluk menyedihkan yang menangis!" ucapku yang kemudian aku berhenti menyerangnya, dan berlutut di hadapannya yang sedang terbaring.


"Kenapa kau berhenti menyerang? padahal aku menangis bukan karena ingin berhenti menyerang kalian" ucap Yugoslavia yang kemudian bangkit, dan berdiri kembali.


"Brengsek! brengsek brengsek!" ucapku sambil memukul-mukul tanah dengan emosi yang memuncak.


"Gernath apa yang kau lakukan?" ucap Gordials yang melihatku diam saja dihadapan lawan. Kemudian Yugoslavia mengeluarkan sebuah pedang dari dalam tubuhnya, itu adalah pedang milikku. Namun ayunan pedang itu lebih cepat, dan pendek jaraknya dari pada Gordials yang sedang berlari dengan cepat ke arahku untuk menyelamatkan ku dari sayatan pedang ini.


Cring! tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang keluar dari tubuhnya Yugoslavia, dan kami semua sangat terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Tubuhnya menjadi kaku, dan jatuh ke tanah begitu mendapatkan cahaya aneh itu. Cahaya aneh itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya secara perlahan-lahan, aku sangat heran dengan apa yang terjadi padanya.


"Aku baru ingat. Aku tidak tahu harus senang, atau sedih... barang siapa yang membunuh seorang malaikat dia akan mendapatkan kutukan kematian begitu saja. Ini adalah kekuatan yang sangat tepat untuk membunuh monster itu, jiwa dibalas dengan jiwa" ucap Gordials dalam batinnya yang berhenti di tengah jalan untuk menyelamatkan ku begitu melihat cahaya yang sedikit tak asing baginya.

__ADS_1


Siapapun yang membunuhnya meski hanya manusia biasa sekali pun, kutukan tetaplah kutukan, dan tak ada yang bisa menyangkal kutukan itu. Apa lagi dia adalah manusia biasa yang berubah menjadi monster. Tapi untuk para iblis terdahulu dia memiliki pertahan untuk kutukan itu, tapi tetap saja pertahanan itu ada batasnya, kecuali sang iblis pertama, Gordials.


Pertahan itu akan hancur, begitu mencapai batasnya untuk membunuh malaikat. Seperti halnya iblis lemah terdahulu harus membunuh minimal tujuh malaikat baru ia akan merasakan kutukannya yang sudah tertumpuk sebelum mencapai angka tujuh. Kutukan itu akan aktif begitu iblis sudah membunuh pada batasannya, dan ia pasti akan mati secara perlahan, dan menjadi debu yang bersinar.


Seperti yang terjadi pada tubuh Yugoslavia saat ini, tubuhnya perlahan-lahan mulai hilang berterbangan menjadi debu bersinar, "Hei... apa artinya orang-orang itu bagimu?" ucap Yugoslavia tiba-tiba padaku.


"Apa artinya kau bilang? mereka adalah keluarga, bajingan! hiks" ucapku yang sambil menangis, dan terus mengusap air mataku yang terus berjatuhan. Hatiku masih terasa sakit, begitu sakit meskipun Yugoslavia sebentar lagi akan mati.


"Tapi bukankah kalian tak memiliki hubungan darah?" ucap Yugoslavia di saat-saat terakhirnya.


"Meskipun kami tak memiliki hubungan darah, tapi kami memiliki tujuan yang sama. Untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini" ucapku.


"Dunia yang kejam?... tujuan yang sama?... kau mengingatkan terhadap keluarga kecil yang sangat ku sayangi. Aku jadi teringat kembali akan sosok istriku... bahkan, dia... sedang berdiri di depan sana sambil tersenyum padaku. Anakku... anakku juga ada disana! mereka... mereka hidup kembali! haha! aku sangat senang sekali!" ucap Yugoslavia dengan suaranya yang letih. Dia melihat gambaran istri, dan anaknya yang berdiri di depannya dengan cahaya yang bersinar di sekujur tubuh mereka, dan wajah yang tersenyum.


"Suamiku... raihlah tanganku" ucap istrinya yang memberikan tangannya padanya.


"Tapi aku tidak bisa berdiri... tubuhku sudah hancur" ucap Yugoslavia pada istrinya dengan wajahnya yang bahagia karena bertemu dengan istri, dan anaknya kembali, yang telah lama dia rindukan.


"Sekarang kau bisa berdiri, dan berjalan, percayalah padaku" ucap istrinya dengan suaranya yang sangat lembut, dan menenangkan untuk di dengar. Kemudian Yugoslavia mencoba untuk berdiri sesuai perkataan istrinya, dan akhirnya dia benar-benar bisa berdiri kembali.


"Hah!? k-kau benar!? a-aku bisa berdiri lagi! ini sangat mengejutkan" ucap Yugoslavia yang terheran-heran sekaligus senang.


"Kenapa ayah lama sekali sih! aku, dan ibu sudah menunggu ayah begitu lama tahu" ucap anaknya yang ngambek, dan memalingkan wajahnya dari ayahnya. Kemudian... grep! ayahnya menggendong anak kesayangannya, dan memeluknya dengan penuh kasih sayang, hingga air matanya menetes kembali untuk terakhir kalinya.


"Maafkan ayah nak... maaf karena ayah telah membuat kalian menunggu. Seharusnya, saat itu juga ayah langsung bertemu dengan kalian saja" ucap ayahnya yang menyesal.

__ADS_1


"Sudahlah... lebih baik kita pergi, di sana ada tempat yang indah" ucap istrinya yang merangkul tangan suaminya dengan senyumannya yang menenangkan. Kemudian keluarga kecil itu pergi ke suatu tempat yang indah, dan... tak akan pernah kembali lagi ke tempat yang menyedihkan ini.


__ADS_2