
Karena suara Mouri yang cukup keras untuk membangunkan Elysna saat itu membuatku terbangun. Namun aku berpura-pura tertidur saat itu sampai mereka benar-benar keluar dari tenda. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada Elysna. Saat ini yang ada di pikiranku membuatku takut, aku takut kalau Mouri akan melampiaskan hal ini pada Elysna karena cinta yang tak terbalaskan.
Aku tak bisa berhenti memikirkannya, kemudian aku memutuskan untuk membuntuti mereka. Sampai pada akhirnya mereka tiba di ujung tebing, aku memperhatikan mereka di balik pohon yang besar. Namun begitu Mouri mengajak Elysna untuk duduk di sampingnya, aku langsung bereaksi, dan segera berlari menghampiri mereka.
Aku takut kalau Mouri akan mendorong Elysna ke dalam jurang yang terjal itu. Namun tiba-tiba saja aku tak bisa bergerak, aku terkejut begitu mengetahui kalau ternyata Tygruth juga membuntuti ku. Dia mengikat kaki tangan, dan menutup mulutku menggunakan pohon-pohon yang ada di sekitarku.
"Apa yang kau lakukan Tygruth!" jeritku dengan suara yang tak jelas karena mulutku di tutup dengan rapat.
"Shhh... kau tak perlu khawatir, Mouri tidak akan berbuat macam-macam. Dia bukanlah orang yang saat ini kau pikirkan, kau cukup lihat, dan perhatikan baik-baik" ucap Tygruth padaku dengan suara kecil. Mendengar Tygruth berbicara seperti itu, aku mencoba untuk bersikap tenang, dan memperhatikan mereka berdua di pinggir tebing itu.
"Ada apa kau mengajakku kemari?" ucap Elysna yang baru saja duduk di sampingnya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Tolong maafkan aku..." ucap Mouri yang tersenyum, namun yang kulihat dia terlihat sangat terpukul. Sepertinya dia memaksakan diri berbicara, dan berusaha berhubungan baik dengan orang yang telah merebut cintanya.
"Eh!? kenapa kau tiba-tiba meminta maaf padaku?" ucap Elysna yang kebingungan.
"Hmm... bagaimana aku menjelaskan padamu ya? sudahlah lebih baik jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik mari kita saling terbuka, dan menceritakan kehidupan masing-masing" ucap Mouri yang tersenyum lebar kepada Elysna. Karena senyuman, dan keramahan Mouri, membuat Elysna hampir menangis karena terharu melihatnya.
Sepertinya Elysna mudah sekali terpengaruh dengan perasaan pribadinya, "Terima kasih... karena kalian sudah begitu baik padaku" ucap Elysna yang tersipu malu.
__ADS_1
"Eh!? kenapa kau malah malu-malu begitu? mari berbicara santai padaku" ucap Mouri dengan semangat.
"Ah... baiklah, tapi ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa aku boleh bertanya padamu?" ucap Elysna pada Mouri yang terlihat ragu-ragu.
"Hmm? silahkan saja, aku akan menjawab apapun pertanyaan mu!" ucap Mouri yang penuh semangat, sepertinya dia sangat senang bisa memiliki teman baru. Dia terlihat sangat bersemangat sekali melayani Elysna.
Sementara itu aku, dan Tygruth memperhatikan mereka dengan jelas dari jauh. Itu karena kami adalah Leonis, kami memiliki kemampuan pendengaran yang cukup hebat, dan fisik yang kuat. Tidak hanya itu, pengelihatan kami juga cukup hebat, dan kami memiliki kekuatan alami sebagai seorang Leonis. Kekuatan yang kami miliki sejak lahir adalah cakar yang ada di jari-jari kami.
Kami bisa menggunakannya kapan saja dimana pun. Tidak hanya itu, kami para Leonis juga dapat melompat-lompat dengan cepat, dan tinggi. Seperti itulah kekuatan alami yang diberikan kepada bangsa Leonis seperti kami. Namun aku masih tak tahu kekuatan alami macam apa yang diberikan kepada Elf sejak lahir.
"Kau benar... Tygruth, sepertinya aku terlalu khawatir, dan berpikiran buruk terhadap Mouri. Aku memang bodoh..." ucapku yang berjalan kembali ke tenda.
"Sudahlah... kita hanya akan menjadi pengganggu bagi mereka yang menginginkan hubungan yang lebih dekat" ucapku. Kemudian Tygruth tersenyum, dan menyusul ku, kemudian kami pun kembali ke tenda, dan kembali tidur untuk menyambut hari esok. Sementara itu mereka berdua masih mengobrol di pinggir tebing.
"Bagaimana cara membahagiakan seorang laki-laki? kau sudah tahu kan... umm... kalau aku, dan Gernath..." ucap Elysna yang malu-malu, dan wajahnya yang merah. Mouri yang mendengarnya langsung terdiam, dan tak berkata-kata. Sepertinya Mouri masih belum bisa melupakan perasaannya padaku.
Tentu saja dia masih belum bisa melupakan semuanya yang telah ku perbuat hingga dia jatuh cinta padaku. Sejak awal ini memang salahku yang terlalu sembrono, dulu aku memang sangat bodoh sekali memahami perasaan seseorang. Tapi berkat didikan Tygruth dengan mengatakan aku bodoh, aku jadi lebih sadar tentang sesuatu yang disebut perasaan, dan cinta.
Kemudian Mouri tersenyum dengan bahagia, dan menjawab pertanyaannya, "Tentu saja aku tahu!" ucap Mouri dengan senang. Sepertinya Mouri tidak serapuh yang kupikirkan, dia ternyata lebih tangguh dari yang ku bayangkan. Kini dia sudah sepenuhnya melupakan perasaannya padaku, demi seseorang yang akan menjadi temannya saat ini.
__ADS_1
Hari itu pun berlalu, mungkin itu adalah hari yang cukup mengenang untuk mereka. Karena hari itu adalah hari pertama mereka saling berbicara, dan saling terbuka. Kini mereka menjadi lebih dekat, dan entah kenapa... Mouri menjadi sosok yang menyebalkan lagi.
"Dia tak melakukan apa-apa padamu kan Elysna? awas saja kalau dia melakukan hal yang mesum padamu sebelum kalian menikah aku akan membunuhnya" ucap Mouri yang masuk ke tenda kami, dan sudah menciptakan keributan di pagi hari yang indah ini.
Benar-benar ciri khas Mouri yang ku kenal, dia sangat menyebalkan sekali, "Eh!? ti-tidak... dia tak melakukan apapun, dan hanya tertidur dengan pulas" ucap Elysna.
"Benarkah? hei dasar laki-laki sampah! berani-beraninya kau tidur lebih dulu, dan tak mempedulikan pacarmu. Seharusnya kau membuatnya bahagia dulu sebelum tidur, tapi kau malah tak melakukan apapun selain tidur!" ucap Mouri yang terlihat sangat kesal. Apa ini cuma perasaan ku, entah kenapa... hari ini Mouri... terlihat... sangat... menyebalkan dari sebelumnya!.
"Berisik! kau tak perlu ikut campur dalam mengurusi hubungan kami. Ngomong-ngomong apa yang sudah dilakukan Tygruth padamu?" ucapku yang sengaja membuatnya merasa jengkel.
Kemudian Mouri terkejut, dan menjadi kesal padaku, "Apa katamu? berani-beraninya kau bertanya hal seperti itu padaku!" ucap Mouri yang mengangkat tangannya, dan bersiap menghajar ku. Namun syukurlah Tygruth datang, dan menangkap tangan Mouri sehingga Mouri tak jadi memukul ku.
"Ayo Mouri... kita lanjutkan lagi, aku masih ingin melakukan ini, dan itu padamu" ucap Tygruth yang membuat kami semua syok mendengarnya, dan lagi apa-apa wajah malu-malu nya itu!. Apa benar itu adalah wajah Tygruth yang ku kenal!?.
"A-apa... yang baru saja kau katakan pada mereka! kau cari mati ya?" ucap Mouri yang saat ini benar-benar sangat kesal sekali. Kemudian aku menendang Mouri keluar dari tenda, dan segera menutup tenda kami. Aku menarik nafas dengan lega, karena gadis gila itu sudah pergi.
Drrrrrrt.... brrrrrrrsstt... lalu tiba-tiba saja tanah di sekitar kami bergetar dengan hebat. Sampai-sampai menumbangkan beberapa pohon disekitar kami. Namun untunglah kalau pohon-pohon yang tumbang tak mengenai kami, dan jatuh ke arah sebaliknya. Namun entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa merinding begitu tanah di bawahku bergetar.
Rasanya... seperti ada sesuatu yang besar bergerak di bawah tanah yang mengakibatkan tanah menjadi bergetar seperti ini. Sesuatu... sesuatu yang sangat besar, dan terasa sangat jelas olehku yang berada di atasnya. Kalau ada makhluk yang sedang bergeliat di bawah tanah seperti cacing, namun lebih besar dari cacing, dan rasanya... lebih besar dari desa kami.
__ADS_1
Semuanya yang merasakan hal yang sama denganku, membuat wajah mereka terlihat pucat. Sepertinya keberadaan makhluk yang bergerak di bawah tanah tadi membuat kami semua ketakutan dengan hanya tanah ini bergetar. Lalu aku teringat dengan perkataan guru saat itu, kalau guncangan ini adalah perbuatan seseorang. Tapi siapa orang itu? dan dari bangsa mana dia? sampai-sampai membuat kami merinding ketakutan seperti ini.