
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepada keluarganya begitu aku sampai di desa. Ku harap semuanya akan baik-baik saja begitu aku tiba disana. Karena kejadian ini aku jadi membenci diriku karena terlalu berharap kepada hal yang mustahil terjadi. Aku sangat menyesal karena sudah menyeret masuk Tygruth ke dalam pemikiran bodohku.
Seharusnya aku tidak pernah berpikir kalau dunia akan damai, dan semua ras bisa bersatu dengan bahagia. Itu adalah hal yang mustahil, sama sekali tidak mungkin terjadi sampai kapan pun itu kami akan tetap saling membenci satu sama lain. Apa yang sudah kulakukan hanya akan membawa bencana bagi diriku, dan juga orang di sekitar ku.
Keadaan semakin gawat, badan Tygruth semakin dingin, dan darah di kepalanya terus bercucuran. Aku harus segera kembali, dan lebih baik aku mengatakan saja yang sebenarnya. Tidak peduli akan ada peperangan yang terjadi, asal mereka menerima hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan pada kami, dasar para Elf sialan!.
Begitu aku sampai di desa, orang-orang disekitar ku terkejut melihat Tygruth yang penuh darah di kepalanya. Lalu begitu aku sampai di rumah Tygruth, orang tuanya sangat terkejut begitu melihat keadaannya. Mereka terlihat panik, dan sedih... ini semua... salahku, tidak hanya nyawa seseorang, tapi juga perasaan seseorang ikut terseret dalam kelakuan bodohku.
"Apa yang terjadi pada anakku, Tygruth!?" tanya ayahnya yang syok melihatnya.
"Maaf... ini semua salahku... saat di hutan..."
"Ayah... cepat bawa aku ke paman Kyushu, untuk segera mengobati ku" kata Tygruth sambil mengedipkan matanya, entah apa maksudnya. Setelah itu ayahnya langsung menggantikan ku menggendong Tygruth, dan segera membawa ke rumah Kyushu.
Dia adalah satu-satunya manusia kucing yang sangat ahli dalam pengobatan. Setelah itu aku langsung kembali ke rumahku, dan merenungkan kejadian tadi, dan kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan. Aku tiduran di teras rumahku, sambil menatap langit yang cerah.
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, dan menggertak gigi ku dengan kesal. Aku terus memikirkan betapa bodohnya diriku, kenapa aku berharap kepada sesuatu yang tidak mungkin. Padahal tidak ada Leonis yang berpikiran sama sepertiku... kecuali... Tygruth. Tapi tetap saja, Tygruth berpikir seperti itu karena tekad ku yang kuat untuk membuat dunia ini damai.
Karena pada awalnya daru kedatangan Elf itu saja sudah membuat Tygruth sangat amat marah. Aku bisa melihat dari wajahnya yang terlihat penuh dengan kebencian. Namun karena kata-kata bodohku, dia jadi terbawa suasana, dan mengubah apa yang sudah dia tetapkan dalam hidupnya.
"Hei... apa yang sudah kulakukan pada Tygruth?" tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri ku.
"Eh!?... aku... itu bukan salahku tapi..."
__ADS_1
Bugh! tiba-tiba saja Leonis itu langsung menghajar ku dengan tatapan kebencian, penuh dengan air mata kesedihan di wajahnya. Aku bergumam dalam hatiku, "Wajah ini..." entah kenapa rasanya tidak asing bagiku, dan tiba-tiba saja rasa takut menyelimuti hatiku, perasaan tak berdaya akan kebencian orang lain.
"Bukan salahmu!? dasar brengsek! jawab dengan jujur kau yang telah..." tiba-tiba saja Elf itu berhenti menghajar ku dengan terkejut karena melihatku berkeringat dingin, dan menghela nafas dalam-dalam, dengan cepat.
Entah kenapa rasanya ini sangat menakutkan, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi ini sangat menakutkan, dan menyakiti ku. Seperti rasa trauma yang mendalam terhadap sesuatu, bahkan sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu tiba-tiba saja pandangan ku mulai buram, dan akhirnya aku jatuh pingsan di tempat.
"Hei... hei! bangun dasar bodoh! jangan menakut-nakuti ku" teriak Leonis itu menggoyang-goyangkan tubuhku yang tak berdaya itu.
Saat aku pingsan aku bermimpi sesuatu yang sangat-sangat aneh, aku tidak tahu apa itu aku belum pernah melihat tempat yang sangat aneh itu. Sebenarnya apa yang terjadi padaku, aku bertanya-tanya pada diriku di dalam mimpi itu, hanya ada pandangan buram yang ada di depanku.
"Kumohon hentikan! huhu" tiba-tiba saja ada suara yang melengking di telingaku, "Apa salahku!" lagi-lagi ada suara aneh yang bermunculan, "Seandainya kakak tidak pernah ada" suara-suara aneh itu terus saja bermunculan di pikiranku, dan tiba-tiba saja di dalam mimpi itu aku si hajar oleh seseorang.
Terpelanting ke sana kemari tanpa tahu siapa yang menghajar ku. Hanya ada sosok hitam, dan buram yang ku lihat, perasaan sesak, dan dingin. Keinginan, dan tekad yang kuat untuk melakukan sesuatu, yaitu... mati.
"Hei... apa kau sudah sadar..." tanya seseorang yang duduk di sampingku yang tengah tiduran. Pengelihatan ku masih buram, siapa orang yang sedang duduk di sampingku itu. Aku hanya bisa mengusap mataku, dan memejamkan mataku untuk melihat dengan jelas.
"Baiklah karena kau sudah sadar sekarang, aku pergi dulu..." kata Leonis itu segera meninggalkan ku, kemudian aku segera menangkap tangannya, dan menariknya hingga terjatuh ke pelukan ku. Ah... sial, mungkin ini adalah hari yang paling sial bagiku, dia pasti akan sangat marah padaku, dan segera menghajar ku.
Tapi anehnya kenapa dia diam saja? dan tubuhnya bergetar seakan sedang menangis tersedu-sedu. Kenapa dia diam saja di pelukan ku! ini sudah lebih dari 5 menit, dan dia masih tiduran di badanku!. Kemudian tiba-tiba saja ada yang membuka gorden di sebelah kami, dan ternyata itu adalah Tygruth.
Rumah paman Kyushu adalah rumah untuk para orang yang sedang sakit, jadi di satu ruangan memiliki banyak kasur. Setiap kasur di pisah dengan gorden yang terbuat dari dedaunan kering yang di buat oleh paman Kyushu sendiri.
"Apa... yg kalian lakukan?" tanya Tygruth dengan wajah datar.
__ADS_1
"Ah!? Tygruth kau sudah sadar? haha syukurlah aku sangat khawatir. Kalai begitu aku pergi dulu memberitahu keluarga mu, haha, sampai jumpa!" kata Leonis itu segera meninggalkan ku. Namun aku hanya bisa diam saja dengan malu, aku membuang muka di depan Tygruth.
"Hei... tatap aku, setidaknya kau tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula ini adalah salahku kok" kata Tygruth.
"Ah... bukan itu, tapi kenapa kau tidak terkejut begitu melihatku, dan Leonis itu" kataku.
"Hah... dia itu adalah Leonis yang aneh, namanya adalah Mouri. Dia adalah temanku sejak kecil, kami selalu bermain bersama. Ah sudahlah, lebih baik kita membahas permasalahan saat itu. Jadi... perhatikan aku dasar sialan! mau sampai kapan kau membuang muka seperti itu!" kata Tygruth.
"Ah, ba-baiklah... tentang kejadian itu, aku akan mengatakan yang sebenarnya saja, dan aku minta maaf padamu. Karena ulahku, dan harapan bodohku untuk membangun hubungan baik dengan bangsa Elf, kau jadi menerima akibatnya bersama ku" kataku dengan merasa bersalah padanya.
"Apa kau sudah selesai berbicara? kalau sudah biarkan aku yang berbicara. Baiklah kalau begitu, aku ingin kau jangan menyerah dengan apa yang kau impikan, jangan pernah hilang dengan apa yang selama ini kau harapkan. Meski kau harus mengorbankan orang lain, dan juga dirimu, aku selalu siap untuk berada di samping mu" jawab Tygruth dengan tersenyum padaku.
"Tapi... karena ku..."
"Diam bodoh! kau ini sulit sekali di ajak bicara, apa kau berpikir kalau aku membenci Elf itu?. Asal kau tahu saja sejak dulu aku memiliki harapan yang sama denganmu tahu. Meski mereka menyebalkan, dan berbeda dengan kita, aku ingin membangun hubungan yang baik dengan mereka. Dengan begitu dunia ini akan baik-baik saja!" jawab Tygruth dengan kesal.
Meski begitu... tetap saja perkataan Tygruth tidak membuat hatiku jauh lebih tenang. Bagaimana bisa dia mengatakan untuk mewujudkan harapan harus mengorbankan orang lain. Dengan mudahnya dia mengatakan kata pengorbanan yang taruhannya adalah nyawa seseorang. Aku bukanlah orang yang kuat sepertinya, aku sudah pernah mengalami kehilangan seseorang yang ku sayang.
Eh!?... apa ini? seseorang yang ku sayang? kenapa tiba-tiba aku berpikir aneh seperti ini?. Memangnya siapa orang yang ku sayang yang ku maksud? sebenarnya apa yang terjadi padaku, dan lagi mimpi macam apa tadi?. Rasanya... sungguh nyata, sepertinya aku hanya sedang sakit saja karena kejadian tadi, karena itu aku berpikir yang tidak-tidak, sampai terbawa mimpi.
"Tapi tetap saja Tygruth... aku yang..."
Plak!
__ADS_1
"Lebih baik kau tidur saja lagi, aku kesal menghadapi mu dasar keras kepala" gumam Tygruth dengan kesal.
Akhirnya aku pingsan kembali setelah Tygruth melempar sesuatu ke arah kepalaku. Setidaknya dia harus menghargai pendapat ku, padahal ini demi kebaikan dia juga. Kenapa kau jadi keras kepala sekali sih Tygruth... tunggu, sebenarnya yang keras kepala itu siapa? aku? atau Tygruth?.