Artificial God

Artificial God
Untuk Sementara Waktu


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Elysna, tempat yang kami datangi ini adalah sebuah desa kecil. Setelahnya kami mendarat di depan gerbang desa itu. Ada dua penjaga yang menjaga gerbang itu dengan sebuah tombak besi. Melihat dari bentuk fisik mereka yang belum pernah kami lihat sebelumnya, sepertinya kami baru saja menemukan bangsa baru lagi.


"Siapa kalian!? apa yang kalian lakukan disini!?" ucap salah satu penjaga yang menodongkan tombaknya ke arah kami dengan tubuh yang bergemetar ketakutan.


"Tenanglah, kami bukan orang jahat... kebetulan kami tak sengaja menemukan desa kalian" ucapku yang berusaha menenangkan mereka, tapi mereka masih tidak percaya.


"Jangan bergerak! kami tidak percaya terhadap orang asing!" ucap penjaga itu.


"Dasar kalian ini! apa kalian tidak tahu siapa dia! dia adalah pahlawan yang telah menyelamatkan dunia dari serangan monster sepuluh tahun yang lalu!" ucap bos bandit itu yang merasa kesal kepada para penjaga itu yang bersikap tidak sopan padaku.


"Apa!? jadi kalian orangnya? tapi sejak kapan orang seperti mereka yang berwajah menyeramkan itu bergabung dengan anggota kalian? mereka lebih mirip seperti sekumpulan bandit, jika di bandingkan dengan kalian berempat" ucap penjaga itu yang masih bersiaga untuk menyerang kami.


"Haha, kau benar mereka adalah sekumpulan bandit. Tapi kalian tidak perlu khawatir akan hal itu, karena sekarang mereka sudah menjadi anak yang baik" ucapku yang berusaha tetap tenang meski keadaannya seperti ini.


"Itu benar! para pahlawan ini hanya mengantarkan kami sampai menemukan sebuah desa. Kemudian karena kami menemukan desa ini, kami akan tinggal disini untuk menjaga warga desa disini" ucap bos bandit dengan percaya diri.


"Hei apa mereka bisa di percaya?" ucap penjaga itu kepada rekan penjaga yang di sebelahnya.


"Entahlah... hei kalian para pahlawan! bukankah kalian beranggotakan enam orang? lalu dimana dua lainnya?" ucap penjaga itu yang masih mengintrogasi kami. Mendengarnya membuatku terkejut, dan merasa sedih. Aku menundukkan kepalaku sambil berkata, "Mereka... sudah tidak ada" ucapku yang membuat para penjaga itu terkejut, dan merasa sungkan dengan kami.


"Ba-baiklah... maafkan perkataan ku, kalian boleh masuk tapi kami akan terus mempertahankan kalian sampai kepala desa menerima kalian di desa ini" ucap para penjaga itu yang kemudian mempersilahkan kami masuk ke desanya. Kemudian setelahnya kami masuk ke desa itu, dan melihat pemandangan yang membuat kami rindu akan kampung halaman kami.

__ADS_1


Suasana yang ramai, dan menenangkan, kami terus berjalan masuk untuk menemui kepala desa sambil di kawal oleh penjaga sebelumnya. Semua orang desa itu terkejut, dan memperhatikan kami dengan rasa takut. Entah apa yang membuat mereka terlihat ketakutan itu, mungkin itu karena para bandit yang berjalan di belakang kami.


Karena wajah mereka mengerikan, mungkin karena itu mereka takut. Tapi aku berharap semoga para bandit yg bertobat ini dapat di terima dengan baik oleh seluruh penduduk desa di sini. Kemudian tiba-tiba saja adalah sebuah bola yang melayang ke arah bos bandit itu hingga mengenai wajahnya. Bola itu berasal dari sekelompok anak-anak yang sedang bermain bola di jalanan.


"Ah sial bagaimana ini!? orang itu menyeramkan sekali" ucap anak-anak itu yang terlihat ketakutan. Kemudian bos bandit itu mengambil bolanya, dan berjalan ke arah anak-anak itu untuk memberikan bolanya. Kemudian anak-anak itu langsung berlari ketakutan menjerit-jerit melihat bos bandit yg tersenyum itu. Mereka salah mengira mengenai wajah bos bandit itu, sebenarnya senyuman itu adalah senyuman tulus, bukan senyuman jahat.


"Eh!? ke-kenapa mereka lari?" gumam bos bandit itu yang kebingungan.


"Itu karena... wajah anda sangat menyeramkan bos, siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan" ucap anak buahnya yang menundukkan kepalanya di hadapan bosnya. Kemudian bos bandit itu menghampiri anak-anak buahnya, "Mulai sekarang kalian tidak perlu sungkan lagi dengan ku, dan jangan panggil aku dengan sebutan bos lagi. Panggil saja aku dengan namaku, karena mulai sekali hubungan kita adalah hubungan pertemanan" ucap bos bandit itu yang tersenyum mengerikan kepada anak-anak buahnya.


"Ba-baik" ucap serentak anak buahnya.


"Baiklah tunggu apa lagi, cepat berjalan" ucap penjaga yang mengawal kami.


Kami terus berjalan sambil melewati sebuah perumahan, dan orang-orang yang berjualan dengan berbagai barang. Tapi dengan cara apa mereka menjual? dan dengan cara apa mereka membeli barang-barang itu?. Apa mereka melakukan barter? itulah yang ku pikirkan, karena aku masih belum mengenal sistem uang yang sebagai alat tukar, untuk menjual, ataupun membeli.


Kemudian kami terus berjalan hingga sampai di rumah kepala desa. Keadaan rumahnya sangat kosong, dan sunyi, setelahnya kami masuk ke kamar kepala desa. Kami sangat terkejut begitu melihat keadaan kepala desa mereka yang terluka parah dengan tubuh yang membusuk di lengan kirinya, mungkin ini karena dampak zat kimia dari para monster itu sepuluh tahun yang lalui. Lengannya sudah membusuk sampai bahu, kondisinya benar-benar memprihatinkan karena hanya bisa berbaring di kasur miliknya.


Bruk! kemudian tiba-tiba saja para pengawal itu bersujud di depan kami, "Kami mohon kepada kalian sang pahlawan, tolong sembuhkan lengan kiri kepala desa kami yang membusuk" ucap pengawal itu yang memohon pada kami. Aku yang melihatnya benar-benar tidak tega, "Berdirilah, dan jangan pernah lagi menaruh kepala kalian di bawah kepada orang lain" ucapku kepada mereka.


Kemudian para pengawal itu berdiri sesuai perintah ku, "Benar, tidak seharusnya kalian bersujud di hadapan kami, kami bukanlah orang jahat, ataupun seorang pemeras. Kami akan membantu kalian dengan senang hati, jadi jangan pernah mengulangi hal yang sama. Teman kami Boa Boa dapat menyembuhkan lengan kiri kepala desa kalian dengan mudah" ucap Elysna.

__ADS_1


"I-itu benar... lihat ini" ucap Boa Boa yang segera menghampiri kepala desa, dan menyentuh tangan kepala desa yang kemudian lengannya yang busuk itu pulih kembali seperti sedia kala. Semua yang menyaksikan kekuatan Boa Boa benar-benar merasa takjub, hanya dengan sebuah sentuhan saja sudah bisa mengembalikan tangan yang busuk menjadi seperti semula.


"Wah!? benar-benar sebuah keajaiban! kami sangat berterima kasih kepada kalian!" ucap para pengawal itu dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis haru. Setelahnya beberapa saat kemudian kepala desa mulai sadar kembali, dan membuka matanya.


"Si-siapa orang-orang ini? Frank?" ucap kepala desa yang bertanya kepada salah satu pengawal yang bernama Frank, dengan suara yang tertatih-tatih. Kemudian pengawal yang bernama Frank itu langsung menghampiri kepala desa, dan menggenggam tangannya, dengan tatapan yang riang gembira.


"Mereka adalah para pahlawan yang dibicarakan banyak orang. Mereka adalah grup Shan, pahlawan yang berhasil menyelamatkan dunia ini dari kiamat monster!" ucap Frank yang melebih-lebihkan rumor tentang kami.


"Benarkah!? ka-kalian adalah pahlawan itu!? sebuah kehormatan untukku dapat bertemu dengan kalian" ucap kepala desa yang berusaha bangun dari tidurnya untuk memberi hormat kepada kami.


"Jangan banyak bergerak, kondisi tubuh anda masih belum pulih" ucap Boa Boa, yang kemudian kepala desa berbaring kembali.


"Baiklah... aku benar-benar tak menyangka kalau aku dapat bertemu dengan kalian. Seandainya... istri, dan anakku ada disini, pasti dia akan sangat senang bisa bertemu dengan kalian" ucap kepala desa yang membuat keadaan ini merasa canggung.


"Memangnya... ada dimana mereka sekarang?" ucapku yang tak peka dengan maksud perkataan kepala desa.


"Mereka sudah meninggal... istri, dan anakku mengalami kondisi yang lebih buruk dariku. Karena mereka terkena cairan berbahaya yang lebih banyak dari ku. Jadi penyebaran, zat kimia yang mereka derita lebih cepat dibandingkan dengan ku yang hanya terkena sangat sedikit sekali. Seluruh tubuh mereka sudah membusuk" ucap kepala desa dengan wajah sedih. mendengar cerita kepala desa pun membuat hatiku menjadi tidak enak, seakan-akan aku juga ikut merasakan kesedihannya.


"Maaf... seandainya kami datang lebih cepat, mungkin kami masih bisa menyelamatkan anak, dan istri anda" ucapku yang menyesal, dan memasang wajah sedih.


"Tidak, kalian tidak salah... tolong jangan seperti itu" ucap kepala desa yang merasa tidak enak. Meskipun begitu aku masih merasakan kesedihannya. Karena aku pun pernah merasakan hal itu dalam hidupku, rasanya memang benar-benar sangat menyakitkan, dan pahit. Kehilangan seseorang yang berharga adalah suatu hal yang tak dapat terlupakan.

__ADS_1


Kemudian setelahnya kami keluar dari rumah kepala desa, dan kami diberikan tempat tinggal sementara di sebuah rumah yang cukup besar yang sudah tak terpakai. Kami sangat beruntung kalau kami tak perlu menyewa kamar untuk tinggal sementara disini, karena kami adalah orang miskin yang tak memiliki uang sedikit pun. Lalu untuk para bandit itu, mereka juga di berikan rumah, yang letaknya cukup jauh dari kami.


__ADS_2