Artificial God

Artificial God
Apakah Ini Akhirnya?


__ADS_3

"Kau lagi? bukankah sudah ku bilang kalau kekuatan mu tidak ada gunanya. Kekuatan mu itu seperti sampah!" ucap Yugoslavia.


"Elysna, kembalilah bersama yang lainnya... maafkan aku karena telah membahayakan mu" ucap Gordials yang merasa bersalah padanya karena menyuruhnya untuk datang sendirian menghadapi dua musuh sekaligus.


"Tidak apa, kau tidak salah... kau melakukannya untuk kami kan. Baiklah kalau begitu, ukh! aku akan pergi" ucap Elysna yang kemudian pergi menggunakan kekuatan teleportasi nya. Begitu pergi, Gordials langsung mengamuk, kedua tangannya kini dalam mode transformasi neraka, itulah nama kekuatan transformasi yang dimiliki Gordials, neraka.


Matanya terbakar karena amarahnya yang meluap-luap, seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Hingga tanah-tanah yang hijau itu mengering, dan terbakar habis, kemudian menyebar, dan menyebabkan kebakaran yang sangat dahsyat. Mereka bertarung di dalam lingkaran api yang membara.


"Beraninya kau melukai orang yang kusuka! aku... akan membunuh mu disini sekarang juga" ucap Gordials dengan nafas apinya.


"Padahal dia sudah memiliki seorang kekasih, tapi apa-apaan ini? kau ingin merebut wanita itu dari kekasihnya?" ucap Yugoslavia yang sedikit tersenyum.


"Aku tahu... tapi setidaknya aku akan berada di sampingnya sebagai seorang teman, matilah" ucap Gordials yang melesat maju dari tanah yang dia injak sampai hancur berantakan. Lahar panas di setiap langkahnya membuat tanah-tanah itu menghilang karena saking panasnya.


Sebuah pukulan dilayangkan tepat ke jantung Yugoslavia, dia sangat terkejut menerima serangan itu dengan mendadak. Saat ini jantungnya sedang di genggaman oleh Gordials dengan tangan berlahar, "Akan ku bakar tubuhmu di mulai dari jantungmu!" ucap Gordials yang kemudian jantung Yugoslavia terbakar hingga meledak.


"Hanya segini saja kemampuan yang kau miliki? katanya kau ingin membunuhku? kalau hanya segini saja sih aku tak akan mati" ucap Yugoslavia tersenyum menyeringai. Tubuhnya yang saat ini terbakar oleh kobaran api yang dahsyat, dapat meregenerasi kembali, serangan Gordials tak cukup kuat untuk mengalahkan kekuatan regenerasi Yugoslavia yang sangat gila, tubuhnya yang sudah terbakar, dan hilang itu mulai beregenerasi lagi.


"Masih belum... akan ku tambahkan dosisnya!" ucap Gordials yang meningkat kekuatannya, dan kobaran api itu semakin besar, dan panas. Tapi... kekuatannya masih belum cukup untuk mengalahkan kuatnya regenerasi milik Yugoslavia, "Lucu sekali... kukira kau akan... a-apa!? tidak mungkin!" ucap Yugoslavia yang terkejut begitu menyadari perlahan-lahan kekuatan api milik Gordials semakin kuat, dan semakin panas hingga mengalahkan kekuatan regenerasi gila miliknya.


"Hahahaha! bagaimana dengan sekarang? suhu api ini akan terus meningkat tanpa batas, dan jasad mu akan hilang selamanya terbakar olehku, hahahaha!" tawa Gordials yang merasa sudah mendekati kemenangan.

__ADS_1


"Brengsek! Bols kemarilah!" ucap Yugoslavia yang kemudian Xyyushara miliknya datang, "Groooooo!"


"Apa kau berniat untuk mati bersama dengan hewan peliharaan mu? itu sama sekali tak berguna tahu!" ucap Gordials dengan mata yang terbuka lebar, dan senyuman yang mengerikan.


"Bukan... aku akan bergabung dengannya..." ucap Yugoslavia yang membuat Gordials terkejut. Srrrrrtt! dalam sekejap dia bisa menyerap monster dengan ukuran sebesar itu, dan itu membuat Gordials waspada. Tubuhnya berubah seperti yang lainnya begitu menyerap masuk Xyyushara itu.


Kemudian asap hitam keluar dari rongga-rongga tubuhnya, kulitnya yang putih itu mulai menghitam keabu-abuan, kemudian tumbuh mata yang aneh di dahinya. Gordials segera menarik mundur dirinya menjauhi Yugoslavia yang sedang menyesuaikan diri dengan Xyyushara miliknya. Karena jika di serang akan percuma saja, dan sepertinya... keadaan semakin berbahaya disini.


Kemudian di sekujur tubuhnya keluar tulang-tulang kecil yang terbuat dari besi yang tajam, urat-urat di dalam tubuhnya mulai keluar dari tubuhnya. Bentuknya benar-benar mengerikan, dia bagaimana monster dari segala monster, tapi itu tak membuat Gordials gentar. Dia masih dalam keadaan siap untuk melawan, dengan hatinya yang tetap.


"Hei... kenapa kau malah lari dariku?" ucap Yugoslavia, yang suaranya berubah. Siapapun yang mendengarnya akan merasa merinding dengan suara yang menggema di telinga.


Kami tak tahu apa yang harus kami lakukan untuk menghentikan zat kimia itu. Keadaan semakin gawat saja, sementara itu Boa Boa masih belum sadar dari pingsannya. Kami tak tahu apa yang harus kami lakukan untuk menghentikan luka di kaki Elysna. Kami sangat panik, dan mondar-mandir tanpa arah, wajah Elysna semakin pucat.


"Elysna bertahanlah! kumohon! jangan mati lebih dulu" ucapku sambil menggenggam tangan Elysna dengan kuat untuk memberikan rasa hangat, dengan mata yang akan menangis.


"Kak Elysna jangan mati! huhu... aku tak ingin melihat kak Gernath sedih" tangis Vloid yang sangat menghormati ku sebagai kakak, begitu juga dengan yang lainnya.


"Apa dunia ini akan berakhir di tangan monster itu? kurasa... Gordials tak akan sanggup melawan monster itu" ucap Elysna yang kehilangan harapan pada dunia ini.


"Kita pasti akan menang! kau tak perlu memikirkan hal itu, dan beristirahat lah dengan mata terbuka. Aku takut kau akan memejamkan matamu, dan tak membukanya lagi" ucapku, hatiku saat ini benar-benar hancur melihat kondisi Elysna seperti ini. Dan perkataan Elysna tadi membuat tekad kami tergoyahkan.

__ADS_1


Hari sudah malam, dan udara semakin dingin karena bols api yang diberikan Gordials semakin mengecil. Panasnya mulai menghilang, kemudian aku, dan Mouri menciptakan api unggun untuk menghangatkan tubuh kami. Seluruh paha Elysna kini sudah menghilang, karena aku telah memotong pahanya agar zat kimia itu berhenti menghancurkan tubuhnya.


Dengan begitu kakinya tak akan menghilang lagi, dan Mouri segera mengobatinya, dan membalut kakinya yang terus mengeluarkan darah itu. Aku hanya bisa diam dalam keadaan kacau sambil terus menggenggam tangannya yang sudah dingin itu. Namun aku masih sangat bersyukur kalau Elysna masih dapat membuka matanya sesuai dengan permintaan ku. Karena aku takut sekali begitu dia menutup matanya, dan tak bisa membuka kembali.


Sementara itu Vloid sudah kelelahan karena terus menangis, dan dia tertidur di samping Elysna. Sementara itu Mouri duduk di samping ku, tapi aneh sekali, wajahnya masih pucat meskipun dia sudah mengisi kembali tenaga, dan energi dalam tubuhnya. Apa itu masih belum cukup untuk mengembangkan energi yang dia gunakan saat itu?.


"Mouri, wajahmu semakin pucat... apa kau baik-baik saja?" ucapku yang merasa khawatir karena orang-orang di sekeliling ku mulai mendekati kematian.


"Aku... aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Gernath..." ucap Mouri yang tersenyum kecil.


"Ya?"


"Apa aku boleh meminjam bahu mu sebentar untuk tempat bersandar"


"Eh!? ba-baiklah"


Kemudian Mouri meletakkan kepalanya di bahuku dengan senyuman kecil, "Terima kasih... mungkin ini permintaan terakhir ku" ucap Mouri dengan suara yang kecil.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" ucapku yang tak mendengar apa yang dia katakan setelah ucapan terima kasih padaku.


"Tidak ada... aku ingin tidur dulu disini" ucap Mouri yang kemudian memejamkan matanya lalu tertidur. Karena hari sudah malam, dan melihat mereka semua tertidur, aku jadi merasa ngantuk karena mereka. Lalu aku pun ikut tidur dalam keadaan duduk, entah kenapa rasanya aku melupakan seseorang... namun aku sudah tertidur pulas saat itu.

__ADS_1


__ADS_2