
Berakhir sudah pertarungan yang gila ini, akhirnya kami memenangkan pertarungan yang dahsyat ini di antara hidup, dan mati. Meski pertarungan telah usai, masih ada yang menangis dengan kesedihan disini. Air mata yang terus mengalir tanpa henti, tak akan berhenti meski pertarungan mereka telah berakhir.
Kehilangan seseorang yang berharga itu sangat menyakitkan, begitu menyakitkan. Sosok orang yang berharga menurut sudut pandang hati ia adalah sosok yang harus di jaga sampai mati. Tangisan, dan tangisan terus memenuhi dunia ini tanpa akhir. Kenapa... menangis di ciptakan di dunia ini? mengapa? mengapa bukan tawa saja yang di adakan, dan hilangkan tangisan.
Kenapa seseorang harus menangis, sangat menyebalkan... kenapa, dunia ini begitu kejam. Makhluk hidup, hidup dengan perasaan yang dimilikinya, namun kenapa dunia ini hidup tidak memiliki perasaan. Kenapa dunia dengan mudahnya merenggut semuanya begitu saja tanpa perasaan, dan rasa bersalah. Dan... kenapa hal ini harus terjadi, kenapa harus kami yang merasakannya.
"Yugoslavia... kau... memang brengsek! kau memang seorang bajingan!" teriakku yang menghantam tanah tempat dia mati, dan menghilang dengan seluruh tenagaku yang tersisa. Sambil menangis, dan terus menangis, hati ini terus terkoyak-koyak.
Blarrrrr! tiba-tiba saja ada suara api, dan itu adalah Gordials yang menggunakan kekuatannya untuk membakar gas dingin yang ada di dalam tubuh Tygruth. Aku sangat terkejut melihatnya, dan berjalan ke arahnya dengan tertatih-tatih, "Hei... apa yang kau lakukan, hei... ternyata kau sama saja dengannya" ucapku sambil memukul-mukul tubuh Gordials dengan lemah.
"Diam lah, aku tahu perasaan mu. Saat ini aku sedang mencoba untuk menyelamatkan temanmu" ucap Gordials yang membuatku merasa lega.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" ucapku dengan rapuh.
"Gernath... kemarilah" ucap seseorang dengan suaranya, dan hawa kehadirannya yang tidak asing bagiku. Jantungku berdegup dengan kencang begitu melihat arah suara itu, dia... dia adalah Mouri!. Bagaimana... bagaimana dia masih hidup, padahal jelas-jelas saat itu dia sudah mati!?. Kemudian aku segera menghampirinya yang sedang berbaring dengan lemas, dan seluruh tubuhnya yang pucat.
"Mo-mouri!? kau!? akhirnya kau masih hidup! huwaaaa! aku sangat takut... aku sangat takut" ucapku sambil menangis dengan keras di depannya.
"Hah!? wanita itu masih hidup?" ucap Gordials dalam batinnya yang terkejut.
"Mungkin... waktu ku hanya sebentar lagi, karena serangan yang pertama kali mengenai ku itu telah membuat jantungku robek. Tapi selama itu aku masih terus menahannya agar aku tak mati, untuk... mengatakan hal terakhir padamu" ucap Mouri yang memaksakan dirinya untuk tersenyum padaku.
"A-apa!? k-kau bercanda kan?" ucapku yang tidak mempercayai perkataannya kalau dia akan mati sebentar lagi. Kemudian Mouri menunjukkan wajahnya yang serius sambil tersenyum untuk membuatku percaya pada perkataannya. Kemudian aku membalas senyumannya dengan senyuman kesedihan.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini dari awal. Tapi sosok mu yang dulu begitu menyebalkan, haha mungkin kau masih sama menyebalkan seperti dulu sampai saat ini. Kau benar-benar selalu membuatku jengkel dengan sikapmu padaku saat itu... tapi... kau telah membuatku jatuh cinta padamu.
Sejak saat itu aku terus menyukaimu meski kau sudah memiliki kekasih. Aku benar-benar tak bisa melupakan mu, aku benar-benar tak bisa untuk melepaskan mu. Hatiku sangat sakit begitu mengetahui untuk pertama kalinya kalian adalah sepasang kekasih. Kalau saja aku mengatakannya lebih awal, apakah kau akan menerima ku.
Namun itu sepertinya tidak mungkin, karena kau menyukai perempuan yang baik hati, dan feminim. Bukan seperti ku wanita yang kasar, dan arogan. Aku sangat menyukai mu sampai saat ini, dan aku hanya bisa diam memendam perasaan ku.
__ADS_1
Semakin lama aku memendam perasaan ini, rasanya semakin sakit, dan sesak. Terkadang aku hanya bisa menangis pelan di setiap malamnya. Saat itu juga... aku pernah berpikir untuk mendorong jatuh Elysna ke dalam jurang yang terjal saat itu. Namun pikiran ku mulai berubah begitu melihat wajahnya yang tersenyum itu... dia selalu saja tersenyum kepada siapapun, dan itu membuatku berpikir kembali.
Maaf karena harus mendengarkan ocehan ku yang tidak berguna ini" ucap Mouri sambil meneteskan air matanya dengan halus.
"Tidak... aku sangat senang mendengarnya... dan sebenarnya... aku sudah mengetahui kalau kau menyukai ku saat kau memberitahukan hal itu pada Tygruth saat kita masih menetap di rumah kita bersama. Tapi... maaf, karena Elysna sudah merebut hatiku lebih dulu" ucapku yang merasa bersalah padanya.
"Jadi kau sudah tahu ya... jika kau mengatakan hal itu pada diriku yang masih sehat. Mungkin aku akan menghajar mu karena malu, tapi... saat ini aku sungguh bahagia" ucap Mouri yang tersenyum bahagia dengan air matanya yang terus keluar membasahi wajahnya. Kemudian tiba-tiba saja Mouri menutup matanya, dan itu membuatku sangat terkejut.
"Mouri! Mouri tidak!... ah!?" ucapku yang sangat khawatir padanya, tapi tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku dengan tangannya yang dingin itu. Kemudian dia tersenyum padaku dengan matanya yang tertutup, "Kalau seandainya kita dilahirkan kembali... apakah kau mau menjadi pasangan ku?" ucap Mouri dengan matanya yang tertutup.
Tanpa ragu aku langsung menjawab pertanyaannya. Karena ini adalah pertanyaan terakhirnya sebelum dia meninggalkan kami dari dunia yang kejam ini ke dunia yang lebih baik. Aku menjawabnya, "Iya! aku mau! aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik agar kau bisa hidup bahagia di sampingku" ucapku yang menggenggam tangannya dengan keras, dan menaruhnya di jidatku.
"Terima... kasih..." ucap Mouri, dan itu... adalah perkataan terakhirnya yang dikatakan padaku, "Ya... huwaaaa! huhu!" tangis ku dengan keras sambil terus menggenggam tangannya. Padahal sudah menangis sejak lama, tapi kenapa tangisan ku tidak pernah berhenti sampai saat ini.
Gordials yang mendengar pembicaraan kami yang sedang menghilang gas dingin pada tubuh Tygruth, dia menangis tanpa siapapun yang mengetahuinya. Kemudian Gordials mengusap air matanya, "Gernath... kini kondisi Tygruth sudah membaik, hanya saja jantungnya sangat lemah, dia memerlukan waktu untuk benar-benar pulih dengan sendirinya" ucap Gordials padaku.
"Terima kasih... huhu" ucapku yang masih menangis di hadapan Mouri.
"Jadi... saat ini hanya tinggal kita bertiga, Tygruth, Elysna... seperti saat pertemuan pertama kita. Apa kalian mengingatnya?" ucapku pada diriku sendiri sambil menatap langit dengan tatapan kosong.
"Hei... jangan lupakan aku, aku kan sudah bergabung dengan tim kalian" ucap Gordials yang berdiri di depanku menghalangi langit yang ku lihat, dengan senyumannya. Dia sepertinya sedang mencoba untuk menenangkan hatiku, terima kasih Gordials.
Kemudian setelah kami mengistirahatkan Elysna, dan Tygruth. Kami pergi menemui mayat Boa Boa yang lehernya remuk itu, dengan seluruh tubuhnya yang terluka parah. Aku di ajak Gordials untuk menyaksikan sesuatu, itulah yang dia katakan padaku sebelum menemui mayat Boa Boa.
"Apa yang kau lakukan dengannya?" ucapku pada Gordials yang sedang memeriksa kondisi tubuh Boa Boa. Tapi dia hanya tersenyum padaku saat aku bertanya begitu, sekali melihatnya pun aku sudah tahu dari ekspresi yang dia tunjukkan padaku, dan itu membuatku terkejut.
"Ti-tidak mungkin!? apa kau akan melakukan itu!?" ucapku yang terkejut.
"Ya... kau pikir hanya makhluk mitologi saja yang bisa melakukannya?" ucap Gordials yang tersenyum sinis padaku.
__ADS_1
"Tidak... jangan lakukan itu, sudah cukup... sudah cukup bagiku kau ada disini" ucapku yang mencoba menghentikan Gordials yang akan segera memberikan nyawanya untuk Boa Boa.
"Kau... sudahlah, anggap saja ini adalah sebagai bentuk untuk menebus dosa dosa yang sudah kulakukan pada bangsanya. Aku senang kau mengkhawatirkan ku, tapi dia lebih berhak untuk hidup" ucap Gordials kepadaku sambil tersenyum. Tapi kalau Gordials memang benar-benar ingin melakukannya... maka aku bisa apa, jadi aku merelakan dia demi keinginannya untuk menebus dosa.
Cring! kemudian tubuh mereka berdua mulai bercahaya, yang menandakan Gordials sedang memberikan nyawanya pada Boa Boa. Di akhir hidupnya Gordials tersenyum padaku sambil mengatakan terima kasih padaku. Setelahnya tubuh Boa Boa yang terluka parah itu, dan lehernya yang patah sudah pulih kembali menjadi seperti semula.
Kemudian bruk! Gordials terjatuh, dan di saat itulah dia sudah pergi meninggalkan kami. Di waktu yang bersamaan pula Boa Boa mulai membuka matanya, dan dia segera bangun sambil memegang kepalanya, "Aduh... apa yang baru saja terjadi... hah!? kenapa semuanya hancur berantakan!?" ucap Boa Boa yang baru saja di bangkitkan kembali dalam keadaan terkejut, tahu-tahu dunia sudah hancur begitu saja di matanya.
Kemudian Boa Boa langsung menggoyangkan tubuhku sambil berkata, "Sebenarnya apa yang terjadi disini selama aku tak sadarkan diri? kenapa kau menangis?" sebenarnya apa yang terjadi? dan siapa orang yang ada di sebelah ku ini?" ucap Boa Boa yang benar-benar dalam keadaan yang kebingungan.
"Kau... baru saja di bangkitkan kembali" ucapku yang kemudian aku menceritakan semua yang terjadi saat Boa Boa pingsan tanpa terlewatkan satu pun. Boa Boa sangat terkejut, dan sedih begitu mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dia benar-benar syok mendengarnya, dan sebelum kami menghampiri yang lainnya. Kami menguburkan, dan mendoakan Gordials terlebih dahulu, dan setelahnya kami pergi.
"Kau benar... aku benar-benar tak menduga hal seperti ini akan terjadi!?" ucap Boa Boa begitu melihat kondisi teman-temannya yang begitu buruk.
"Bantu aku menguburkan Mouri" ucapku yang sedang menggali tanah untuk pemakaman Mouri.
"Baiklah... lalu... apakah hanya kita berempat yang tersisa?" ucap Boa Boa yang ikut membantu ku mengurus pemakaman Mouri.
"Benar, hanya kita berempat saja... maaf" ucapku yang merasa bersalah karena aku terlalu lemah.
"Tidak, kau tidak salah mengapa harus minta maaf. Aku juga merasa bersalah, terlebih lagi untuk Vloid" ucap Boa Boa sambil menangis.
Namun begitu aku mengangkat tubuh Mouri untuk meletakkannya ke dalam tanah yang sudah ku gali, aku terkejut melihat sesuatu barang yang di tutup dengan kain di belakang tubuhnya. Tapi sebelum aku membuka barang apa itu, aku mengubur sia terlebih dahulu setelahnya membuka bungkusan itu.
Akhirnya kami telah selesai mengurus pemakaman Boa Boa, dan aku berniat untuk membuka bungkusan itu. Srak! begitu aku membuka bungkusan itu, lagi-lagi aku menangis, tapi karena terharu dengannya. Isi bungkusan barang itu adalah sebuah kaki palsu untuk Elysna yang kehilangan kaki kanannya.
"Terima kasih... Mouri" ucapku sambil tersenyum, dan memeluk barang pemberiannya dengan wajah yang senang. Mungkin... ini adalah akhir dari semua penderitaan kami, tapi ini hanya firasat ku saja. Semoga ke depannya kami tak merasakan penderitaan itu, tidak ingin yang kedua kalinya.
Aku sudah lelah dengan semua itu, penderitaan itu harus kami akhiri secepatnya, dan merubahnya menjadi kebahagiaan yang abadi di dunia yang kejam itu. Sekaligus menciptakan dunia yang damai, hari ini adalah akhir dari pertarungan mereka yang begitu berat. Namun... apakah selanjutnya, mereka harus berhadapan dengan musuh yang lebih kuat?.
__ADS_1
(Season 1, end)