
Suatu hari di tempat padang pasir yang tandus, yang hampir tidak ada kehidupan di sana. Terdapat orang-orang yang sangat kuat, mereka menyebut diri mereka sebagai, "Seven Knights Cry" mereka adalah orang-orang biadab yang haus darah. Mereka akan membunuh siapapun yang mereka lihat, tidak peduli siapapun itu mereka akan membunuh mu.
Mereka memiliki persenjataan yang sangat hebat, dan luar biasa. Entah dimana mereka menemukan senjata yang sangat hebat itu, atau mereka yang menciptakannya sendiri. Namun setelah sekian lama keberadaan mereka menghilang tanpa jejak. Tak ada yang tahu kemana mereka pergi, dan kenapa mereka membangun markas di padang pasir itu.
Namun jika ada seorangpun yang pergi ke markas mereka, tidak ada satupun yang kembali. Yang pasti mereka sudah di bunuh, entah siapapun itu, pasti ada yang melakukannya. Karena kejadian itu terus terulang, maka tidak ada lagi yang berani datang ke padang pasir itu. Karena hal itu juga padang pasir itu di beri julukan, "Death Sand".
"Tunggu sebentar, dari mana kau tahu soal itu?" ucapku yang sedari tadi mendengar Tygruth yang berbicara sendirian.
"Kau ingin tahu dari mana? sebelum aku pergi aku mengambil beberapa buku yang menurutku menarik dari perpustakaan" ucap Tygruth.
"Apa!? kau mencuri barang yang bukan milikmu!" ucapku.
"Anggap saja ini adalah bayaran kita" ucap Tygruth yang tak mempedulikannya.
"Bayaran kita katamu? sepertinya hanya kau saja yang menginginkan buku itu" ucapku.
"Sudahlah aku ingin melanjutkan ceritanya"7 ucap Tygruth yang memulai kembali membaca buku yang sedang dia pegang.
Dari pada aku tak melakukan apapun lebih baik aku mendengarkan Tygruth yang sedang membaca buku ini. Sementara itu yang lainnya sedang berlatih, dan saling menunjukkan kekuatan mereka. Sebenarnya aku ingin bergabung, sampai akhirnya Vloid tetap bersikap menyebalkan padaku.
Kukira saat itu dia sudah benar-benar berubah, tapi ternyata dia masih tetap menyebalkan. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Elysna selalu membela dia, dengan alasan dia masih anak-anak. Aku ingin sekali segera pergi dari desa ini, dengan begitu bocah sialan itu tidak akan menggangu ku lagi.
Sementara itu di luar, "Hei Vloid, apa kau bisa mengumpulkan seluruh penduduk desa? ada yang ingin ku katakan pada mereka" ucap Elysna yang merencanakan sesuatu. Lalu dengan semangat Vloid segera menemui seluruh penduduk desanya. Sehingga akhirnya seluruh penduduk desa pun berkumpul dengan cepat.
"Ada apa nona Elysna?" ucap mereka dengan sopan, karena kami sudah di anggap sebagai pahlawan disini.
__ADS_1
"Aku ingin mengusulkan kepada kalian semua, tentang tempat tinggal untuk kalian. Bagaimana jika kalian tinggal di desaku saja" ucap Elysna yang membuat para penduduk desa bingung. Karena seperti seluruh penduduk desa tak ingin meninggalkan tanah air mereka.
"Tapi kenapa nona menginginkan kami tinggal di desa itu? bahkan kami tak mengenal mereka. Lalu karena kami berbeda dengan kalian, bagaimana jika kami akan di serang" ucap penduduk desa yang merasa resah. Namun dengan senang hati Elysna menjelaskannya dengan baik agar para penduduk desa tak perlu khawatir dengan tempat yang akan mereka tinggali nantinya.
"Kalian tak perlu khawatir, kami menginginkan kalian semua berada di tempat yang aman. Tempat ini pun sudah cukup rusak, tanah yang terkena cairan itu sudah tak layak di tempati. Lalu kalian tak perlu khawatir jika di serang, kalian hanya perlu memberikan surat ini saja" ucap Elysna sambil memberikan sebuah surat.
Kemudian salah satu penduduk desa menerima nya, "Surat apa ini?" tanya mereka.
"Ini adalah surat yang ku tulis mengenai informasi kalian. Surat ini sudah kami tanda tangani dengan kekuatan kami, jadi kalian hanya perlu memberikan surat ini kepada seorang penjaga disana" ucap Elysna, yang kemudian pada akhirnya para penduduk desa Vampir menurut dengan ucapan Elysna.
Sepertinya Elysna memiliki kemampuan bersosialisasi yang sangat baik dengan seseorang. Mungkin sejak dia mulai menjadi temanku, karena sebelumnya dia terlihat sangat membenci bangsa lainnya. Seperti saat pertemuan pertama kami dengannya, dia menatap kami dengan remeh.
Namun karena aku menceritakan tujuan ku kepadanya untuk menciptakan perdamaian dunia. Dan karena kebetulan juga dia menginginkan hal yang sama seperti kami. Dia menjadi orang sangat berbeda dengan sebelumnya, dia sangat ramah, dan bersifat keibuan.
"Karena sepertinya desa kami para Elf, dan Leonis sudah menjadi satu. Tanda tangan yang menggunakan kekuatan sihir kami, itu akan menjadi tanda kalau kami yang telah menyuruh kalian tinggal di sana. Kemudian aku sudah membuatkan peta di surat ini" ucap Elysna.
Karena perkataan Elysna yang menurut mereka benar, karena saat ini desa mereka memang benar-benar tidak layak untuk di tinggali karena masih tersisa bekas-bekas monster yang tak bisa dihilangkan. Udara disini pun sepertinya tidak sehat, dan sepertinya kalau mereka tetap bersikeras tinggal disisi sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Yang pastinya sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka.
Kemudian para Vampir kembali ke rumah mereka untuk menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pergi dari sini. Tapi karena usulan yang diberikan Elysna kepada seluruh bangsa Vampir membuat Vloid terlihat sedih. Karena Vloid berpikir kalau ini adalah sebuah perpisahan, dan itulah yang membuat Vloid sedih. Namun... sementara itu aku... sangat bahagia karena akhirnya bocah sialan itu akan pergi dari kehidupan ku, hahaha!.
"Kakak, apa kalian akan pergi meninggalkanku?" tanya Vloid yang muram.
"Eh!? kenapa tiba-tiba kau memanggilku dengan sebutan kakak?" ucap Elysna yang terkejut karena selama ini Vloid memanggil kami dengan namanya. Dan karena di panggil kakak, Elysna jadi merasa kalau Elysna benar-benar memiliki seorang adik laki-laki, karena itu sepertinya adalah hal yang diinginkan oleh Elysna yang merupakan anak tunggal.
"Jawab pertanyaan ku kak" ucap Vloid yang merasa kalau pembicaraannya sedang di alihkan. Kemudian Elysna terdiam sejenak, "Maaf ya, karena kami akan terus pergi menjelajahi dunia ini" ucap Elysna yang sebenarnya tak ingin berpisah dengan Vloid.
__ADS_1
"Kalau kalian tak ingin berpisah, lebih baik Vloid bergabung dengan kami" ucap Tygruth yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka bersama dengan Mouri, "Ya itu benar, lebih baik Vloid ikut bersama kami" ucap Mouri, dan wajah Vloid pun kembali senang.
Namun Elysna menentangnya, "Tidak boleh, Vloid masih kecil, dan jika dia ikut bersama kita akan sangat berbahaya untuknya" ucap Elysna, dan perkataannya membuat Vloid kembali bersedih. Aku yang dari jauh mendengarkan pembicaraan mereka, membuatku ingin bergabung ke pembicaraan itu.
Sebenarnya aku sangat tak menyukai bocah itu karena terus mengganggu waktu ku untuk berduaan bersama dengan Elysna selama ini. Tapi aku tak tega melihat bocah suram itu sedih, karena aku sangat memahami betul tentang anak itu. Yang padahal dia baru saja menemukan cahaya dalam hidupnya, dan kini cahaya itu berkata akan pergi meninggalkannya.
Pasti itu akan terasa menyakitkan, dan pahit. Kemudian karena cahaya dalam hidupnya itu pergi, kemungkinan besar dia akan hilang harapan, dan menjadi sosok yang suram, atau mungkin dia bisa berjalan di jalan yang salah. Entah mengapa aku sangat memahami penderitaan orang lain, sementara aku tak dapat memahami hal yang membuat orang lain bahagia.
"Hei bocah! ah tidak... maksudku Vloid! apa kau ingin ikut bersama kami!" ucapku yang baru saja tiba di antara mereka.
"Tentu saja... aku ingin ikut bersama kalian, kecuali kau" ucap Vloid yang membuatku kesal, tapi aku harus menahannya demi perasaan bocah ini.
"Kalau begitu kau boleh ikut bersama kami!" ucapku, yang kemudian Elysna menyela pembicaraan ku, "Tidak boleh, Vloid bisa dalam bahaya jika ikut bersama kita, Gernath" ucap Elysna yang terus menyangkalnya. Namun aku tak mempedulikan perkataan Elysna, saat ini aku hanya sedang memikirkan perasaan bocah suram itu.
"Kalau itu sudah menjadi keinginannya, maka apa yang bisa kita lakukan, dan sepertinya dia cukup tangguh untuk seorang bocah sepertinya" ucapku sambil tersenyum.
"Tapi... bagaimana dengan perasaan penduduk desa, jika tahu tuan muda mereka akan pergi meninggalkannya?" ucap Elysna. Kemudian para penduduk desa yang mendengar pembicaraan itu malah mendukung keinginan Vloid., "Kalau itu yang di inginkan tuan muda, maka tak ada yang bisa kami lakukan selain menerimanya. Lagi pula kami sudah merasa bersalah karena membiarkan orang tuanya mati.
Anggap saja ini sebagai permintaan maaf kami dengan membiarkan tuan muda ikut pergi bersama kalian" ucap mereka yang sudah siap dengan kepergian tuan muda mereka. Vloid merasa amat senang karena banyak yang mendukungnya, terutama dengan para penduduk desa mereka.
"Baiklah kalau begitu... kau boleh ikut bersama kami, Vloid" ucap Elysna. Kemudian Vloid sangat senang sekali, dan matanya berbinar-binar saking senangnya.
"Hei bocah... selamat bergabung di The Power of Peace" ucapku sambil memberikan kepalan tanganku yang sebagai salam karena sudah bergabung dengan tim kami. Kemudian Vloid menerima salam itu, "Terima kasih" ucap Vloid yang kini ucapan itu berasal dari mulutnya sendiri. Aku sangat senang karena akhirnya dia bisa mengatakannya dengan benar.
Tapi apa dengan begini hubungan kami akan menjadi baik untuk ke depannya?. ah aku tidak tahu, lebih baik lihat saja nanti, mungkin saja dia akan terus bersikap menyebalkan padaku. Karena itu sudah menjadi ciri khas Vloid bagiku, tak seperti seseorang yang ku kenal, yang sikapnya terus berubah.
__ADS_1