Artificial God

Artificial God
Angin Yang Melebihi Batas


__ADS_3

Hari itu pun berlalu, dan kami terus melanjutkan perjalanan kami. Karena ada sungai di dekat rumah kami, kami memutuskan untuk menelusuri sungai itu, dan kemana sungai itu membawa kami pergi. Mouri segera membuat perahu yang cukup besar untuk menampung lima orang.


Tentang ikan yang sangat banyak sampai memenuhi rumah yang di buat oleh Mouri. Aku menggunakan kekuatan ku yang ku sebut sebagai sub ruang yang digunakan sebagai menyimpan sesuatu tanpa batas dalam bentuk apapun. Tapi sepertinya kekuatan ini memiliki efek samping, entah kenapa punggung ku terasa berat, sialan!.


Tapi meski begitu aku tetap membawa ikan-ikan yang matang itu. Hari ini pun cerah seperti biasanya, tapi aku tak bisa menikmati teh hangat seperti biasanya. Karena saat ini sedang di suruh untuk mendayung perahu ini, bersama dengan Tygruth. Padahal kami tak perlu susah-susah mendayung perahu ini, karena kami memiliki kekuatan untuk mempercepat tranportasi.


Tapi iblis kecil itu, Mouri memaksa kami melakukannya dengan beralasan untuk menikmati indahnya alam. Memang dia itu siapa!? argh, pokoknya sangat menyebalkan sekali. Tapi entah kenapa ada yang aneh dengan Tygruth, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Hei Tygruth, apa yang sedang kau lakukan?" ucapku yang melihat Tygruth sedang menutupi sesuatu dari kami.


"Eh!? ti-tidak ada... aku hanya sedang menikmati indahnya alam ini haha" ucap Tygruth yang terlihat


Kemudian aku segera berak melihat apa yang dia sembunyikan, dan..., "K-kau... berani-beraninya mengkhianati ku yang terus menggunakan tenagaku untuk mendayung. Sementara kau sedari tadi menggunakan kekuatan mu untuk mengendalikan dayung itu" ucapku yang kesal.


"Hehe... itu kan salahmu sendiri karena tak memiliki kekuatan seperti ku" sindir Tygruth.


"Apa katamu? lihat ini! aku bisa mendayung perahu ini dengan sangat cepat! Blowing The Wind!" ucapku yang menggunakan kekuatan ku untuk mempercepat pergerakan perahu ini. Seketika semuanya terkejut karena perahunya berlabuh dengan sangat kencang. Kemudian Tygruth tak mau kalah dariku, dia ikut menggunakan kekuatannya untuk mempercepat pergerakan perahu ini juga.


Tygruth mengendalikan angin untuk mendorong kapal. Sehingga akhirnya perahu ini bergerak sangat cepat sekali hingga pepohonan di samping sungai terdorong dengan kencang. Begitu juga dengan air sungai yang di lalui perahu kami berserakan. Aku, dan Tygruth terus meningkatkan kekuatan kami, karena kami tak ingin kalah.


Perahunya pun melaju semakin cepat, hingga akhirnya perahu itu mulai mengangkat di udara, dan terbang dengan kecepatan tinggi. Sementara itu aku, dan Tygruth terus menggunakan kekuatan kami tanpa peduli dengan keadaan sekitar.


"Hei! hentikan! perahunya terbang!" teriak Mouri yang sepertinya takut dengan ketinggian.


"Mungkinkah ini yang disebut sebagai kapal terbang? atau perahu terbang?" gumam Vloid.


"Tapi, lihat pemandangan dari atas sungguh indah. Lebih indah dari saat kita berada di sungai, melihat dunia ini dari atas terasa lebih nikmat" ucap Elysna yang matanya berbinar-binar.


"Tapi bagaimana ini! sepertinya mereka berdua saat ini tidak bisa dikendalikan. Mereka tak mempedulikan keadaan sekitar, mereka terus bersaing seperti itu!" ucap Mouri yang masih merasa ketakutan.


"Kau tak perlu takut Mouri, lihat! disana ada sekumpulan sapi!" ucap Elysna yang berusaha membuat Mouri mengatasi rasa takutnya. Kemudian Mouri memaksakan dirinya untuk melihat sekumpulan sapi itu dari atas demi Elysna. Begitu Mouri membuka matanya, dia terlihat sangat takjub dengan keindahan dunia dari atas sini.


"Kau benar, tak ada yang perlu ditakutkan. Ini sangat menyenangkan, dan dunia terlihat lebih indah dari atas sini!" ucap Mouri yang kini kegirangan.


"Sapi! sapi! sapi! sapi! sapi!" ucap Vloid yang sepertinya menginginkan daging sapi itu sampai air liurnya keluar dari mulutnya tanpa sadar. Apa lagi sapi-sapi itu terlihat sangat banyak sekali, dan entah kenapa kami menjadi lapar begitu melihat sapi-sapi itu. Sementara itu dua orang gila ini masih terus bersaing dengan kekuatan mereka.

__ADS_1


"Aku tak akan kalah!" ucapku yang terus berteriak, yang sebenarnya tidak mempengaruhi kekuatan yang dikeluarkan, "Aku juga! aku tidak akan kalah dari orang seperti mu!" teriak Tygruth yang terus mengendalikan angin. Namun karena perahunya melaju terlalu cepat, akhirnya mereka yang menginginkan sapi-sapi itu pun harus merelakannya.


Karena dua orang gila ini benar-benar tidak bisa dikendalikan saat ini. Padahal semuanya sudah berusaha untuk memberitahu mereka sampai menghajar sampai bonyok sekali pun sepertinya mereka benar-benar tidak sadar. Hingga akhirnya malam hari pun tiba mereka tetap melakukannya sampai saat ini.


"Menyerah lah Gernath!" ucap Tygruth.


"Tidak akan! aku tidak akan pernah menyerah!" ucapku.


"Baiklah kalau begitu aku... eh!? kita sedang berada dimana ini?" ucap Tygruth yang akhirnya sadar pada lingkungan sekitar. Sementara itu semuanya sedang tertidur dengan pulas karena sedari tadi mencoba menyadarkan kami, sampai mereka kelelahan.


"Benar juga!? dimana airnya? dan pepohonan yang rimbun itu!?" ucapku yang ikut sadar. Kemudian karena kami berdua kebingungan karena tidak tahu saat ini sedang berada di mana, dan hanya ada bintang-bintang di langit yang sepertinya sudah malam. Kami pun membangunkan yang lainnya yang sedang tertidur pulas itu.


Setelah itu akhirnya mereka semua terbangun, "Ada apa ini? ah... aku tahu, akhirnya kalian sudah sadar juga" ucap Mouri yang merasa lega.


"Tak ku sangka cepat sekali sudah tengah malam" ucap Vloid.


"Sebenarnya saat ini kita sedang berada dimana? kenapa tidak ada air disini, dan pepohonan?" ucapku.


"Tentu saja kita sedang di udara, karena kalian menggunakan kekuatan anginnya terlalu kuat hingga akhirnya perahu ini pun terbang di udara" ucap Elysna.


Tidak... bukan hanya Tygruth yang tubuhnya terlihat pucat, akan tetapi semuanya bertubuh pucat. Umm... kalau Vloid sepertinya memang begitu, dan anehnya di atas sini terasa sangat dingin sekali, sampai akhirnya kami sesak nafas. Sebenarnya apa yang terjadi!? apa ada seseorang yang sedang menyerang kami?.


"Benar... sepertinya disekitar sini ada seseorang yang sedang menyerang kita. Buktinya adalah batu besar tadi, dan pengaruh aneh yang terjadi pada kita saat ini" ucapku yang nafasnya sesak.


"Lalu apa yang harus kita lakukan!? dimana orang yang menyerang kita itu!. Sepertinya dia sangat kuat sekali sampai memiliki kekuatan untuk melemahkan lawannya dengan area tertentu" ucap Tygruth. Kami tak tahu dimana orang yang menyerang kami. Elysna tak bisa menggunakan kekuatannya untuk menerawang dimana organ yang menyerang kami karena sedang berada di udara.


Sial! kalau begini terus kami bisa mati, rasanya semakin sesak saja, "Tidak! aku tidak ingin mati! aku masih belum bisa mengalahkan Tygruth!" ucapku yang putus asa. Plak! pukul Tygruth, "Dasar bodoh! bukan saatnya memikirkan yang seperti itu" ucap Tygruth.


"Benar, lihat saja Vloid masih berusaha tenang disana" ucap Mouri yang menunjuk Vloid yang sedang di ujung perahu yang sepertinya sedang melihat sesuatu.


"Hei... benda bulat apa itu!? kenapa besar sekali?. Di sana juga ada benda bulat lainnya..., dan yang warna oran itu... adalah yang paling besar di antara yang lainnya" ucap Vloid. Kemudian kami semua segera pergi menghampiri Vloid. Tapi sepertinya kekuatan seseorang yang sedang menyerang kami bukan hanya menyebabkan sesak nafas, dan dingin seperti ini, tapi juga membuat gravitasi yang disekitar kami menghilang.


"Apa ini!? kenapa kita melayang? sepertinya kita benar-benar sudah mati!" ucapku yang terkejut.


"Tutup mulutmu dasar bodoh, gunakan kekuatan mu untuk menarik gravitasi" ucap Mouri yang kemudian aku menggunakan kekuatan ku yang dapat mengendalikan gravitasi. Aku membuat gravitasi seperti di bumi ke perahu ini, yang membuatnya menarik kami ke perahu seperti bumi yang menarik benda di bumi kembali ke bumi itu sendiri.

__ADS_1


Kemudian kami terkejut begitu melihat apa yang Vloid lihat, "Hei bung, sepertinya kita salah paham dengan seseorang yang menyerang kita" ucap Tygruth dengan datar.


"Kau benar" ucap Elysna yang kemudian tumbang, "Tidak! jangan tinggalkan aku Elysna! sial kalau begitu tidak ada cara lain" ucapku sambil mengeluarkan pedangnya untuk menebas kepalaku sendiri. Kemudian Elysna menahan ku yang ingin menebas kepalaku, "Jangan lakukan hal itu dasar bodoh, dan aku belum mati" ucap Elysna yang terlihat lemah.


Kemudian mereka semua menatapku dengan serius, "Gernath... saat ini hanya kau yang bisa menyelamatkan kami" ucap Tygruth yang terlihat putus asa, "Kami percayakan semuanya padamu, Gernath" ucap Mouri yang kemudian mereka semua tergeletak di perahu dalam keadaan sekarat.


Kemudian aku meneteskan air mataku, dan mengepalkan tanganku, "Baiklah... aku akan melakukan yang terbaik... Blowing The Wind!" ucapku dengan keras. Kemudian angin yang sangat besar keluar dari lingkaran sihir milikku yang tak seperti biasanya yang membuat perahu ini terdorong begitu kuat.


Aku tak tahu apakah ini adalah akhir dari kami para The Power of Peace atau tidak. Saat ini aku sudah melakukan yang terbaik untuk semuanya, tapi aku masih ragu dengan apa yang kulakukan. Apakah yang kulakukan saat ini benar-benar yang terbaik untuk semuanya? aku merasa resah begitu semuanya menaruh harapan besar padaku yang bergantung pada nyawa orang lain.


Kalau aku tak bisa memenuhi keinginan mereka, maka aku gagal sebagai orang yang diharapkan. Lagi pula sejak awal, aku memang bukan orang yang dapat diharapkan. Tapi... saat ini orang-orang yang berharga bagiku sedang mengharapkan sesuatu yang besar pada diriku. Maka dari itu, aku tidak akan membuat mereka kecewa, dan membuat semua harapan mereka menjadi kenyataan.


Tapi... apakah aku bisa melakukannya?


Kemudian seseorang berbicara padaku di kegelapan mataku yang sedang tertutup. Dia mengatakan kalau aku bisa melakukannya, dan dia menyemangati kalau aku adalah orang yang terpilih oleh dewa. Dia terus mengatakan hal-hal yang baik padaku, dan membuatku terus melakukan yang terbaik.


"Hentikan itu Tygruth" ucap Mouri.


"Haha! tapi ini menyenangkan" ucap Tygruth yang mencoba masuk kedalam mimpiku yang sedang pingsan melalui ucapannya. Ya benar, orang yang mengatakan dalam mimpi itu adalah Tygruth, karena dia mengatakannya padaku yang sedang tak sadarkan diri membuat semua yang dia katakan ikut masuk ke dalam mimpiku.


Kemudian akhirnya aku sadarkan diri, nafas yang sesak, "Hei hei hei, kita sudah ada di bumi, kenapa nafas mu masih seperti itu" ucap Tygruth yang sedang menahan tawa.


"Sialan kau Tygruth! jangan seenaknya masuk kedalam mimpiku!" ucapku dengan kesal.


"Gernath... terima kasih, berkatmu kami semua selamat dari kematian" ucap Elysna dengan lembut seperti biasanya.


"Aku juga ingin berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan kami. Mungkin kalau tidak ada kau kita akan mati, ah tidak! sejak awal kalian berdua yang membuat kami hampir mati! dasar bodoh! huh... biar begitu, terima kasih Gernath" ucap Mouri.


"Kakak, terima kasih karena telah menyelamatkan ku, dan yang lainnya. Dan terima kasih untuk cerita yang saat itu" ucap Vloid yang terlihat malu-malu.


"Aku juga kawan, terima kasih... tapi biar begitu kau masih belum bisa mengalahkan ku" sindir Tygruth yang sepertinya tidak berniat untuk berterima kasih padaku, "A-apa!? dasar sialan kemari kau! hahaha!" ucapku yang mengejar Tygruth yang melarikan diri.


Yah... begitulah akhir dari ancaman yang membuat kami hampir mati. Mereka semua berterima kasih padaku dengan tulus, dan akhirnya aku sangat senang karena harapan yang mereka taruh padaku sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Yang tadi itu memang benar-benar gila sekali, aku tak menyangka kalau kami ada disana.


Dan syukurlah akhirnya kami semua selamat, dan The Power of Peace tidak akan pernah tumbang sampai tujuan kami terselesaikan dengan baik!. Dan yang tadi itu sebenarnya bukan malam hari yang membuat dunia gelap, akan tetapi saat itu kami sedang berada di luar angkasa.

__ADS_1


__ADS_2