
Esok harinya aku terbangun dengan pulas, karena kemarin seharian telah beraktivitas di tempat yang tidak ku sukai, yaitu perpustakaan. Meskipun aku tidak tahu apakah itu bisa di bilang suatu aktivitas atau bukan. Karena rasanya aku tak melakukan apapun kemarin selain bersantai-santai di taman sambil menyantap es krim sebanyak delapan kali.
"Loh? tumben sekali Tygruth tidak ada di kamarnya. Padahal setiap aku bangun pagi dia masih berada di kamarnya sambil membaca buku" pikirku setelah melihat Tygruth tidak ada di kasur tidur nya. Kemudian aku berjalan keluar kamar untuk bertanya kepada Boa Boa kemana Tygruth pergi.
"Tadi pagi Tygruth pergi kembali ke perpustakaan dengan membawa buku yang dia pinjam kemarin. Matanya terlihat kacau, begitu juga dengan penampilan nya" ucap Boa Boa yang sedang memasak sesuatu di dapur, dan Yuki sedang menemani Boa Boa sambil membaca buku di meja makan.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Boa Boa tentang Tygruth. Aku benar-benar terkejut, dan langsung berpikir kalau Tygruth tidak tidur semalaman sampai dia selesai membaca semua buku yang dia pinjam kemarin. Dasar anak bodoh, kenapa dia begitu tertarik sekali dengan buku-buku sialan itu. Sepertinya aku harus membakar perpustakaan, dan seluruh buku di dunia ini agar Tygruth tidak menjadi gila.
"Hei Gernath kau mau pergi kemana terburu-buru begitu?" ucap Elysna yang baru saja turun dari tangga setelah melihat ku sedang terburu-buru keluar dari tavern.
"Tanyakan saja lebih lengkapnya kepada Boa Boa" ucapku yang segera pergi setelahnya, dan berlari menyusul Tygruth di perpustakaan.
"Umm... Boa Boa... jadi apa yang dilakukan Gernath?" ucap Elysna yang terlihat di matanya tampak tak memiliki secercah harapan.
"Ah... a-aku tidak tahu..." ucap Boa Boa yang sepertinya perkataan ini sudah di duga akan keluar dari mulut Boa Boa bagi Elysna.
"Kak Elysna, dan kakak Boa Boa Yuki mau pergi sebentar bermain bersama teman-teman ya" ucap Boa Boa yang segera meletakkan buku bacaan nya di atas meja, dan segera turun dari kursi tempat duduknya.
"Eh!? memangnya kau punya teman?" ucap Boa Boa yang kebingungan karena selama ini tidak pernah melihat Yuki bermain keluar bersama dengan teman-temannya. Lalu Yuki menjawab dengan singkat kalau dia memiliki teman, dan segera pergi dengan terburu-buru. Yang sepertinya Yuki sudah tidak sabar untuk bermain bersama dengan teman-temannya.
Sementara itu di kerajaan... Yang mulia Gluthoma memerintahkan kepada para bawahannya, yakni para ksatria agung kerajaan yang di percayai oleh raja Zotheas yang saat ini pergi menjalankan tugas entah kemana. Gluthoma memerintahkan Zion untuk menyelidiki seseorang yang dia anggap sebagai ancaman bagi dirinya.
"Hamba telah datang di hadapan anda yang mulia..." ucap Zion yang bersikap dengan hormat layaknya seorang ksatria agung kerajaan. Mulai dari sikapnya, cara berbicaranya, sorot matanya, semuanya di sukai oleh yang mulia Gluthoma.
__ADS_1
"Pergi selidiki orang ini..." ucap Gluthoma yang memberikan gambaran tentang orang itu dengan menggunakan kekuatan nya yang seperti hologram.
"Makhluk itu... dari bangsa yang sama dengan ku!?" Gumam Zion yang terlihat terkejut karena baru pertama kali dia melihat ada seseorang dari bangsa yang sama datang ke kerajaan ini.
"Dan juga... selidiki juga orang-orang yang berhubungan dekat dengannya" ucap glutera yang terlihat sangat serius memberikan arahan kepada Zion.
"Baiklah yang mulia... namun sebelum itu ada yang membuat hamba berpikir..." ucap Zion yang menunggu ucapan yang mulia.
"Apa itu? wahai ksatria agungku, Zion...?" ucap Gluthoma yang berdiri dari singgasana nya.
"Apa tujuan anda yang mulia untuk menyelidiki mereka" Ucap Zion sambil menundukkan kepalanya, dan memejamkan matanya.
"Aku... tidak tahu..." ucap yang mulia Gluthoma yang membuat hati Zion tergerak, dan menuruti perintahnya dengan segenap jiwa.
"Baiklah kalau begitu yang mulia, hamba undur diri dari sini" ucap Zion yang segera pergi untuk menjalankan tugasnya yg diberikan kepadanya. Namun saat ia keluar dari kediaman raja, Bane sangat ksatria agung yang memegang perlengkapan zirah lengan kiri dari makhluk mitologi Cerberus sudah menunggu kedatangan Zion sambil bersender di dinding.
"Aku tidak bisa menceritakan nya kepadamu, dan dia bukanlah bocah sialan. Dia adalah raja kita..." ucap Zion yang acuh, dan segera pergi meninggalkan Bane. Mendengar ucapan itu Bane marah, dan mengehentikan Zion pergi dengan memegang pundaknya.
"Hei... dasar makhluk rendahan... kau benar-benar membuatku marah" ucap Bane yang sudah tidak tahan lagi melihat Zion. Karena Bane selama ini selalu menganggap remeh Zion, dan menganggapnya lemah sehingga makhluk sepertinya tidak pantas berada di status yang sama.
"Hei... lepaskan tangan kotor mu itu!" ucap Zion yang menatap Bane dengan tajam, dengan sorot matanya yang ingin membunuh. Wajahnya terlihat murka, dan secara refleks Bane melepaskan genggaman tangannya yang dia taruh di pundak Zion. Setelahnya Zion pergi meninggalkan Bane, dan melakukan tugasnya. Setelah Zion pergi, Thoma datang ke hadapan Zion setelah melihat apa yang terjadi pada mereka.
"Hahaha! apa kau takut pada kucing kecil itu?" ucap Thoma yang merupakan makhluk mitologi Minotaur sang pemilik zirah bagian kaki kanan.
__ADS_1
"Diam kau brengsek!" ucap Bane dengan perasaan kesal, dan meninggalkan Minotaur.
Sementara itu aku yang saat itu sedang pergi tergesa-gesa ke perpustakaan untuk menemui Tygruth. Aku malah bertemu dengan seorang anak kecil yang terlihat tak berdaya di pinggir jalan. Tak ada yang mempedulikannya meski dia sangat menarik perhatian. Aku pun datang menghampiri anak kecil itu, dan membawa ke suatu tempat untuk membelikannya makanan, dan minuman.
"Apa kau masih lapar?" ucapku kepada anak kecil yang ku pungut di jalan yang sedang menyantap makanan yang ku berikan. Kemudian anak kecil itu menjawab pertanyaan ku dengan mengangguk, setelahnya aku pergi membelikan makanan untuknya lagi, dan kembali.
"Kenapa... kau baik sekali padaku? sementara... tidak ada seorangpun yang mempedulikan ku di luar sana" ucap anak kecil itu dengan pakaiannya yang lusuh, dan penampilan nya yang acak-acakan. Aku merasa kasihan melihat seorang anak kecil laki-laki yang menderita seperti itu. Karena melihat penderitaan orang lain sama saja seperti melihat diriku yang menderita.
"Karena aku adalah pahlawan mu" ucapku sambil memberikan senyuman kepadanya untuk memberikan semangat hidup yang telah hilang pada jiwa anak kecil itu.
"Kalau begitu... aksi pahlawan mu cukup sampai sini saja" ucap anak kecil itu yang terlihat dalam sekejap memberikan senyuman yang rapuh padaku.
"Hah!? ke-kenapa begitu?" ucapku yang kebingungan mendengar perkataannya yang tidak masuk akal.
"Aku tidak ingin kau memberikan hatimu padaku. Aku tidak ingin kau memiliki hubungan dengan ku. Aku tak ingin kau merasakan nya lebih lama lagi" ucap anak kecil itu dengan perkataannya yang membuatku bingung.
"Kau ini bicara apa? apakah perkataan ku sebelumnya membuat mu tidak enak? kalau begitu aku minta maaf" ucapku yang entah kenapa aku merasa bersalah padanya.
"Tidak... kata-kata itu sudah lebih dari cukup untukku... jadi jangan terlibat terlalu dalam hanya kepada orang sepertiku" ucap anak kecil itu yang sepertinya sedang menahan sesuatu yang ingin di bicarakan nya.
Aku benar-benar tak mengerti apa yang dia katakan, dan apa yang dia pikirkan. Tapi melihat tatapan matanya yang terlihat bahagia saat bertemu dengan ku itu... terlihat nyata. Aku bisa merasakan perasaan bahagia itu, tapi aku masih belum bisa merasakan hati kecilnya yang resah entah karena apa.
"Apa kamu... bisa melihat masa depan?" ucapku yang saat itu hanya itu yang bisa ku pikirkan setelah menyimpulkan dari semua yang kurasakan saat ini pada anak itu. Karena dia selalu terlihat resah, hatinya terus merasa resah meski dia merasakan rasa bahagia. Dia selalu resah, dan merasa takut terhadap apa yang dia lihat.
__ADS_1
Namun saat aku berbicara seperti itu dia terdiam, dan terkejut. Sampai pada akhirnya dia mengatakan sesuatu padaku untuk waktu yang singkat, "Ya... aku melihat... kematian" ucap anak kecil itu yang kemudian pergi dari pandangan ku. Setelah mendengar perkataan anak kecil itu aku hanya bisa terdiam membeku, hatiku juga ikut merasa resah.
Sangat resah sekali sampai nafasku menjadi sesak, aku kehilangan fokus ku kepada anak kecil itu, dan anak kecil itu sudah pergi entah kemana menghilang dari jangkauan ku. Keringat langsung bercucuran di sekujur tubuhku, rasa sesak ini kembali terasa. Mendengar kata kematian saja sudah membuatku seperti ini. Karena aku selalu teringat orang-orang yang ku sayang pergi, itulah mengapa aku merasa resah, dan takut saat ini.