Artificial God

Artificial God
Belajar Kekuatan Sihir


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu dengan cepat, kami sudah mahir untuk menguasai aliran energi di tubuh kami. Mata guru kami berbinar-binar seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dari kami. Guru kami mengatakan kalau kami adalah Leonis yang tercepat untuk dapat menguasai aliran energi kami sepenuhnya.


Bisa di bilang kami adalah orang yang berbakat, karena kami dapat mengontrol aliran energi yang ada di tubuh kami. Tinggal hanya itu saja, karena kami dapat mengontrol energi kami dengan baik, otomatis pelatihan seni bela diri yang di ajarkan guru berkembang dengan pesat. Lalu sudah waktunya kami mulai menggunakan kekuatan kami dari energi yang kami miliki, meski kami masih tidak tahu kekuatan apa yang akan muncul nantinya.


"Baiklah... sudah waktunya untukku mengajarkan kalian kekuatan sihir. Dan, apa kalian tahu kenapa kalian dapat mengontrol energi kalian sepenuhnya dalam waktu yang singkat?" tanya guru kami.


"Kami tidak tahu pak guru Mouberg!" jawab kami serentak dengan lantang, yang sedang duduk di atas batu besar.


"Baiklah karena kalian tidak tahu biarkan saya menjelaskannya. Alasan kenapa kalian bisa dengan mudah mengontrol aliran energi kalian karena kalian memiliki tekad yang kuat, dan kalian sangat bersemangat mempelajari apa yang ku ajari saat ini.


Itulah yang membuat kalian dapat dengan cepat mempelajarinya. Karena energi itu tergantung terhadap penggunanya, kalau pengguna itu memiliki emosi yang besar, maka energi itu... akan... menjadi semakin kuat" ucap guru kami yang tiba-tiba di akhir pembicaraannya menjadi berat. Entah kenapa kami yang melihatnya kami memiliki rasa empati terhadapnya meski kami masih belum tahu apa-apa tentang dirinya.


"Kalau begitu kami bisa menjadi lebih kuat dengan cepat kan! dengan begitu kami akan melampaui guru!" teriakku dengan semangat yang mencoba untuk mengalihkan suasana yang sedikit canggung ini.


"Ya itu benar, akan tetapi aku akan menjadi yang terkuat di antara kita bertiga" ucap Tygruth dengan percaya diri.


"Jangan terlalu banyak tingkah, kita tak akan tahu makhluk seperti apa yang akan kita hadapi saat berpergian nanti..." ucap Mouri yang tak sengaja mengatakan rahasia kami. Yaitu rahasia untuk menjelajahi dunia ini, demi membentuk perdamaian.


Kami akan berpetualang bersama-sama untuk mewujudkan harapan kami. Tentunya begitu kami mampu menguasai kekuatan sihir, dengan begitu kami akan keluar dari desa ini, dan mencari jati diri kami. Setelah itu kami akan mengalahkan orang-orang jahat, dan akan menjadi lebih kuat, dan menjadi yang terkuat.


Kami memiliki dua tujuan untuk membuat dunia ini damai. Cara pertama yaitu dengan berbincang-bincang dengan bangsa lain untuk membangun hubungan yang baik dengannya. Kalau mereka tidak mau, maka terpaksa kami harus menggunakan kekuatan kami demi membentuk perdamaian yang kami harapkan. Oleh karena itu kami akan terus menjadi yang terkuat untuk menciptakan perdamaian ini.


"Apa... kalian akan pergi dari desa ini? setelah memiliki kekuatan sihir yang cukup?" ucap guru kami yang terlihat terkejut.

__ADS_1


"Be-benar guru... maaf karena kami tak memberitahu soal ini kepada guru. Karena kami tak memiliki pilihan lain selain kami sendiri yang menciptakan perdamaian ini. Karena seluruh penduduk desa sudah menolak keras-keras dengan apa yang kami sampaikan saat di tengah-tengah lapangan itu" ucap Tygruth dengan serius.


Kemudian guru tersenyum pada kami, dan berjalan ke arah kami. Tak ku sangka kalau guru akan memeluk kami, dan bukannya memarahi kami atau menghalangi kami untuk mengejar harapan kami. Kurasa guru tidak seburuk apa yang kupikirkan, dia bisa mengerti apa yang kami rasakan.


"Baiklah kalau begitu... aku tak akan menghalangi tekad yang kalian pilih. Selama sebulan ini aku akan mengajarkan kalian kekuatan sihir, dan selama itu gunakan waktu satu bulan ini dengan sungguh-sungguh!" ucap guru kami yang terlihat bersemangat untuk mengajari kami, namun yang ku lihat tatapannya penuh dengan kesedihan.


"Apa!? hanya sebulan? bukankah itu terlalu cepat? setidaknya berikan kami waktu selama 3 bulan" ucap Mouri yang sependapat dengan kami. Karena waktu yang diberikan itu sangat sedikit sekali, kalau begitu kami akan kesulitan untuk berpetualang di luar sana.


"Mungkin untuk kalian 1 bulan adalah 3 bulan untuk para Leonis yang pernah ku ajari sebelumnya" ucap guru kami yang menatap penuh dengan kepercayaan kepada kami, kalau kami mampu memberikan yang terbaik, seperti yang di harapkan guru kami.


"Benar juga... kalau begitu ayo kita semua semangat!" teriak Mouri dengan semangat yang membara.


Kemudian setelahnya kami mulai berlatih menggunakan kekuatan kami, yang entah seperti apa kekuatan yang akan kami miliki. Karena kekuatan yang kami miliki itu adalah sebuah takdir. Meski aku memiliki kekuatan yang buruk nantinya, aku akan mengasah kekuatan itu menjadi yang terbaik.


"Pusatkan energi yang kalian miliki, dan biarkan mengalir dengan tenang ke tangan kalian" ucap guru kami yang memperhatikan kami.


"Tentu saja tidak, tapi untuk mengetahui kekuatan seperti apa yang kalian miliki sebagai pemula, akan lebih baik mencoba mengeluarkan kekuatan kalian dari tangan terlebih dahulu. Kalau tidak bisa kalian bisa mencobanya di bagian tubuh kalian yang lain.


Contoh seperti di kaki, mata, mulut, dan lainnya, atau mungkin menggunakan pikiran kalian" ucap guru kami.


Setelah mendengar nasihat dari guru kami, kami pun berlatih untuk mencoba mengeluarkan kekuatan kami. Aku harus fokus, dan fokus, dan biarkan mengalir dengan tenang. Argh! aku tak akan menyerah! kemudian sesuatu muncul di tanganku seperti suatu lingkaran sihir.


Lingkaran sihir itu berputar-putar di depan tanganku, meski lingkaran sihir itu masih kecil sepertinya aku tahu apa kegunaan kekuatan yang baru saja ku keluarkan ini. Sepertinya ini adalah semacam pelindung untuk menahan serangan musuh.

__ADS_1


"Woah! kau hebat sekali Gernath! sial! kalau begitu aku tidak boleh kalah! ayo Mouri kita tunjukkan kekuatan kita!" ucap Tygruth dengan semangat.


Aku merasa sudah sangat senang sekali bisa menggunakan kekuatan ku. Kemudian pak guru memanggilku, dan tiba-tiba saja dia mengeluarkan serangannya kepadaku. Pak guru menyerang ku dengan jarum yang sangat banyak, dan bercahaya putih. Namun dengan cepat aku mengarahkan tanganku ke arah jarum itu, dan menutup tanganku.


"Kau hebat... namun kau akan lebih hebat lagi kalau sudah siap sedia dari berbagai serangan" ucap guruku.


Kemudian aku membuka mataku, padahal tadi ku pikir guru akan membunuhku. Namun untunglah ternyata itu semua hanya sebuah uji coba untuk mencoba kekuatan ku, dan lagi tanpa sadar aku mengeluarkan lingkaran sihir pelindung, yang membuat serangan guru menancap di lingkaran sihir ku.


Namun begitu aku melihat lingkaran sihir ini, entah kenapa rasanya ada yang janggal bagiku. Seperti ada sesuatu yang sudah lama terjadi, tapi aku melupakannya. Namun tiba-tiba saja potongan-potongan ingatan aneh muncul di benakku yang membuat kepalaku sangat kesakitan.


"Argh! ugh! sakit sekali!" teriakku sambil menggenggam kepalaku karena kesakitan.


"Gernath!" serentak semuanya yang melihat ku dengan panik.


Potongan-potongan ingatan aneh itu terus muncul di kepalaku dengan samar. Karena otakku yang melupakan ingatan aneh itu sedang mencoba untuk mengingatkannya kembali, kepalaku menjadi terasa sangat sakit sekali, dan berat. Akhirnya tak lama kemudian aku jatuh pingsan di tempat.


"Kakak akan selalu ada untukmu..."


"Kakak berjanji?"


"Tentu saja! kau adalah orang yang sangat berharga dalam hidup kakak, dan kamu adalah orang yang paling kakak sayang" ucap orang itu yang wajahnya tertutup oleh awan hitam yang entah dari mana datangnya.


Lalu anak kecil itu tersenyum lebar sambil memeluk orang yang berjanji padanya sambil menangis terharu. Saat ini aku tidak tahu sedang berada di mana, namun dari yang ku lihat sepertinya aku sedang berada di kamar orang-orang ini. Aku tak tahu kenapa aku bisa berada di sini, bukankah tadi aku... ah... aku... sedang berada di mana?.

__ADS_1


Saat itu aku di penuhi dengan pertanyaan yang sangat banyak, namun aku tak dapat menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang muncul di pikiranku. Namun sepertinya kedua orang itu tak dapat melihat ku yang sedang berdiri disini memperhatikan mereka.


Namun entah kenapa... aku ingin sekali... memeluk orang yang sedang di peluk oleh anak kecil itu...


__ADS_2