
Sejak kekalahan Toro yang bertarung melawan ku, grup Toro segera berkemas dan pindah tempat tinggal. Mereka pergi dari tavern ini, dan mencari tempat tinggal baru karena Toro merasa malu karena dikalahkan olehku. Hampir seluruh tubuhnya penuh dengan lebam, dan ada yang harus di perban. Sementara aku hanya serangan fatal yang diberikan oleh Toro saja yang ku perban.
Tepat sebelum mereka pergi dari tavern, saat itu mereka sudah mengeluarkan semua barang mereka dari kamar, "Kenapa kalian pergi?" ucapku yang saat itu terbangun di pagi hari setelah pertarungan ku dengannya.
"Kenapa lagi? apa kau ingin menyombongkan dirimu karena telah mengalahkan ku?" ucap Toro yang terlihat kesal, tapi matanya menatap ke bawah dengan geram. Disisi lain juga aku bisa merasakan perasaan yang tersembunyi darinya, dia merasa sedih.
"Aku tidak bermaksud begitu..." ucapku yang kemudian Toro mengabaikan ku.
"Ayo kita pergi saja!" ucap Toro kepada seluruh anggota grupnya.
"Selamat atas kemenangan mu" ucap Nizard yang berjalan pergi.
Kemudian tiba-tiba saja setelah mereka semua pergi, hanya ada satu orang dari kelompok mereka yang tidak pergi, dan setelahnya dia menghampiriku. Dia mengangkat tangannya, seketika aku langsung merasa merinding, sampai-sampai aku diam membeku. Namun... syukurlah dia hanya meletakkan tangannya di pundak ku, dan memberi selamat seperti Nizard.
"Sudah kuduga, kau pasti menang!" ucap Martis yang kemudian memelukku dengan erat sambil meneteskan air mata. Saat itu juga aku langsung merasa kebingungan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Karena aku tidak pernah berbicara dengannya, atau saling menatap. Saat itu juga aku berpikir... kalau orang ini... sangatlah aneh.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu" ucapku dengan kebingungan.
Kemudian dia melepaskan pelukannya dan menatapku, "Tidak... kalau begitu aku pergi dulu" ucap Martis yang bersikap sangat aneh dengan ku.
"Hei tunggu..." ucapku yang membuat Martis menghentikan langkahnya.
"Jangan coba-coba untuk menyakiti keluarga ku!" ucapku sambil mengancamnya. Kemudian dia hanya membalasnya dengan senyuman yang mencurigakan dan setelahnya pergi. Dia benar-benar aneh, aku tidak tahu atau tidak merasakan apapun tentangnya... aku harus mewaspadai orang itu.
Setelahnya aku bersiap-siap untuk membeli makanan diluar. Sementara yang teman-teman ku yang lainnya masih tertidur pulas, seperti mereka sangat kelelahan karena merayakan kemenangan ku sampai larut malam tadi. Karena itu aku pergi keluar untuk membeli makanan untuk kami makan bersama setelah mereka bangun nanti.
__ADS_1
Aku segera pergi ke kedai yang biasa ku kunjungi ketika aku ingin makan di luar. Kakiku masih terasa lemah, ini semua karena pertarungan ku dengan Toro sebelumnya yang membuat kerusakan parah pada tubuhku. Meski begitu aku tetap bersikeras untuk membelikan teman-teman ku makanan yang enak untuk dimakan bersama nanti.
"............"
Tiba-tiba saja saat aku berpapasan dengan seseorang, aku merasakan sesuatu yang ganjal. Aku merasakan niat membunuh yang kejam dan amat luar biasa dari seseorang yang menggunakan topi petani. Mulutnya ditutup dengan masker hitam, dan lengannya memiliki banyak bekas luka senjata tajam.
Secara spontan hatiku tergerak, dan memegang pundak orang itu, "Hei... tunggu sebentar" ucapku dengan menatap tajam kepadanya. Tatapan orang itu juga terlihat sangat sinis begitu dia menghadapku. Aku merasakan aura yang begitu mencengkeram dari orang ini.
"Ada apa?" ucap pria itu dengan datar, seakan-akan dia tidak tahu.
"Apa yang hendak kau lakukan?" ucapku yang membuat pria itu sama sekali tak bergeming.
"Pergilah dari sini..." ucap pria itu yang mendorongku dengan kuat. Setelahnya dia segera pergi meninggalkan ku dengan langkah pelan.
"Kau!..." teriakku yang kemudian dia berbicara dengan ku melalui telepati.
Kemudian begitu aku membeli makanan, dan pulang ke penginapan. Tepat sekali aku datang ke sini, karena teman-teman ku yang pemalas sudah bangun semua. Setelahnya kami makan bersama sampai perut kami penuh, dan tak kuat makan lagi. Padahal masih banyak sisa makanan yang tak termakan oleh kami. Lalu kami memutuskan untuk memberikan kepada bapak pemilik tavern, dan para pekerja yang ada disini.
"Tunggu sebentar..." ucap Tygruth yang terlihat serius dengan wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Entah kenapa melihat Tygruth dengan wajah yang seserius itu membuatku teringat kejadian tadi pagi.
"Ada apa Tygruth?" ucapku sambil menelan ludah dengan sangat dalam.
"Bukankah di tavern ini tidak ada yang bekerja selain kita?" ucap Tygruth yang membuatku tersenyum kecil.
"Sial benar juga, kita sendirilah yang sebagai pekerja di tavern ini" ucapku sambil menepuk kepala ku.
__ADS_1
"Hmm... kalau begitu, lebih baik kita berikan sisa makanan ini kepada Yuki" saran Elysna.
"Kau benar juga..." ucapku tersenyum seringai. Kemudian setelah berbincang-bincang cukup lama mengenai sisa makanan yang tersisa masih banyak. Akhirnya kami memutuskan Yuki yang akan menghabiskannya, dan setibanya kami di hadapan Yuki yang masih terduduk di bangku sambil terbengong.
"Yuki makanlah ini..." ucap Elysna.
"... Aku sudah kenyang" ucap Yuki.
"Makanlah sedikit saja agar kau cepat besar" ucap Boa Boa yang mengambil makanan itu, dan diserahkan kepada Yuki.
"Huh... baiklah berikan semua makanan itu padaku" ucap Yuki yang membuat kami semua tersenyum. Karena kami berpikir Yuki percaya terhadap kata-kata Boa Boa. Setelahnya kami memberikan semua makanan sisa itu kepadanya.
Kemudian setelah sekitar 30 menit, semua makanan itu habis di lahapnya. Kami semua menatap Yuki sambil menganga, bagaimana mungkin seorang anak kecil sepertinya bisa menghabiskan semua makanan itu. Padahal sebelumnya dia sudah makan banyak, dan kami yakin dia sudah kenyang.
"Yuki... apa kau masih lapar?" ucap Tygruth.
"Tidak aku sudah kenyang" ucap Yuki dengan singkat.
"Tapi kau terlihat biasa saja tuh, kau pasti masih lapar kan" ucap Tygruth.
"Hmm, sebenarnya aku masih mau makan lagi. Tapi kalian tidak perlu membelikan ku makanan lagi, aku hanya perlu air untuk diminum " ucap Yuki.
Kemudian aku segera membawakan Yuki segelas air, "Ini minumlah" ucapku. Kemudian Yuki meminumnya dan mengeluarkan sendawa yang sangat keras.
Kemudian setelah menyantap makanan, dan melihat kejadian yang tak terduga dari seorang anak kecil. Kami berencana untuk berlatih, karena sisa waktu yang diberikan untuk beristirahat adalah tiga hari dan ini adalah hari pertama kami. Kami harus berlatih sekeras mungkin, karena kekuatan yang sebenarnya bukan dari fisik, akan tetapi energi kekuatan itu sendiri.
__ADS_1
Mungkin saja ada seseorang yang memiliki kekuatan fisiknya lemah, tetapi sebenarnya dia memiliki energi kekuatan yang sangat luar biasa. Sampai hari itu tiba, kami akan terus berlatih sampai menjadi yang terkuat untuk meraih hadiah yang akan diberikan raja. Kemudian setelahnya... kami akan menguasai kerajaan ini, karena itu adalah prioritas kami datang ke tempat ini.