
Ratusan tahun yang lalu...
Seorang wanita cantik dari bangsa Leonis sedang berjalan-jalan di ladang bunga yang beragam dengan warna yang indah. Begitu juga harum yang sangat wangi bertebaran di ladang bunga. Siapapun yang berada di ladang bunga itu, dia pasti merasa dirinya adalah bunga yang indah seperti yang ada di ladang bunga itu.
Wanita itu berjalan dengan pakaian yang menyatu dengan bunga-bunga itu. Dia terlihat sangat anggun, dari setiap gerakan yang dia lakukan di ladang bunga itu. Hingga akhirnya ada seseorang yang sedari tadi menatap wanita cantik itu dengan tatapan mesum. Orang itu berasal dari bangsa yang berbeda dari wanita itu, dia berasal dari bangsa Elf.
Wanita itu langsung menerjang, dan mengayunkan kakinya sehingga kehilangan keanggunan nya. Tapi pria Elf yang menatap wanita itu tetap menganggap wanita itu dengan anggun, bahkan dia terlihat lebih anggun dengan sikap agresif nya. Pats! Elf itu menangkap tendangan dari wanita itu dengan sihirnya yang lembut.
"Tenanglah... aku tak akan melukaimu, percayalah padaku" ucap pria itu yang merayu wanita Elf itu.
"Lepaskan! menjijikan, jangan menyentuhku seperti itu. Rasakan ini!" ucap wanita itu yang melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh yang memusatkan energinya pada seluruh tangan kanannya. Bugh... wanita itu terkejut melihat apa yang terjadi setelah dia menghajar pria yang ada di depannya.
Orang itu... berubah menjadi salju yang empuk, dan lembut sehingga tak melukai tangan wanita itu yang begitu lembut, "Hei... aku ada disini!" ucap pria itu yang berada di belakang wanita itu. Kemudian wanita itu melompat dengan sangat cepat hingga mengeluarkan suara yang keras, membelah angin menjadi dua, dan menghajar pria itu.
Namun lagi-lagi... pria itu berubah menjadi salju yang lembut, kemudian pria itu memanggil nya kembali di tempat yang berbeda. Wanita itu langsung menghampirinya, dan menghajarnya, dan lagi-lagi kejadian yang sama terus berulang-ulang tanpa akhir. Hingga akhirnya wanita itu kelelahan, dan sudah tak sanggup lagi untuk bertarung.
Kemudian pria itu lagi-lagi menghampirinya, kali ini dia benar-benar berada di hadapan sang wanita itu. Pria itu membawa sebuah gelas yang berisi air biasa, dan diberikan kepada wanita yang kelelahan itu, "Minumlah ini, kau pasti sangat kelelahan" ucap pria itu dengan lembut, namun wanita itu mengabaikannya.
"Apa kau ingin air dingin? baiklah akan ku berikan es batu di dalam minuman ini" ucap pria itu yang mengeluarkan beberapa es batu dari tangannya yang berbentuk kotak-kotak. Namun wanita itu lagi-lagi mengabaikannya, dia ingin sekali menghajar pria itu, namun dia sadar kalau semua serangannya sangat sia-sia.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" ucap wanita itu yang memulai pembicaraan.
"Kau benar ingin mengetahuinya? baiklah... sejak pertama kali aku melihat mu disini, aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama" ucap pria itu dengan lembut sehingga membuat sang wanita itu merasa malu, dan wajahnya memerah. Yang ada di tatapan pria ini, dia seperti sedang melihat seekor kelinci yang menggemaskan.
"Apa-apaan ini!? kenapa aku merasa tersipu!? dia itu bangsa Elf! musuh bangsa Leonis sadarlah, Yuna!" ucap wanita itu pada dirinya dalam batinnya. Ya benar! nama wanita itu adalah Yuna, seorang wanita yang sangat cantik, dan anggun.
"Aku sudah berada di tempat ini lebih lama darimu. Aku sudah berada di tempat ini 60 tahun lamanya, dan kau baru 5 tahun. Aku terkejut begitu melihat wanita cantik menghampiri ladang bungaku" ucap pria itu yang membuat wanita itu terkejut.
"Apa!? jadi ladang bunga yang tiba-tiba tumbuh disini adalah miliknya!?" ucap Yuna pada batinnya.
"Kalau kau segitunya ingin menghajar ku, ini adalah kesempatan yang tepat untuk melakukannya. Karena ini adalah tubuh asliku..." ucap pria itu yang membangunkan semangat wanita itu. Yuna segera berdiri, dan melayangkan pukulannya pada pria yang ada dihadapannya, namun wanita itu menghentikan ayunan tinjunya tepat di depan wajah pria itu.
"Eh!? kenapa berhenti? padahal aku sudah memberikan mu kesempatan untuk melakukannya" ucap pria itu yang heran.
"Hah!? bagaimana caramu membedakannya?" ucap pria itu yang cukup di buatnya terkejut.
"Karena kau menutup matamu begitu aku menghajar mu, sedangkan boneka salju mu tidak begitu" ucap Yuna dengan tatapan tajam, kemudian Yuna mulai mengingat kenangan dirinya selama lima tahun berada di ladang bunga ini. Dia teringat kenangan yang paling memalukan bagi dirinya.
"Kau sangat hebat dapat mengetahuinya... eh!? a-ada apa denganmu!?" ucap pria itu yang terkejut melihat wanita yang ada di hadapannya terlihat ingin menangis.
__ADS_1
"K-kau... apa kau melihat semuanya! jawab dengan jujur atau ku hajar!" ucap Yuna dengan wajah yang menor karena malu.
"Hah!? a-apa maksudmu? aku tak mengerti apa yang kau katakan?" ucap pria itu yang kebingungan.
"Ukh... apa kau melihat semua tubuhku saat aku mandi di sungai itu!" ucap Yuna sambil menutup wajahnya karena malu.
"E-eh!? ti-tidak! aku tak melihatnya kok, sungguh. Begitu aku tahu kau membuka pakaian mu, aku langsung melarikan diri, dan menunggumu selesai!" ucap pria itu dengan jujur. Meskipun pria itu sudah berkata dengan jujur, namun wanita itu mengabaikannya, dan berlari pulang ke rumahnya sambil menangis.
Pria itu ingin mengejarnya, namun dia berpikir mungkin lebih baik membiarkan wanita itu kembali pulang ke rumahnya. Sudah satu bulan berlalu sejak wanita itu berlari, dan menangis, namun wanita itu tak kunjung datang kembali ke ladang bunga milik sang pria bertelinga panjang. Pria itu merasa sedih, dan terus menyalahkan dirinya terus-menerus.
Pria itu melamun sambil duduk di atas bongkahan kayu, "Hei... apa kau bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan sebulan yang lalu" ucap seseorang di belakangnya, suaranya terdengar tidak asing. Pria itu terkejut setengah mati begitu melihat kalau wanita yang ditunggunya akhirnya kembali datang ke ladang bunga miliknya. Dia sangat senang sampai tak bisa mengatakan satu kata pun.
"Te-tentu saja! aku benar-benar tak melihatnya..." ucap pria itu yang membuat wanita itu malu dengan wajah merahnya.
"Bukan itu yang ku maksud bodoh! apa selama sebulan ini yang kau pikirkan hanya itu!" ucap Yuna yang berteriak kesal.
"Eh!? ku pikir hal itulah yang membuatmu menangis sambil berlari. Jika bukan itu, lalu apa yang kau maksud?" ucap pria itu yang kebingungan, dan terheran-heran.
"Tentang kau menyukaiku!" teriak Yuna yang kemudian menghadap ke belakang.
__ADS_1
Tep! kemudian pria itu memegang bahunya, dan memutar posisi badan Yuna sehingga mereka saling berhadapan dengan tatapan tersipu malu. Mereka sangat gugup, sehingga selama sepuluh menit mereka terus begitu, tanpa bergerak sedikitpun.
"Menikahlah denganku!" ucap pria itu dengan tiba-tiba dengan wajah yang merah. Yuna sangat terkejut sekali mendengar ucapan yang begitu diharapkan olehnya. Lalu dengan senang hati Yuna menjawab, "Iya... aku mau!" ucap Yuna dengan senyum bahagia sampai meneteskan air matanya. Pria itu bernama... Glenn