Artificial God

Artificial God
Pergi


__ADS_3

Esok hari pun tiba, padahal aku sangat berharap kalau hari esok akan berjalan dengan lancar. Aku menginginkan udara sejuk di pagi hari, dan bersantai sambil menyeruput teh hangat di teras belakang rumah dengan santai. Tapi entah kenapa kami harus berhadapan dengan guru.


"Hei apa kalian tidak ingat kata-kata yang pernah kita bicarakan saat pertama kali aku ajarkan kalian kekuatan sihir?" tanya guru kami, namun tak ada siapapun yang ingat di antara kami bertiga tentang apa yang dibicarakan saat itu.


"Kami tidak ingat guru" jawab serentak.


Kemudian guru menghela nafas, dan berkata dengan serius, "Bukankah saat itu kita membuat kesepakatan, kalau hanya dalam sebulan saja kalian berlatih dengan ku. Kemudian setelahnya kalian akan pergi meninggalkan desa ini. Bukankah kalian ingin mewujudkan impian kalian bersama? dan pergi menjelajah" ucap guru kami yang mengingatkan kami pada percakapan saat itu.


Begitu mendengarnya entah kenapa kami jadi murung, dan sedih. Karena kami harus meninggalkan desa kami tercinta bersama dengan penduduk desa ini. Dan lagi sudah tidak ada guru yang selalu menemani kami setiap malamnya untuk berlatih. Lalu... tak ada lagi tempat kami untuk pulang, dan bersantai di rumah ini.


Entah kenapa baru memikirkannya saja, kami merasa akan kehilangan semuanya. Karena tempat ini memiliki kenangan yang indah bagi kami, meskipun itu menyebalkan. Itu adalah sebagian dari kenangan yang indah, kenangan yang kami bangun bersama. Sepertinya kami memang belum siap untuk pergi meninggalkan desa ini.


"Kenapa kalian diam saja? apa kalian masih tak ingin pergi dari sini?" ucap guruku yang sepertinya terlihat sedih karena kami akan pergi meninggalkan desa ini.


"Tapi dari wajah guru yang kulihat, sepertinya guru akan sedih begitu kami meninggalkan desa ini" ucapku, yang membuat guru terdiam.


Plak! tiba-tiba saja guru memukul kepalaku, "Jangan berpikir yang berlebihan, lagi pula kita ini hanya sebatas guru, dan murid" ucap guruku.


"Kalau begitu... kenapa guru sangat menginginkan kami segera pergi dari sini? bukankah guru sempat menolaknya?" tanya Tygruth.


"Tentu saja begitu kalian pergi, aku akan mengambil alih pemilik rumah ini, beserta dengan kebun yang kalian rawat yang sangat luas, hahahaha!" tawa guru dengan terbahak-bahak, yang membuat kami merasa jengkel melihatnya. Meski begitu, sikap guru tak pernah berubah pada kami, kami pun ikut tertawa pada hari itu.


Setelah itu kami pergi meninggalkan desa ini, dan berpamitan kepada seluruh penduduk desa. Pertama-tama tempat yang ingin aku kunjungi adalah tempat pertemuan ku bersama dengan Elysna. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya, dan lagi sepertinya aku belum pernah memperkenalkan Mouri pada Elysna. Mungkin ini adalah saat yang terbaik untuk mereka membangun hubungan yang baik bersama.


Tak lupa juga untuk ku membawa pedang peninggalan ayahku, dan batu biru yang kutemukan saat aku menggali tanah untuk menanam tanaman. Begitu juga dengan batu yang diberikan guru untukku, aku juga masih tak tahu apa kegunaan batu itu. Tapi sebelum pergi aku sempat bertanya padanya, dan dia hanya memberikan jawaban yang membingungkan.


"Kalau begitu kalian cepatlah bersiap-siap!" teriak guru, yang seperti sedang mengusir kami dari rumah kami sendiri.

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkannya sejak malam, hahaha!" ucapku dengan lega karena tak perlu menyiapkannya lagi.


"Apa!? bagaimana kau bisa kau sudah menyiapkannya? seakan-akan kau tahu kalau besok akan pergi?" tanya Tygruth yang kebingungan.


"Tentu saja aku sudah menyiapkan ini sejak sebulan kita berlatih bersama guru. Namun karena tak ada yang mengingatnya, maka aku biarkan saja barang-barang yang sudah ku siapkan sejak lama di tas ini" ucapku sambil menunjukkan tas milikku.


"Dasar curang! sudahlah Tygruth, lebih baik kita menyiapkan barang-barang kita" ucap Mouri.


Kemudian begitu mereka semua sedang menyiapkan barang-barang yang ingin mereka bawa. Aku jadi teringat soal batu yang diberikan oleh guru, aku pun langsung bertanya kepada guru kenapa memberikan batu ini padaku, dan apa kegunaannya.


Kemudian aku mengeluarkan batu itu yang berada di dalam kantung yang ada di pinggul, "Oh ya guru... ada yang ingin kutanyakan tentang batu ini. Kenapa guru memberikan batu ini padaku? memangnya untuk apa batu ini?" tanyaku kepada guru dengan penasaran.


"Oh... batu ini, anggaplah batu ini sebagai jimat. Jimat yang akan membuatmu selamat selama perjalanan mu" ucap guruku yang kata-katanya tak ku mengerti.


"Hah!? apa maksud guru? bisakah guru jelaskan yang lebih detail padaku?" ucapku yang tak puas dengan jawaban guru.


Begitulah jawaban yang diberikan guru padaku tentang batu ini. Begitu aku bertanya lagi padanya tentang batu ini sebelum kami benar-benar pergi meninggalkan desa. Guru hanya bisa tersenyum rapuh padaku, dan kami pun segera pergi meninggalkan desa. Meski aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan guru, tapi aku sangat senang dapat menerima sesuatu yang diberikan guru. Batu ini akan aku simpan dengan baik, karena ini sudah ku anggap sebagai barang perpisahan kami.


"Hei Gernath... apa benar Elf itu yang kalian maksud?" tanya Mouri yang terlihat jengkel begitu melihat Elysna dari jauh di atas pohon.


"Iya... memangnya kenapa?" tanyaku.


"Eh!? ti-tidak apa-apa... hanya saja ini pertama kalinya aku melihat ras lain selain kita" ucap Mouri yang terlihat masih kesal dengannya. Meski aku tak tahu apa yang membuatnya kesal yang padahal dia baru saja melihatnya. Mungkin karena dia masih belum bisa menerima bangsa Elf, karena dia telah melukai Tygruth sahabat masa kecilnya.


Namun yang dipikirkan Tygruth sangat berbeda denganku. Menurut pemikiran Tygruth, yang membuat Mouri merasa jengkel begitu melihatnya karena Elf itu memiliki fisik yang sempurna bagaikan langit. Itulah yang membuat Mouri merasa jengkel begitu menyadari perbedaan fisik diantara mereka.


Kemudian tak lama kemudian, Elysna menyadari keberadaan kami, "Oh... hai! kalian sudah datang?" tanya Elysna yang entah kenapa bicaranya sangat gagu.

__ADS_1


Kemudian kami segera melompat, dan menghampirinya. Elysna memperlakukanku, dan teman-teman ku dengan sangat baik, dan lembut. Sepertinya dia juga sangat ingin sekali memiliki hubungan dengan bangsa lain. Senyumannya yang manis itu, terasa sangat hangat, dan menenangkan hatiku.


"Ah... bukankah kau adalah Leonis yang saat itu bersama dengan Gernath?" ucap Elysna sambil menunjuk Tygruth dengan terkejut karena sudah sekian lamanya tak bertemu.


"Kau benar... perkenalkan namaku adalah Tygruth" ucap Tygruth sambil memegang tangan Elysna sambil tersenyum. Kemudian Elysna segera melepaskannya, dan aku sangat kesal melihat dia menyentuh tunangan ku.


"Aku Elysna... lalu siapa gadis imut ini? astaga pipimu terlihat lembut sekali. Apa aku boleh mencubitnya?" ucap Elysna dengan mata yang berbinar-binar berharap bisa menyentuh pipi Mouri. Mouri sangat terkejut begitu melihatnya, dan entah kenapa dia malah malu-malu sendiri, padahal dia terlihat membencinya.


"Ah... te-tentu..." ucap Mouri yang wajahnya memerah.


"Enaknya! aku ingin meremas lebih keras lagi" ucap Elysna yang terlihat sangat senang bisa mencubit pipi Mouri, sampai kegirangan. Kemudian tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dengan tubuh yang besar, menggunakan pakaian yang sangat mewah. Kami sangat terkejut, dan segera mengambil posisi siaga.


"Jadi kau akan pergi dengan mereka putriku?" ucap orang itu yang ternyata adalah ayahnya Elysna. Kami yang melihatnya sangat terkejut kalau ayahnya sendiri yang datang menghampiri kami, kecuali dengan Mouri yang terlihat masih tak mengerti dengan keadaan ini. Kemudian kami segera menunduk dihadapan sang ayah Elysna.


"Hei cepat menunduk" bisik Tygruth kepada Mouri yang masih berdiri tegak.


"Hmm... tak ku sangka kalian akan bersikap seperti ini kepadaku yang padahal musuh kalian" ucap ayah Elysna.


"Maaf tuan! bolehkah saya berbicara?" ucapku sambil mempertahankan posisi menunduk dihadapan sang pemimpin desa Elf.


"Silahkan..." ucap ayahnya Elysna dengan berwibawa.


"Jangan menganggap kami sebagai musuh, kami ingin membangun..." Tiba-tiba saja ayahnya Elysna memotong pembicaraan ku.


"Aku sudah tahu..." ucap ayahnya dengan dingin. Tentunya kami semua sangat terkejut, "Eh!?" ucap kami serentak yang kebingungan. Kemudian aku menatap mata Elysna, dan memberikan bahasa isyarat mata. Namun Elysna malah berpura-pura tak melihatnya, dan lagi apa-apaan wajah malu-malu itu!?.


"Putriku sudah menceritakan semuanya, tentang apa yang ingin kalian lakukan. Tapi aku masih belum menyetujui putriku menikah denganmu" ucap ayahnya dengan datar, lalu semua reaksi teman-temanku yang mendengarnya terlihat sangat syok. Mulut mereka ternganga dengan lebar, karena sangat terkejut dengan apa yang dibicarakan ayahnya Elysna.

__ADS_1


Mereka semua bertanya-tanya padaku dengan apa maksud dari perkataan ayahnya Elysna. Tygruth sangat berisik sekali, dan tak bisa berhenti bertanya-tanya padaku. Namun... sementara itu, Mouri terlihat sedih, dan murung. Aku jadi merasa bersalah padanya, karena aku tahu dia menyukai ku. Namun maaf karena aku tak bisa memilih mu, Mouri.


__ADS_2