Artificial God

Artificial God
Rouge!?


__ADS_3

Sementara itu, saat ini grup The Light sedang berada di tempat yang tertutup sambil membawa Rouge untuk di perbincangkan. Saat ini Rouge di interogasi oleh mereka, dengan berbagai pertanyaan. Mereka tidak menyiksanya, atau mengikatnya agar dia berbicara. Karena mereka sudah tahu apa yang akan terjadi jika mereka melakukan hal itu. Tentu saja Rouge akan dengan mudah kabur dengan kekuatannya yang unik.


"Sepertinya kau bukanlah orang biasa..." ucap Toro dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Apa maksudmu?..." tanya Rouge yang merasa tidak enak karena di kelilingi oleh orang-orang dari grup The Light di sekitarnya dengan aura yang menegangkan.


"Mengaku lah sekarang... kau pasti adalah seorang mata-mata yang di utus oleh raja bukan?" ucap Toro dengan berterus terang yang kemudian membuat Rouge terdiam sejenak. Seketika seluruh anggotanya segera bersiap untuk membunuh Rouge yang mereka kira sebagai mata-mata kerajaan.


"Apa yang kau bicarakan?... aku tidak mengerti... karena aku bukan seorang mata-mata..." ucap Rouge yang mencoba untuk menenangkan situasi ini.


"Mengaku saja bodoh!" ucap Milan yang kemudian menyayat tangan Rouge dengan cepat, dengan menggunakan menggunakan soul weapon berbentuk pedang yang tajam. Namun dengan cepat Rouge segera menyentuh senjatanya terlebih dahulu sebelum dirinya di sayat oleh senjata itu.


Namun begitu Rouge menyentuhnya... crat! dirinya tidak bisa masuk ke dalam senjata itu. Milan tersenyum dengan seringai setelah melihat Rouge yang terdiam syok. Karena dia berpikir bisa masuk ke dalam senjata nya dengan mudah, seperti yang biasa di lakukan terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal itu membuat Rouge kehilangan tangan kirinya, dan sekaligus merasa syok.


"Haha... kau pikir kau bisa masuk ke dalam senjata ku? dasar bodoh! senjata ku ini bukanlah benda, melainkan senjata yang terbuat dari energi milikku sendiri" ucap Milan sambil terduduk jongkok di hadapan Rouge, dan menatap Rouge dengan sombong yang sedang terjatuh dengan syok.


"Kenapa kalian melakukan ini padaku?..." ucap Rouge yang terlihat kesal dari nada suara yang mereka dengar.


"Kau minta di hajar ya!... matilah!" ucap Milan yang mengayunkan pedangnya sekali lagi yang di arahkan ke leher Rouge dengan cepat. Namun syut! Rouge segera melarikan diri dengan menyatu, dengan tanah yang ia pijak, yang membuat serangan milan menjadi sia-sia. Kemudian setelahnya... Boom! duar! Toro mengamuk, dan menghantam tanah dengan tangan kanannya, yang membuat tanah di sekitarnya berhamburan berterbangan di udara.


Wush! Toro melesat maju dengan otot kakinya yang luar biasa, dan menggenggam sebongkah tanah yang dia ketahui isinya adalah Rouge yang sedang melarikan diri. Kemudian Toro meremas tanah itu dengan sekuat tenaga yang membuat Rouge keluar dari wujud tanahnya. Toro mencekik leher Rouge dengan sangat kuat tanpa belas kasihan.

__ADS_1


"Kau pikir aku tak bisa menangkap mu? saat itu kau hanya beruntung karena kita bertarung di tengah kota. Namun saat ini berbeda, kita berada di luar kerajaan, kita sedang di hutan, dan aku bisa mengamuk sepuasnya!" ucap Toro dengan kejam, dan semakin mengencangkan genggaman tangannya yang sedang mencekik Rouge.


"Teman... temanku... ukh... akan... membalas kalian..." ucap Rouge yang terengah-engah, dan wajahnya mulai pucat.


"Temanmu?... maksudmu orang-orang payah itu?..." ucap Toro yang terlihat meremehkan kami grup Shan. Kemudian setelahnya... krak! crack! leher Rouge putus karena saking kuatnya genggaman Toro. Semua yang melihatnya merinding, dan menurunkan pandangan mereka di depan pemimpin mereka.


"Huh... dasar orang-orang bodoh... mereka tidak tahu siapa kami ya" sambung Sheran yang mencoba membuat suasana ini menjadi lebih menyenangkan, dengan menggoda Toro.


"Apa kita harus menyelidiki teman-temannya?" ucap Nizard yang masih memiliki dendam kepada kami saat di bar saat itu.


"Jangan bertindak gegabah... kita belum mengetahui sebesar apa kekuatannya. Apa tadi kalian melihat kekuatan yang di tunjukkan oleh pria berambut pirang itu?" ucap Martis yang biasanya tak banyak bicara karena dia sibuk dengan urusannya sendiri.


"Benar... dia memiliki kekuatan yang luar biasa... sama seperti teman kita Elysna yang juga merupakan sekumpulan orang-orang yang memiliki hubungan dengan pria bertopeng aneh ini" ucap Milan yang sedang duduk di sebuah bongkahan batu.


"Jangan remehkan dia... meskipun dia terlihat konyol, dan lemah. Sepertinya kalian melewatkan satu hal tentangnya... dia terlihat seperti seorang pemimpin bagi yang lainnya. Semua orang menuruti perkataannya, dan dia selalu berada di depan" ucap Martis yang sedang bermain-main dengan kunai milik nya.


"Kalau begitu bagaimana dengan wanita berambut pirang yang terlihat seperti orang bodoh itu?" ucap Sheran sambil mendesis.


"Sepertinya dia bukan halangan, dia hanya orang lemah yang mungkin kekuatannya hanya sebagai support bagi yang lainnya" ucap Milan.


"Hei ngomong-ngomong kenapa tidak kita buka saja topeng mayat ini... aku sangat penasaran dengan wajahnya" ucap Nizard yang kemudian maju, dan menghampiri mayat Rouge yang tergeletak di depan Toro.

__ADS_1


Set! namun tiba-tiba Toro membentang tangannya yang besar untuk menghalangi Nizard yang mencoba untuk membuka topeng dari seseorang yang sudah mati, "Biarkan dia membusuk di sini... ayo kita pergi... kita masih memiliki tujuan, dan tak boleh membuang kesempatan yang ada" ucap Toro yang pergi lebih dulu. Namun apa boleh buat, para pengikutnya harus memenuhi permintaan tuanya, meskipun mereka sangat penasaran sekali dengan wajah Rouge di balik topeng itu.


Sementara itu aku... aku masih berada di dimensi yang sama dengan sang raja kerajaan ini yang menggunakan topengnya yang menyeramkan. Suasana hening, sekaligus menegangkan membuat jiwaku tertekan. Perasaan yang canggung, membuat semuanya terasa aneh. Benar-benar pertemuan pertama yang aneh sekali, saat ini suasana hati Gernath sedang bercampur aduk.


"Gernath?... ternyata kau hanya kucing kecil yang lemah. Aku salah orang..." ucap sang raja yang kemudian mengembalikan kami ke tempat semula. Dan dia pergi dengan menunjukkan punggungnya. Entah kenapa aku merasa sangat kesal sekali mendengar kata lemah dari orang yang tidak ku sukai. Aku ingin sekali menghajar raja angkuh itu, akan ku bunuh raja sialan itu, dan dengan begitu tidak akan ada peperangan yang terjadi lagi di dunia ini, sehingga tidak ada seorangpun yang mengalami kehilangan sosok yang berharga.


Tep!, "Tahan dirimu... aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tapi tahan dirimu Gernath..." ucap Tygruth yang menghalangi ku yang ingin segera menerjang maju, dan membunuh raja itu. Syukurlah saat itu Tygruth menghalangi ku untuk menyerang, kalau tidak akan terjadi pembantaian yang luar biasa di kerajaan ini. Yang membuat orang-orang tak bersalah mati karena ku yakin tak bisa menahan diri.


Tak! tak! tak! kemudian kereta kuda sang raja berjalan meninggalkan kami, bersama dengan pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi kota kerajaan. Setelahnya semua penduduk desa pergi kembali melanjutkan aktivitas harian mereka sambil menatap ku dengan remeh karena bersikap tidak baik di hadapan raja. Nama baikku jadi tercoreng karena sikapku yang sembrono, tidak bukan nama baikku saja. Nama baik grup Shan menjadi jelek karena kelalaian yang ku lakukan.


"Hei aku tak mengerti apa yang terjadi pada kalian. Kenapa saat itu kalian saling menatap?" ucap Boa Boa yang menghampiri ku dengan wajahnya yang kebingungan.


"Apa? kami saling menatap? apa itu artinya kalian juga berada di dimensi yang sama dengan ku?" ucapku yang juga sebenarnya dalam keadaan bingung.


"Apa maksudmu? aku tak mengerti apa yang kau bicarakan?" ucap Boa Boa yang membuatnya semakin kebingungan karena ku.


"Jika itu yang kau lihat... itu artinya raja itu memaksamu masuk ke dalam jiwanya. Kesimpulannya... saat itu kalian sedang berbincang di tempat itu" ucap Tygruth yang mengerutkan dahinya, yang menandakan dia sedang berpikir keras.


"Kalau di pikir-pikir masuk akal juga apa yang dikatakan Tygruth. Karena saat itu, kami hanya melihat kalian hanya saling bertatapan" ucap Elysna sambil berjalan mendekatiku.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? aku benar-benar tak mengerti" ucap Boa Boa yang masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Pergilah ke perpustakaan untuk menambah wawasan mu" ucap Tygruth kepada Boa Boa.


Kemudian setelahnya kami pergi melanjutkan perjalanan kami untuk berlibur. Tapi selepas kejadian itu... entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal bagi kami. Sesuatu yang membuat perasaan kami tertekan mengenai seseorang, yaitu Rouge. Kami masih sangat mengkhawatirkan dia.


__ADS_2