
Aku sangat kebingungan untuk memilih keluar kamar atau tetap di dalam. Karena suara itu membuatku cukup takut, tapi jika begini terus maka Tygruth akan menyadari kalau aku sebenarnya juga takut. Ah sialan! sebenarnya siapa yang membuat suara seperti itu.
"Hei Gernath, kalau kau orang yang pemberani, lebih baik kau cek suara itu sana!" ucap Tygruth.
"Apa? jadi kau ingin berada di kamar ini sendirian? apa kau tidak takut?" ucapku yang menakut-nakutinya.
"Eh!? sial benar juga... ah, bukan begitu maksud ku. Aku sama sekali tak takut, tapi aku akan memastikan kau aman" ucao Tygruth.
"Terserah kau saja, aku ingin mengecek suara aneh itu" ucapku yang keluar kamar, dan Tygruth segera menyusul ku dari belakang.
Kami terkejut begitu keluar dari kamar kalau seluruh isi rumah ini dalam keadaan gelap gulita. Sebenarnya siapa yang mematikan semua lampu di ruangan ini. Terpaksa aku harus menggunakan kekuatan ku untuk menyinari ruangan untuk menemukan saklar lampunya.
Begitu aku menyalakan saklar lampunya tiba-tiba saja ada sesuatu yang berwarna putih lewat menuruni tangga, "Kyaaaaaaa! hantu!" teriak Tygruth yang menutup matanya. Sementara itu aku tetap berusaha tenang, walaupun sebenarnya aku merinding ketakutan, sampai detak jantungku berdegup begitu kencang sekali.
"Hah... mu-mungkin kita hanya salah lihat" ucapku yang mencoba memperbaiki suasana.
Krak! lagi-lagi suara yang sana terdengar di lantai bawah. Karena kami keluar kamar suaranya jadi lebih jelas kalau suara itu rasanya berasal dari dapur di lantai satu. Sialan! apa ada yang sengaja melakukannya, kalau memang iya akan ku habisi dia.
"Dan lagi kau ini seorang pria apa wanita? kenapa teriakan mu..." ucapku yang membayangkan dia berteriak-teriak.
"Berisik! itu hanya teriakan pengusir hantu" ucap Tygruth yang beralasan lagi.
"Terdengar seperti omong kosong ya, baiklah tunggu apa lagi. Ayo cepat kita segera ke bawah, aku rasa suara aneh itu berasal dari dapur" ucapku yang mengejutkan Tygruth.
"Dapur katamu! kau bilang apa!? dapur! sial aku tidak ingin mati!" ucap Tygruth yang putus asa.
Aku tak mempedulikan Tygruth, dan terus berjalan menuruni tangga. Sementara itu Tygruth menarik ku celanaku sambil memohon untuk kembali ke kamar. Rasanya menyebalkan sekali, dan lagi ini sama sekali bukan Tygruth dingin yang kukenal selama ini. Sikapnya mengingatkan ku terhadap dirinya yang dulu ya masih konyol.
Di lantai bawah pun ternyata sama gelapnya dengan lantai atas. Namun hanya ruangan dapurnya saja yang menyala dengan terang. Tidak ada kebisingan begitu kami tiba di bawah, sepertinya yang lainnya sudah tertidur dengan pulas. Kalau begitu aku hanya perlu memastikan saja kan?.
"Lihat kan... sepertinya tidak ada apa-apa di sini, mungkin suara tadi kita hanya salah mendengarnya saja" ucapku yang kemudian kami berdua kembali ke kamar. Perasaan Tygruth pun kembali dengan tenang, syukurlah dia lebih pantas bersikap dengan tenang seperti ini.
"Hari ini kau tidur saja di bawah menggunakan itu" ucapku yang menunjuk ke sebuah tumpakan pakaian.
__ADS_1
"Apa? memangnya aku seekor kucing" ucap Tygruth yang membuatku melongo.
"Terserah kau, aku ingin tidur jadi jangan berisik di kamarku" ucapku yang berbaring di kasurku.
Saat tiba waktu tengah malam, tiba-tiba saja bocah sialan itu membangunkan yang sedang tertidur dengan pulas. Padahal aku sudah nyaman sekali tidur, tapi si sialan ini malah membangunkan ku dari tidurku, "Hei Gernath, aku lapar apa kau ada makanan yang kau simpan di kamarmu" ucap Tygruth.
"Tidak ada, kalau lapar pergilah ke dapur untuk memasak sesuatu, dan karena kau telah membangunkan ku kau juga harus memasakkan makanan untukku" ucapku yang membuat Tygruth merinding ketakutan.
"A-apa kau bilang! dapur! kau bilang ke dapur!" ucap Tygruth yang entah kenapa aku merasa dejavu. Tapi sebenarnya aku merasa kasihan padanya yang terlihat ketakutan itu. Apa aku harus membantunya ya? tapi lebih baik biarkan saja dia seperti itu, dan menjadi pelajaran untuknya.
"Pergilah kalau kau lapar, dari pada kau mati kelaparan" ucapku.
"Tidak! ah benar juga, kau kan masih menyimpan ikan-ikan matang itu" ucap Tygruth.
"Eh!? a-aku tidak tahu kau bicara apa" ucapku.
"Ah sudahlah, cukup main-main nya, cepat berikan dua atau tiga ikan matangnya" ucap Tygruth, yang kemudian aku terpaksa memberikan ikan matang itu padanya. Namun ternyata ikan matang itu sudah berjamur, dan membusuk karena sudah terlalu lama simpan di dalam sub ruang milikku. Ku pikir sub ruang milikku dapat meningkatkan ketahanan makanan.
"Apa kau bilang! sialan! kenapa hal ini harus terjadi padaku... eh!?" ucap Tygruth yang tiba-tiba saja wajahnya pucat, dan banyak menggeluarkan keringat di tubuhnya.
"A-ada apa Tygruth? kau terlihat seperti mayat hidup" ucapku.
"Menurut cerita hantu yang ku baca, hantu itu dapat menciptakan rasa lapar terhadap seseorang... dan... dan... dan..." ucap Tygruth yang tergagap.
"Te-tenang lah, lagi pula itukan hanya sebuah cerita omong kosong" ucapku.
"Tidak, cerita itu sepertinya berdasarkan kisah nyata. Mungkin saja hantu itu sedang meneror diriku! hiiiii! karena dia telah menggunakan kekuatannya untuk menciptakan rasa lapar" ucap Tygruth yang pucat.
"Sudahlah, ayo aku temani kau ke dapur untuk memasak sesuatu. Selama ada aku kau tak perlu khawatir dengan hal semacam itu" ucapku yang berdiri tegak.
"Ta-tapi kan, hantunya bergentayangan di dapur, bagaimana jika tiba-tiba saja saat aku sedang memasak lampu dapur mati, lalu... lalu... lalu..." ucap Tygruth yang lagi-lagi berbicara dengan gagap
"Kawan dengarkan perkataan ku, lebih baik kita berusaha untuk mencoba, dari pada kita berdiam saja disini, dan tak melakukan apapun" ucapku dengan pose keren.
__ADS_1
"Apa-apaan pose menjijikan itu... baiklah, aku setuju dengan perkataan mu. Ayo maju!" ucao Tygruth yang seketika rasa percaya dirinya kembali, "Sial padahal Vloid menganggap hal itu keren" gumam ku. Kemudian setelah itu kami kembali menuruni tangga, kami sangat terkejut begitu lampu yang sudah kami nyalakan di lantai bawah mati kembali, dan menggelapkan seluruh ruangan.
Seperti sebelumnya hanya lampu dapur saja yang menyala dengan terang, seolah-olah cahaya itu memberitahu kami untuk pergi ke sana. Namun demi makanan Tygruth terus melangkah maju, dan akhirnya kami berhasil sampai di dapur dengan selamat. Meski wajah Tygruth, dan seluruh badannya bergemetar ketakutan, rasa laparnya telah membangunkan insting liar untuk bertahan hidup.
"Baiklah aku tunggu disini, cepatlah masak sesuatu yang enak" ucapku yang duduk di kursi meja makan.
"Diam, bagaimana jika hantu itu datang" ucap Tygruth yang mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk masak. Beberapa menit kemudian Tygruth masih memasak masakan yang dia masak dengan tenang, "Ah iya, aku lupa garam... garamnya ada dimana ya" gumam Tygruth yang meninggalkan masakannya ke lemari yang penuh dengan persediaan, dan perlengkapan makanan.
Cklek... tiba-tiba saja lampu di dapur mati, dan tentunya membuat Tygruth ketakutan hingga dia tak bersuara saking ketakutannya. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan seperti menjadi sebuah patung yang kokoh, "Gernath! apa kau mendengar ku? tolong gunakan kekuatan mu untuk menerangi ruangan ini" ucap Tygruth namun tak ada jawaban setelahnya.
Semakin lama suasana semakin mencengkram, dan menakutkan baginya. Sreng...sreng... tiba-tiba saja ada yang memasak masakan yang dimasak oleh Tygruth. Mendengar nya membuat jantung Tygruth berhenti berdegup, dan rasanya Tygruth telah putus asa di kegelapan itu.
"Tolong siapa saja tolong aku! semuanya cepat bangun, dan tolong aku!" teriak Tygruth yang merasa ketakutan. Namun lagi-lagi tak ada panggilan, dan seketika lampu di dapur menyala kembali, dan suara seseorang yang sedang memasak itu menghilang. Sama persis seperti cerita yang ada di dalam buku itu, membuat Tygruth ketakutan setengah mati.
"Gernath...!?" ucap Tygruth yang tak melihat ku di meja makan. Kemudian tiba-tiba saja ada sebuah tali yang menggantung di atap, Tygruth yang melihatnya sangat syok, dan tak berkutik karena ketakutan. Tali itu bergerak ke arah Tygruth, sementara itu Tygruth hanya diam saja seperti patung.
Kemudian muncul seseorang di balik tali yang menggantung itu dengan wajah yang sangat menakutkan, "Kyaaaaaaa!" teriak Tygruth yang akhirnya dia pingsan karena ketakutannya telah mencapai batas. Ternyata... buku hantu itu memanglah nyata, atau...
"Kerja bagus semuanya! hahaha!" tawaku dengan terbahak-bahak.
"Tapi bagaimana ini, dia sepertinya pingsan karena ketakutan" ucap Mouri.
"Tapi bagaimana jika setelah ini dia memiliki trauma" ucap Elysna yang berperan sebagai hantu dalam cerita di buku yang berjudul, "Arwah Penderitaan". Elysna menggunakan kekuatannya untuk menyembunyikan dirinya, dan Mouri membuatkan topeng yang sangat menyeramkan untuk Elysna agar terlihat persis seperti hantu yang menyeramkan.
Kemudian soal tali yang menggantung, dan bergerak itu adalah perbuatan Mouri yang menggunakan kekuatannya. Sebenarnya ada sebuah tali transparan di atap untuk menggerakkan tali yang menggantung itu. Kemudian untuk suara aneh itu ternyata itu adalah perbuatan Vloid, dan Boa Boa.
Aku tidak tahu kalai mereka berdua ikut berperan dalam menakuti Tygruth si anak dingin. Karena itu aku merasa ketakutan begitu mendengar suara aneh itu. Karena mereka melihat, dan mendengar Mouri, dan Elysna yang sedang berbincang mengenai rencana ini, akhirnya Vloid, dan Boa Boa pun ikut serta dalam rencana yang kami siapkan.
Tentang buku hantu itu, tentu saja buku itu diciptakan oleh Mouri, dan aku yakin membuat alur cerita tentang buku hantu itu. Aku sengaja memancing Tygruth untuk membaca buku hantu itu, dengan begitu rencana ini berjalan dengan sempurna.
Lalu bagaimana caraku bisa keluar dari dapur di tengah kegelapan? itu karena Boa Boa menggunakan kekuatannya untuk menetralisir ruangan menjadi terang hanya untuk ku. Dengan begitu aku bisa berjalan keluar dengan perlahan-lahan. Lalu Vloid lah yang bertugas untuk mematikan lampu kembali yang sudah ku nyalakan bersama dengan Tygruth, walaupun sebenarnya hak itu tidak perlu dilakukan karena yang lain bisa melakukannya.
Dengan begitu waktunya Mouri, dan Elysna beraksi untuk menakuti Tygruth. Semuanya terlihat bahagia melihat teman kami yang malang Tygruth pingsan di tempat. Sebenarnya kami merencanakan ini untuk Boa Boa, agar dia bisa kembali tertawa dengan bahagia setelah apa yang dilakukan Tygruth padanya, dan juga untuk menghukum Tygruth.
__ADS_1