Artificial God

Artificial God
Jiwa Keputusasaan


__ADS_3

Kami terus di serang di balik pelindung sihir yang ku buat. Undead itu menyerang tanpa lelah, tak ada yang bisa kami lakukan. Syuuuuut! prang! pada akhirnya ada sebuah tombak berapi yang berhasil menembus perisai sihir ku, dan tombak itu menusuk punggung Tygruth dengan cukup dalam.


"Argh! sakit! panas sekali!" ucap Tygruth yang meringis kesakitan.


Setelah perisai sihir milikku hancur aku mengerahkan seluruh kekuatan ku untuk menahan serangan para Undead yang menyerang masuk. Aku menangkis, dan menahan semua serangan mereka untuk melindungi Tygruth yang sudah berbaring lemah di tanah.


"Sudahlah... biarkan aku disini, dan kau pergilah ke desa. Untuk membawa seluruh orang yang selamat untuk segera pergi menjauh" ucap Tygruth yang meringis kesakitan.


"Jangan bodoh! aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena aku sudah berjanji pada diriku untuk menyerahkan nyawaku terlebih dahulu ketimbang teman-teman ku!" ucapku sambil melompat kesana-kemari menahan serangan para Undead.


Crat! aku terkejut kalau tiba-tiba ada Undead yang muncul di bawah Tygruth yang sedang berbaring. Undead itu baru saja diciptakan, dan langsung menyerang Tygruth. Sialan! aku lengah kalau mereka bisa muncul dimana saja, aku... aku sama sekali tak bisa menepati janji ku! aku segera membawa Tygruth pergi menjauh dari para Undead itu dengan terburu-buru.


Namun Undead itu tak membiarkan ku melarikan diri, dan saat aku berusaha keluar dari tempat yang bagaikan neraka ini. Tiba-tiba saja sebuah dinding lahar yang sama muncul di depanku, dan mengelilingi kami hingga akhirnya kami tak bisa keluar dari sini. Aku sangat pasrah, dan tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.


"Tygruth bertahan lah! Tygruth!" ucapku yang khawatir padanya karena dia tak menjawab panggilan ku.


"Hahahaha! apa temanmu sudah mati! seharusnya sejak awal kalian tidak perlu bersusah payah melawan kami. Karena pada akhirnya kamilah yang akan menang, seharusnya kalian menyadari perbedaan kekuatan kami!" ucap Bordeaux di balik dinding lahar itu.


Ssshhh... aura hitam tiba-tiba saja muncul di sekeliling tubuhku, dan menyelimuti tubuhku. Aura hitam yang sangat jahat, penuh dengan kebencian, dan penderitaan. Aura yang memiliki hawa membunuh begitu tajam, baunya membusuk. Pedang yang sedang ku genggam kini pun berubah menjadi pedang yang berwarna hitam melekat dengan aura hitam yang terbakar di sekujur pedang itu.

__ADS_1


"Hei... sudah kubilang kan, kalau kau akan bersamaku di dalam kesendirian" ucap anak kecil itu padaku yang membuat ku syok.


"Hah!? apa-apaan ini? kenapa aku bisa berada disini? apa kau yakin melakukannya!" ucapku yang marah kepada anak kecil itu.


"Bukan... bukan aku yang membuatmu berada disini. Akan tetapi kau sendiri, kau sendirilah yang memilih untuk masuk ke sini. Karena kau sangat kesepian, dan tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya kau masuk ke dalam lembah keputusasaan ini" ucap anak kecil itu.


"Tidak! tidak mungkin! ini pasti bohong! aku sama sekali tak menginginkan hal ini!" ucapku yang tak percaya dengan kata-katanya.


"Kalau aku berbohong kau tidak mungkin berada di tempat ini. Dan aku katakan sekali lagi, kau lah yang menginginkan hal ini" ucap anak kecil itu.


"Tidak! tidak! tidak! cepat keluarkan aku dari sini bocah sialan! ada sesuatu yang harus ku lindungi di luar sana!" ucapku yang sangat marah kepadanya, namun juga sedih.


Crak! sret! brak! diriku yang sedang tidak terkontrol ini menghabisi seluruh Undead yang ada dengan secepat kilat. Melesat bagaikan bayangan hitam yang mengerikan, meskipun para Undead itu terus bermunculan. Aku langsung menebasnya bahkan sebelum seluruh tubuh mereka muncul ke permukaan.


"Ada apa!? kenapa para Undead nya terasa sedikit sekali!?" ucap Bordeaux yang terkejut begitu menyadari Undead miliknya yang dibangun bersama dengan rekannya Vauntins terasa tinggal sedikit yang muncul di permukaan.


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku juga tak merasakan datangnya bala bantuan dari pihak musuh" ucap Vauntins.


"Aku juga merasa begitu, tapi... rasanya ada yang aneh. Aku merasakan sesuatu yang aneh yang membuatku merinding" ucap Bordeaux yang tubuhnya bergemetar entah karena apa. Begitu juga dengan rekannya Vauntins yang merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Selamat tinggal..." ucapku yang kemudian melempar masuk pedang ku kedalam dinding lahar itu. Krak! tulang-tulang di balik dinding lahar itu hancur hingga membuat lubang untuk masuknya jalan pedang itu. Jleb! pedang itu pun akhirnya menusuk tepat di dada Bordeaux hingga akhirnya dinding lahar itu menghilang secara perlahan.


"Bos!? sial sebenarnya apa yang terjadi!" ucap Vauntins yang kesal.


"Matilah kalian para makhluk rendahan! matilah kedalam jurang keputusasaan tanpa akhir!" ucap diriku yang saat ini benar-benar tidak sedang di kendalikan oleh ku.


"Mo-monster! Argh! tidak! tidak! aku tidak akan mati! akh!" ucap Bordeaux yang berteriak dengan histeris. Saat ini dirinya benar-benar sedang berada di dalam jurang keputusasaan, dia benar-benar tak sadarkan diri, dan hanya melihat kematian pada dirinya.


"Bos! apa yang terjadi padamu bos! ada apa ini!? apa yang sudah kau lakukan?" ucap Vauntins yang merasakan takut. Kemudian aku menarik pedang yang menancap di dada Bordeaux itu kembali. Dan menggenggamnya di tangan kananku dengan mata yang menyorot tajam ke arah Vauntins yang membuat seluruh tubuhnya bergemetar ketakutan.


"Tidak! akh! tolong selamatkan aku! aku tidak ingin mati!" ucap Bordeaux yang berteriak bagaikan orang yang sudah kehilangan jiwanya. Benar! saat ini jiwa Bordeaux sudah dikendalikan dengan rasa keputusasaan yang mengerikan tanpa akhir, bagaikan jurang tanpa dasar yang terus terjatuh semakin dalam, dan semakin gelap.


"Sekarang giliran mu untuk merasakan hal yang sama... matilah kau!" ucap diriku yang melempar kan pedang itu, namun Vauntins segera menahannya dengan tulang-tulang besar, dan tebal yang melindungi dirinya. Krak! tapi usahanya sama sekali tidak ada gunanya, hanya sia-sia saja.


Jleb! pedang keputusasaan itu lagi-lagi menusuk korban kedua, dan membuat Vauntins menjadi gila sama seperti Bordeaux yang benar-benar sudah kehilangan akal sehat, dan jiwanya telah direnggut oleh rasa keputusasaan itu sendiri. Saat ini dihadapan ku hanya ada dua orang bodoh yang tak layak untuk berada di sampingku, dan aku pun menarik jiwa mereka, dan menyerapnya ke dalam pedang milik ku.


Dan pada akhirnya kedua makhluk busuk itu pun mati begitu jiwanya ku ambil. Saat ini jiwa yang membusuk itu sedang berada di dalam pedang ku, dan aku bisa mendengar suara jeritan mereka yang sedang berputus asa. Suara terdengar menenangkan, dan sangat menghibur. Namun dua orang saja tidak cukup untuk memenuhi hasrat yang kuinginkan, dan aku beruntung kalau ada orang ketiga yang jaraknya dekat dengan ku.


Dan itu adalah Tygruth yang sedang dalam kondisi sekarat berbaring di atas tanah. Aku pergi menghampirinya mengubah diriku menjadi bayangan hitam, dan mendarat di depannya dengan menggenggam sebuah pedang beraura hitam melekat. Kemudian aku mengangkat pedang ku, "Matilah kau bersama dengan mereka yang putus asa".

__ADS_1


__ADS_2