Artificial God

Artificial God
Hati


__ADS_3

Saat ini, di desa bangsa Elf, Elysna pergi menemui ayahnya yang seorang pemimpin desa Elf. Elysna berniat untuk keluar dari desanya sendiri, dan memutuskan untuk menjelajahi dunia ini. Mungkin dia berpikiran seperti itu karena saat terakhir kali kita bertemu, saat itu aku mengajaknya untuk menjelajahi dunia ini, dan menjadi yang terkuat bersama-sama.


Beberapa bulan yang lalu, "Hei Elysna... apa kau ingin menjelajahi dunia ini bersamaku?" tanyaku sambil menggenggam tangannya yang kecil, dan mulus.


"Kenapa kau ingin sekali menjelajahi dunia ini? bukankah sudah lebih enak kalau tinggal di desa" ucap Elysna yang tak mengerti dengan pemikiran ku.


"Entahlah... rasanya hidup ini tidak menantang jika kita terus menetap di tempat yang sama. Dan lagi pula tujuanku bukan hanya menginginkan hubungan yang baik dengan Elf saja..." ucapku.


"Apa? apa jangan-jangan kau..." ucap Elysna yang pembicaraannya di potong olehku.


"Ya... kau benar, aku memilih harapan yang besar bersama teman-temanku untuk menciptakan perdamaian di dunia ini. Tapi kalau kau tak mau juga tak masalah, jadi kau jangan memaksakan diri" ucapku, yang sebenarnya sedih jika Elysna menolak tawaran ku, karena aku ingin terus bersamanya untuk menjelajahi dunia ini.


"Aku mau! aku, ingin selalu bersamamu... kau kan sudah berjanji akan menikah denganku!" ucap Elysna yang malu-malu.


Kemudian aku tersenyum, dan mengusap-usap kepalanya, "Baiklah kalau begitu... ku harap kau tak keberatan dengan ini" ucapku dengan senang kalau pada akhirnya Elysna memutuskan hal yang ku inginkan, dan lagi ternyata dia berpikiran yang sama sepertiku, kalau aku ingin terus bersama dengannya.


Kembali ke masa kini, begitu ayahnya mendengar ucapan yang tak masuk akal dari putri kandungnya. Ayahnya sangat marah, dan murka karena anaknya berpikiran seperti itu. Yang padahal ayahnya sangat berharap kalau putri kandungnya akan menjaga desa ini, dan menjadi pemimpin desa ini setelah ayahnya. Namun jika putrinya pergi, kepada siapa tahta ini diberikan, itulah yang ayahnya pikirkan.

__ADS_1


"Apa ada seseorang yang menyuruhmu untuk pergi dari sini? siapa orangnya? dan dari bangsa mana dia yang berani-beraninya menyuruh putri ku pergi dari desa ini?" ucap ayahnya dengan kejam.


Namun Elysna hanya bisa terdiam, dan tak dapat berkata-kata. Karena apa yang dikatakan ayahnya itu adalah kebenaran, bahwa akulah yang menyuruhnya untuk pergi menjelajah, dan meninggalkan desa. Kemudian ada salah satu penjaga yang datang ke kamar dengan mengetuk pintu.


"Silahkan masuk" ucap ayahnya Elysna.


"Tuan... kedatangan saya kesini untuk memberikan surat yang dikirim dari bangsa iblis. Ini adalah surat yang ditulis langsung dari raja iblis tuan" ucap penjaganya yang segera pergi setelah memberikan surat itu.


"Baik terima kasih, hei tunggu dulu... apa kau pernah melihat ada bangsa lain yang datang bermain dengan putriku saat dia bermain keluar desa?" tanya ayahnya yang membuat Elysna sangat terkejut. Karena penjaga yang saat itu adalah penjaga yang sama yang sedang ditanyakan oleh ayahku.


"Benar... saat itu ada dua manusia dari bangsa Leonis yang busuk itu. Mereka terlihat akrab, dan saya langsung menghajar mereka, lalu membawa pulang putri anda tuan" ucap penjaga itu.


"Anakku... jawab pertanyaan ayah... apa maksudnya ini!" teriak ayahnya dengan keras.


Lalu di tempat lain di waktu yang bersamaan, lebih tepatnya di halaman belakang rumahku di dimensi yang berbeda. Saat ini aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku sepenuhnya. Aku terus mengayunkan pedang yang sedang ku pegang ke guruku sendiri. Guruku hanya bisa menahan serangan ku tanpa bisa membalasnya.


"Sadarlah murid ku, Gernath!" teriak guruku. Namun sepertinya dari yang kulihat, guru memang sengaja hanya bertahan saat menghadapi ku. Aku tak tahu kenapa guru tak ingin melukaiku, karena itulah dia hanya bisa menahan serangan ku tanpa gentar.

__ADS_1


"Sampai kapan kau hanya berlindung di balik pelindung itu. Ayo cepat serang aku dasar manusia rendahan!" ucapku dengan kejam, yang seketika raut wajah guru terlihat sangat aneh begitu aku mengatakan hal seperti itu padanya. Mata guru tiba-tiba saja melotot, dan sangat marah sekali padaku.


"Hanya berlindung? huh... jadi kau ingin segera merasakan seberapa besar perbedaan kita ya" ucap guru yang tiba-tiba sikapnya menjadi serius. Kemudian pelindung yang berbentuk bulat yang mengelilingi dirinya, tiba-tiba saja mengeluarkan duri-duri yang menusuk tubuhku.


"Akh... sialan kau!" teriakku sambil memotong duri yang menusuk perutku, dan menghantamkan pedangku ke pelindung milik guru hingga akhirnya pecah seperti kaca. Prang! begitu pelindung itu pecah, aku langsung segera menyayat leher guruku, namun aku sangat terkejut kalau pedang yang sedang berayun kuat itu di tahan oleh tangan kanannya dengan di genggam dengan kuat. Hingga akhirnya pedang itu pecah berantakan, dan aura hitamnya mulai menghilang.


Kemudian dalam sekejap mata tiba-tiba saja guru menyentuh bagian perutku, "Shining Fire" gumam guruku yang seketika api yang sangat besar membakar seluruh tubuhku hingga menembus ke belakang. Aku berteriak kesakitan menerima serangan guru yang begitu dahsyat itu.


Lalu tiba-tiba saja secara perlahan aura hitam yang menyelimuti diriku menghilang tanpa sisa. Dan pada akhirnya aku jatuh pingsan, dan aku di bawa kembali ke rumah oleh guru, dan diletakkan di kamarku. Kemudian setelah itu guru segera pulang ke rumahnya, raut wajah guru saat itu membuat Tygruth terkejut. Raut wajah yang terlihat penuh dengan penderitaan, dan kebencian. Begitulah hari yang buruk ini berakhir, memang cukup mengejutkan bagi semuanya.


Terutama untuk Tygruth yang melihat kejadian itu, namun untunglah kalau Mouri tak melihat sisi ku yang begitu buruk. Mungkin kalau Mouri melihatnya, dia akan merasa sangat ketakutan saat bersama denganku. Sosok yang begitu jahat, dan mengerikan seperti itu tak ada seorangpun yang akan menerimanya. Untuk luka yang ku terima dari serangan guru, cukup parah. Namun untunglah Mouri dapat menciptakan obat-obatan dari kekuatannya, sungguh kekuatan yang sangat berguna dalam hal apapun.


"Terima kasih karena sudah merawat ku..." ucapku sambil berbaring si tempat tidur ku.


"Tidak masalah, oh ya aku melupakan sesuatu. Tentang pertarungan kalian saat itu. Siapa yang memenangkan pertarungannya? karena Tygruth bisa selamat, sepertinya pertarungan terus berlanjut" ucap Mouri yang membuat suasana ini menjadi hening. Karena saat ini kami tak ingin membahas kejadian saat itu, karena berhubungan dengan kejadian yang sangat aneh menimpa diriku.


Namun dari pada membuat Mouri penasaran lebih baik aku mengatakannya sekarang dengan jujur, "Yang memenangkan pertarungan itu..." lalu tiba-tiba saja pembicaraan ku di potong oleh Tygruth, "Gernath... aku kalah dari Gernath saat itu" ucap Tygruth sambil mengedipkan matanya, dan segera keluar dari kamar meninggalkan kami.

__ADS_1


"Wah! kalau begitu semua usaha yang kita lakukan selama sebulan penuh itu tidak sia-sia dong!" ucap Mouri yang terlihat senang kalau pelatihan selama sebulan penuh dengan mati-matian itu tak sia-sia. Namun kau salah paham Mouri, kenyataannya kita tak berkembang sedikitpun, karena kekuatan yang dimiliki Tygruth begitu luar biasa. Aku sangat kagum dengannya, atau mungkin... hanya aku saja yang tidak berkembang?.


Dengan begini sudah tidak ada yang perlu dipikirkan lagi dari kejadian sebelumnya. Kami memutuskan untuk melupakan kejadian itu, dan terus melangkah maju. Tapi tetap saja hatiku masih terasa hancur saat itu, kata-kata yang diucapkan oleh Tygruth, dan usahaku yang menjadi sia-sia, membuatku sangat terpukul.


__ADS_2