Artificial God

Artificial God
Kehancuran Tanpa Batas


__ADS_3

"Kau masih bertahan pada tujuan konyol mu itu?" ucap anak kecil itu dengan wajah yang tertutupi dengan awan hitam. Begitu aku menyadari dimana aku sedang berada, aku langsung sadar kalau lagi-lagi aku masuk kedalam ingatan yang aneh.


Lagi-lagi ruangan ini, nuansa yang penuh dengan penderitaan, dan kebencian. Kupikir anak kecil, dan kakaknya itu tidak akan pernah datang lagi. Ternyata mereka masih menginginkan ku untuk bergabung dengannya di dalam dunia yang penuh dengan kegelapan. Kemudian aku beranjak berdiri, dan tersenyum lembut pada anak kecil itu.


"Ini adalah jalan yang kuinginkan, sampai aku mati pun aku akan tetap memilih jalan yang sudah ku tempuh" ucapku dengan lembut pada anak itu, sambil mengelus-elus kepalanya.


"Kau tidak lagi takut, kau tidak lagi khawatir, kau tidak lagi kebingungan. Kemana dirimu yang sebelumnya? bukankah biasanya kau selalu seperti itu setiap berada di tempat ini?" ucap anak kecil itu yang terlihat tidak suka padaku karena aku sudah semakin jauh dari keinginannya.


"Aku sudah membuang rasa takut itu, aku sudah membuang diriku yang lemah. Aku akan menjadi kuat dengan caraku sendiri, aku tak akan lagi menggunakan kekuatan yang kau berikan. Tapi aku harus berterima kasih padamu karena dengan kekuatan mu itu aku bisa mengalahkan musuhku saat itu" ucapku dengan tersenyum dengan hati yang merasa sedih, entah kenapa hatiku merasa sedih setiap kali melihat anak kecil ini.


Kemudian anak kecil itu pergi dariku, dia pergi ke kasur miliknya, dan berbaring disana. Kemudian dia melambaikan tangannya yang menyuruhku untuk menghampirinya. Kemudian aku menghampirinya, dan duduk di samping tempat tidur miliknya. Aku tak lagi terkejut, ataupun kebingungan, aku hanya perlu menjalaninya saja.


Kemudian dia memberikan ku sebuah buku padaku, dan itu adalah sebuah buku cerita. Buku itu berjudul, "Kancil Yang Baik Hati" dia memberikan buku itu dengan bermaksud agar aku membacakan buku itu untuknya, "Apa kau ingin aku membacakan buku cerita ini?" tanyaku sambil membuka lembaran-lembaran buku itu.


"Ya, tolong bacakan buku itu, aku ingin sekali seseorang membacakan buku itu untukku lagi, mungkin ini yang terakhir kalinya. Aku meminta dirimu untuk membacakannya padaku" ucap anak kecil itu yang bersiap untuk tidur begitu aku membacakannya sebuah buku cerita.


"Baiklah... pada suatu hari, hidupnya seekor kancil yang sangat baik. Dia suka menolong, hewan lain yang merasa kesulitan, namun pertolongannya sama sekali tak dihargai. Kancil itu... dihina, dibuang, dan tidak dipedulikan oleh hewan-hewan lainnya.


Namun kancil itu, tetap berbuat baik kepada hewan lainnya... kemudian dia..." Ucapku yang terus membacakan buku cerita itu sampai selesai, dan ternyata dia sudah tertidur di tengah-tengah cerita. Meskipun begitu aku tetao membaca buku itu, karena aku merasa hatiku tersentuh begitu membaca buku itu. Aneh sekali, padahal itu hanya sebuah buku cerita pengantar tidur untuk anak kecil, tapi entah kenapa rasanya buku itu adalah buku yang sangat berharga bagi anak itu.


Kalau buku itu memang sangat berharga baginya, kenapa aku yang harus membacakannya? orang yang sangat dia benci. Kemudian tanpa aku sadari ada seseorang yang datang dari belakang ku yang baru saja selesai membaca buku cerita itu. Ternyata dia sudah berada di sana sejak lama, dan aku tak menyadari keberadaannya selama itu. Dia adalah orang yang sama dengan anak kecil itu, wajahnya tertutup oleh awan hitam, hanya saja tubuhnya lebih besar. Ya, aku ingat dia, dia adalah kakak dari anak kecil yang menyedihkan ini.


"Terima kasih... karena sudah membacakan cerita itu padanya" ucap kakaknya yang sangat berterima kasih padaku hanya karena aku membacakan buku cerita pada adiknya sampai tertidur. Dia sampai menundukkan kepalanya sebagai bentuk ucapan terima kasih, "Tidak masalah, apa kau adalah orang yang sebelumnya membacakan buku cerita ini?" tanyaku sambil memberikan buku cerita itu padanya.


Kemudian dia mengangguk, "Ya, kau benar. Untuk waktu yang sangat lama, aku lah orang yang membacakan buku cerita ini. Tapi sejak saat itu, dia mulai membenciku, dan dia tak memperbolehkan ku untuk membacakan buku cerita ini. Hingga akhirnya dia memilih mu untuk membacakan buku cerita miliknya" ucap kakaknya yang merasa sedih, dan kemudian dia duduk di samping ku.


"Hah!? bukankah hubungan kalian sangat dekat?" ucapku yang mengingat kembali saat pertama kali aku mendapatkan mimpi ini. Karena saat itu, saat pertama kali aku masuk ke dalam mimpi ini, aku melihat hubungan mereka sangat dekat sekali untuk seorang adik, dan kakak.

__ADS_1


"Yang kau lihat itu adalah salah-satu kejadian sebelum sia membenciku. Itu hanyalah potongan mimpi yang kau lihat, namun begitu kami menyadari kehadiran mu, itulah yang sebenarnya terjadi" ucap kakaknya yang menjelaskan padaku dengan panjang lebar.


"Lalu, apa yang membuat dia membencimu?" ucapku yang merasa penasaran dengan kisah mereka berdua. Rasa penasaran ini sangat luar biasa, aku tak bisa menahannya, entah kenapa aku merasa kalau aku memang harus mengetahui kisah mereka.


"Karena aku..."


"Gernath!"


"Kakak! bangunlah, huhu"


"Semuanya cepat lari!"


Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi hitam? aku tak bisa melihat apapun disini, dan hanya mendengar suara seseorang yang kukenal. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa mereka berteriak-teriak, dan menyuruhku lari?. Aku tak bisa melihat karena disini gelap sekali, tapi entah kenapa rasanya ada seseorang yang menyentuh tubuhku.


Aku seperti sedang di bawa oleh orang itu, tapi aku masih tak bisa melihat apapun disini. Hanya ada kegelapan, dan tadi sepertinya aku sedang berbicara dengan seseorang. Tapi aku tak mengingatnya lagi? hanya sosok samar-samar yang ku ingat. Akh! rasanya tiba-tiba kepalaku sakit sekali, sebenarnya apa yang sedang terjadi?.


"Bangunlah dasar bodoh! kenapa kau tidak bangun juga" lagi-lagi aku mendengar seseorang berbicara padaku. Tapi yang kulihat hanya ruang hampa yang gelap disini, benar-benar membingungkan.


"Ukh!"


"Vloid cepat berdiri!"


"Kakak, tinggal kan aku..."


"Apa!? tidak! aku tak akan meninggalkan mu!"


"Cepat pergi kak! jangan pedulikan ku! hanya karena aku, nanti semuanya bisa mati!"

__ADS_1


"Vloid, kau... sialan baiklah!" Orang itu terdengar sedang sedih. Dia menahan dirinya untuk tidak menangis. Namun sedari tadi aku mendengar suara bergemuruh, entah suara apa itu, tapi rasanya suara itu semakin besar, ah bukan... suara itu semakin dekat.


"Kumohon... Gernath, bangun lah... kumohon" suara orang itu begitu lembut, mungkin karena dia sudah pasrah, suara itu berasal dari hatinya yang sedang sakit. Aku bisa merasakan suara itu, saat ini dia sedang berpasrah diri dengan keadaan, aku benar-benar bisa merasakan itu, karena aku adalah orang yang merasakan hal yang seperti itu.


Kemudian secercah cahaya muncul di ruangan yang hampa, dan gelap itu di depanku. Cahaya itu menyinari masuk, dan semakin terang hingga akhirnya aku tersadar. Aku sangat terkejut begitu melihatnya... aku benar-benar sangat terkejut, aku belum pernah merasa dikejutkan seperti ini.


Sampai-sampai seluruh tubuhku bergemetar ketakutan, jantungku terasa berat, dan hatiku terasa terkoyak-koyak. Aku benar-benar belum pernah merasakan hal yang mengejutkan seperti ini. Sesuatu yang ada di depan mataku saat ini adalah sebuah kehancuran, kehancuran yang sangat gila.


Benar-benar mengerikan, tapi dimana ini? kenapa aku melayang di udara?. Ternyata aku sedang terbang, dan digendong oleh Tygruth di punggungnya. Lalu dimana ya lainnya? Elysna, Mouri, Boa Boa... mereka masih tak sadarkan diri, mereka saat ini sedang melayang menggunakan kekuatan Tygruth dengan mengendalikan angin untuk membawa mereka terbang.


Tapi... bagaimana dengan Vloid, bukankah tadi aku mendengar suara teriakannya. Kalau tidak salah dia berteriak... ah!? dia... dia ditinggalkan oleh Tygruth!? brengsek kenapa dia meninggalkan Vloid, apa yang dia pikirkan. Semuanya hancur, tidak ada tempat untuk aman disekitar sini, yang ku lihat hanya ada kehancuran saja sejauh mata memandang, dan Vloid berada dalam kehancuran itu.


"Kenapa...


"Oh!? akhirnya kau sudah bangun Gernath, syukurlah..."


"Kenapa kau meninggalkan Vloid?"


"!?... ka-karena kita tak memiliki waktu untuk menyelamatkannya"


"Dasar bodoh..." Kemudian aku turun dari udara, dan menerjang ke bawah seorang diri, "A-apa!? hei apa yang kau lakukan Gernath!? di sana ada asap berbahaya, dan tanah-tanah itu sangat berbahaya!" teriak Tygruth yang terkejut begitu melihat ku tiba-tiba saja melompat turun dari gendongannya.


"Pergilah kalau kau ingin hidup..." ucapku yang saat ini sedang melayang di udara.


"Dasar bodoh! padahal aku ingin membiarkanmu untuk hidup. Tapi kalau kau ingin mati, biar aku saja yang menjalankan tugas kita" gumam Tygruth yang terus pergi ke depan menjauhi kehancuran yang sedang menyebar. Kehancuran yang sangat mengerikan, membuat udara disekitar menjadi buruk, dan air menjadi sangat kotor hingga membusuk membuat kehidupan di sana mati tak tersisa karena tubuhnya hancur.


Pepohonan disini juga langsung mengkerut, dan hancur begitu saja, bahkan sampai-sampai tanahnya membusuk, begitu mengerti. Mereka terus menyebar tanpa henti, terus menyebabkan kerusakan yang fatal pada dunia ini, benar-benar menjengkelkan. Aku... akan menghajar makhluk brengsek itu!.

__ADS_1


__ADS_2